
NTR:Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen, favoritkan dan vote yach... Selamat membaca kak.
Saat Rayn sedang fokus dengan dokumennya, tiba-tiba Zain berlari ke arah ruang tamu dengan senyum dan tawanya yang bahagia. Dia duduk di sofa dengan sekali hentakan, hingga saat ia duduk itu memantulkan tubuhnya, lalu ia bersandar di sofa dengan hati yang bahagia dan tidak hentinya ia tersenyum. Rayn yang masih fokus dengan dokumenya, ia sekilas melirik tingkah dan kelakuan saudarinya itu, lalu ia kembali fokus pada dokumennyam
"Sepertinya setelah membuat kekacauan di dapur. Kamu menjadi gila ya Zain?" ledek Rayn.
"Ya, katakanlah, aku seperti itu! Tapi aku memang sangat, sangat, sangat, mencintai adikmu itu!" balas Zain tersenyum dengan bahagia.
"Dan aku tidak akan pernah merestuinya. dia adalah adikku!" cetus Rayn dingin.
"Iya ... ya, aku tahu dia adikmu. Tapi kini dia juga akan aku lindungi dan bukan hanya dirimu saja," ucap Zain.
"Sepertinya yang ada, aku dan adikku yang harus melindungimu seperti yang kau lakukan barusan di dapur," ucap Rayn datar.
"Hehe, iya maaf. Habisnya aku baru kali ini kaya gituan masa disini aku di suruh nyuci piring," rengek Zain.
"Hmm, aku aja gak bisa masak, tapi kalo beres-beres bisa Zain," ucap Naura datang bergabung dan duduk di samping Zain.
"Kau tidak perlu beres-beres! Biar pelayan yang kerjakan nanti jika sudah resmi," ucap Rayn.
Namun ia berbicara tanpa melihat ke arah Naura. Gadis itu tersenyum merasakan kebahagiaan saat Rayn berbicara seperti itu untuk dirinya.
'Kenapa dia jadi pandai merayu sih? Pertahananku kan jadinya sedikit goyah," gumam batin Naura.
"Di rumah tuh aku gak pernah megang kerjaan di dapur," rengek Zain cemberut.
__ADS_1
"Kalo begitu mulai besok kamu wajib ke sini dan bersih-bersih rumah!" ucap Amira datang dari arah dapur berjalan dan duduk di samping kakaknya.
"Hah!? Zain tersedak sigap duduk dari bersandarnya.
"Itu kenapa begitu Ra?" protes Zain.
"Tidak kenapa-kenapa!" jawaba Amira.
"Aku tidak mau! Nanti suruh saja pelayan di rumah Ayah untuk kesini dan bersih-bersih saja," ucap Zain.
"Tidak ada! Kamu harus membayar kerugian banyaknya piring yang pecah tadi!" tegas Amira.
"Hah!" teriak Zain membulatkan kedua matanya.
"Hmm," Amira duduk di sofa memperhatikan kakaknya yang sedang memeriksa dokumennya.
"Kau pikir ayahmu uangnya bukan dari perusahaanku?" balasRayn datar.
"Hmm," tambah Amira.
Zain terdiam dan memajukan bibirnya cemberut. Ia terdiam, memang tidak pernah bisa menang jika sudah nerdebat dengan kedua adik kakak kembar itu. Tiap kali Zain bicara selalu Zain yang ujung-ujungnya merengek karena tidak bisaberbicara lagi.
"Aku kira kamu memang baik sama aku dan perhatian, peduli sama aku. Tapi ternyata kamu malah memperhitungkannya, bahkan hanya pecahan piring saja kamu perhitungan Amira," protes Zain.
"Hmm," tanggap Amira.
__ADS_1
"Tapi aku tidak bisa bekerja Amira!?" rengek Zain lagi.
Amira tidak menghiraukan ucapan Zain. Ia bahkan tidak melihat wajah Zain yang kesal dan merajuk padanya.Namun ia melirik sekilas kearah kakaknya yang ternyata juga masih memegang dokumen proyek yang sedang ia geluti.
"Kak, memang proyek yang sedang Kakak kerjakan itu tentang IT?" tanya Amira.
"Hmm," jawab Rayn.
"IT? Apa ada yang tidak bisakamu lakukan? Sini aku bantu. Daddy kan juga dari sana," ucap Naura antusias.
"Daddymu juga kerja pada papaku," balas Rayn datar.
"Oooh, ya ampuun aku lupa hehe," ucap Naura terkekeh.
Amira tersenyum melihat kelakuan Rayn dan Naura yang terlihat saling mengisi meski terlihat dingin dari kakaknya. Ia tersenyum dan bersandar ke sofa.
"Kamu kalo tersenyum cantik Ra," ucap Zain.
"Gak akan mempan!" balas Amira.
"Hahaha, kamu tau saja aku sedang merayu kamu," tawa Zain.
Amira, Naura dan Rayn tertegun melihat ke arah Zain yang tiba-tiba tertawa dengan terpingkal-pingkal. Mereka bertiga saling melihat satu sama lain.
"Apa mama mengatakan kalo tante gila itu menurun pada putrinya yah?" tanya Amira.
__ADS_1
"Eeeh, mana ada!" balas Zain tersenyum tertahan.