Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Kenangan Pedih


__ADS_3

Sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi dengan Mark di balik kemudi. Iyas masih dengan sebelah tangan di atas kepala berpegangan di pedal besi dengan wajah konyol ketakutannya.


Lain dengan Rendi dan Ken yang masih duduk dengan wajah datarnya. Mereka bahkan sangat menikmati perjalanan walau sebenarnya di hati Ken sangat merasa bahwa Mark membawa mobil masih sangat pelan.


Iyas masih dalam pandangannya melihat Mark yang bisa seserius itu membawa mobil dalam kecepatan tinggi. Ia merasa ada hal yang membuatnya harus secepatnya. Sebenarnya ada kenangan pedih saat Mark mendengar apalagi menyaksikan seseorang melahirkan.


*Flashback on*


Pada episode 65 di bab sebelumnya.


Sesudah kejadian Mark membereskan seorang wanita yang menggoda Rendi waktu di Indonesia.


Mark yang kembali ke Singapore dan mengurus perusahaannya. Seorang gadis yang bernama Sisi datang ke rumahnya dengan perut besarnya dan mengatakan jika itu adalah anaknya. Mark sempat tidak percaya. Tapi mengingat dia yang merenggut keperawanannya. Mark mencoba menerima gadis itu dan menjadikannya wanitanya tanpa sebuah pernikahan walau Sisi berulangkali memintanya untuk menikahinya. Tapi Mark tidak pernah menghiraukan apalagi mendengarkannya. Bahkan saat Mark mabuk dan menyentuh tubuh Sisi. Wanita itu sempat minta sebuah pernikahan tapi tidak ia hiraukan.


Setiap hari mereka habiskan bersama di rumah walau tanpa status. Tapi Mark memenuhi setiap kenmbutuhan Sisi juga sudah mempersiapkan segala pakaian bayi keperluannya kini sudah ada di dalam sebuah ruangan yang mereka siapkan. Mark tertegun ketika melihat senyum di wajah putih polos Sisi yang saat ini sudah hamil besar.


Suatu hari Mark sedang berada di ruang kerjanya. Untuk kali ini pertama kalinya Iyas tidak di sampingnya dan sedang mengikuti acara Lelang perusahaan, jadi Mark tidak ikut serta dan hanya Mark yang kini berada di perusahaan.


Saat Mark sedang memeriksa dokumennya. Ia mengingat wajah senyum polos wanita yang kini berada di rumahnya sendirian.


Wajah gadis sedang tersenyum bahagia kini muncul di bayangannya. Ia mengusap wajahnya dan tersenyum mengingat wajah manis Sisi gadis yang sudah ia kenal sejak kecil. Mark mengingat setiap keinginan Sisi yang selalu memintanya untuk menikahinya. Mark sempat memikirkannya untuk menikahinya nanti jika sudah melahirkan. Tapi kata-kata manis itu sangat sulit dia utarakan. Saking rapatnya mulutnya hanya untuk berkata iya, untuk seorang gadis yang sedang hamil mengandung anaknya itu.


Mark sudah mematangkan tekadnya untuk mengutarakan maksudnya pada Sisi bahwa ia akan menikahinya setelah melahirkan dan mengatakannya malam ini sepulang dari perusahaannya. Lain dari dugaan, Mark tidak mengingat waktu, ia berada di ruangannya sampai malam tiba dan sekitar pukul delapan malam. Ia mendapat sebuah telepon dari rumah sakit bahwa istrinya masuk rumah sakit. Setelah mendapatkan informasi seperti itu Mark sesegera mungkin keluar dari ruangannya tanpa mengenakan jasnya. Ia berlari ke arah parkiran dan melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Saking terburu-burunya ia tidak menyadari jika ia menabrak sebuah kendaraan di depannya yang berhenti mendadak hingga membuat kepalanya membentur stir mobilnya.


Mark beradu mulut dengan pemilik mobil. Ia meminta maaf untuk pertama kalinya seumur hidupnya mengingat seseorang sedang menunggunya sekarang. Mark membiarkan orang itu memakinya dan bahkan menyeretnya ke kantor polisi terdekat. Mark mulai geram dan tidak menghiraukan orang itu. Ia melajukan kembali kendarannya meninggalkan orang yang sedang memakinya dengan berteriak.


