Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Tugas dan Fasilitas


__ADS_3

Rara tertawa dengan bahagia tiap kali berbincang dengan saudarinya. Wajah berserinya terpancar. Saat Rendi melihat tawa istrinya dengan manis dan lepas.


Rendi memandangi tawa istrinya yang terlihat indah di pandanginya. Rara mengenakan dres tidur warna putih selutut, dengan sweater warna silver menutupi bagian atas tubuhnya.


Rendi dan Ken tersenyum memandangi istri mereka masing- masing dengan kebahagian di dalam diri mereka yang saling mengisi dan melengkapi.


"Apa kita perlu kesana Tuan?" tanya Ken dengan pandangan datarnya.


"Tidak perlu, sebaiknya biarkan saja mereka berbicara saling mengisi satu sama lain, kita cukup mengawasi dan memberi kebahagiaan dan mempertahankan senyum di wajah istri tercinta kita, karena bagiku tawanya adalah kekuatanku untuk berdiri saat ini juga masa depan," jelas Rendi memandangi istrinya yang secara lepas berbicara dan berbincang dengan lepas di meja makan di malam hari.


Ken mengangguk, ia mengikuti tuannya yang berbalik meninggalkan ruang makan dan berjalan menuju ruang tamu. Mereka duduk bersebrangan saling tersenyum dalam pikirannya sendiri.


Hingga Rendi mengawali perbincangan mereka setelah meminta pelayan untuk membuatkan kopi untyk mereka berdua.


"Tapi kami di larang ke dapur Tuan," ucap pelayan.


"Kau wanita bukan?" tanya Rendi tegas.


"Saya wanita Tuan," jawab Pelayan tersebut sediki terasa takut ketika mendengar ucapan Rendi.


"Istriku hanya melarang pria bukan berarti tidak mau bertemu wanita," tegas Rendi.


Pelayan itu mengangguk walau sedikit ragu. Tapi ia memilih untuk mengikuti perintah tuannya. Di bndingka dengan harus membantah ucapan tuan rumahnya.


Rendi duduk bersama Ken yang juga duduk di hadapannya. Ia tersenyum tipis ketika mengingat senyum tawa istrinya yang menggemaskan. Jika bukan karena Ken yang mencegahnya, Rendi sudah akan menghampirinya dan mencium bibir istrinya yang sedang tertawa manis di depan meja makan tadi. Mengingat hal itu tidak terjadi, Rendi mendesah kesal dan juga malas dalam duduknya.


Ken mengetahui dan paham jika tuannya mendesah dengan seperti itu. Berarti ada hal yang belum sempat ia tuntaskan. Ken sudah tahu apa yang membuatnya mendesah kesal saat ini. Karena Rendi akan sangat gundah gelisah ketika hal yang ia ingin lakukan. Tidak sesegera mungkin ia dapatkan. Suatu hal yang tidak mungkin jika ada hal yang tidak bisa ia wujudkan dengan semua yang ia miliki.


Akan tetapi ini lain dari sebuah properti atau uang. Melainkan tentang hati istrinya yang selalu berubah emosinya dan Rendi harus bisa mengerti dan memahami perasaan istrinya untuk saat ini.


Rara masih berbincang dengan Dilla. Ia hanya menjadi pendengar untuk saat ini. Kali ini, ia mendengarkan dengan serius Saudarinya yang kini sedang menceritakan kehamilannya dan bayinya yang selalu bergerak aktip di dalam kandungannya. Meski pernah merasakannya. Rara juga sangat bahagia ketika saudarinya mengandung. Apalagi Dilla juga malah ikut tidak mau periksa jenis kelaminnya dulu. Ia berencana sebuah kejutan seperti si kembar yang tidak di duga ity.


"Aku hanya berharap bayiku ini sangat cantik, pintar dan berhati baik sepertimu Ra," ucap Dilla tersenyum dan mengelus- elus perutnya.


"Dih! Kenapa seperti itu? Bukannya kamu ibunya? Kenapa malah mau sepertiku?" tanya Rara mengerutkan dahinya memandang heran akan ucapan Saudarinya.


"Karena ... jika sepertiku, nanti tidak akan ada yang bisa meleraiku jika aku beradu mulut dengan suamiku Ken itu, Ken itu sangat dingin, aku sangat ceroboh juga bodoh dan kamu sangat pintar dan baik hati. Aku ingin anakku sepertimu yang pintar dan baik," jelas Dilla tersenyum.


