
NTR:Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen, favoritkan dan vote yach... Selamat membaca kak.
Sore itu seorang gadis cantik dan mungil berjalan mengikuti seorang pria paruh baya menelusuri jalanan di pinggiran perkebunan teh. Dengan udara yang sejuk di sana. Saat ia berjalan dengan sangat riang mencoba untuk merangkul tangan kakeknya itu.
Raisa seorang gadis yang cantik mungil percis seperti ibunya saat kecil, dia membuat sang kakek merasakan masa dimana pertama kali mengajak putrinya Rara tinggal di Bandung.
"Kakek? Apa kita akan makan enak malam ini?" tanya Raisa.
'Astagfirullooh, kenapa ini sama percis seperti putriku bertanya tiap pulang dari kebun? Kamu memang sama percis dengan ibumu,' batin Pak Permana.
"Tentu saja! Kita makan ikan yang kita tangkap ini dan makan yang enak!" jawab Kakek Raisa.
"Yeyeye, Raisa gak sabar cepat pulang! Mau makan ikan hasil tangkapan kakek," ucap Raisa gembira.
"Kamu mau Kakek gendong Sayang?" tanya Tuan Permana.
"Hah? Apa boleh? Raisa udah gede Kakek! Kasian Kakek, pegang tangan Raisa aja. Biar cepat jalanya," jawab Raisa tersenyum.
'Rara mendidik anak-anaknya menjadi mandiri seperti dirinya,' batin tuan Permana.
Mereka berdua kini berjalan dengan saling berpegangan tangannya. Begitupun tuan Permana memegang beberapa ikan cukup besar yang di dapatnya di pinggir sungai dekat sawahnya tadi. Raisa sangat bahagia ketika melihat kakeknya mendapatkan banyak ikan. Bahkan ia berteriak kegirangan ketika menyaksikan langsung kakeknya mendapatkan ikan yang cukup besar.
Mengingat hal yang sama terulang kembali, membuat hati tuan Permana merasakan kembali kemasa dimana manjanya Rara dan selalu memintanya untuk menggendongnya tiap pulang dari kebunnya. Itu adalah hal yang sangat membuat tuan Permana begitu menyayangi putri sulungnya itu.
"Oh iya Kek? Kenapa mama selalu baik begitu sih? Kok gak pernah marah kalo Raisa nakal juga?" tanya Raisa.
"Iyakah? Mama mu memang seperti itu, tidak pernah bisa marah meski sama orang yang sudah salah, apalagi jahat padanya, itu karena tidak ada di antara kakek, nenek, paman, bibinya ataupun saudara yang lain tidak menyukainya. Semua orang menyayanginya Sayang!" jawab Tuan Permana.
"Iyah mama memang yang terbaik, kalo Raisa nakal gak pernah marah, kalo Kak Rayn gak pulang juga gak pernah dia marahin apalagi kak Amira yang gaya tomboynya itu Kek, mama malah sangat menyayanginya dan mendukungnya, hehe," ucap Raisa.
"Lalu Raisa kaya gimana?" tanya tuan Permana.
"Raisa ingin jadi seperti yang mama mau saja," jawab Raisa.
"Memang mamamu mau kamu jadi apa?" tanya tuan Permana.
"Mama tidak pernah meminta Raisa kaya gimana! Malah mama bilang akan jauh lebih baik lakukan sesuka hatimu dan keinginanmu, karena itu adalah hidupmu! Entah mama selalu berbicara seperti itu padahal aku sama kakak-kakaku selalu ingin mewujudkan setiap keinginan mama. Tapi mama sepertinya tidak menginginkan apapun!" jawab Raisa.
"Kamu yakin mama mu tidak menginginkan apa-apa?" tanya tuan Permana.
"Iya," jawab Raisa.
"Nanti kamu tanyakan lagi apa mau mamamu kepada papamu!" ucap Tuan Permana.
"Kok Papa? Kan yang punya keinginan mama?" tanya Raisa.
"Karena papamu yang pasti tahu apa yang di inginkan mamamu untuk ketiga anaknya!" jawab tuan Permana.
Raisa terdiam ketika mendengarkan penuturan kakeknya yang dengan lembut berbicara padanya. Ia merasakan kasih sayang kakenya sangat baik padanya.
"Emm, Raisa masih gak paham Kek!" ucap Raisa terdiam.
"Ayo kita pulang! Nanti kita lanjutkan di rumah. Biar kita masak dulu ikannya," ajak tuan Permana.