Sesampainya di rumah sakit. Mark seperti kalang kabut kesana kemari menanyakan tentang anak dan istrinya. Hingga ia melihat seorang Dokter keluar dari ruangan operasi dalam keadaan tidak bersemangat. Mark menghampirinya dan memegang tangan Dokter tersebut.


"Dokter bagaimana keadaan anak dan istri saya?" tanya Mark dengan wajah cemasnya.


"Anda suaminya? Kenapa Anda baru datang! pasien dari tadi menunggu suaminya dia bahkan menolak melakukan operasi hanya untuk menunggu suami seperti Anda !" teriak Dokter wanita tersebut dengan wajah kesalnya.


"Bagaimana keadaannya Dok, saya minta maaf," ucap Mark dia mengulang ucapan maaf untuk yang kedua kalinya.


"Hanya pria bodoh yang menyia-nyiakan wanita hebat dan cantik seperti itu, dia bahkan sangat mencintai Anda Tuan dan juga berharap kamu bersamanya menemaninya untuk melahirkan," ucap Dokter tersebut dengan wajah kesalnya.


Mark hanya terdiam dalam kecemasannya. Ia memasuki ruangan pasien setelah mendapatkan ijin dari Dokter tersebut. Tapi ada kalimat ganjil dari Dokter tersebut sebelum membiarkan Mark memasukinya.


"Setidaknya kau tidak akan menyesal."


Kalimat itu Mark hanya mendengarkan sepintas. Ia lebih memilih masuk ke ruangan tersebut di bandingkan bertanya lama-lama pada ucapan Dokter tersebut.

__ADS_1


Saat ia masuk ke dalam sebuah ruangan. Ia melihat seorang wanita terbaring lemah di atas ranjang pasien dengan bantuan alat nafas di mulutnya. Mark melihat ke sebuah ranjang di samping pasien tersebut. Ada bayi yang teramat putih berseri tertidur dengan balutan kain berwarna biru. Mark tersenyum tapi tidak menyentuhnya. Ia memilih mendekati Sisi yang kini tertidur. Ia duduk dan menggenggam tangannya. Dengan mata menahan air matanya di pelipis matanya. Ia menggenggam tangan itu dan menciumnya.


"Kau datang?" suara Sisi terdengar samar tanpa tenaga.


Mark mendongakan pandangannya melihat Sisi yang kini tersenyum bertanya padanya.


"Yah ...."


"Terimakasih," ucap Sisi tersenyum dengan air mata keluar dan jatuh di pelipisnya.


Mark tersenyum dan mengusap air mata Sisi.


"Ayo kita menikah, aku akan mencintaimu seutuhnya," ucap Mark menegaskan ucapannya memandangi Sisi yang kini tersenyum padanya.


"Maaf ...."


Ucapan itu yang terucap untuk yang terakhir kalinya Mark dengar dari wanita yang kini tersenyum dan menutup kedua matanya.


Mark tertegun saat mendengar ucapan itu juga dengan tangan yang ia genggam yang sudah tidak bertenaga lagi. Ia mencoba memegang kembali tangan itu tapi sudahblain dari sebelumnya. Tangan itu kini sudah mulai terasa tidak hangat lagi. Mark mendekati wajah Sisi yang kini terlihat putih pucat dengan tetesan air mata di pelipis matanya. Ia mengusapnya dengan hati merasa takut akan sesuatu yang tidak ia inginkan terjadi. Ia membuka alat bantu nafasnya dan mencium bibir Sisi yang sudah tidak ada sebuah nafas panas lagi itu terasa dingin. Mark terjatuh dalam duduknya. Ia menangis setelah mencoba menahan air matanya dari tadi.


" Kau ... kau tidak boleh pergi," ucap Mark memelankan suaranya dengan hati getirnya.


"Jangan ... jangan tinggalkan aku, bukankah kau ... kau ingin aku menikahimu? Ayo kita menikah sekarang juga, kau mau aku buatkan sarapan pagi, baiklah akan aku buatkan seperti dulu kau bermanja padaku, kau ingin bercinta denganku akan aku layani kamu dengan penuh cinta tapi kau harus bangun aku sudah mencintaimu Sisi kau bangun," lirih Mark dengan air mata yang sudah tidak tertahan terjatuh deras di pipinya.


Dokter yang dari tadi berdiri memperhatikannya di arah pintu. Ia menghampirinya dengan beberapa perawat dan mencoba melepas alat bantu dan beberapa selang di tubuh Sisi dan menutup mayat Sisi dengan kain.


