
Di pagi hari ketika matahari sudah mulai bersinar menyinari seluruh alam semesta sinarnya memasuki sela jendela kamar Rendi yang kini sedang terbaring tidur di atas ranjang yang tampak sudah mulai berantakan.
Rara sedang duduk di kursi yang terdapat di balkon kamarnya. Ia sedang memberi minum susu putrinya Amira setelah bersembahyang tadi subuh.
Rara masih dengan tatapan tanpa arah memandangi langitan pagi di hadapannya. Ia memikirkan segala hal yang akan terjadi jika ia benar-benar terjadi untuk pergi sejauh itu meninggalkan keluarganya. Tentang ia menikah dan tinggal bersama keluarga suaminya saja ia merasa teramat berat dan jauh berada jarak dengan kedua orang tuanya.
Rara memejamkan kedua matanya membiarkan putrinya menyusup padanya tanpa perhatiannya. Ada setetes air mata yang menetes dari mata terpejamnya. Ia tertidur setelah semalaman tidak bisa tidur memikirkan setiap ucapan suaminya. Suaminya bahkan sangat berhati-hati hajya untuk menyampaikan semua itu yang membuktikan Rarapun mulai merasa dilema mendapati hal yang suaminya katakan.
Rendi terbangun dari tidurnya setelah ia mendapati istrinya tidak ada di sampingnya. Ia mengerutkan dahinya dan melihat kesekeliling ruangan kamarnya dan hanya mendapati Rayn yang sedang bermain di ranjangnya.
"Kemana istriku ini,apa dia keluar? Gumam Rendi.
Rendi mendengar suara Amira di arah balkon. Ia turun dari ranjangnya dan bergegas menghampiri balkon dan melihat Amira yang sedang duduk di pangkuan istrinya dan mendapati Rara sedang tertidur dengan Amira yang sedang minum susu dan sesekali melepasnya menjadikannya sebuah mainan.
Rendi mendekati istrinya yang tertidur. Ia terkejut melihat pelipis matanya ada setetes air mata di mata istrinya.Ia menduga-duga tentang istrinya yang menangis.
"Dia menangiskah, apa menangis karena aku atau memang dia tertidur?" batin Rendi.
Rendi menarik Amira yang kini sudah terlepas dari ibunya dan memindahkannya ke ranjangnya. Rendk meminta pengasuh untuk membawa anak-anaknya untuk turun ke bawah dan menemui ibunya.
Ia berbalik dan menghampiri istrinya kembali dalam diam Rendi memandangi wajah istrinya yang lembut dengan segala tatapan dan bibir yang manisnya. Rendi berpikir jika istrinya memang tidak mungkin bersedia untuk pindah dan menetap di sana, saat di Jerman saja Rara lebih banyak di rumah di bandingkan ia menikmati hari-harinya di Jerman.
"Apa yang harus aku lakukan bisakah aku membiarkan istriku dalam kesulitan," gumam Rendi.
Rara terbangun dan ia melihat suaminya berada di hadapannya. Ia tersenyum dan menyentuh wajah suaminya dengan senyum tulus penuh kasih sayang menatap suaminya yang kini juga sedang tersenyum padanya.
__ADS_1
"Sayang, kamu sudah bangun? Sedang apa di sini bukankah kamu harus ke kantor?" Tanya Rara.
Rendi menatap istrinya yang sedang bertanya padanya dengan segala pertanyaan yang selalu ia lontarkan dengan srgala perhatiannya.
"Hmm, Sayang apa kamu tidak tidur semalam?" Tanya Rendi.
"Aku tidur,kenapa apa kamu merasa tidak nyaman semalam?" Tanya Rara.
"Hmm aku sangat tidak nyaman melihat mata indah istriku menangis," ucap Rendi.
"Hahaaha, Sayang kamu ini pagi-pagi sudah pandai menggombal ya," tawa Rara.
"Aku serius Sayang, aku tidak mau kamu harus menangis jika hanya untuk urusan perusahaan saja," jelas Rendi.
"Hmm ... aku tidak apa-apa, kamu jangan khawatir nanti aku akan memberikan jawaban yang baik dan tepat untuk kita ya sayang, gih mandi siap-siap untuk mandi dan ke kantor," ucap Rara.
Rara terdiam saat suaminya bertanya tentang ia yang ingin menyendiri dan menenangkan dirinya. Ia tahu bahwa suaminya tidak ingin jika istrinya pergi jauh-jauh dari pandangannya.
