
NTR:Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen, favoritkan dan vote yach... Selamat membaca kak.
"Eeh, tunggu! Siapa yang berbicara bahasa aneh? Temanmu Rayn? Atau Amira?" tanya Naura membuat suasana seketika hening.
Amira terdiam begitupun Rayn fokus pada kemudinya. Tidak menanggapi pertanyaan Naura begitupun Amira. Ia beralih memainkan handphonenya. Berusaha untuk tidak menjawab pertanyaan Naura yang tidak seharusnya ia yang menjawabnya.
Naura terdiam dan memajukan bibirnya, ia melihat ke arah Amira dan Rayn yang masih fokus dengan kemudinya.
"Hmm, baiklah aku tidak akan bertanya lagi," ucap Naura.
"Apa kau sudah makan Kak?" tanya Amira kepada Naura.
"Belum," jawab Naura.
"Ayo makan di luar!" ajak Amira.
"Tidak! Kamu masak!" bantah Rayn.
"Eeh, kenapa seperti itu?" tanya Naura.
"Heeh," tambah Amira.
"Tidak ada tapi! Lagipula apa kamu mau orang-orang tau bahwa kamu sama Kaka dekat sekali?" jawab Rayn berbalik bertanya menekan Amira.
__ADS_1
"Hmm, iya yah, ya udah deh. Kita makan di rumah. Nanti Mira msakin Kak," jawab Amira tersenyum meyakinkan Naura.
"Hah, kamu bisa masak Ra?" tanya Naura.
"Sedikit Kak," jawab Amira.
"Semua dia bisa," tambah Rayn.
"Benarkah? Aku mau makan masakan kamu Ra," teriak Naura antusias.
Rayn dan Amira tersenyum, begitupun dengan Naura. Mereka tertawa di sepanjang jalan di dalam mobil, mereka menuju rumahnya setelah sampai di kediaman Rendi Anggara. Amira berbicara kepada kakaknya.
"Kak, tadi Mira menelpon mama sama papa juga Raisa. Mira sangat kangen sama mereka dan keadaan mereka itu baik-baik saja! Tapi Mira tetap saja masih kangen sama mereka," ucap Amira kepada Rayn.
"Ya mereka tidak akan lama kok beberapa hari lagi akan pulang, "jawab Rayn.
"Ya sudah, ayo kita masuk! Nanti kita bicara di dalam rumah juga sambil makan. Aku sudah lapar nih," ajak Amira memasuki rumahnya.
Naura dan Rayn mengangguk dan tersenyum, mengikuti Amira yang sudah jalan terlebih dahulu dari mereka. Setelah sampai di dalam rumah, Amira menaiki tangga dan memasuki kamarnya membersihkan diri dan juga bersembahyang seperti yang sering ia lakukan di waktu Ashar.
Setelah ia membersihkan tubuhnya, ia keluar dari kamarnya dan menghampiri Naura yang juga baru keluar dari kamarnya ia tersenyum. Begitu pun dengan Naura tersenyum menyambut Amira.
"Apakah Kakaku bersikap baik padamu? Amira pada Naura.
__ADS_1
"Memangnya, apa yang bisa dilakukan oleh kakakmu itu padaku? Dia tidak akan berani macam-macam sama aku," jawab Naura.
"Ya ... aku sudah duga itu! Tapi apa kamu tidak mau lebih dekat lagi dengan kakakku? Kapan kamu akan menikah dengannya?" tanya Amira.
"Kenapa? Aku sih akan mengikuti prosedur dia tentang pernikahan. Tapi harus sesuai dengan persetujuan kedua orang tuaku karena Daddi dan Mami, mereka juga sangat penting buatku," jawab Naura.
Amira mengangguk, mereka berjalan menuruni tangga dan sudah ada Rayn yang duduk di ruang tamu dengan dokumen yang ada di tangannya. Naura dan Amira mengerutkan dahinya melihat rayon yang yang masih fokus kepada dokumennya titik lalu mereka menghampiri lain yang sedang fokus kepada dokumennya.
"Kak, Memangnya proyek kemarin masih belum selesai tanda tanya tanda bertanya Amira.
"Proyeknya baru di mulai dan kamu kapan saja boleh pergi ke perusahaan Teman kakak itu," jawab Rayn.
"Baiklah, nanti jika Amira sudah siap. Amira akan pergi ke perusahaan itu, sekarang mau masak dulu, buat kakak tercinta aku biar makan," ucap Amira yang kini juga berjalan menuju dapur diikuti oleh Naura di belakang ya.
"Apa Rayn selalu seperti itu bekerja dan bekerja?" tanya Naura.
" Tidak. Dia itu baru saja terjun ke perusahaan dan ini adalah proyek pertamanya dia pasti akan bersungguh-sungguh untuk menunjukkan kemampuannya," jawab Amira.
"Dia sudah keren! Di usianya yang terbilang cukup muda, sudah mencoba untuk bergelut di perusahaan. Bahkan ia sudah sukses diperoleh di proyek yang pertama ya itu adalah pria idaman aku,"seru Naura.
"Ya, ya, itulah kakaku. Dia memang selalu yang terbaik bagi kami. Mama dan papa sangat bangga kepada kakakku Begitupun aku Aku bangga memiliki Kakak seperti dia," ucap Amira.
Naura tersenyum lalu mereka bergelut di dapur memasak dan membuat makanan untuk makan di sore hari. Amira dengan seriusnya ia masak yang diperhatikan oleh Naura, yang sesekali Naura membantu membersihkan sayur dan makanan yang tersedia di sana.
__ADS_1
Ia hanya memperhatikan Amira yang sedang masak, kemampuan Amira masa itu ia pelajari dari ibunya yang mandiri tanpa bantuan pelayan sama sekali tinggal di kediamannya. Ia selalu membantu pekerjaan ibunya di waktu senggang, meski Rara tidak pernah menyuruhnya