Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Perkenalan


__ADS_3

Iyas mencoba berulang kali, untuk menghidupkan mobilnya. Namun sama sekali tidak menyala. Lina mengerutkan dahinya, masih belum memahami apa yang terjadi pada mobil milik Iyas saat ini.


"Apa masih tidak bisa menyala?" tanya Lina ragu-ragu.


"Hmmm," jawab Iyas.


Setelah mendapatkan jawaban dari Iyas. Lina memilih untuk berdiam diri, menunggu reaksi Iyas yang masih mencoba untuk menyalakan mobilnya. Lain dari sifatnya Lina memperhatikan Iyas yang sedang berulang kali menyalakan mesin mobil, yang pagi ini Lina seorang pria seperti Iyas sangat indah dipandangnya.


Lina menggelengkan kepalanya membuyarkan lamunan di dalam hati. Lina sangat aneh jika dirinya bertemu dengan pria tampan. Apalagi seperti Iyas yang kini berada di hadapannya. Pria yang berjas berpakaian formal bahkan sangat rapih dengan kulit putihnya dan juga senyumnya sangat manis.


Apalagi saat ini, ia sedang mencoba untuk menyalakan mesin mobilnya dan terlihat serius. Bagi siapapun yang melihat pemandangan itu, pasti akan mengatakan bahwa Iyas adalah suami sejagat raya yang tampan rupawan.


Lina menggelengkan kepala dan mengalihkan pandangannya dari melihat Iyas. Dia melihat sebuah taman dengan danau kecil berada di tengah taman hijau yang sangat luas. Taman berada di hadapan di mana tempat mereka berparkir. Mengingat hari masih sore atau sekitar pukul 17 :00. Lina menempelkan kedua tangannya di kaca jendela dan tersenyum mengagumi keindahan taman tersebut.


Iyas yang sambil menyalakan mobilnya Dia juga melirik salah ke arah Lina dan tersenyum tipis ia melihat Rina tampak sangat bahagia ya ketika hanya melihat sebuah taman yang Bahkan di rumah hias pada banyak taman bunga yang bermekaran dan juga indah.


"Kau mau keluar?" tanya Iyas datar.


"Kalau boleh, aku mau nunggu di sini?" jawab Lina.


Iyas tersenyum tipis, lalu mengangguk tanda menyetujui permintaan Lina yang ingin melihat-lihat taman yang berada di hadapan mereka berdua. Setelah melihat Lina keluar dari mobilnya. Iyas memperhatikan Lina yang berjalan sambil menghirup udara segar di taman tersebut. Iyas kembali menghidupkan mobilnya, namun masih tidak bisa menyala.

__ADS_1


"Mungkin karena terlalu banyak digunakan dan itu juga hanya aku saja yang menggunakannya," gumam Iyas.


Setelah berulang kali, ia menyalakan mobilnya. Namun masih tidak bisa hidup kembali. Iyas mengacak rambutnya, lalu melihat bingkisan dari cafe story milik Rara dan juga Lina yang akan mengantarkannya. Iyas melihat gadis itu, kini sudah berada di di depan danau. Lina duduk di rumput hijau.


Iyas selalu memilih untuk keluar dari mobilnya dan menghampiri Lina yang kini duduk sendiri di hadapan Danau tersebut. Iyas berjalan dengan kedua tangannya memasuki saku celananya dengan gaya coolnya senyum yang manis menghampiri Lina yang sedang duduk dengan memeluk kedua lutut kakinya.


"Wah ternyata bersantai sebentar diperlukan juga ya!" seru Iyas, duduk di samping Lina.


Lina hanya melirik melihat Iyas yang kini duduk di sampingnya, lalu memalingkan kembali dan fokus melihat danau yang begitu tenang di hadapan mereka berdua menghirup udara segar di sore hari di taman tersebut dengan rumput hijaunya.


Iyas yang melihat gadis di sampingnya itu tersenyum tipis, menikmati suasana di taman yang ternyata hanya ada mereka berdua disana, meski taman terbuka untuk umum. Ia melihat wajah Lina yang terlihat sangat manis dan indah ketika tersenyum baginya.


Pasti gadis ini sangat jarang tersenyum bahkan untuk pertama kali bertemu saja tadi batin Iyas.


