
Prolog
Pagi ini Rendi dan Rara masih bergelayut di atas kasur,karena tidak biasanya Rayn dan Amira terbangun,di sepertiga pagi dan baru tertidur kembali di waktu subuh,hingga membuat Rara dan Rendi tidak bisa tidur.
"Sayang apa acara bulan madu kita di tunda?" Tanya Rara.
"Hmmm, kita tunggu Rayn dan Amira beberapa bulan lagi ya,agar mereka bisa di ajak dengan tubuh yang semakin kuat," jawab Rendi.
"Kalau begitu apa aku boleh berbelanja?" Tanya Rara.
"Kenapa,apa yang kau butuhkan,biar Ken yang bawakan?" Ucap Rendi.
"Hmm, aku mau mencari pakaian bayi kita sendiri,kebutuhanya aku mau beli sendiri Sayang," ucap Rara.
"Baiklah aku akan antar kamu nanti," ucap Rendi.
"Memang kamu tidak ke kantor?" Tanya Rara.
"Kamu berangkat ke pusat jam makan siang aja," tegas Rendi.
"Baiklah, apa kita ajak Mamah?" Tanya Rara tersenyum.
"Yang jaga mereka siapa?" Ucap Rendi.
"Jangan,biar Mamah di rumah deh jaga Rayn dan Amira," ucap Rara.
"Apa aku dapat bayaran?" Tanya Rendi tersenyum.
"Bayaran apa,uangku tak sebanyak kamu Sayang," ucap Rara.
"Hahaha, aku tidak mau uangmu,aku mau memakanmu," tawa Rendi.
"Akukan milikmu tidak perlu bertanya lagi," ucap Rara menggoda.
"Kalau begitu aku mau makan sekarang," ucap Rendi.
"Tentu." Goda Rara.
Rendi menindih istrinya di bawahnya, ia membuka balutan tubuh Rara. Suara Rara yang mengalun teratur.
Rendi mencium kembali istrinya hingga mendalam. Tangan kanan tak terhenti menelusuri baju atas istrinya.
"Kenapa apa kamu suka Sayang?" Tanya Rendi
"Melihatnya kenapa membuatku merinding dan sedikit takut ya," batin Rara.
Rendi tersenyum melihat tingkah istrinya,ia tahu apa yang di pikirkan istrinya,hingga Rendi mengecup istrinya agar tenang kembali.
Rendi asik dengan mainanya sendiri menusuk-nusuk pipi Rara juga menciuminya terkadang beralih pada wajah istrinya yang berisi.
Ia tampak tersenyum senang melakukannya.
Rara membuka kedua matanya saat melihat pakaian yang ada di sampingnya dan mendorong suaminya yang sedang mencumbunya ke samping tidurnya.
"Hah, kenapa harus saat ini?" Gumam Rara.
Rendi terkejut saat tubuhnya di dorong oleh istrinya.
"Ada apa Sayang ?" Rendi mengkerutkan keningnya.
Rara mengambil pakaianya dan membuangnya. Ia berlari ke kamar mandi meninggalkan suaminya yang bertelanjang bulat.
Rendi yang melihat istrinya masuk ke kamar mandi,tanpa memakai apapun ia menggelengkan kepalanya.
"Ada apa dengan suasana hatinya, selalu berubah padahal aku sudah tidak tahan Sayang," gumam Rendi.
Rendi melihat ke pakaian yang istrinya buang tadi.Hingga membuat Rendi terkejut juga tersenyum.
"Dasar gadis nakal, harusnya tahu kalau dia sedang begini,kan kasian ni Adiku," gumam Rendi tersenyum.
Rara yang berada di kamar mandi,ia memegang dadanya menahan keterkejutanya untuk saat ini,dadanya bergemuruh kencang.
"Aduuuh aku malu,kenapa harus sekarang sih kan bisa nanti," gumam Rara menutup wajahnya .
Rara duduk di bathroom ia termenung dan tersenyum.
"Rasanya ingin tertawa, saat melihat suamiku yang sudah menegang tadi hehe," gumam Rara ia tersenyum.
"Kenapa bibir ini gak mau diam sih malah mengembang terus kan malu," gumam Rara.
