
Sudah hampir satu tahun, Rendy dan Rara masih setia bolak-balik ke rumah sakit. Untuk menemani Ibu Rara yang masih belum sadarkan diri dari komanya. Setelah mendengar kabar berita kematian Nia dan juga hancurnya tempat perjudian ternama di Jerman. Yang dimiliki oleh keluarga Rvply, kini Ini dunia mafia pun terasa damai, ketika beberapa orang yang sangat mencolok dengan kekejamannya. Kini hanya tersisa sebuah nama saja. Antara Jason, Dirga, bahkan Vincent kini hanya tersisa sebuah nama saja dan sejarah pusat perjudian dan pelelangan yang terkenal dengan ke ilegal lainnya.
Kini sudah tidak ada lagi persatuan mafia terbesar di dunia. Yang kini dikendalikan oleh Rendy sebagai ketua terbesar di Jerman. Di mana Ketua diantara para ketua mafia. Rendi memimpin para ketua mafia dengan kesadarannya yang hanya menjunjung tinggi sebuah kesetiaan. Jika ada hal yang janggal dari para bos mafia hanya akan ada Ken dan Mark yang akan menumpas mereka. Rendy masih dengan tugasnya berdiam diri di rumah, menemani istri dan kedua anaknya. Yang kini sudah besar bahkan keaktifan kedua anaknya sudah membuat Rendy kewalahan terutama Amira Putri kesayangannya.
Pagi ini Rara sudah bersiap dengan pakaian formalnya rapihnya, mengenakan penutup kepala dan baju warna peach dan celana jeans, beserta menggunakan heels. Rara menghampiri suami dan anak-anaknya yang sedang berada di kamar anak. Mereka yang sedang bercanda bersama. Rara tersenyum melihat keakraban suami dan anak-anaknya. Rendi dan anak-anaknya kini melihat kearah Rara yang sudah rapih.
Rendy tersenyum melihat istrinya dan kini Rara berada dihadapannya.
"Aku mau ke rumah sakit melihat ibu kasihan Ayah, jika dia harus menunggu semalaman di sana," ucap Rara mencium putra-putrinya.
Rendy tersenyum melihat istrinya yang terlihat cantik dengan balutan make up yang sederhana dan tampak cerah.
"Aku mau juga dicium oleh istriku tercinta ku ini!" ucap Rendy dengan manja.
"Tidak boleh!" tegas Rayn dengan keras menarik tangan ibunya dan juga memeluk pinggang ibunya, dengan tatapan tajamnya melihat ayahnya yang tersenyum tipis melihat ke arah Rayn.
"Dia istriku! Untuk apa kau melarangku?" ucap Rendy dengan tatapan dinginnya, kepada putranya itu.
__ADS_1
Rara tersenyum melihat tingkah suami dan putranya yang sama-sama tidak pernah mau mengalah. Seperti halnya setiap hari mereka lakukan hanya bertengkar memperebutkan ibunya Rara dengan konyolnya. Akan tetapi Rendy dan Rayn saling memperhatikan satu sama lain. Walau dengan cara mereka masing-masing.
"Sudah-sudah! Ayo siapa yang mau ikut ke rumah sakit dengan Mama?" tanya Rara menggendong Rayn dan mencium pipinya dengan gemas.
Mendapati ibunya yang menggendongnya Rayn tersenyum penuh kemenangan melihat ke arah ayahnya, yang kini menatap tidak suka melihat Rayn yang di cium oleh istrinya. Rendi cemberut dan terdiam ke samping tidak menghiraukan ucapan istrinya.
" Hahaha ... lihat tuh Papamu marahkan! Sana bujuk Papamu," ucap Rara kepada Rayn.
"Aku tidak mau! Dia bukan anak kecil," jawab Rayn acuh.
"Aku juga tidak mau di bujuk kamu anak kecil," ucap Rendi cetus.
Rara tertawa melihat tingkah Ayah dan putranya itu, yang terlihat sama-sama keras kepala dan tidak mau mengalah. Tingkah mereka yang sama-sama keras kepala, malah membuat Rara semakin merasa bahagia. Ketika lelaki yang sangat ia cintai itu, kini sama-sama kompak dengan keras kepalanya dan juga terkadang mereka berdua sama-sama kompak dalam setiap hal.
Ketika suasana seperti ini, Amira mendekati ayahnya Rendi, yang sedang merajuk tiba-tiba Amira naik ke pangkuan ayahnya dan mencium pipi Rendy. Seketika Rendy berbalik dan tersenyum menggendong Putri tercintanya itu. Rendi menciumnya hingga membuat Amira tidak tahan tertawa, karena merasa geli dengan janggut yang tumbuh di wajah Rendy. Mereka bercanda di pagi hari bersama-sama. Rendi dengan putrinya dan Rara dengan putranya.