Mark bahkan masih dalam tangisnya ia tidak bisa menerima kepergian seorang wanita yang sudah mulai ia cintai. Mark terduduk di lantai saat melihat ranjang Sisi di bawa oleh para petugas tersebut. Dalam tangisnya ia mengingat semua wajah senyum tawa gadis itu yang selama ini menemaninya. Ada sebuah penyesalan dalam hatinya ketika ia tidak bisa membuat gadis itu bahagia selama bersamanya. Bahkan hanya sekedar bualan kata-kata bohongnya tidak pernah ia ucapkan bahwa ia mencintainya apalagi berkata bersedia menikahinya. Mark menangis dalam diamnya. Dokter tersebut menggelengkan kepalanya membuang nafasnya dengan kasar.


"Kau tahu dia berjalan dan berusaha untuk melahirkan dengan normal, kau tahu dia bahkan ingin sekali kau berada di sampingnya saat melahirkan, dia bilang kau suaminya yang sangat mencintainya dia ingin seorang gadis mungil dan cantik untuk menemaninya dan akhirnya ada juga gadis mungil ini akan menemani Anda Tuan, dia berpesan agar kau mencintainya dengan sepenuh hati," ucap Dokter tersebut melihat bayi di keranjangnya.


Seteleh itu Dokter tersebut pergi meninggalkan Mark yang sudah terdiam dan merasakan sesal yang teramat dalam, dari dirinya yang bodoh tanpa menghiraukan perasaan cinta Sisi yang tulus dan besar padanya. Ia selalu berpikir jika gadis itu bukan hamil karenanya mengingat Sisi yang selalu bersikap nakal dan ingin menggoda pria manapun bahkan Rendipun sempat ia serahkan tubuhnya.


Mark menerimanya karena memang dia yang merenggut kegadisannya. Tapi seiring berjalannya waktu ia mulai menerima Sisi di kehidupannya bahkan mencintainya. Tapi takdir berkata lain. Saat Mark sudah mulai membuka lebar hati dan cintanya. Wanita itu justru pergi meninggalkannya untuk selamanya. Bahkan ia meninggalkan seorang gadis cantik mungil yang saat ini berada di pangkuannya.


Iyas masuk membuka pintu pasien dan melihat Mark yang sedang menggendong seprang bayi di pangkuannya. Iya bergegas pergi ke rumah sakit ketika tahu alat pelacak di mobil Mark yang kini berada di sebuah rumah sakit.


"Bro ...! Kau baik-baik saja?" teriak Iyas tergesa-gesa menghampiri Mark yang mendongakan kepalanya melihat Iyas. Tapi sudah tidak berlinang air matanya kembali.


"Kau pegang gadis kecilku ini, ada yang harus aku lakukan saat ini juga," ucap Mark memberikan bayinya pada Iyas yang masih belum mengerti sahabatnya itu.


Mark berjalan keluar dari ruangan tersebut dan menelusuri lorong rumah sakit mencari sebuah ruangan yang terdapat sosok jenazah seseorang yang ia cari. Mark mendekatinya dan menyentuh tangan Sisi dengan pandangan penuh penyesalannya.

__ADS_1


"Maafkan aku yang tidak pernah bisa membuatmu bahagia, untuk saat ini kau adalah istriku aku akan mencintai gadismu ini dan melindungi memberi ia kebahagiannya semampuku," ucap Mark.


Ada beberapa anak buah Mark yang datang memasuki ruangan dimana Mark berada. Mark memerintahkan mereka untuk membawa Jenazah dan membuat persiapan pernikahan dan pemakaman sekaligus.


Semua yang mendengarnya terkejut mendengar ucapan tuannya yang terdengar aneh. Tapi jangankan anak buahnya, Iyas sahabatnyapun tidak berani protes apalagi bertanya. Ia hanya tahu untuk menjaga bayi di tangannya.


Hari ini di sebuah ruangan besar di rumah utama Mark ada sebuah pernikahan dan juga acara persembahan terakhir untuk Sisi yang kini berstatus istri tuan besar Mark Robert.


Setelah acara pernikahan dan pemakaman selesai Kini Mark dan Iyas duduk di ruang tamu dengan suara tangisan bayi di pangkuan Mark. Baru saja Iyas mencoba untuk mengawali berbicara. Sudah ada suara sirine polisi di depan rumah Mark dan ada tiga orang petugas yang datang ke arah Mark dan mencoba untuk menangkap Mark atas kasus tabrak lari.


