Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Konsisten


__ADS_3

NTR:Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen, favoritkan dan vote yach... Selamat membaca kak.


Setelah membersihkan dirinya, Amira kini keluar dari kamar mandi dengan handuk di kepala dia berjalan keluar dari kamar mandi dah memasuki ruang ganti. Ia juga mengenakan kemeja warna hitam dengan celana jeans Amira juga mengenakan sepatu sneaker berwarna putih. Ia juga menyiapkan tas selendang dan memasukkan buku-buku yang ada di atas meja. Termasuk memasukkan buku Dairy berwarna pink pemberian dari Ibunya di ikutsertakan memasukkannya ke dalam tasnya.


Ia mengenakan kerudung warna Moca dengan pakaian rapih. Setelah dirasa sudah rapih Amira berjalan keluar dari kamarnya dan menuruni tangga menghampiri keluarganya yang sudah sarapan lebih dulu darinya dengan senyum manisnya.


Amira berjalan menghampiri meja makan dan duduk di samping kakaknya Rayn, dengan senyumannya. Itu tanda ia menyapa keluarganya. Rara dan Rendi sudah terbiasa akan sifat putrinya yang satu itu, yang memang tidak banyak berbicara, namun ia sangat patuh dan juga ramah.


"Kamu sarapan yang banyak sayang, supaya kamu kuat dalam turnamen hari ini," ucapkan Rara memberikan sarapan kepada putrinya.


Amira tersenyum dan mengangguk. Lalu ia melihat kearah ayah dan kakaknya yang terlihat sama-sama serius sarapan. Ia juga melihat ke arah adiknya Raisa, yang dengan lahap makan di pangkuan ayahnya. Meski begitu, Rendy tidak mengalihkan pandangan dinginya kepada Rayn. Mengingat mereka memang sama-sama posesif jika berada di samping Rara.


Tidak ada pembicaraan diantara Amira saat di meja makan, Amira memang tidak banyak berbicara jika hanya sekedar di ruang makan saja. Namun ketika dia bersama dengan keluarganya. Amira hanya akan berbicara panjang lebar dengan ayahnya Rendy, setelah sarapan bersama. Rendy berpamitan kepada istrinya untuk pergi ke kantornya. Begitupun ketika anaknya berpamitan dengan istrinya dan kini mereka berada di depan mobil.


Sudah ada Ken yang berdiri menunggu kedatangan Rendy dan menyapa Rara


"Selamat pagi Nyonya," sapa Ken.


Rara mengangguk dan tersenyum melihat Ken yang masih dengan setianya menjemput suaminya. Rendi meski sudah dilarang orang oleh Rendy. Namun Ken tetap bersikeras akan selalu berada disisi Rendy sampai kapanpun.


"Kamu tidak ikut sarapan bersama Ken?" tanya Rara dengan senyum ramah.


"Saya sudah sarapan Nyonya," jawab Ken.


"Apa kamu akan tetap ikut dengan Kakakmu sayang?" tanya Rendy kepada Raisa.


"Iya Pap, ada yang mesti Raisa bicarakan dengan kakak Rayn," jawab Raisa memeluk ayahnya dan mencium punggung tangannya.


Begitu pun Rendi mencium kening dan pipi Raisa. Setelah itu Rara mencium ketiga anak-anaknya, meski mereka sudah besar. Namun kehangatan yang Rara berikan kepada anak-anaknya tidak pernah berkurang.

__ADS_1


Amira, Rayn dan Raisa. Kini berada di dalam mobil yang sama. Mereka berangkat menuju ke sekolah. Mengingat untuk pertama kalinya mereka akan masuk mendaftar ke universitas sendiri. Tanpa mengandalkan keluarganya untuk mendaftar di Universitas. Meski ayahnya selalu memantau di setiap kegiatan yang anak-anaknya lakukan. Namun mereka memilih untuk lebih mandiri dan berusaha sendiri. Jika hanya untuk mendaftar kuliah saja.


Setelah berpamitan kepada ibunya kini Rara tinggal sendiri dirumah. Ia menatap kepergian anak dan suaminya yang saat ini sudah melakukan aktivitas mereka masing-masing. Saat Rara hendak masuk ke dalam rumahnya kembali. Dilla yang baru saja datang, karena memang tempat tinggal Dilla tidak jauh dari Komplek mereka berada. Rara tersenyum menyambut saudarinya, hingga mereka masuk ke dalam rumah dan berbincang bersama.


"Apa putrimu sudah berangkat kuliah?" tanya Dila.


"Iya, dia sudah berangkat. Namun katanya dia akan ikut turnamen dulu," jawab Rara.


"Turnamen apa? Jangan bilang kalau dia akan mengikuti turnamen karakter lagi?" tanya Dilla mengerutkan dahinya.