"Ish ... memang siapa yang mengatakan kamu bodoh? Kamu hanya tidak pintar saja," ucap Rara.


"Itu sama saja !" jawab Dilla malas.


Rara terkekeh saat melihat Dilla yang mulai marah akan ucapannya. Tapi ia tersenyum bahagia karena masih bisa bersama dan menghabiskan waktu di tempat asing ini bersama saudarinya juga sahabatnya ini.


Ketika Rara akan berbicara kembali. Seorang pelayan wanita memasuki ruang makan dan memberi salam pada mereka. Tanpa melihat wajah nyonya mudanya yang sedang mengerutkan dahinya melihat ke arah pelayan yang begitu sungkan padanya.


"Maaf Nyonya, saya di minta Tuan untuk membuatkan kopi," ucap Pelayan wanita itu tanpa mendongakan kepalanya melihat Rara.


Ia sangat takut jika harus melihat dan melakukan hal yang di larang rumah untuk tidak terlalu lama memandangi nyonya rumahnya.


"Heh, kamu ini kenapa? Sampai sungkan dan menunduk begitu sini ! Kamu bereskan saja piring bekas makan itu ya, nanti biar aku yang buatkan kopi untuk suamiku," ucap Rara tersenyum melihat Pelayan itu yang kini mengangguk dan mendongakan sedikit kepalanya melihat nyonya mudanya yang sedang tersenyum padanya.


Ada hati tenang dan bahagia ketika melihat dan mendapati ucapan nyonyanya yang sangat lembut ramah dan baik di hati pelayan tersebut.


Setelah Pelayan itu pergi dan membereskan dapur bekas Rara memasak dan makan. Rara berjalan mendekati Pelayan itu yang berdiri di dekat kompor. Ia tersenyum dengan aktivitasnya membuat kopi dan mengambil nampan terdahulu.

__ADS_1


"Hmm ... Ada siapa saja yang berada di ruang tamu?" tanya Rara.


"... ada Tuan besar dan Tuan Ken Nyonya," jawab Pelayan tersebut sedikit ragu.


"Hmm ... oh iya, kenapa kalian jam segini belum tidur dan beristirahat?" tanya Rara.


" Kami berjaga dan bertugas di malam hari Nyonya," jawab Pelayan itu masih dengan perasaan takut karena berani berbicara lama pada nyonya rumah.


"Tugas malam, maksudmu?" Rara bertanya sambil membuat kopi di tangannya. Ia melihat ke arah pelayan yang sama sekali tidak berani melihat ke arah Rara. Pelayan itu hanya menjawab dengan kepala menunduk.


"Ia kami bertugas di malam hari Nyonya," jawab Pelayan itu.


"Seperti kerja di perusahaan saja pake acara tugas malam, lalu sampai jam berapa kalian bekerja kan tidak mungkinkan kalian bekerja beres- beres rumah di malam hari?" tanya Rara masih penasaran.


Pelayan itu tidak langsung menjawabnya. Ia memikirkan cara untuk menjawab dengan benar atas pertanyaan nyonya rumahnya.


"Kami memang bekerja di malam hari nyonya, bahkan pekerjaan kami sangat sulit dan itu sangat beresiko, jika terjadi kesalahan kami akan langsung di pecat begitu saja bahkan akan sulit untuk mencari pekerjaan lain, tapi lain dengan bekerja dengan baik, kami sangat puas dengan apa yang kami dapat pasilitas dan bayarannya melebihi dari mengabdi ke sebuah perusahaan jika bekerja disini," batin Pelayan itu.


"Kami bekerja sampai menjelang pagi Nyonya," jawab Pelayan itu dengan tubuh yang sudah tidak berasa lagi karena rasa takut yang teramat dalam menyeruak di hatinya.


"Hmm ... kalian sudah bekerja keras, siapa namamu?" tanya Rara.


"Saya Mina, Nyonya," jawab Mina membungkukan tubuhnya.


"Hahaha kamu ini sangat sungkan sekali, baiklah biarkan yang lain masuk dan bekerja, aku akan kembali ke kamar, oh iya ... jika kalian mau pekerjaan bisa buatkan aku cake rasa strawberi dan rasa coklat? Aku ingin buatan rumah bukan buatan dari pabrik," ucap Rara tersenyum dan pergi meninggalkan Mina yang mengangguk menjawab ucapan Rara.