Karena Rendi mendapati istrinya tak kunjung keluar juga. Rendi berdiri dengan masih telanjang,ia khawatir terjadi sesuatu pada istrinya ia mengetuk pintu kamar mandi.
"Sayang kamu kenapa,ada apa, sedang apa, kamu tidak apa-apakan?" Teriak Rendi.
Rara terkejut dengan teriakan suaminya,ia berdiri dan melihat air yang ia rendam berubah warna.
"Uuuh kamu bahkan tidak membantu," gumam Rara.
Rara menghampiri pintu dan membukanya sedikit.
"Sayang; aku tidak apa-apa,hanya perutku sakit juga aku butuh pakaian setelah mandi,juga aku minta tolong kamu bisa bawakan pembalut?" Pinta Rara.
Rendi terkejut mendengar istrinya sakit,ia tidak mendengar ucapan istrinya yang lain.
"Sayang kamu sakit dimana,apa aku tadi melakukan sesuatu yang salah, sini aku lihat kamu jangan di kamar mandi,disana dingin Sayang," ucap Rendi panik ia mendorong pintu kamar mandi,hingga Rara tidak bisa menahan dan menjelaskanya.
Rendi memakaikan handuk pada tubuh Rara,ia menggendong istrinya dan membaringkanya di tempat tidur juga menyelimutinya.
__ADS_1
Rendi bolak balik mengambil pakaianya dan memakainya.
Rara yang melihat tingkah suaminya ia tertawa tanpa hentinya,hingga membuat Rendi terdiam saat mengenakan kausnya.
"Sayang kamu kenapa? Kenapa kamu tertawa kamu jangan menahanya," ucap Rendi memegang pipi Rara.
"Sayang aku tidak apa-apa dan ini aku masih belum mandi,aku harus mandi kalo tidak ini kasur akan penuh dengan darahku," ucap Rara.
"Darah kenapa kamu sampai berdarah sayang,apa ada yang luka?" Tanya Rendi panik.
"Sayaang ini bukan luka,bukankah aku meminta pembalut tadi,";ucap Rara.
Rendi terdiam,ia mengingatnya bahwa istrinya minta pembalut,ternyata istrinya sedang datang bulan.
"Uuuh maaf, aku panik tadi,aku kira kamu sakit apa,aku takut menyakitimu tadi," ucap Rendi manja memegang wajah istrinya.
"Hahaha, nggak aku minta maaf ya," ucap Rara.
"Minta maaf untuk apa?" Tanya Rendi.
"Untuk sebuah hal yang tidak selesai," jelas Rara.
"Tidak perlu minta maaf,dengan hal itu yang penting kamu tidak apa-apa sekarang,kamu perlu apa biar aku yang bantu menyiapkanya," ucap Rendi.
"Aku hanya mau mandi,juga minta bawakan pembalut ya pada pelayan, aku lupa menyediakanya," ucap Rara.
"Baiklah aku gendong kamu lagi ya, ke kamar mandinya," ucap Rendi.
"Tidak perlu sayang,aku bisa sendiri," ucap Rara.
"Kenapa kamu selalu bilang bisa sendiri dan tidak apa-apa,aku ada untukmu kamu tidak perlu bilang baik baik saja," teriak Rendi.
Rara terkejut dengan teriakan suaminya ia terdiam. Rendi menggendong istrinya masuk ke kamar mandi,Rara hanya terdiam dan menurut pada suaminya yang menggendongnya kembali.
Rendi mendudukan Rara di bathroom ia menyalakan air dan mengusap punggung istrinya dengan menggosoknya perlahan.
"Apa dia masih mau melakukanya walau sudah tahu aku sedang begini, tapi aku malu jika harus terlihat olehnya dalam keadaan seperti ini aku harus bicara apa?" Batin Rara.
Rendi mencuci rambut istrinya hingga bersih.
"Sayang apa sudah selesai,bisakah aku melakukanya sebentar,kamu bawakan aku pakaian dan keperluanku saja yaa," ucap Rara manja.
Rendi yang melihat wajah Rara dengan seperti itu ia mencium bibir istrinya dengan dalam.
