Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Pantai Kebersamaan


__ADS_3

Semua kendaraan kini berhenti di depan sebuah penginapan, yang jaraknya tidak jauh sudah terlihat pantai dengan ombak yang bergemuruh, beralunkan angin yang mengiringinya.


Kini Rendi beserta teman-temannya sudah berhamburan ke luar dari mobilnya.


Begitupun dengan Rara beserta anak-anaknya.


Ada beberapa anak buah Mark yang membawakan peralatan berkemah,mereka kini berjalan menghampiri tepian pantai yang terdapat banyak bebatuan besar.


Kini mereka memasang tenda berada jauh dari hembusan ombak yang memanggil para peselancarnya.


Rara tampak bahagia berpegangan ke tangan suaminya, senyum mengembang di wajah Rara .


Tidak bisa tertahan senyuman di wajahnya saking bahagianya,ia berada di tepian pantai.


Rendi melihat wajah berseri istrinya dengan senyum di wajahnya juga.


Rendi masih menggendong putrinya yang masih tertidur sepanjang perjalanan bahkan dari rumahnya.


Rara merentangkan tangannya dan tersenyum ke arah suaminya yang masih memandangnya dengan senyum tipisnya.


"Aku tidak tahu kalau kebahagiaanmu selalu yang sangat sederhana Sayang," gumam Rendi.


Rendi mengikuti istrinya berjalan menelusyri pantai dengan kaki telanjang, putrinya yang masih dalam pangkuannya masih tertidur lelap karena memang cuaca masih pagi dan belum waktunya Amira terbangun.


Di depan tenda dimana semua orang sedang sibuk memasang tenda.


Rayn sedang berdiri bersama Adam yang sudah duduk bersandar di bebatuan memainkan game yang ia geluti sepanjang perjalanan.


Saat Rayn memperhatikan Adam,ia menghampiri paman barunya itu.


Rayn mengganggu Adam yang sedang sibuk dengan permainan gamenya.


Walau di acuhkan, Rayn tetap mengganggu Adam dengan segala tingkahnya, ia bahkan duduk di pangkuan Adam.


Dengan keseriusannya Adam pada permainannya ia membiarkan Rayn duduk di pangkuannya dan melihat permainan yang sedang Adam mainkan tanpa mengganggu Adam bermain.


Dilla sedang di kipasi oleh Nesa yang sedari tadi mengikutinya, karena perintah tuannya Ken.


Dilla tampak berkeringat dengan tubuhnya yang mulai berat karena kehamilannya sudah enam bualn lebih.


"Uh,nih aku sudah tidak tahan dengan pakaian ini,kau simpan atau kau buang saja aku mual dengan pakaian ini," gerutu Dilla.


Dilla membuka pakaian tebalnya dan memberikannya pada Nesa yang ada di hadapannya.


Nesa tersenyum mengambil pakaian nyonyanya itu, mengangguk dan menyimpannya di lengannya, ia masih dengan aktivitasnya mengipasi Dilla.


Dilla berulang kali minum air mineral yang sedari tadi sudah habis beberapa botol ia minum.


Lain dengan Ken dan yang lainnya mereka kini sedang sibuk mengatur anak buahnya untuk memasang tenda yang besar untuk tuan dan nona mudanya beserta putra putrinya.


Saat ini Rara sedang duduk bersama Rendi di sampingnya,tidak luput senyum bahagianya terpancar tidak hentinya. Dari awal ia datang ke pantai yang selama ini ia inginkan,pergi bersama kekasih bahkan bersama suami dan anak-anaknya.


Rendi tersenyum dan melihat senyuman manis istrinya yang dari tadi tidak pernah berubah.


"Sayang,aku sangat bahagia sekali, aku ingin ini semua tidak cepat berakhir, aku selalu berharap agar bisa pergi ke tempat seperti ini bersama orang tercintaku dan itu adalah bersama kamu yang sangat aku cintai," ucap Rara


Rendi tersenyum mendengar setiap penuturan istrinya yang mengutarakan semua perasaannya.


Tiba-tiba saja Rara mencium pipinya juga bibir dan kening suaminya.


Tingkah istrinya yang sedang gembira ini yang membuat Rendi tidak tahan ingin menghabiskan setiap detik bersama istrinya.


Setelah mencium suaminya Rara memandang suaminya dengan senyum penuh cintanya.


Rendi menatap wajah,mata dan senyum istrinya yang tulus.

