
Di dalam rumah sakit Ken berlari memasuki rumah sakit dan melewati setiap ruangan. Hingga ia melihat seorang wanita yang duduk di kursi tunggu di depan ruang UGD. Ken menghampiri Adam yang kini berdiri berjarak jauh dari Rara yang duduk di kursi.
"Bagaimana dengan istri dan anakku?" tanya Ken tegas.
"Dia sedang berjuang melahirkan jika kau mau masuk lakukannlah,tapi jangan harap ada sambutan baik dari istrimu," jawab Adam datar.
"Kau ...."
Ken tampak kesal mendengar ucapan Adam, tapi ia berbalik karena mendengar jeritan istrinya di dalam ruangan tersebut.
Ia mulai merasa cemas ketika mendengarnya.
Rendi duduk menghampiri istrinya yang melihat ke arahnya dan juga memeluknya.
Rara memeluk erat suaminya dan sedikit meneteskan air mata. Rendi mengerutkan dahinya dan mengusap lembut istrinya yang ada di pelukannya.
"Ada apa Sayang? Apa yang membuatmu menangis?" tanya Rendi.
Rara menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin membuat suasana menjadi semakin tegang karena saudarinya masih belum melahirkan juga setelah lamanya hampir satu jam setelah memasuki ruang persalinan.
Saat Rara mendongakan kepalanya melihat ke arah suaminya. Ia mengerutkan dahinya melihat seperti ada hal yang berbeda dari raut wajah suaminya.
"Sayang, kamu kenapa? Ada apa dengan raut wajah kusutmu itu?" tanya Rara menyentuh wajah Suaminya.
Rara terkejut saat mendapati tubuh suaminya terasa hangat. Ia mengerutkan dahinya dan mulai panik.
"Sayang, kamu itu sedang sakit, kenapa kamu memaksakan diri sekali ayo kamu periksa ke Dokter," ucap Rara.
Rendi tersenyum tipis, ia menarik istrinya untuk duduk kembali dan memeluknya dengan erat. Rendi menyusupkan kepalanya ke leher istrinya dengan mendekapnya.
"Aku tidak butuh Dokter, tapi aku butuh kamu," bisik Rendi memajukan bibirnya ke wajah istrinya yang kini mengerutkan dahinya. Rara menahan wajah suaminya dengan telapak tangannya dan mendorongnya sedikit menjauh.
"Kamu ini demam Sayang, kenapa sampai seperti itu?" seru Rara menekan suaminya yang kini malah tersenyum melihatnya.
Ken menghampiri tuan dan nonanya. Ia sedikit khawatir jika tuannya benar-benar sakit nantinya.
"Saya akan bawa Dokter untuk memeriksa Anda," ucap Ken merasa khawatir karena dari tadi siang tuannya tidak melirik makanannya sama sekali.
"Tidak perlu, aku hanya harus bersama istriku saja, nanti juga sembuh, kau fokus pada istrimu saja, bila perlu kau temani dia melahirkan," tegas Rendi.
"Tapi Tuan ...."
Ken terhenti ucapannya dalam kekhawatirannya. Saat ia melihat tatapan isyarat Rendi jika ia harus berhenti berbicara padanya jika berada di hadapan istrinya. Agar Rara tidak semakin khawatir pada dirinya.
Dalam hati Ken yang paling dalam, ingin rasanya ia segera pergi berlari mencari Dokter dan menyeretnya untuk memeriksa tuannya. Tapi ia urungkan mengingat tidak ada perkataan dan isyrat untuk kedua kalinya bagi tuannya itu. Ia lebih memilih terdiam dan berdiri di depan ruang UGD.
Saat Ken menenangkan dirinya akan ke khawatirannya pada tuannya yang belum makan apalagi saat ini ia sedang demam. Ken tampak gundah dan gelisah dengan dahi yang mengkerut.
Pintu dimana Dilla berada terbuka dan keluar seorang perawat dengan bertanya pada semua yang berada di depan ruangan.
"Dimana Suami pasien?" tanya Perawat itu.
"Saya," jawab Ken menghampiri Perawat tersebut.
Rara menghampiri perawat tersebut denga kekhawatiran yang teramat besar pada saudarinya.
__ADS_1
"Pasien meminta suaminya untuk masuk dan sebaiknya Anda temani istri Anda saat seperti ini Tuan," ucap Perawat tersebut.
Ken mengangguk dan ikut memasuki ruangan dimana istrinya kini sudah berada di atas ranjang pasien dalam balutan pakaian senada dengan para perawat berwarna putih.