"Bagaimana ini apa yang harus aku lakukan,aku tidak bisa seperti ini tapi aku tidak berani mendorongnya aku takut mengecewakanya lagi," batin Rara membulatkan kedua matanya.
Rendi melepas ciumanya ia mengusap wajah istrinya dan memegang bibir istrinya tersenyum.
"Aku tunggu kamu di luar,kalo masih lama nanti aku akan masuk kembali,untuk menggendongmu," ucap Rendi tersenyum meninggalkan Rara yang terdiam.
"Apa harus seperti itu dulu perasaan tidak seperti ini," gumam Rara.
Rendi menggendong istrinya dan mendudukanya di depan meja rias, Rendi mengeringkan rambut istrinya dengan pengering rambut
Rara masih terdiam membiarkan suaminya melakukan sesuka hatinya.
Terdengar ketukan dari kamar mereka, Rendi berjalan dan membuka pintu kamarnya. Sampai Rendi menutup kembali pintu kamarnya dan membawa kantung belanjaan dan memberikanya pada istrinya.
"Siapa Sayang? Tanya Rara mengeringkan Rambutnya.
"Ken," jawab Rendi.
Rendi mengeringkan kembali rambut istrinya.
"Kenapa ini banyak sekali sayang, sampai dua bingkisan gini?" Tanya Rara.
"Ken bilang di bawah masih banyak untukmu," ucap Rendi masih sibuk mengeringkan rambut istrinya.
"Apa dia memanggil Ken hanya untuk membeli pembalut sebanyak ini?" Batin Rara.
"Sayang apa Ken yang membawa ini?" Tanya Rara.
"Aku menyuruhnya," jawab Rendi datar.
"Bisa-bisa seisi rumah tahu kalo aku sedang pms,aduuuh kenapa sehisteris gini sih," batin Rara.
"Sayang berarti semua orang tahu donk kalau aku," ucapan Rara terpotong.
"Tidak ada yang tahu, " ucap Rendi datar.
"Apanya yang tidak tahu kalau memang yang kamu beli sebanyak ini, semua orang sudah terbangun pagi sekali jika Ken yang datang semua pasti berkumpul," batin Rara.
"Sayang aku ke kamar mandi dulu ya," ucap Rara.
"Ini belum selesai," jawab Rendi.
"Tapi aku," ucap Rara terhenti saat Rendi menempelkan bibirnya di bibir Rara.
"Apa dia sedang mengujiku bukankah dia tahu aku sedang," batin Rara terhenti saat Rendi mengecup seluruh wajahnya.
"Jangan lama -lama ya nanti aku buatkan jahe agar kamu tidak sakit lagi," ucap Rendi.
Rara tersenyum mengangguk,ia lebih memilih menurut daripada jika ia berbicara pasti di bungkam dengan ciuman suaminya lagi.
Rara keluar dari kamar mandinya dengan pakaian yang sudah rapih,ia melihat suaminya tidak ada di kamar.
"Kemana suamiku ini,anak-anaku yang manis masih belum bangun ya Mamah mau gendonk kamu dulu," ucap Rara.
__ADS_1
"Jangan menggendongnya," teriak Rendi membuat Rara terhenti melihat istrinya.
Rendi menyimpan mangkuk yng ia bawa,dan menghampiri istrinya yang sudah rapih tanpa hijabnya.
Rendi menggendong istrinya dan mendudukan istrinya.Rara terdiam saat melihat suaminya menghampirinya dan menggendongnya.
"Kamu sedang sakit diam lah,biar Rayn dan Amira pelayan yang asuh," tegas Rendi.
"Sayang aku hanya mau menggendongnya,dan juga aku tidak apa-apa," ucap Rara.
Rara terdiam saat menempel dengan bibir suaminya pada mulutnya , Matanya membulat dengan ciuman suaminya ia terdiam.
"Minum jahenya ya," ucap Rendi tersenyum.
Rara mengangguk ia mengambil mangkuknya,tapi di dului Rendi mengambilnya. Rara terdiam dan membiarkan suaminya menyuapinya persendok pada Rara perlahan.
"Apa enak?" Tanya Rendi.
"Ini jahe sayang, emang apanya yang enak ya sama aja jahe," batin Rara.
