
Prolog.
Saat Rendi menyellesaikan pekerjaannya di laptopnya.
Ia melihat ke arah istrinya yang sedang tiduran di bahunya.
Ia mencoba mengajak berbicara pada istrinya juga mendengarkan cerita istrinya sambil menggenggam tangannya.
"Apa kamu menunjukanya padanya?" Tanya Rendi.
"Tunjukan apa?" Tanya Rara.
"Itu ..." Rendi mengisyaratkan matanya mengarah ke dada Rara.
"Kamu mesum." Rara memukul Rendi dengan wajah memerah.
"Aku serius." tegas Rendi.
"Hah kalau iya kenapa kalautidak kenapa?"goda Rara.
"Hmm ... tidak apa-apa," Rendi melepas genggamanya dan mengalihkan pandanganya.
"Hahaha ... kamu lucu sekali Sayang." Rara tertawa.
"Kenapa kamu tertawa?" Tanya Rendi.
Rendi berdiri hendak pergi.Rara mengejar suaminya dan memeluk dari belakang.
"Sayang dia bahkan tidak memandangku sama sekali dan lagi pula aku memakai switerr saat itu. Aku bahkan membuang gaun itu sangat menjijikan bila mengingat aku yang saat itu," jelas Rara.
Perkataan Rara melelehkan hati Rendi yang kesal. Rendi berbalik dan memeluk istrinya .
"Aku punya permintaan untukmu," ucap Rendi.
"Apa?" Tanya Rara.
"Panggil aku sayang setiap waktu,setiap saat, setiap detik," ucap Rendi.
"Seperti aku tidak pernah memanggilmu Sayang aja," jawab Rara.
"Ya ... tapi kamu lebih sering memanggilku dengan nama juga aku kamu aku gak suka," tangkis Rendi.
"Hm ... gimana ya." Rara terdiam.
"Apakah sesulit itu?" Tanya Rendi.
"Hmm." Rara mengangguk.
"Sudahlah aku akan pergi," ucap Rendi.
"Kamu mau pergi kemana?" Tanya Rara.
__ADS_1
"Menurutmu," jawab Rendi.
"Menurutku seperti itukah caramu padaku," lirih Rara.
Rendi berhenti ia tersadar bahwa ia melakukan dan mengucapkan hal yang salah lagi.
Rendi berbalik melihat istrinya yang tertunduk Rendi menghampiri Rara.
"Maaf Sayang." Ucap Rendi.
"Kenapa minta maaf," jawab Rara.
"Boleh aku mengajukan permintaan?" Tanya Rara kembali.
"Apa?" Tanya Rendi.
"Kenapa kamu selalu ingin pergi meninggalkanku, kamu bahkan sudah mengatakanya untuk kedua kalinya padaku?" Lirih Rara tubuhnya bergetar menahan air matanya.
Rendi terkejut dengan pertanyaan Rara. Rendi sadar akan hal sensitip yang membuat hati Rara sakit.Rendi sudah berjanji untuk tidak menyakiti istrinya kembali.Ia memandang wajah istrinya dan memeluk Rara.
"Maaf Sayang, aku hanya bercanda tidak bermaksud untuk membuatmu sedih," ucap Rendi.
"Kenapa kamu jadikan itu bahan lelucon aku bahkan tidak pernah membayangkan berpisah denganmu," ucap Rara menangis.
"Aku tidak akan pernah pergi aku sangat mencintaimu sangat," ucap Rendi.
Rara selalu ketakutan dengan setiap kata pergi dari Rendi.
Entah sejak kapan ia sadar akan hal itu yang pasti saat ini Rara tidak mau kehilangan lagi.
Apalagi orang yang ia cintai.
Rara berprinsip akan selalu mempertahankan apa yang sudah menjadi miliknya terutama suaminya.
Hari itu suasana di Apartment sangat damai Rendi dan Rara yang masih belum kembali beraktivitas kembali ke pekerjaanya.
Mereka memilih tetap di rumah Rendi yang tidur di pangkuan Rara di depan ruangan Tv di atas sofa.
"Sayang, bagaimana keadaan ibumu?" Tanya Rara.
"Mama,sudah membaik dan jauh lebih baik sekarang," jawab Rendi.
"Apakah dia tidak menyukaiku?" Tanya Rara.
"Tidak seperti yang kamu bayangkan sayang," jawab Rendi.