__ADS_1
Raisa.mengangguk dan berjalan mengikuti Kakeknya yang kini menuntunnya dengan lembut. Tangan yang mulai keriput dan kurus itu tampak memegang erat tangan cucunya yang sangat ia cintai seperti masa dimana kebersamaannya denga putri tunggalnya Rara. Sesampai keduanya di rumah Permana. Raisa tersenyum dan menghampiru Rara yang tengah duduk bersama dengan ibunya. Mereka tersenyum melihat kedatangan Raisa dengan tuan Permana.
"Mami! Raisa mau ketemu dengan papa! Papa kemana mam?" tanya Raisa.
"Eeh, anak mami ni kenapa? Datang bukannya kecup mami, kok nanya papa?" tanya Rara.
Raisa tersenyum dan mencium pipi mamahnya dengan lembut dan berulang kali mengecupnya.
"Ada sesuatu yang akan Raisa bicarakan padanya mam," jawab Raisa.
"Memang hal apa?" tanya Rara.
Tuan Perman tersenyum melihat keduanya berbicara dengan sangat akrab dan lembut. Rara memang selalu bersikap lembut sesuai apa yang selama ini keluarga Permana rasakan dan ketahui. Saat Rara dan Raisa berbicara tanpa hentinya. Rendi yang baru dari kamar mandi menghampiri keduanya dan tersenyum dengan lembut ke arah anak dan istrinya.
"Anak papa ini jangan selalu menggoda mamamu ya! Dia istriku!" ucap Rendi merangkul Raisa duduk di pangkuannya.
"Iiish, Raisa udah gede! Gak usah duduk di pangkuan Papi lagi!" ucap Raisa.
Rendi dan Rara bersitatap satu sama lain melihat apa yang di katakan Raisa. Mereka tersenyum tipis dan menarik Raisa tepat berada di pangkuan Rendi lagi. Dengan gemas Rendi menciumi pipi Raisa dan tersenyum penuh kelembutan.
"Mam, pih, Raisa boleh tahu gak keinginan Mami apa?" tanya Raisa.
"Hmm?" ucap Rara dan Rendi saling melihat satu sama lain sembari mengerutkan dahinya.
"Heem, Raisa mau tahu apa keinginan mami?" ucap Raisa kembali.
"Kenapa emangnya sayang?" tanya Rara.
"Raisa hanya menyayangi mami!" jawab Raisa.
"Nenek?" tambah ibu Rara.
"Kakek?" tuan Permana ikut bertanya.
"Kedua kakakmu?" tambah Rara tersenyum.
"Hmm kalian antrilah! Raisa pokonya mengutamakan mami!" ucap Raisa merangkul pundak ayahnya dan menciu. pipi Rendi.
"Kamu ini bilang sayang mamimu tapi duduk dan mencium papi!" ucap Rendi tersenyum dan mencium pipi Raisa.
"Kata kakek ... papi yang paling tahu apa yang di inginkan mami! Coba beritahu Raisa! Biar nanti Raisa kabulkan keinginan Mami setelah Raisa besar nanti!" ucap Raisa.
"Kenapa tunggu besar? Sekarang aja juga bisa!" ucap Rara.
"Hah? Mami ada keinginan?" tanya Raisa.
"Hmm," jawab Rara.
"Apa mam?" tanya Raisa penasaran dan duduk di samping ibunya.
"Mami ingin cium kamu!" jawab Rara mencium Raisa dengan berulang kali dengan gemasnya.
"Aaaah mam! Mami bisa sepuasnya mencium Raisa kapanpun dimanapun, tapi Raisa tidak tahu apa yang harus Raisa lakukan agar mami bahagia!"ucap Raisa.
__ADS_1
"Kamu jadi gadis mami itu udah sudah buat mami bahagia sayang! Tidak perlu jadi orang lain atau lebih baik dari orang lain, cukup jadi dirimu sendiri dan bangga pada dirimu sendiri itu adalah keinginan mami dan akan selalu mendukungmu apapun itu!" ucap Rara.
"Aaah, itukan ucapan yang selalu mami katakan pada Kak Mira?" tanya Raisa.
"Memang putri mami kak Mira saja? Kan masih ada gadis mungil cantik manis yang bernama Raisa!" jawab Rara.
"Hmmm," tambah Rendi mengangguk.
"Iya mamiku yang terbaik! Raisa akan jadi seperti apa yang Raisa mau dan itu hanya akan terwujud dengan apapun yang mami katakan!" ucap Rasia memegang wajah ibunya dan menciumi seluruh wajah ibunya dengan lembut.