"Kalaupun iya, aku tidak masalah. Asalkan dia tidak menyimpang dari kodratnya sebagai seorang wanita," jawab Rara tersenyum.


Ia berjalan ke meja makan dan memberikan minuman kepada Dilla. Mereka berdua kini berjalan ke ruang tamu dan berbincang hanya berdua saja. Tanpa pelayan di sekitar mereka. Dilla dan Ken di rumah yang jarak tidak jauh dari rumah Rendi.


"Bagaimana Zain? Apa dia juga kuliah di tempat yang sama dengan anak-anakku?" tanya Rara.


"Ya seperti dirimu yang selalu bermanja kepada siapapun termasuk diriku," jawab Rara.


"Iya, ya, aku memang manja. Tapi aku manja kepada keluargaku terutama suamiku," balas Dilla.


"Aku akan pergi ke Bandung beberapa hari kedepan. Aku akan melihat kondisi ibu dan ayah. Mungkin anak-anakku akan aku titipkan kepadamu," ucap Rara.


"Tidak apa-apa apa, kamu pergilah bersama suamimu dan tenang saja tentang anak-anakmu yang sudah mandiri itu. Aku bahkan lebih menyukai anak-anakmu dibandingkan Putriku yang sangat manja itu," jawab Dilla.


"Hahaha, kau ini selalu seperti itu jangan buat putrimu merasa diasingkan," ucap Rara.


"Dia tidak akan seperti itu, sifat manjanya memang sangat melekat. Namun dia itu penuh pengertian dan baik hati," jawab Dilla.


"Ya begitulah Zain, aku sangat menyukai keponakanku itu," ucap Rara.

__ADS_1


"Ya jika kalian tidak menjodohkan putramu dengan Naura. Mungkin aku akan menjodohkan Zain dengan putramu," ucap Dilla.


"Rayn dan Naura itu,mereka sudah berjodoh. Namun jika memang takdir berkata lain, aku tidak tahu akan kehendak Tuhan," jawab Rara tersenyum sesekali ia menyesap tehnya.


Rara dan Dila berbincang di rumahnya sesekali mereka bercanda hanya berdua saja. Di kediaman Rendi yang hanya ada keluarganya saja begitupun Dilla dan Ken yang jarak rumahnya tidak jauh darinya.


Dalam perjalanan, sebuah mobil. Rayn fokus mengemudi dengan Amira disampingnya. Raisa duduk di kursi penumpang dengan pakaian seragam sekolah dasarnya, mengenakan pakaian rapih berhijab. Ia duduk dengan melihat-lihat ke arah jendela.


"Kak turunkan Aku di depan!" seru Amira.


"Jadi kau tidak akan mengenal Kakak, nanti di sana?" tanya Rayn.


"Bukannya aku tidak akan mengenalmu, tapi aku tidak mau jika orang lain tahu bahwa aku anak orang kaya. Aku jadi orang biasa saja dan juga aku ingin tahu ketulusan orang lain mau berteman denganku apalagi seorang pria," jawab Amira.


Rayn mengangguk, ia memahami prinsip adiknya yang memang sudah mereka bicarakan sebelumnya. Saat mereka menginjak Universitas, mereka sudah sepakat untuk tidak saling mengenal satu sama lain. Dengan Rayn yang masih dengan statusnya sebagai Putra Anggara. Namun lain dengan Amira, ia hanya akan menjadi gadis biasa saja, tanpa identitas yang mencolok seperti kakaknya.


"Kakak Amira semangat!" seru Raisa menyemangati kakaknya.


Amira mengerutkan dahinya melihat kearah adiknya yang sedang tersenyum menyemangatinya. Ia menghela nafas dan berbalik ke arah Raisa.


"Kau tahu Kakak ada turnamen?" tanya Rara Amira kepada adiknya.


"Memangnya apa yang tidak aku ketahui tentang kakakku yang satu ini? Mommy kan selalu memberitahuku," jawab Raisa.


"Ya, ya ... aku tahu kau sangat manja. Tapi ingat! Di luar keluarga kita, kamu tidak boleh terlihat lemah meski anak buah papa selalu ada di sekitar kita," tegas Amira.


"Baik Kak," jawab Raisa.


Rayn tersenyum bangga kepada adik-adiknya, yang sangat mandiri dan membuatnya semakin menyayangi kedua adiknya. Amira kini turun dari mobil kakaknya. Begitupun Rayn berpamitan kepada adiknya dan menancap gas pergi lebih dulu meninggalkan Amira. Setelah mobil kakaknya pergi, Amira melihat kearah mobil anak buah ayahnya. Ia tersenyum dan berjalan menelusuri tepian jalan menuju halte bus. Ia memang lebih suka berjalan kaki dan berbaur dengan lingkungan dengan penampilan sederhananya nya kerudung.

__ADS_1


__ADS_2