"Tidak apa-apa semua butuh waktu begitu juga dengan ibumu yang terpenting kamu jangan pernah tidak menghiraukanya, karena walau bagaimanapun karena dialah aku menikah denganmu saat ini," ucap Rara.
Rendi dan Rara berbincang berdua sepanjang malam, dengan saling menceritakan pengalaman hidup dan cerita masa kecil mereka. Rendi yang menjadi berandalan saat masih anak muda. Rendi yang berusaha menjadi pengusaha sejak usianya masih terbilang muda juga saat ia menikah dengan alasan perjodohannya.
Rara mendengarkan cerita Rendi dengan serius. Ia ingin mengetahui semua tentang suaminya yang sangat ia cintai.
__ADS_1
Rendi mencoba mengatur cara berbicaranya agar tidak sembarangan berbicara apalagi menceritakan tentang kehidupan masa mudanya bahwa ia menjadi seorang mafia.
Rendi tidak ingin istrinya tahu tentangnya dan jadi takut pada suaminya sendiri.
Rendi bercerita tetntang perjalanan dirinya tanpa henti sampai ia menyadari bahwa istrinya tertidur dengan menopang dagunya.
Ia tersenyum melihat istrinya dan menggendongnya memindahkannya ke kamar bersama Rendi tertidur karena sudah larut malam.
Sepertiga pagi Rara terbangun dari tidurnya ia melihat jam menunjukan pukul 05:00 pagi.
Rara membangunkan suaminya untuk mengajaknya mandi dan bersembahyang.
Rendi membuka kedua matanya saat yang ia lihat wajah istrinya yang segar habis mandi. Ia tersenyum pada istrinya juga terbangun mengecup kening istrinya. Ia juga membiasakan diri dengan aktivitas yang biasa istrinya lakukan seperti bangun di sepertiga pagi untuk beribadah.
Rendi tampak bersemangat saat istrinya selalu mengajaknya untuk selalu beribadah,karena bagi Rendi sangat jarang ia melakukannya sebelum bertemu Rara.
Lain dengan saat ini ia tampak bersemangat karena istrinya rajin mengajaknya.
Setelah Rendi membereskan perallatan kantornya. Ia pergi ke luar kamarnya untuk mencari istrinya.
Rendi melihat istrinya yang sedang memasak di dapur. Ia tersenyum karena istrinya tidak pernah meminta seorang pembantu untuk membantunya padahal ada banyak pelayan di rumahnya.
Rara membuat sarapan untuk mereka makan berdua. Dengan serius ia memasak sarapan paginya.
Rendi selalu iseng bila Rara sedang memasak. Ia merasa bila menggoda istrinya sudah suatu kewajiban baginya Rendi terus mengikuti istrinya seperti anak kecil.
"Sayang bisakah kamu duduk?" Tanya Rara.
"Hmm," jawab Rendi.
Rara melanjutkan memasaknya.Tapi Rendi masih seperti semula memeluk istrinya dari belakang.
Rendi mencium leher Rara meninggalkan bekas merah di san.a Tangannya menggerayang dari punggung Rara sampai pakaian istrinya terangkat keatas.
Rara terkejut dengan kelakuan suaminya itu ia mematikan kompornya dan berbalik menghadap suaminya ia menanggapi suaminya.
Rendi mencium Rara iajuga menggendong istrinya dan membawanya ke kamar.Mereka tersenyum saling pandang juga melakukan aktivitas mereka berdua. Aktivitas pagi memang sangat bersemangat.
Matahari sudah memancarkan cahaya triknya ke dalam jendela kamar mereka. Tampak Rara sedang mengenakan penutup kepalanya dan berniat untuk pergi ke Cafe dimana sodarinya sudah memintanya untuk ke Cafe walau hanya menemaninya saja.
Rendi yang mendapati istrinya sudah siap dan rapih. Ia tersenyum dan mendekati istrinya.
Rendi menyerahkan dasinya kepada istrinya yang sedang berdiri menghadap cermin dengan pakaian rapihnya.
Rara tersenyum mengangguk dengan permintaan suaminya yang selalu ingin di perhatikan olehnya.
Padaahal cara memakai dasi malah jauh lebih baik dan rapih kjika Rendi yang memakaikannya sendiri.
Lain dengan hasil karya Rara yang selalu salah. Terkadang terbalik tapi Rendi tidak pernah mengeluh ia malah selalu bahagia jika istrinya berusaha dengan baik akan memakaikan dasi suaminya.
Rara terkadang kesal akan dirinya yang masih tidak bisa memasangkan dasi pada suaminya.
__ADS_1