Lina hanya terdiam ia tidak menjawab pertanyaan Iyas. Iyas yang sudah tahu akan jawaban gadis itu. Ia memilih untuk tersenyum tipis, karena untuk pertama kalinya ada seorang gadis yang bahkan sama sekali tidak mau menatapnya. Apalagi menjawab segala pertanyaannya. Karena bagi Iyas setiap ucapannya adalah sangat berharga.


Cukup lama, mereka duduk di hadapan danau di taman, yang sangat sepi. Iyas baru ingat satu hal, bahwa dirinya belum mengetahui nama gadis yang ada di sampingnya itu. Iyas tidak bertanya kepada gadis di sampingnya itu, namun dia mengeluarkan ponselnya dan memeriksa identitas gadis itu. Setelah melihat handphonenya. Iyas tersenyum penuh kemenangan.


"Lina Agustin, nama yang sangat cantik," ucap Iyas.


Mendengar namanya disebutkan, Lina melihat ke arah Iyas dan mengerutkan dahinya. Ia tidak percaya jika pria di sampingnya itu bahkan belum bertanya padanya tentang namanya. Namun Lina memilih tidak menjawabnya dan mengabaikan Iyas.

__ADS_1


Iyas yang sudah menduga tanggapan Lina. Ia hanya tersenyum tipis mengagumi gadis di sampingnya itu. Gadis yang untuk pertama kalinya ada wanita yang selalu mengabaikannya. Apalagi Iyas cukup tampan dan akan selalu membuat wanita manapun tergila-gila kepadanya.


Iyas tersenyum dan mencoba bertanya kembali kepada gadis itu.


"Perkenalkan, aku Iyas! Aku dari Singapura," ucap Iyas kepada Lina lalu Lina menanggapi uluran tangan ya dan tersenyum tipis.


"Kamu sangat manis saat tersenyum Lina, kenapa kamu lebih banyak berdiam dibandingkan untuk berbicara?" tanya Iyas dengan senyum manisnya dihadapan Lina.


"Lebih banyak diam akan lebih baik, daripada banyak berbicara," jawab Lina singkat.


Iyas mengangguk dan tersenyum ketika mendengar jawaban Lina, yang cukup efisien baginya. Mereka terdiam menikmati taman dan udara yang sejuk. Setelah cukup lama, Lina lalu menoleh kearah Iyas yang kini merebahkan tubuhnya di atas rumput tersebut Taman.


"Bagaimana apa mobilnya sudah bisa menyalakan?" tanya Lina penasaran akan mobilnya Iyas yang masih belum bisa menyala. Mengingat danau dan taman tersebut keberadaan mereka kini jauh dari jangkauan orang lain.


"Sepertinya kita perlu memanggil mobil derek," Jawab Iyas dengan mata tertutup Lina terdiam mendengar jawaban Iyas.


"Tapi ...."


Suara gemuruh perut Lina terdengar, sebelum Lina berbicara dan membuat Iyas membuka kedua matanya. Iyas mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum tipis. Namun ia sudah tidak tahan dan tertawa dengan lantangnya di hadapan Lina menertawakan gadis di hadapannya itu.


Lina masih dengan wajah tidak bersalahnya, ia hanya terdiam melihat wajah tampan Iyas yang tertawa dengan segala ketampanannya. Jika ada seorang pria tampan tertawa dengan manis di hadapan wanita. Pastinya wanita itu akan tersenyum histeris juga. Namun, lain dengan Lina, dia malah hanya menatap Iyas yang tertawa dengan wajah datarnya. Lina mengabaikan Iyas yang masih dengan tawa lepasnya menertawakannya. Baginya adalah hal biasa jika mendengar gemuruh perutnya dan itu sudah hampir setiap hari perutnya selalu bersuara seperti itu.

__ADS_1


"Tawamu terlalu garing," ucap Lina melihat ke arah danau.


Iyas berhenti tertawa dan melihat Lina yang sama sekali tidak bergeming dari posisi duduknya. Wajahnya yang acuh akan Iyas. Malah membuat Iyas tersenyum dan kini hanya berbincang bersama. Mereka juga memakan bingkisan yang Lina bawa dari tempat Lina bekerja, yang seharusnya Lina antarkan ke pemesan.


__ADS_2