Dilla tampak berkeringat bercucuran di wajahnya. Dengan wajah sayunya ia meneriaki suaminya yang baru saja menghampirinya dan memegang tangan istrinya.
"Hei Ken bodoh ! Kenapa kau baru datang hah?" teriak Dilla memegang erat tangan suaminya.
Ken masih dengan wajah datarnya dan memegang erat tangan istrinya yang mulai mencengkram tangannya.
"Maaf ... ,"
Ken melihat wajah istrinya dan mengusap keringatnya. Ia mengecup kening istrinya dengan lembut.
"Ken aku tidak mau membuat anak denganmu lagi !" teriak Dilla dengan tarikan nafas dan mengejan kembali.
Ken mengerutkan dahinya. Begitupun dengab Dokter dan perawat yang mendengarnya menahan tawa mereka.
"Baiklah ... nanti aku buat dengan yang lain," jawab Ken datar.
"Kalau kau berani akan aku putuskan adikmu itu !" Dilla memelototi suaminya yang berani berkata seperti itu bahkan dengan wajah datarnya itu.
"Kau mau apa?" tanya Ken seperti mengajak istrinya hanya untuk berbincang dan tidak sedang tegang.
"Kau yakin mau mendengarkan kemauanku?" tanya Dilla menarik nafas dan mengejan kembali.
"Tentu," jawab Ken.
" Aku ... aku ... aaaaah."
"I love you Sayang," bisik Ken membuat Dilla membulatkan kedua matanya dan tersenyum bahagia mendengar ucapan suaminya dan kini Ken memeluknya dengan sedikit air mata terjatuh di pelipisnya.
"Ken ... aku mau mendengarnya lagi, aku mau kau ucapkan setiap detik setiap waktu," ucap Dilla dengan air mata menetes di pelipisnya.
Ken tersenyum mengangguk dan mengecup kening istrinya.
"Aku akan mengucapkannya tiga kali sehari ya," ucap Ken.
"Emangnya makan?" ucap Dilla manja.
"Bukannya itu makanan yang kamu mau," jelas Ken mengusap wajah istrinya dengan lembut. Ia tahu setiap ke inginan istrinya. Baginya hal yang di inginkan Dilla pasti ia penuhi dengan caranya sendiri. Dilla bahkan sudah tidak merasakan sakitnya melahirkan lagi. Ken mengajaknya berbicara agar Dilla tidak terlalu merasa tegang dalam proses melahirkannya.
Setelah Dokter selesai dalam proses persalinan. Ia menghampiri Dilla dan Ken yang sedang berbincang.
"Tuan Nyonya, bayinya perempuan cantik silahkan Anda melihatnya ," ucap Dokter tersebut.
"Baiklah Dok," jawab Ken dengan wajah datarnya.
Dokter tersebut sudah terbiasa dengan sikap Ken yang selalu bersikap datar setiap kali bertemu dengan siapapun persis seperti kejadian dahulu saat atasannya sakit. Ken memarahi semua Dokter yang ada di seluruh rumah sakit.
Dokter tersebut tersenyum dan pergi berjalan untyk keluar.
"Dokter ... berikan obat penurun panas yang cepat untuk di taburkan dalam makanan," tegas Ken menekan Dokter tersebut.
"Baik Tuan," jawab Doktee tersebut. Ia sudah paham akan ucapan Ken. Jika ia sudah berbicara seperti itu sudah bukan bantahan pmagi jika seorang Ken berbicara menekan begitu.
__ADS_1
Dokter tersebut keluar dari ruangan tersebut dan melihat ke arah Rara dan Rendi yang duduk di kursi.
Rara menghampiri Dokter yang di ikuti perawat di belakangnya.
"Bagaimana Saudari saya Dok?" tanya Rara.
"Pasien selamat dan bayinya perempuan," jawab Dokter wanita tersebut. Ia melihat ke arah Rendi yang menutup matanya dan bersender ke belakang kursi dan bersandar ke dinding.
Dokter tersebut tersenyum dan berpamitan pergi meninggalkan Rara dan ruang UGD dan berjalan untuk pergi keruangannya.
Rara mengerutkan dahinya saat melihat Dokter wanita yang masih muda itu tersenyum dan memandangi Rendi dengan senyum di wajahnya. Ia berjalan menghampiri suaminya yang kini sudah membuka kedua matanya.
"Sepertinya Dokter itu sangat memperhatikanmu ya Sayang?" ucap Rara Sinis.