Mark mengerutkan dahinya dan mengingat apa yang sebenarnya terjadi. Ia teringat bahwa ia sudah menabrak kendaraan milik seorang pejabat di kedutaan. Mark terdiam dan berpikir menstabilkan perasaan dan kesadarannya saat ini.


Mark memberi isyarat pada salah satu anak buahnya dan memintanya untuk mengambil berkas di dalam ruangannya dan membawanya ke kantor polisi.


Mark tersenyum dalam diamnya ia berjalan mengikuti polisi dan ikut ke kantor polisi untuk pemeriksaan.


"Kau jangan ceritakan ini semua pada Rendi, biar aku yang menceritakannya nanti," tegas Mark pada Iyas yang kini mengangguk dan pergi mengikuti petugas.


"Bagi Mark jangankan pejabat kecil seorang rajapun tidak akan bisa lepas dari kejaran Mark yang sedang dalam sangkar singanya dan kini ia di usik saat dalam mode tidak baik" gumam Iyas melihat Mark yang pergi meninggalkan rumahnya dengan Iyas menggendong bayi.


Hanya butuh waktu setengah jam Mark kini berada di kantor polisi dan sudah ada seorang pejabat beserta yang lainnya menghampirinya. Juga berteriak pada Mark seperti malam itu juga.


Mark tersenyum tahu siapa pejabat-pejabat di hadapannya ini. Ia tersenyum licik dengan tatapan membunuhnya mengingat kalau bukan karena mobilnya parkir di area terlarang hingga membuatnya menabrak mobilnya dan membuatnya terlambat menemani istrinya melahirkan. Kalau bukan pria di hadapannya ini berbicara panjang lebar tidak akan membuat waktunya terbuang sia-sia juga.


Mereka tertegun ketika Mark menyerahkan bukti kejahatan pria itu dan juga kasus korupsinya pada negara sebesar dan bahkan kasus penjualan wanita yang masih berlangsung di Singapore. Pria itu tertegun ketika malah di serang balik oleh Mark yang memiliki bukti yang akurat atas kejahatannya.


Ia bahkan tidak percaya akan hal itu bahkan tidak mempercayai jika seseorang yang ia laporkan adalah seorang stalker.


Pria itu terkejut malah ia yang di tanya oleh petugas atas kejahatannya dan Mark berbalik meninggalkan mereka dengan senyum di wajahnya yang terlihat penuh kebencian.


"Siapapun yang berani menggangguku akan aku bunuh ke akar-akarnya," ucap Mark melihat kearah dua pejabat lainnya yang berdiri melihat tatapan tajam Mark yang menakutkan. Mereka bertanya- tanya. Siapa pria yang di hadapannya yang mampu membuat pejabat tinggi di Singapore terjebak dalam tindakan bodohnya sendiri melaporkan stalker yang bahkan tahu seluk beluk perbuatannya.


Mark kembali ke rumahnya dan hidup bersama seorang bayi mungil cantik di pangkuannya duduk di atas ranjang memandangi poto seorang wanita cantik dengan tawa lepasnya tertawa melihat kearahnya. Sebuah penyesalan dalam dirinya yang telah menyia-nyiakan wanita yang berstatus istrinya saat ini yang sudah tenang. Kini Mark bersama dengan sahaabatnya Iyas mengurusi bayi kecil dengan penuh kasih sayangnya. Bayi yang kini bernama Naura Robert itu kini sudah berusia sepuluh bulan tinggal bersama pengasuhnya di rumah Mark di Singapore.


**Flashback off**


Iyas tersenyum ketika kendaraan kini sudah sampai di depan rumah sakit dan melihat ke arah Mark yang kini malah terdiam dalam duduknya setelah ia menekan pedal rem mobilmnya dan membiarkan Rendi. bersama Ken keluar dari mobilnya dan meninggalkan Mark dan Iyas yang masih di dalam mobilnya.


"Sob kau baik-baik saja?" tanya Iyas menyentub bahu Mark.


Mark mengangguk dan mulai kembali menenangkan hati dan pikirannya. Ia tidak mau kejadian yang menimpanya terulang dan di rasakan orang terdekatnya. Hingga ia merasa sensitip jika melihat seorang wanita hamil. Bahkan mengucapkan berulang kali kata maafpun tidak ada gunanya untuk masa yang tidak bisa berulang kembali.

__ADS_1


__ADS_2