Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Gerakannya


__ADS_3

Setelah mendapatkan informasi dari Adam. Ken kembali ke Jakarta, untuk menyampaikan hal baru kepada Rendy dan mendiskusikan tentang pergerakan Vin yang yang telah bertindak di luar kendali.


Dalam perjalanan kembali ke Jakarta Ken dan juga rombongan anak buahnya sebanyak 2 mobil. Di tengah perjalanan yang mereka melewati pegunungan, jalanan yang terbilang sepi dan tebing. Tiba-tiba ada beberapa mobil di belakang Ken yang mengikutinya. Bahkan semakin Ken menancap gas mempercepat Mobilnya. Mobil yang di belakangnya itu juga mempercepat kendaraannya. Ken sempat melihat ke arah belakang memperhatikan mobil tersebut, ia mengerutkan dahinya ketika melihat ke arah belakang dan sebuah tembakan meleset ke arahnya, dengan sigap Ken menghindarinya.


"Sialan! Tambah kecepatannya! Mereka terlalu berbahaya untuk kita hadapi!" ucap Ken mulai merogoh pinggangnya pistol yang ada di samping pinggangnya setelah sampai di tempat yang terbilang sangat sepi mobil yang mengikuti Ken meluncurkan tembakannya kepada mobile Ken yang mengakibatkan kaca mobilnya pecah.


"Kau seimbangkan kendaraanmu aku akan menghadapi mereka! " tegas Ken membalas tembakan mereka satu persatu.


Begitupun anak buahnya yang di belakang juga melakukan baku tembak dengan dua mobil di belakang mereka. Sekitar setengah jam mereka baku tembak. Mobil yang dikendarai Ken tergelincir karena ban mobilnya terkena tembakan hingga bocor dan menjadi tidak seimbang. Kendaraan yang di tumpangi Ken berbalik ke samping tidak seimbangnya kan menepuk anak buahnya dan memerintahkan untuk melompat keluar.


Seketika mobil yang ditumpangi Ken tidak tentu arah dan jatuh memasuki jurang dan meledak. Setelah melihat kendaraan yang ditumpangi Ken terjatuh ke jurang dan meledak. Beberapa orang yang berada di mobil yang mengejar itu keluar turun dari mobilnya dan memastikan jika mobil tersebut telah hancur.


"Penghalang menuju Rendi sudah mati sekarang! Bos pasti akan senang mendengarnya!" ucap seorang pria di balik kemudi.


Setelah itu mereka pergi meninggalkan tempat kejadian. Di mana kendaraan kan meledak di dalam jurang. Saat kendaraan itu sudah tidak nampak lagi, sebuah tangan bergerak ke atas hingga Ken naik bersamaan dengan anak buahnya, yang menahan nya di atas dan menariknya naik. Jika bukan anak buahnya yang menahan Ken, mungkin Ken ikut terjatuh ke jurang dan meledak. Tapi karena anak buahnya menahannya. Hingga mereka berdua kini selamat dan duduk di tepi jurang melepas rasa lelahnya.


Bersamaan Ken melihat kearah anak buahnya yang justru mementingkan keselamatannya dibandingkan keselamatan dirinya sendiri.


"Terima kasih siapa namamu?" tanya Ken datar sedikit ada kelembutan.


"Saya Jo tuan! "jawab Jo anak buah Ken yang menolongnya.


Ken mengangguk dan mengajak Jo untuk segera Jalan bangun. Mereka masih duduk dalam diam melepas kelelahan mereka, setelah bertahan selama setengah jam menggantung di tepi jurang.


"Sialan! Siapa sebenarnya orang itu? Yang Bahkan berani menghadangku dan membuatku dalam bahaya seperti tadi?" ucap Ken kesal dengan tatapan membunuhnya.


Ken merogoh saku celananya dan melakukan panggilan telepon kepada Adam. Ia meminta agar anak buahnya dikirim ke Bandung. Untuk menjemputnya. Ken juga menceritakan kepada Adam kejadian yang menimpanya.

__ADS_1


Hanya 1 jam yang lalu saat mendengarnya Adam terkejut. Bahkan ia berdiri dari duduknya menghadap komputer dan berbicara serius kepada Ken. Adam bahkan tidak percaya Jika seorang bos mafia kecil seperti Vin, yang terbilang usianya masih muda bisa melakukan hal sekejam itu apalagi pekerjaannya sangat mulus tanpa tergores sedikitpun. Setelah melakukan panggilan kepada Adam. Ken berjalan dan duduk bersandar di bawah pohon bersama anak buahnya yang bernama Jo.