__ADS_1


"I love you,Suamiku," ucap Rara.


Rendi tersenyum bahagia mendengar ucapan istrinya yang sangst barang berantusias seperti saat ini, jika tidak sedang menggendong putrinya, Rendi sudah berpikiran untuk memakan istrinya saat ini juga.


"Apa kamu bahagia Sayang?" Tanya Rendi.


"Hmmm, aku sangat bahagia Sayang, sangat bahagia," jawab Rara.


"Kalau begitu mari kita buat rumah di dekat pantai," ucap Rendi.


"Apa? Serius Sayang, aku mau," teriak Rara.


"Baiklah, nanti akan secepatnya hanya untukmu," ucap Rendi.


"Hmm, aku senang mendengarnya," ucap Rara merngkul lengan suaminya dan menyenderkan kepalanya di bahu suaminya.


Rendi memegang bahu istrinya dengan tangan sebelahnya ia mencium bibir istrinya, dengan intens di depan ombak yang bergelora sama dengan dada yang bergemuruh di hati mereka berdua.


Saat Rendi mencoba semakin mempererat ciumannya, sebuah tangan memukul wajahnya, membuatnya menyudahi aktivitas bersama istrinya.


Rendi terkejut saat melihat putrinya yang setengah sadar sudah terbangun.


Rara tersenyum melihat wajah Rendi yang tidak senang mengakhiri aktivitasnya saat sedang menikmatinya.


Rendi membenarkan pangkuannya dengan Amira yang sudah berdiri di pangkuannya saat ini.


Rendi menciumi putrinya dengan gemasnya.


"Kamu ini gadis nakal,giliran tidak di bangunkan malah bangun di waktu yang tidak tepat, hah, " gerutu Rendi gemas pada putrinya yang malah memandangi Ayahnya yang menciuminya tanpa henti.


Rara tertawa saat mendapati tingkah suaminya kepada putri kesayangannya, juga Amira yang dengan wajah tidak bersalahnya memandangi ayahnya.


"Kenapa aku merasa putrimu ini mengatakan kamu bodoh ya Sayang,dengan tatapannya itu padamu, haha," tawa Rara melihat putrinya yang setengah sadar memandangi Ayahnya lalu berpindah pada Ibunya yang tertawa tanpa henti.


Kini sudah hampir siang Rendi dan Rara bersama putrinya yang kini sudah bangun, berjalan kembali ke tenda yang sekarang sudah berdiri.


Rendi memegang tangan istrinya dengan Rara yang sesekali berlari dan Rendi mengejarnya bersama putrinya yang tertawa senang dengan Ayahnya membawanya berlari mengejar Ibunya.


Mereka kini sudah sampai di tenda yang sudah siap begitupun dengan tenda untuk bersantai hanya untuk sekedar berjemur.


Rara duduk di samping Dilla yang sedang meminum kelapa muda beserta Nesa yang sedang mengipasinya.


Rara tersenyum melihat Saudaranya terlihat lahap dalam hal makanan saat ia sedang masa kehamilannya.


"Sayang,kamu merasa gerah?" Tanya Rara.


"Hmm,ini gara-gara suami tercintaku yang membiarkanku untuk memakai baju musim dingin, dengan alasan angin di pantai sangat kencang," gerutu Dilla.


"Haha, memang anginnya kencang bagi kamu yang sedang mengandung Sayang, kamu lebih baik karena suamimu memperhatikannya," ucap Rara.


"Hmmm, iya aku senang punya suami yang sangat perhatian hingga membuatku mati kehabisan nafas," cetua Dilla.


"Kau tinggal minta nafas buatan pada suamimu itu," ucap Rendi datar.


"Uhuuk." Dilla terbatuk mendengar ucapan Rendi.


"Astaga, Suamimu ini vulgar sekali cara bicaranya Sayang, haha," tawa Dilla.


Rara mendengarkannya dengan ekspresi malasnya dan meminum air kelapa yang sudah tersedia di meja mereka.


"Kamu tidak akan tahu saja seberapa vulgarnya suamiku ini," ucap Rara.


"Hahaha, aku bahkan sangat ingin tertawa saat kamu mengatakan hal seperti itu Sayang, kamu makin lucu saja ya Sayang sini aku peluk," tawa Dilla.


Saat Dilla mencoba merangkul Rara, tangan Rendi lebih dulu menarik istrinya dan Rara kini terduduk di pangkuan suaminya.