Rara berjalan dengan nampan di tangannya yang kini sudah ada dua cangkir kopi yang ia bawa.


Rara tersenyum ketika melihat Dilla tersenyum dan mulai berdiri meninggalkan tempat duduknya.


"Kamu pikir aku kenapa? Aku tidak selemah itu Ra," jawab Dilla berjalan mendahului Rara yang kini tersenyum melihat Dilla berjaln mendahuluinya.


Mereka berjalan menghampiri ruang tamu, yang dimana ada Rendi juga Ken yang sedang berbincang tentang rencana besok di perusahaan.


Rendi melihat ke arah Dilla dan istrinya yang berjalan menghampirinya.


Ken bangun dari duduknya dan menghampiri Dilla yang sedang berjalan ke arahnya dan kini sudah ada di lengannya berjalan menghampiri sofa.


"Sayang, kenapa kamu yang bawa?" tanya Rendi melihat istrinya sedang menyuguhkan kopi beserta camilannya.


"Memang kenapa jika aku yang membawanya Sayang?" tanya Rara duduk di samping suaminya.


"Bukannya ada pelayan! Kamu ini sangat lelah Sayang, apalagi setelah seseorang memintamu bekerja," ucap Rendi menyindir Dilla yang kini melihat ke arahnya.


"Rara Saudariku, tentu saja dia akan selalu memenuhi permintaanku , apalagi aku sudah terbiasa mendapatkannya," tangkis Dilla denga bangganya pada Rendi.


"Dia istriku sekarang, jika ada seseorang yang membuatnya bekerja harus ada konsekuensinya, berapa yang akan kau bayar tentang makanan yang kau makan?" ucap Rendi dengan datarnya.


"Aku tidak perlu bayaran, aku sudah punya layanan vvip dari Saudariku jadi untuk apa aku membayarnya,dengan aku selalu menyayanginya itu bayaran yang setimpal untyknya," cetus Dilla menjulurkan lidahnya mengejek Rendi yang mulai geram.


Rendi ingin menjawab Dilla yang mengejeknya. Tapi Rara bersender kepalanya di paha Rendi. Ia terkejut dan mengusap pucuk kepala istrinya dengan senyum di wajah Rendi.


"Sayang, kau mengantuk? Ayo kita ke kamar," tanya Rendi dengan lembut.


"Tidak apa, aku hanya ingin seperti ini saja," jawab Rara. Ia hanya tidak ingin perdebatan suami dan saudarinya semakin berkepanjangannya. Jadi ia mencoba mengalihkan perhatian suaminya hany padanya.

__ADS_1


Rendi tersenyum dan membiarkan istrinya tidur di pangkuannya.


Ken bahkan tidak berani melihat jelas ke arah Rara. Ia tahu apa yang harus ia lakukan saat peringatan dari tuannya tadi, jika istrinya tidak mau ada terlalu banyak orang yang melihatnya jika dalam keadaan seperti ini.


Ken mengalihkan pandangannya pada istrinya.


Ia melihat wajah istrinya yang juga mulai mengantuk. Ken tersenyum saat melihat wajah istrinya yang malah terlihat manis.


"Sepertinya Dilla sudah mengantuk lagi Tuan, saya permisi untuk kembali kekamar tidur," pamit Ken membungkukan tubuhnya.


Rendi mengangguk dan melihat ke arah Ken yang menggandeng istrinya dan pergi ke kamarnya kembali.


Rendi melihat wajah istrinya yang terlihat seperti bayi tertidur dalam hati yang tenang. Rendi menggendong istrinya dan membawanya naik menuju kmar tidur mereka. Dalam setiap langkahnya menuju kamarnya. Rendi memandangi istrinya yang tertidur seperti seorang putri.


Ia melihat kedua pelayan yang menyambutnya di depan pintunya.


"Jika nanti anak-anak bangun, usahakan untuk membuat mereka tenang," tegas Rendi dengan suara pelannya.


Rendi memasuki kamarnya ketika salah satu pelayannya membuka pintu kamarnya. Ia membaringkan tubuh istrinya perlahan agar tidak membuatnya terbangun.