"Papi?" ucap Rwndi memberikan wajahnya dengan mulut maju kedepan.
"Papi absen dulu ya!" balas Raisa tersenyum.
Semua orang yang mendengar penutura Raisa tertawa terbahak terutama Rara yang sangat gemas pada putri bungsunya itu.
Mereka kini makan ikan bakar hasil tangkapan tuan Permana dengan kedua anak buah Rendi yang membakar ikannya dan juga Rendi yang kini duduk dengan tuan Permana di teras rumahnya.
"Kamu tahu Nak? Menjadi seorang ayah satu anak saja, tugasnya begitu besar apalagi ada tiga anak sekaligus! Kamu harus lebih mengutamakan kenyamanan mereka di samping kita! Bukan memprioritaskan kita yang nyaman dengan mereka! Ingat bukan berarti karena satu darah sifat menjadi sama, tapi karena darah yang sama harus menjadi satu hati dan satu pikiran dan itu adalah tugas kita sebagai orang tua bukan tugas anak!"ucap tuan Permana.
"Baik Yah! Rendi akan berusaha membuat keluarga Rendi senyaman mungkin Yah," ucap Rendi.
"Apa anak gadismu Amira sudah besar?" tanya tuan Permana.
"Iya dia sudah mulai kuliah Yah bersamadengan Rayn," jawab Rendi.
"Hmmm, jangan lengah jika menjaga anak gadis kita! Karena seorang wanita akan menjadi sosok istri dan ibu yang juga sangat di inginkan para pria yang juga sama seperti kamu yang menginginkan seorang istri dan ibu untuk anak-anakmu dan menyayangimu dengan lembut, maka perlakukan juga dia dengan kelembutan," tambah tuan Permana.
"Yah, pasti Yah!" jawab Rendi.
Rendi memang tidak pernah melakukan hal yang apa di lakukan Amira dengan sesuka hati, meski apapun bisa Rendi lakukan untuk putrinya itu yang lain dari anak gadis biasanya. Amira adalah anak gadisnya yang sedikit tangguh dan keras kepala dalam hal apapun tapi tidak mengurangi kelembutannya sebagai wanita. Rendi selalu mengawasinya di setiap waktu bahkan hanya dengan melihat handphonenya saja.
"Apa kau tahu apa yang akan di lakukan putra-putriku saat ini?" ucap Rendi di balik layar handphone Ken.
"Mereka akan pergi ke rumah Anggara Tuan," jawab Ken.
"Untuk apa?" tanya Rendi.
"Katanya untuk berkemah di halaman rumah Anggara," jawab Ken.
"Hmm, siapa yang mengusulkan?" tanya Rendi.
"Nona Amira Tuan!" jawab Ken.
"Hmm, gadis pintar! Baiklah, awasi Rayn! Jangan biarkan dia lengah sedikitpun tentang Amira dan juga calon istrinya itu!" tegas Rendi.
Ia menutup panggilan videonya setelah melihat ayah mertuanya kembali lagi dari dalam rumah. Tuan Permana duduk kembali di samping Rendi dan memberikan sebuah kotak yang berisikan kalung berinsial R.
"Ini adalah beberapa kalung yang ayah buat saat perusahaan ayah belum bangkrut dulu! Ayah membuatnya untuk putri ayah sebenarnya hingga berulang kali membuatnya jadinya hasilnya lumayan ada tiga kalung, kamu berikan untuk anak-anakmu," ucap tuan Permana.
"Untuk apa Yah? R nama siapa?" tanya Rendi.
"Kamu berikan pada mereka R kan nama kamu sama Rara! Biar mereka selalu merasa nyaman mengingatnya," jawab tuan Permana.
__ADS_1
Rendi mengangguk, ia mengerti maksud ayah mertuanya. Baginya tidak pernah terpikirkan memberikan sesuatu yang bisa menjadi sebuah ikatan mereka bersama ketiga anaknya. Bagi Rendi semua sudah ada dan tidak perlu sulit jika hanya menginginkan sebatas kalung yang terbuat dari perak seperti ini. Namun demi ayah mertuanya Rendi mengangguk dan menerima kalung yang berinisial R itu dan menyimpannya. Kini keduanya berbincang kembali mengingat hari esok mereka akan kembali ke Jakarta dan membicarakan tentang pernikahan Rayn yang memang akan di lakukan secepatnya.