__ADS_1


Dilla terkejut dan diam dalam posisinya yang akan memeluk Saydarinya tapi tidak jadi karena di dului oleh Rendi.


"Astaga Suamimu ini pelit sekali Sayang, huh," cetus Dilla.


Rara yang kini terduduk di pangkuan suaminya karena Amira sudah di gendong pengasuhnya.


Rara terkejut dengan tingkah suaminya yang tidak mau mengalah walau hanya pada seorang Ibu hamil sekalipun.


"Kamu ini,kebiasaan lihat tuh dia itu sedang mengandung, dia ingin memelukku bagaimana jika nanti anaknya jadi ngeces gara-gara kamu ini," gerutu Rara.


"Tidak akan,karena tidak ada dari keturunan Ken, terkecuali keluargamu yang ada seperti itu atau bisa jadi nurun dari Mamahnya," ucap Rendi acuh tanpa ekspresi.


"Aah,Suamimu itu bener-bener ya mana ada, aku tuh gadis tercantik tahu setelah Rara mana ada ngeces seperti itu,huh," gerutu Dilla.


"Duh,sudah aku pusing kalian ini gak ada yang mengalah, aku lapar apa ada makanan?" Tanya Rara.


"Makanan sudah siap Nyonya muda," jawab Nesa.


Rara mengangguk dan berdiri meninggalkan suaminya dan Dilla.


Rendi ikut berjalan mengikuti istrinya yang kini sudah duduk di meja yang banyak makananya.


Rara kini sedang membuka piring bersama menyediakan piring untuk suaminya.


"Sayang ,ayo makan," teriak Rara pada Dilla.


Dilla mengangguk dan menghampiri mereka untuk makan.


Rarapun memanggil yang lainnya untuk makan bersama, tapi tidak ada yang berani maju selain Dilla yang sudah duduk di hadapan Rara,ia bahkan sudah memakan makanan yang di sediakan Rara.


Rendi mengerutkan dahinya melihat Dilla yang sudah lebih dulu makan dan istrinya yang masih mengajak yang lainnya makan bersama.


"Sayang?" Tanya Rendi.


"Hmm,kenapa Sayang,sebaiknya kamu biasakan diri untuk makan bersama keluarga kita ini ya,kalau tidak ada yang mau makan aku akan pastikan tidak ada hal malam ini," ucap Rara.


Rendi tertegun mendengar ucapan istrinya yang sangat jarang sekali mengatakan hal itu.


Ia tersenyum dan mengisyaratkan Ken agar mengajak semuanya untuk makan di meja yang luas untuk makan bersama.


Ken tersenyum dan semua yang melihat isyarat Rendi tersenyum penuh kemenangan setelah sekian lama tidak pernah makan bersama seperti itu.


"Astaga Nona mudamu ini Ken yang terbaik," bisik Iyas pada Ken.


Ken hanya menanggapi lnya dengan senyumannya yang tipis.


Mark duduk di kursinya bersama Iyas,


Ken di samping istrinya memberikan makanan untuk istrinya makan.


Adam yang di ajak juga,ia menggendong Rayn dan duduk di meja makan dengan Rayn di pangkuannya memegang handponenya memainkan game yang sedari tadi mereka mainkan.


Nesa duduk juga di samping Adam dengan menggendong Amira yang kini sudah cantik sehabis di mandikan oleh pengasuhnya.


Rara memberikan makanan untuk suaminya dan juga untuknya.


Ia melihat Rayn yang ada di pangkuan Adam dengan Adam sesekali menyuapi Rayn yang sedang asik memainkan gamenya.Ia juga melihat semua yang sedang makan dengan lahapnya beserta para pengawal yang ikut makan walau tidak di meja yang sama.


Rara tersenyum melihat kebersamaan mereka saat ini.Ia tersenyum bahagia melihat suaminya yang sedang makan juga.


"Aku belum pernah mendapati putraku makan dengan orang lain selain aku,tapi sekarang sepertinya Rayn sydah ada Paman yang akan menjamin makanan dan mainannya ya," ucap Rara.


Rendi melihat istrinya dan beralih melihat ke arah Adam yang sedang makan juga menyuapi putranya yang dengan lahap mengunyah makanannya,juga dengan permainan gamenya di tangannya.


Ia terdiam dan melanjutkan aktivitas makannya kembali.

__ADS_1


__ADS_2