Rendi membuka sweater yang di kenakan istrinya dengan sangat pelan. Setelahnya, ia menutup tubuh istrinya dengan selimut. Rendi ikut terbaring dan memeluk tubuh istrinya dengan wajah mencium pucuk kepala istrinya. Kini mereka tertidur dalam dekapan satu sama lain wajah senyum berseri dalam tidurnya.


Ken membaringkan istrinya untuk tidur, ia menutupkan selimut ke tubuh istrinya dengan wajah berserinya.


Dilla masih belum tertidur.


"Ken ... perutku bergerak terus kau bisa usap punggungku hingga aku tertidur?" pinta Dilla dengan wajah manjanya.


"Hmm ... kau bisa meminta lebih dari itu juga," jawab Ken.


"Aku hanya mau kau mengusapnya hingga aku tertidur," ucap Dilla tersenyum.


Ken tersenyum mengangguk dan mengusap punggung perut istrinya yang membuat Dilla terasa nyaman, hingga kini Dilla sudah tertidur seperti bayi membelakangi Ken yang sedang mengusapnya. Ia tersenyum saat melihat istrinya yang tertidur dengan pulas. Ken ikut tertidur sambil tangan masih sesekali mengusap punggung perut istrinya dalam kesadarannya yang kini sudah mulai memasuki alam mimpinya yang sudah ikut tertidur bersama istrinya.


Di Dapur malam hari.


Mina kini duduk dan menghela napas setelah membersihkan dapur yang di gunakan nyonya rumahnya tadi.


Mina tersenyum penuh kebanggaan saat ia bisa berbicara dengan nyonya utama di rumah ini. Ia berjalan dengan senyuman di wajahnya dan melihat kepada para pelayan yang sedang menunggu perintah kembali untuk masuk.


Mina keluar dan menghampiri mereka.


"Ayo ! Tuan dan Nyonya sudah kembali ke kamar mereka, begitupun tuan Ken dan istrinya. Mereka sudah tertidur," ucap Mina memberitahu pada para pelayan yang lain yang kini melihatnya dengan heran.


"Mina, bagaiamana kamu bisa tahu?" tanya salah seorang pelayan.


"Hmmm aku tadi mendengarkan perintah Nyonya, kita di minta untuk kembali bekerja," jawab Mina.


Mereka tersenyum dan bernafas lega saat mendengar ucapan Mina yang mengatakan mereka sudah bisa memulai pekerjaannya.


Setelah tadi mereka berkisruh piyuh karena mendengar tawa nyonya besarnya tertawa dengan menggema di dapur di malam hari. Mereka sempat berpikir untuk masuk dan melihat apa yang membuat mereka tertawa sampai tertawa selepas itu.


Tapi mereka lebih memilih diam dan menunggu perintah untuk masuk kembali. Beruntungnya ada Mina yang polos. Ia masuk tanpa mencari tahu apa yang terjadi tapi ia tahu cara bersikap sopan setelah sekian lama bekerja di kediaman Rendi Anggara. Mina gadis berusia 23tahun dengan paras wajah yang cantik dengan penampilan sederhananya. Ia bertubuh tinggi dan kelulusan universitas Jerman. Tapi ia memilih untuk bekerja menjadi pelayan di kediaman Rendi Anggara. Karena bayaran yang sangat memuaskan dan akan menjamin kehidupannya seumur hidup. Hanya sebuah pernikahan yang akan membuatnya meninggalkan pekerjaan yang saat ini ia dapati sebagai pelayan di bagian membersihkan perabotan dan pekerjaan itu harus dengan teliti dan tidak boleh ada setitik debupun di setiap sudut suatu benda. Begitupun tugas pelayan yang lain, mereka juga harus teliti dalam bekerja. Jika memang masih mau menikmati pasilitas di kediaman Rendi Anggara. Yang mana para pekerja tinggal di rumah belakang dengan pasilitas tempat dan kebutuhan yang sudah terjamin kenyamanannya.


"Aku tidak tahu akan bisa meninggalkan pekerjaanku saat ini atau tidak walau sudah di depan pernikahan, kehidupan yang aku rasakan di rumah besar tuanku ini aku sudah merasa betah walau harus bertitel sebagai pelayan aku rasa aku tidak keberatan," batin Mina terkekeh dengan tingkahnya saat memikirkannya.

__ADS_1


__ADS_2