
Rendi mengingat apa yang dulu pernah ucapkan ia merenungnya.
"Aku ingkar bukan karena hal sepele tapi karena ini berurusan dengan istriku," ucap Rendi.
Mark yang sedang berdiri ia dduduk di sofa.
"Tidak ada kata ingkar bila itu sudah menyangkut keselamatan orang-orang tercinta kita Rend,kamu tetap melakukan kebenaran," ucap Mark.
"Hmm," ucap Ken dan Iyas membenarkan ucapan Mark.
"Apa semua sudah beres?" Tanya Rendi memainkan pena nya.
"Diatidak akan bisa berjalan lagi,juga sudah di kirim ke tempat dimana tidak akan bisa ia sebrangi untuk kembali," jawab Mark.
"Radit juga sudah di Amerika saat ini,dia dengan kedua mata yang luka mungkin tidak akan berani ke sini lagi," ucap Mark kembali.
"Apa lukanya separah itu?" Tanya Rendi.
"Aku tidak tahu saat di temukan matanya sudah seperti itu mungkin karena dia mengidap penyakit sehiga setiap benturanya berakibat fatal baginya," jelas Iyas ikut menjelaskan.
"Hmmm setidaknya dia ada untuk putranya," ucap Rendi.
"Kenapa Tuan membiarkan dia bebas berkeliaran?" Tanya Ken.
"Kalau dia ancaman sudah sejak awal dia mengusikku," jawab Rendi datar.
Ken masih mengerutkan dahinya,tidak paham dengan Rendi.
"Apa tuan tidak sadar bahwa Raditya juga menginginkan Nona muda,apa hanya perkiraanku saja," batin Ken.
"Dia tidak punya keberanian untuk melawanku kalau dia berani sudah sejak awal dia menentangku,tapi lain dengan adiknya,dia sangat terbuka sampai ingin merebut istriku," ucap Rendi kesal meremas kertas yang ia pegang.
Mark, Ken dan Iyas melihat kebencian dari tuannya,mengangguk mengerti akan kekesalandari tuan mereka.
"Apa kalian tahu siapa yang membantu Bari?" Tanya Rendi.
"Maksud Tuan saat setiap kamera yang tidak menangkap tindakan mereka? Tanya Ken.
"Hmmm," jawab Rendi.
__ADS_1
"Sudah di pastikan itu ulah pihak yang mahir dalam teknologi komunikasi tuan,hingga dari jarak jauhpun ia bisaa mematikan kamera dengan jarak jauh," ucap Mark .
"Apa kau tahu,Yas?" Tanya Rendi.
"Hanya ada satu yang mampu menandingiku siapa lagi kalau bukan Jason," jawab Iyas.
"Apa dia sudah sampai di keamanan kita?" Tanya Rendi.
"Apa kamu yakin tidak tahu?" Tanya Mark.
"Dia bahkan sudah berani menampakan diri di perusahaan kemarin," ucap Rendi.
"Iya mana mungkin perusahaanya mencakup seluruh wilayah tapi dia minta kerjasama dengan perusahaan Anggara,apa dia tidak takut kalau kita mencurigainya?" Ucap Ken.
"Sebaiknya kita terima kerjasamanya, aku yakin ada perseteruan antara Surya dan Jason," ucap Mark.
"Ken sudah melakukannya," jawab Rendi.
Mark Iyas dan Ken mengangguk.
Mereka berbincang sampai tengah malam,Rendi keluar saat Mark Iyas dan Ken berpamitan untuk kembali.
"Hmmm kalian sangat manis mamahmu pasti sangat merindukan kalian," batin Rendi tersenyum.
Rendi pergi ke kamar mandi,ia bahkan sempat memikirkan wajah seorang pria yang tertawa terbahak-bahak saat ia menghina dan memukuli Rendi juga ibunya yang menangis menahan Rendi yang di pukuli oleh anak buah Jason.
"Sialan! Akan aku pastikan kau tidak akan bernafas bebas lagi,jika berani mengusik keluargaku apalagi istriku," gumam Rendi.
Rendi dengan handuk di bawah pinggang rambut basah,ia melihat istrinya juga anak-anaknya tertidur pulas.