"Hmm," jawab Rara.
"Apanya yang hmm?" Tanya Rendi.
"Enak Sayang," ucap Rara.
Rendi tersenyum dan menyuapi istrinya dengan perlahan hingga habis.
"Dimana yang sakit?"Tanya Rendi.
"Sakit apa?" Batin Rara.
"Aku," ucapa Rara terhenti ia tersenyum.
"Ini Sayang, hanya perut ini saja,itu hal biasa karena ada banyak darah yang harus di popma keluar untuk melancarkanya,tidak apa-apa," ucap Rara.
"Apanya yang tidak apa,ini tuh bagian sensitip Sayang,jangan membiarkanya kesakitan,apalagi kebahagiaanku dari sana," ucap Rendi.
"Kebahagiaan apa?" Tanya Rara bingung.
"Tentu saja kebahagiaan sodaraku yang tidak sempat selesai pagi ini," jelas Rendi.
"Sodaramu apa yang tidak selesai?" Tanya ibu Ratih menghampiri Rendi dan rara.
"Mah aku," ucapan Rara terhenti saat mengingat kelakuan suaminya jika ia berbicara.
"Mah, ada apa ko kesini?" Tanya Rara.
"Mama dengar kamu sakit sayang, sampai Rendi membuat sendiri air jahe Sayang," ucap Ibu Ratih.
"Apa suamiku yang membuatkanya, uuuuh makasih ya Sayang tadi itu enak sekali,juga sangat manis kamu yang membuatnya," puji Rara tersenyum bahagia.
Rendi yang mendengar pujian istrinya ia memegang wajah istrinya dan mau menciumnya.tapi terhenti saat ibu Ratih mendehem.
Rara tersenyum dengan tingkah suaminya yang lucu begitu juga ibu Ratih tersenyum tertahan dengan tingkah putranya.
"Kamu jaga dia biar dia tidak kelelahan apalagi sampai sakit," ucap ibu Ratih pamit keluar dengan membawa Rayn dan Amira bersama pelayanya.
Rendi tersenyum dengan perginya ibunya,juga anak-anaknya dengan meninggalkan mereka berdua.
Rendi tersenyum melihat wajah istrinya.
Rendi mencium bibirnya lama.
Rendi tersenyum penuh kemenangan saat istrinya melihatnya.
"Sudah kuduga sayang,kamu tidak mungkin bisa menahanya dengan tingkahmu menciumku terus-terusan dari tadi," batin Rara tersenyum.
Rendi tersenyum mengecup seluruh wajah istrinya dan memeluknya terbaring,ia memegang perut istrinya.
"Apa di sini sakit?" Tanya Rendi lembut.
Rara mengangguk dan Rendi mengelus-elus perut istrinya,hingga membuat Rara tertidur,Rendi tersenyum melihat istrinya tertidur.
Ia pergi ke kamar mandi sampai ia keluar dari kamar mandi melihat istrinya masih tertidur.
Rendi menghampirinya dengan dirinya yang sudah memakai pakaianya.
Rendi mencium istrinya dan keningnya.
"I love you istriku," ucap Rendi tersenyum.
Rendi keluar kamar dan mendapati Ken di luar kamarnya.
Rendi berjalan menuruni tangga dengan Ken di belakangnya.
"Tuan pagi ini tuan Budiman datang ke perusahaan,dengan putranya Tuan," ucap Ken.
"Orang yang melihat istriku dengan mata kotornya itu?" Tanya Rendi geram.
"Bukan Tuan,tapi dengan Raditya budiman Tuan putra sulungnya," ucap Ken.
"Dia Raditya mantan suami istriku?" Teriak Rendi.
"Iya Tuan," jawab Ken.
"Ingat jangan sampai terdengar oleh Rara,aku tidak yakin apa yang akan terjadi jika Rara tahu tentang ini," ucap Rendi.
__ADS_1
"Mereka sudah di ambang terjatuh tuan,mereka pasti akan meminta bantuan tuan Anggara karna pak budiman rekan bisnis tuan besar,"jelas Ken.
"Aku akan pastikan itu tidak akan terjadi,kali ini aku akan membayar sakitnya istriku malam itu," ucap Rendi dingin.