Ken tersenyum ketika melihat anak buahnya Jo yang menyelamatkannya. Pria yang bertato di lengan kanannya. Ia rela terkena hempasan api demi menolong Ken tuannya.


Untuk pertama kalinya melihat uannya Ken tersenyum. Selama ia mengabdi baru kali ini Ken tersenyum kepadanya dengan tulus. Setelah selama ini, ia selalu terlihat dingin dan acuh kepada bawahannya. Mereka duduk di bawah pohon di pinggir jalan selama satu jam. Tidak ada percakapan di antara mereka selama menunggu. Ada sebuah mobil warna hitam menghampiri mereka. Saat ini Ken mengerutkan dahinya, ketika melihat siapa yang datang menghampirinya. Adam keluar dari mobilnya dan berjalan menghampiri Ken yang sudah berdiri juga Jo.


"Pantas saja dalam 1 jam kamu sudah datang ke Bandung! Ternyata kamu bawa sendiri mobilnya!" ucap Ken kepada Adam yang menghampirinya dan berdiri di hadapannya. Mengingat Adam paling suka membawa mobil dalam kecepatan tinggi dan kemampuannya sudah tidak di ragukan lagi.


"Aku datang ke sini karena diminta oleh nyonya Dilla untukmu tuan Ken, dia nampak mengkhawatirkanmu," jawab Adam tersenyum tipis.


Ken mengangguk, ia tersenyum dan ikut jalan memasuki mobil bersama Adam. Adam duduk di balik kemudi. Sebelum kendaraan berjalan Adam berbalik melihat kearah Ken yang kini sudah duduk di kursi penumpang.


"Apa anda tidak apa-apa,Tuan?" tanya Adam melihat kondisi Ken yang berantakan dan tidak serapi biasanya.


"Aku tidak apa-apa sebaiknya kau cepat jalan!" jawab Ken. Ia merasa lelah ketika mobil mulai melaju dengan kecepatan sedang. Adam menyalakan mobilnya dan melaju menuju Jakarta.


Ken menutup kedua matanya dan bersandar ke belakang kursi. Dia merasa lelah dan tertidur di sepanjang perjalanan menuju Jakarta.


Kini mobil memasuki kediaman Anggara dengan perlahan. Kini mobil sudah terparkir di rumah tersebut. Ken keluar dari mobilnya dan memasuki rumah Anggara. Sesampai di ruang tamu, ia melihat istri dan putrinya berada di ruang bermain bersama Amira. Juga beberapa pelayan di samping mereka. Ia menghampiri istri yang kini juga melihatnya dengan tersenyum bahagia atas kedatangan suaminya. Ia menghampirinya dan merangkul lengan suaminya. Dilla mengerutkan dahinya heran pada suaminya.


"Ken! kenapa kamu kotor begini? Apa yang terjadi padamu?" tanya Dilla mengkhawatirkan suaminya yang hanya diam dan mengelus pipi putrinya Zein.


"Jika aku ingin mandi, apa kamu mau menemaniku?" tanya Ken berbalik bertanya pada istrinya yang kini semakin heran pada Ken yang berbicara seperti itu dengan wajah datarnya.


"Kamu kenapa sih Ken? Kok pulang dari Bandung kamu berbicara hal aneh? Bagaimana apa kamu ke rumah ayah dan ibu? Apa kabar mereka??? aku kangen sama ayah dan ibu!" ucap Dilla sumringah.


"Aku mandi dulu, nanti aku ceritakan ya!" jawab Ken berjalan meninggalkan istrinya dan kini Dilla mengikutinya dari belakang mengejarnya. Ia bahkan memberikan putrinya Zein kepada Pengasuhnya.

__ADS_1


Ken membiarkan istrinya mengikutinya dengan banyaknya pertanyaannya. Ia tidak merubah apapun dari wajah datarnya, ketika istrinya terus berbicara dan bertanya padanya tanpa henti. Hingga mereka masuk ke dalam kamarnya. Ken menarik tangan istrinya dan menempelkan tubuh istrinya ke tembok. Setelah menutup pintu kamar mereka. Dilla mengerutkan dahinya ketika melihat tingkah suaminya yang lain dari biasanya. Ken memandangi wajah istrinya dengan Senyum tipisnya.