Mereka terlihat bahagia dan hangat ketika kumpul bersama. Hanya ada 2 pelayan yang memperhatikan kebahagiaan keluarga Rendi dan Rara beserta putra-putrinya. Setelah dirasa waktu semakin siang. Rara berbicara kepada suaminya.
__ADS_1
"Ini sudah siang! Sudah saatnya kita ke rumah sakit," ucap Rara mengakhiri tawanya.
"Baiklah ... tunggu di bawah! Nanti aku akan menyusul. Aku bersiap dulu ya Sayang. Karena aku harus mandi dulu dan ini kamu itu pria harus bisa menjaga adikmu, juga nama baik keluarga!" tambah Rendi berbicara kepada Rayn, yang kini mengangguk menanggapi ucapan ayahnya.
Rara tersenyum melihat adegan dimana Rendi menasehati putranya dan ditanggapi dengan pemahaman putranya, yang terlihat sangat manis dan tampan di hadapannya. Rayn dan Amira dibawa oleh 2 pelayan pengasuh untuk mengikuti Rara. Mereka turun ke lantai bawah, setelah melihat suaminya memasuki kamar mandi untuk bersiap mengantar Rara ke rumah sakit.
Rara dan juga anak-anaknya sampai di lantai bawah. Rara melihat Dilla dan Ken beserta putrinya, Zein yang terlihat sangat manis putrinya yang kini sudah mulai besar menginjak usia 1 tahun terlihat ceria di pangkuan ayahnya Ken. Rara tersenyum dan menghampiri keluarga kecil Ken yang kini terlihat manis bagi siapapun yang melihatnya.
"Apa kalian jadi tinggal di Apartement kalian lagi? Bukannya sudah saja disini, untuk menemani Rayn dan Amira main, lagipula sekarang Nesa juga sedang hamil jadi kalian bisa menemani ibu hamil yang satu itu," ucap Rara tersenyum.
Dilla dan Ken mengangguk dengan paham tentang apa yang Rara bicarakan. Kebersamaan mereka akan jauh lebih indah. Akhirnya mereka memikirkan lagi rencana untuk pindah.
"Ibu hamil apaan? Dia terlihat malah semakin kuat saja, tidak terlihat hamil, aku merasa yang hamil bukan Nesa tapi Adam!" cetus Dilla melihat ke arah Nesa yang berdiri sedang mengatur para pelayan akan pekerjaan mereka. Justru Adam suaminya yabg merasa khawatir akan istrinya itu dan selalu mengikuti Nesa yang tidak pernah terlihat lelah bahkan bagi Adam, Nesa malah semakin bersemangat walau sedang hamil di usia mudanya. Adam terlihat khawatir memperhatikan istrinya setiap saat.
"Dia yang berniat menaklukan Nesa, malah dirinya senditi yang jadi budak cinta istrinya," ucap Ken datar.
"Hahaha, kau benar," tawa Rara menggema mengingat Adam yang dulu dengan rayuannya ingin menaklukan Nesa malah sebaliknya kini Adam yang selalu ingin dekat dengan Nesa yang masih dengan wajah acuhnya pada suaminya yang terlihat manis bagi wanita manapun.
__ADS_1
"Hahaha ... aku malah lebih lucu melihat kamu Ken. Berbicara hal lucu dengan wajah datarmu ini," tawa Dilla mencubit pipi Ken yang terlihat biasa saja ketika melihat dua wanita yang sangat berharga di depannya kini tertawa bersama. Sepasang saudari dan juga sahabat sama-sama sedang menertawakannya yang menurutnya tidak ada hal yang perlu di tertawakan.
Mereka tertawa dan bercanda yang di kelilingi anak-anaknya termasuk anak Ken di pangkuannya kini turun bermain dengan anak-anak Rendi. Kehangatan mereka di pagi hari terlihat bahagia ketika Rendi menyruni tangga melihat Istri dan anak-anaknya, Ken juga dengan keluargany dan Adam yang masih bersama istrinya. Bagi Rendi keindahan ini yang membuatnya semakin kuat melawan segala hal yang akan merenggangkan kebahagiaan yang tercipta karena sebuah kebersamaan. Rendi berdiri di atas dan berjalan perlahan menghampiri istrinya yang sedang tertawa bersama saudarinya dan juga Ken yang berdiri memberi hormat pada Rendi seperti biasanya.