Rendi mencium kedua anaknya lalu mencium pipi istrinya. Ia menyentuh pipuiistrinya di tusuk-tusuk,tapi Rara tidak terganggu pulas.
Rendi tersenyum dan membulatkan kedua matanya, saat melihat satu buah gunung kembar keluar tanpa pemiliknya. Rendi menyentuh miliknya itu. Ia tersenyum saat istrinya gundah dan berpindah menjadi terlentang.
Rendi mencoba membangunkan dengan menusuk-nusuk pipi istrinya asik sendiri. Rara hanya bersuars lembut tapi tak membuatnya terbangun.
Rendi tersenyum ia menurunkan tali dres tidur istrinya hingga terjatuh ke bawah. Ia mencium Rara,berharap agar istrinya terbangun dari tidurnya.
Rendi menciuminya dan meninggalkan tanda kepemilikannya di leher jenjang istrinya. Tanda merah melingkar di sana tanda kepemilikannya.
__ADS_1
Ia memegang rambut istrinya lembut Rara hanya mengejang menahan sakit dari atas kepalanya.
Rendi tersenyum kembali ia memindahkan tanganya kebagian bibir mencoba melakukan segala cara agar istrinya terbangun dari tidurnya karenanya.
Tapi istrinya bahkan malah semakin pulas tidurnya. Rendi sedikit kesal dan menggigit bibir istrinya hingga terdengar rintihan mengaduh pada istrinya.
Rara terbangun. Ia terkejut dan membuka kedua matanya bulat,saat Rara mau protes ia sudah di tutup oleh bibir Rendi yang sudah bermain kesana kemari kecupannya.
Awalnya Rara kesal juga merasa risih karena ada kedua anaknya di sana.
Rara membalas ciuman suaminya,hingga ciumanya berpindah ke leher suaminya,saat di telinga suaminya Rara berbisik.
"Jangan di sini," suara serak Rara.
Rendi tersenyum dan mengangguk ia menggendong istrinya yang sudah tidak memakai sehelai pakaianpun.
Mereka melanjutkan yang sempat teralihkan.
Kini Rara yang menindih Rendi,ia tersenyum nakal pada suaminya hingga. Ia terkulai di atas tubuh suaminya.
Rendi yang tahu istrinya sudah lelah dan mengantuk iapun tersenyum melihat wajah istrinya.
Rendi Rara yang lelah dengan aktivitasnya mereka saling berpelukan, Rendi menggendong istrinya membawanya ke kamar mandi. Mereka mandi bersama di tengah malam yang biasanya. Rara menyusui Rayn dan Amira kali ini ia menyusui suaminya hingga lemas.
Rendi dan Rara tertidur berempat di atas kasur Rayn dengan Rara,Amira dengan Rendi.
Mereka tertidur pulas satu sama lain,
Sebelum tidur Rendi mengecup kening istrinya Rayn juga Amira.
Ken kembali ke Apartmentnya dimana istrinya berada,Ken sudah akhir-akhir ini pulang larut karena istrinya tidak mau di dekati olehnya,Dilla yang temprament padanya sering memarahi Ken jika suaminya itu mendekatinya.
Maka dari itu Ken selalu menyibukan dirinya bersama tuannya,Apa lagi saat insiden penculikan Rara. Yang malah membuat Dilla memarahi Ken dan Rendi kesana kemari hingga ia malah tidak mau melihat wajah Ken.
Tapi di waktu-waktu tertentu Dilla selalu ingin dekat dengan Ken setiap jam tiga pagi sampai jam tujuh pagi. Dilla bahkan melarangnya untuk pergi ke kamar mandi saking tidak maunya di tinggalkan suaminya.
Ken hanya menuruti kemauan istrinya tanpa protes,ia juga mendukung tugasnya kepada tuannya. Saat ini Ken sudah selesai mandi ia keluar pelan-pelan agar istrinya tidak terbangun karena kalau bangun Dilla pasti akan mengusirnya untuk tidur di ruang tamu,tapi jika menjelang subuh Ken tidak boleh pergi sama sekali, saking datarnya Ken ia bahkan tidak protes pada istrinya.
Ia selalu memenuhi ke inginan istrinya yang ingin bermain game hingga Ken yang menang tapi Dilla yang mencoret-coret wajah Ken.
__ADS_1