Mereka saling tatap dengan Tatapan yang tidak bisa diartikan. Jantung Dilla berdetak kencang. Ketika mendapati tatapan dari suaminya yang terlihat yang tidak bisa di mengerti oleh Dilla. Saat Dilla mencoba untuk mendorong tubuh suaminya. Ken mencium bibir istrinya dan melahapnya dengan rakus. Seperti tidak mendapatkan makanan selama berhari-hari, Ia mencium habis bibir istrinya. Dilla membulatkan kedua matanya, ketika mendapatkan serangan dari suaminya yang tiba-tiba padanya.


Dilla tahu akan apa yang terjadi pada suaminya. Karena Ken akan melakukan hal itu apapun itu jika dia sedang yang ditimpa perasaan yang lelah dengan kerjaannya. Ken akan melampiaskannya dengan menumpahkan hasrat kepada istrinya. Ken memperdalam ciumannya begitupun Dilla membalas ciuman suaminya dengan lembut. Meski Ken bahkan melakukannya dengan rakus dan tidak dengan kelembutan yang dilakukan padanya. Setelah dirasa merasa puas, Ken beralih menciumi leher istrinya yang sedikit terbuka penutup kepalanya.


Ia meninggalkan jejak kissmark di leher jenjang milik istrinya. Setelah merasa puas dengan segala hasratnya. Ken mengakhiri ciumannya kepada istrinya. Ia menatap lekat wajah istrinya yang terlihat pasrah dan tersenyum tipis. Ken menggendong istrinya dan mereka berjalan ke arah tempat tidur dan membaringkan Dilla secara perlahan dan lembut. Meski Ken bahkan melakukannya dengan fokus dan tidak dengan kelembutan yang dilakukan padanya. Ken berada di atas tubuh istrinya dan menatap lekat wajah istrinya yang sudah tidak ada jarak lagi. Ken mengecup bibir istrinya dan menciumi seluruh bagian wajah istrinya.


"Aku sangat mencintaimu Dilla Rahayu Putri!" ucap Ken sembari tersenyum menatap lekat mata istrinya yang kini tersenyum bahagia.


Dilla tersenyum bahagia, ia merangkul leher suaminya dan mencium bibir suaminya dengan lembut sebagai jawaban pernyataan cinta dari Ken yang terbilang sangat irit itu.


Saking bahagianya Dila mencium bibir suaminya dengan lama dan lembut. Ken membalas ciuman istrinya juga dengan lembut. Lain dari sebelumnya yang mencium istrinya dengan rakus. Seketika Dilla bahkan membuka pakaiannya untuk suaminya akan tetapi kan menahan nya dan mengecup bibir Dila dengan perlahan.


"Aku harus mandi dulu, agar kamu bisa menikmati tubuhku yang bersih!" ujar Ken lembut.


Dilla mengangguk dan tersenyum menanggapi ucapan suaminya. Ken lalu bangun dari atas tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Tapi sebuah tangan melingkar di pinggangnya bukan terkejut saat melihat Dila memeluknya dari arah belakang.


"Aku sangat mencintaimu Ken ... terima kasih kamu sudah mau mengucapkan bahwa kamu sangat mencintai aku," ucap Dilla memeluk erat suaminya dengan hati bahagia dan juga terharu. Ken tersenyum dan membalik tubuhnya menghadap ke istana titik istrinya.


"Dasar gadis bodoh! Aku itu dari awal tuh memang menyukai kamu. Jika aku mencintai kamu itu hal wajar! Yang bodoh itu kamu yang tidak menyadarinya!" ucap Ken memeluk istrinya.


"Hmmm ..." Dilla mempererat pelukannya.


"Apa kamu benar-benar mau menemaniku mandi?" goda Ken dengan wajah datarnya dia mencoba untuk merayu istrinya.


Seketika wajah Dilla mau merah padam dengan senyum tertahan ia mengangguk kepada suaminya.

__ADS_1


"Kalau begitu sekalian aku akan memakan mu!" ucap Ken tersenyum dan menarik istrinya masuk ke kamar mandi.


Alunan desahan mereka terdengar beraturan di dalam kamar mandi, dua pasangan yang berlawanan bercinta penuh hasrat di siang hari. Ken bahkan melupakan kejadian yang menimpanya dan menikmati moment bersama istrinya jika sedang berdua saja. Mereka melakukan aktivitas suami istri di dalam kamar mandi. Selama satu jam lamanya mereka dengan perasaan cinta dan saling memiliki yang mereka rasakan. Untuk saat ini, bagi Ken melampiaskan segala apapun yang ada di benaknya dan menghabiskan waktu bersama orang yang tercinta itu adalah solusi terbaik baginya.


__ADS_2