Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Bioskop Prolog Ken


__ADS_3

Setelah berhenti sesaat.


Ken memandang Dilla yang dengan ocehannya tanpa henti.


Dilla bahkan tidak menyadari bahwa ia sedang di perhatikan oleh Ken yang sedang tersenyum padanya.


"Ambil kembali ponselmu! Agar Nona Muda tetap menghubungimu," ucap Ken.


Dilla terkejut dengan ucapan Ken.


Ia tersadar bahwa ponselnya terjatuh karena rem mendadak yang Ken lakukan padanya tadi. Dilla mengambil ponselnya dan menggerutu karena layar ponselnya retak terkena pedal besi di bawahnya.


"Duh kamu sih, pake acara ngerem mendadak segala pecahkan ponselku! Walau tidak mati tapi ini sudah retak juga," gerutu Dilla.


"Hmm, nanti aku ganti dengan yang lebih bagus, lagipula ponselmu itu sudah tua pantas gampang rusak," ucap Ken.


Ken hanya tersenyum mendapati Dilla dengan cara bicaranya yang sembarangan bicara.


Ken dan Dilla pergi ke pusat perbelanjaan mereka berjalan -jalan.


Setelah puas berkeliling Dilla dan Ken duduk di sebuah Restoran terdekat.


Kini mereka sedang makan di tengah -tengah banyaknya orang-orang berlalu lalang di pusat perbelanjaan.


Dilla begitu banyak pertanyaan yang ada di benaknya tapi belum sempat ia utarakan.


"Apa?" Tanya Ken memulai pembicaraan.


"Hmm kenapa?" Tanya Dilla kembali ia heran .


"Kamu boleh tanyakan padaku semua isi di kepalamu itu," jawab Ken menebak apa yang Dilla pikirkan.


"Dia bahkan tahu apa yang aku pikirkan?" Batin Dilla.


"Hmm ... kenapa kamu ngajak aku jalan?" Itu yang Dilla tanyakan.


"Karena aku butuh bayaran," jawab Ken.


"Hah itu saja, lalu kenapa bayaranya tidak masuk akal?" Dilla masih bertanya.


"Karena aku mau," singkat Ken.


"Mau, mau apa?" Dilla semakin bingung.


"Habiskan makananmu! Kita akan melanjutkan berjalan-jalannya,"


tangkis Ken.


Dilla tidak berani bertanya lagi. Mereka makan tanpa bersuara lagi. Dilla dengan seribu pertanyaan di benaknya malah semakin bingung terhadap Ken.


******


Prolog Rendi.


Di pusat perbelanjaan Rendi dan Rara sedang menelusuri toko pakaian.


Rara banyak membeli dres tertutup,Karena semuanya itu atas kehendak Rendi.


Malah hanya sedikit membeli stelan yang Rara suka hingga ke toko selanjutnya.

__ADS_1


Mereka memasuki toko khusus wanita Rara terdiam dan ia teringat sesuatu hal konyol yang pernah ia lakukan dulu di toko ini.


Rara terdiam di depan toko tersebut mengingat ia pernah membeli baju tidur terbuka yang ia pikir adalah untuk mempermalukan diri sendiri.


Rendi yang mendapati istrinya tidak ada mengikutinya.


Rendi berbalik dan melihat istrinya sedang terdiam Rendi menghampiri istrinya dan menuntunnya.


"Ayo sayang masuk!" Ajak Rendi.


Rendi memegang tangan istrinya memasuki toko tersebut dengan senyum licik di wajah Rendi.


"Selamat datang," ucap pelayan toko.


Pelayan toko tersebut membungkukan punggung kepalanya memberi hormat.


Rendi mengangguk memasuki toko tersebut ia berbicara pada pelayan toko.


"Tunjukan gaun tidur yang bagus," perintah Rendi intens.


Pelayan tersebut mengangguk ramah dan segera memanggil pelayan lain untuk menunjukan baju yang bagus.


Satu per satu mereka tunjukan pada Rendi dan semua sangat terbuka dan trasfaran.


Tampak Rendi tersenyum ia membayangkan bagaimana istrinya memakainya setiap mlam.


"Bungkus semua," perintah Rendi


Ia suka semuanya baju baju tersebut masing masing satu model.Dengan warna elegan warna hitam warna peach warna biru muda


dan semua model bagian dadanya terbelah dan trasfaran .


Rara hanya berdiri di belakang Rendi.