Rendi memeluk istrinya tanpa menjawab pertanyaan istrinya yang terdengar samar baginya. Karena ia sudah tidak bisa merasakan dan sudah sedikit terasa kaku di tubuhnya.
Dilla kini sudah pindah ke ruangan VIP. Rara tersenyum bahagia saat seorang bayi perempuan terlihat damai dengan kulit putih berseri. Rara melihat ke arah saudarinya denganbsenyum di wajahnya ia memeluk Dilla dengan erat dan menangis.
"Sayang, kenapa kamu menangis?" tanya Dilla mengerutkan dahinya.
"Aku sempat sedih saat mengajakmu tinggal di Jerman dan melahirkan tanpa kedua orang tuamu," ucap tangisan Rara.
"Hmm Dia justru sangat senang ketika mendengar pusat perbelanjaan," tangkis Ken dengan wajah datarnya.
"Tuh suamiku sudah tau jawabannya Sayang, kamu jangan khawatir aku ini kuat jika kalian berada di sampingku, aku akan lebih sedih jika aku jauh darimu Ra," ucap Dilla tersenyum.
Rara memeluk erat saudarinya dengan senyum di wajahnya.
Ken menghampiri tuannya yang kini duduk dengan wajah datarnya. Tapi lain dengan Ken. Ia memberikan makanan yang ia bawa dari Iyas dan sudah di taburi obat dari Dokter tersebut.
Mengingat Rendi tidak pernah mau jika harus di paksa minum obat. Baginya minum obat hanya membuang waktu.
"Nona ... sebaiknya Anda pulang saja bersama Tuan istirahat, biar saya yang menjaga Dilla," ucap Ken mengkhawatirkan tuannya yang tidak menyukai bau rumah sakit mengingat Rendi bahkan pingsan saat berlama-lama di rumah sakit saat istrinya melahirkan.
Hanya Ken yang tahu alasan Rendi tidak menyukai rumah sakit, apalagi dengan bau obat-obatannya. Rendi tidak menyukai rumah sakit karena mereka tidak bisa menyelamatkan adik satu-satunya Anisha.
Mengingat suaminya yang sedang demam. Rara memilih untuk pulang dan merawat suaminya yang sedang demam. Rara kini pulang dari rumah sakit setelah berpamitan pada Dilla dan Ken.
Mark dan Iyas masih di dalam kendaraannya di depan rumah sakit.
Iyas melihat ke arah Adam dan tuannya yang kini memasuki kendaraannya.
"Bro ... itu Rendi, mereka akan pulangkah?" tanya Iyas.
"Itu lebih baik, mengingat Rendi tadi terlalu lelah dalam bekerja sebaiknya dia pulang dan biar kita yang berjaga disini," jawab Mark datar.
"Mark bagaimana kau tahu jika yang menelponmu itu si Adam?" pertanyaan ini yang sempat ingin Iyas tanyakan sebelum ke rumah sakit tadi. Tapi tidak bisa ia katakan mengingat suasana sedang tegang.
"Heh, hanya pria itu yang bisa melacak nomer handponeku,kau pikir aku akan memberikan nomer pribadiku sembarangan," jawab Mark tersenyum sinisnya mengingat tidak ada orang lain yang tahu nomer pribadinya selain Rendi. Adam bahkan mendapatkannya hanya dengan waktu sesingkat itu. Ada perasaan kagum dari Mark mengingat kemampuan Adam yang melebihinya dalam ilmu tekhnologinya.
Dalam perjalannan pulang di dalam mobilnya, Rara mengusap rambut suaminya yang kini berada di pangkuannya tertidur. Ia tampak khawatir saat menyentuh bahu suaminya yang kini mulai semakin hangat.
"Dam ? Bisakah kau lebih cepat !" pinta Rara dengan wajah khawatirnya.
"Padahal kita habis dari rumah sakit tapi suamiku ini tidak mau di rawat malah bersikeras ingin pulang saja dan memintaku merawatnya,heh kamu ini sayang ," batin Rara ia mencium kening suaminya dan mengusapnya dengan lembut.
__ADS_1
Adam menambah kecepatan mobilnya dengan tinggi. Ia tahu jika tuannya kini sedang tidak sehat, jika ia melambatkan kendaraannya hanya akan membuat tuannya semakin demam. Hanya butuh beberapa menit. Kendaraan kini sudah memasuki area kompleks milik Rendi Anggara. Tidak ada penghuni lain di area komplek elit tersebut dan semuanya hanya milik Rendi Anggara dan Arsitekturnya Rendi sendiri yang merancangnya.