"Jika kamu tidak mengijinkan, aku tidak akan pergi keluar sayang, aku akan di rumah kok," ucap Rara tersenyum.
Rendi terdiam saat istrinya masih bisa tersenyum. Ia yakin ada hal yang istrinya tidak bisa utarakan kepada dirinya saat ini dan membutuhkan waktu untuk menyendiri. Tapi hati Rendi tidak mengijinkan istrinya jika ingin pergi ke luar dari rumah hanya untuk mencari angin saja. Rara bangun dari duduknya dan berjalan memasuki kamarnya menghampiri kamar putranya tapi tidak ada anak-anaknya.
Rendi menghampiri istrinya dan memeluknya dari arah belakang.
"Sayang, jika kamu mau mencari angin di luar aku ijinkan tapi pergilah bersama Pak Jun ya," ucap Rendi menyusupkan kepalanya di leher istrinya.
__ADS_1
Rara menggesekan kepalanya ke kepala suaminya yang berad di bahunya.
"Hmmm, baiklah terimakasih ya suamiku sayang, aku tidak masalah tentang siapa yang mengantarku tapi aku hanya ingin menenangkan diri saja tidak perlu di temani jika harus, ikuti saja aku dari kejauhan aku tidak masalah," ucap Rara.
Rendi memajukan bibirnya mendengar ucapan istrinya yang tidak mau di temani oleh siapapun.
"Baiklah aku akan pergi denganmu kalau begitu," ucap Rendi.
"Hmmm,terserah kamu sayang, jika harus bersamamu aku juga tidak keberatan," ucap Rara.
Rendi tersenyum dan menciumi wajah istrinya dengan gemasnya hati yang bahagia karena istrinya mau di temani walau sebenarnya ia sangat harus mengadakan pertemuan perusahaan hari ini.
"Kalau begitu makan siang nanti Ken akan menjemputmu ya," ucap Rendi.
"Baiklah cup ... cepat bersiap ke kantor," ucap Rara mengecup kening suaminya.
Rendi tersenyum mengangguk dengan hati bahagia, ia bergegas ke kamar mandi seperti anak kecil yang mendapatkan hadiah, ia sumringah memasuki kamar mandinya.
Rara tersenyum melihat tingkah suaminya yang selalu manja padanya.
Rara membereskan sprei yang berantakan dan menggantinya dengan yang bersih. Ia memang tidak menempatkan pelayan bila hanya urusan kamar pribadinya. Ia kerjakan sendiri.
Rara duduk di atas ranjangnya menunggu suaminya selesai mandi dan bersiap untuk ke kantornya. Rara membuak handponenya dan memeriksa ke uangannya yang semakin hari semakin bertambah, karena Cafe yang karyawan Rendi pegang kini semakin ramai pengunjung. Membuat pemasukannya semakin bertambah dan bagi Rara suatu keberkahan suaminya membantunya dalam mengurus Cafenya usaha pertamanya yang membuatnya bisa bertemu suaminya di sana.
Saking sibuknya Rara melihat setiap pemasukan ke dalam rekeningnya. Ia tidak menyadari jika suaminya kini sudah berdiri di hadapannya dengan hanya mengenakan handuk di bawah pinggangnya. Rara tersadar akan adanya seseorang di hadapannya dan mendongakan kepalanya. Ia melihat suaminya yang sangat tampan dengan rambut setengah basah, dada bidang yang tanpa helaian pakaian terlihat gagah dan menggiurkan bagi Rara ketika setetes air mengalir di tubuh suaminya.
__ADS_1
Rara tertegun melihat pemandangan di hadapannya yang membuatnya terdiam dan menelan salivanya. Rendi tersenyum melihat istrinya yang tertegun melihatnya. Ia menundukan kepalanya memegang kepala istrinya dan mencium bibir istrinya yang sedang duduk. Rara membulatkan kedua matanya ia terkejut akan kelakuan suaminya yang mendadak. Rara menjatuhkan handponenya tangannya menahan posisi tubuhnya dan menikmati setiap sentuhan bibir suaminya yang menelusuri setiap bibirnya. Rendi menekan istrinya ke arah ranjang menggeluti tubuh istrinya di pagi hari berdua di kamarnya, aktivitas seperti biasa mereka lakukan. Kini ranjang yang sudah rapihpun sudah tidak berbentuk lagi karena ulah mereka yang asik beradu kasih penuh cinta.