Ia sama sekali tidak bicara ataupun protes pada suaminya.Sampai seorang pelayan menghampirinya dan bertanya pada Rara.


"Nona Anda kembali,baju seperti apa yang anda inginkan lagi Nona,apa Suami Anda menyukainya?" Tanya pelayan itu.


Ia tidak menyadari kalau saat ini Rara pergi kesana tidak sendirian bahkan dengan suaminya.


Rara terdiam tidak menjawabnya.Ia hanya tersenyum dan mendekati suaminya.


Pelayan tersebut membungkukan kepalanya meminta maaf.


"Apa ... ia pernah kesini untuk membeli gaun tidur yang seperti apa juga itu untuk suaminya,aku baru sebulan menjadi suaminya itu artinya dia membeli gaun itu untuk mantan suaminya?" Batin Rendi.


Rendi tampak geram dan kesal di hatinya,ia membayangkan istrinya yang tersenyum bahagia penuh semangat mencari pakaian tidur untuk mantan suaminya.


Sedangkan untuknya yang sekarang suaminya.


Rara bahkan tidak mencoba untuk membeli baju untuk ia pakai untuk suaminya saat ini.


"Bungkus semua yang ada di sini dan kirim kesini," pinta Rendi kepada kepala toko sambil memberikan kartunya.


Rendi bergegas keluar toko tanpa mengajak istrinya.


Ia mempercepat langkahnya yang di ikuti istrinya yang sedikit berlari karena langkah Rendi cepat sekali.


Rara yang tidak menyadari suaminya tetap mengikuti langkah suaminya tanpa bicara.

__ADS_1


Ia bahkan sama sekali tidak tertarik untuk melihat-lihat pusat perbelanjaan hingga Rendi berhenti.


"Bugh...."


Rara menabrak punggung suaminya,ia mengaduh dan memegang hidungnya yang sakit.


"Kamu bahkan masih senang menabrak orang ya?" Cetus Rendi menunjukan wajah tidak senangnya.


"Maaf," jawab Rara memegang hidungnya yang sakit.


Rendi tampak kasihan pada istrinya yang memegang hidungnya.


"Apa sakit?" Tanya Rendi walau hatinya masih kesal.


"Huh ... untuk apa kamu minta maaf kamu bahkan tidak memilih pakaian untuk menyenangkan suamimu ini," batin Rendi.


Rendi meraih tangan Rara menuntunnya untuk memasuki bioskop. Ia membeli tiket dan mereka masuk dan duduk di bangku tengah.


Di saat ia sadar siapa di depan Rendi ternyata Ken,yang hanya di halangi bangku kosong berjarak dua kursi.


Ken berdiri dan membungkukan kepalanya kepada Rendi.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Rendi dingin.


"Ada apa denganya bukanya tadi hatinya sedang baik - baik saja ia bahkan menyuruhku libur hari ini ya disini lah liburanku," batin Ken.


"Saya sedang menemani nona Dilla Tuan," jawab Ken.


Ia melihat Rara sudah duduk dan tidak memperhatikan Ken dan Dilla.


"Nanti malam kamu urus klien yang di perushaan yang beroperasi di Jerman dan kirim berkasnya ke Apartmentku," perintah Rendi memasang mimik dingin.


Ken terdiam ia mengerutkan keningnya karena perintah tuannya.


"Baik Tuan," jawab Ken.


Rendi berbalik dan duduk di samping Rara yang sedang serius menonton.


"Bicara dengan siapa?"tanya Rara tidak memalingkan pandangannya dari layar.


"Sekertarisku," jawab Rendi.


Rara mengangguk tanda paham tapi beberapa detik kemudian ia terkejut.


"Apa ... Ken dimana?" Tanya Rara antusias.


Rara melihat kesamping Rendi dan ia berdiri menghampiri Dilla.


"Sayang kamu disini?" Tanya Rara.


Rara berbicara pada Dilla mereka berpelukan gembira.


Mereka berpelukan melepas kerinduan mereka padahal baru sehari mereka tidak bertemu tapi seperti tidak bertemu setahun.


Rendi semakin tidak senang melihat kelakuan dua sahabat itu.


"Dia bahkan tidak mempedulikan aku yang sedang kesal," gumam Rendi dingin.


Rendi memasang wajah dingin saat melihat ke arah layar yang tak menarik.

__ADS_1


__ADS_2