Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
ketegangan semua


__ADS_3

Pagi ini


Rumah besar Anggara kini banyak para pelayan yang sedang berkumpul di halaman belakang. Mereka saling berbisik bertanya mengapa mereka di kumpulkan di taman belakang. Pada saat pria yang berpakaian serba hitam mengenakan mantel selutut berdiri di hadapan mereka. Seketika mereka yang tadinya berbicara kini tidak ada yang berani berbicara lagi. Pak Jun yang ada di hadapan mereka berdiri dan menghimbaukan para pelayan untuk membersihkan setiap sudut rumah utama dengan teliti. Bahkan jika ada bgian pekerjaan sedikit saja yang terlewatkan maka pelayan itu yang bertugas akan di pecat detik itu juga. Mereka yang mendengaran perintah dari pengurus rumah tidak ada yang berani berbicara. Pak Jun yang menyampaikannya pada semua para pelayan. Ia berbalik dan membubarkan pelayannya untuk sesegera mungkin bekerja.


Ketegangan juga terjadi di lain tempat bagian dalam rumah besar Angagara. Di dalam dapur ibu Ratih terduduk dengan setelan bajunya yang elegan Rok sekat hitam baju blouse putih rambut di gelung ke atas.


Dengan lingkaran ikat rambut berwarna emas riasan tipis yang menampakan alami ia tampak elegan dengan auranya.


Di dapur tampak para pelayan sedang sibuk bolak balik mempersiapkan masakan untuk acara makan malam.


Hari ini ada sekitar lima koki di rumah besar. Semua ahli dengan kinerjanya masing-masing. Kini mereka sepertinya sedang mempertaruhkan masa depanya mereka memasak yang di awasa oleh Big boss langsung.


Nyonya besar mereka sangat intens memperhatikan setiap gerak gerik mereka. Nyonya Rumah kali ini merekomendasikan makanan sehat dan steril di setiap hidangannya. Ia juga memerintahkan Pak Jun untuk mempersiapkan susu khusus ibu hamil.


Pak Jun yang datang menghampirinya kini berdiri di samping nyonya besar yang menambahkan ketegangan di dalam dapur bagi para pekerja bagian masak di rumah besar.


"Nyonya besar benar-benar elegan dan keren para koki yang sombong itu bahkan bertekuk lutut ketakutan olehnya waah aku benar-benar mengagumimu nyonya besar," batin salah seorang Koki muda yang bernama Doni.


Doni adalah keponkan Pak Jun yang di bawa langsung oleh Pak Jun. Ia sudah berada di rumah Anggara sekitar satu bulan dan kini ia sudah haval dengan semua peraturan di rumah besar.


"Nyonya bahkan merekomendasikan langsung apa saja yang harus di persiapkan pada kita untuk makan malam kali ini," bisik Seorang pelayan di luar dapur.


"Dulu aku sangat ingin menunjukan kemampuanku pada Nyonya. Tapi sekarang kenapa aku malah merasa seperti mau mempertaruhkan masadepan hidupku ya," batin seorang Koki yang sedang sibuk membuat sayur hijau.


Nyonya besar kini berdiri dari duduknya dan memasang aura mengisyatratkan pada para pelayannya untuk mengikutinya.


Setelah itu. Ia beralih ke arah Pakk Jun dan berkata.


"Kamu lakukan dan periksa apa yang harus dilakukan," ucap ibu Ratih pada pak Jun.


Pak Jun mengangguk dan ibu Ratih bergegas pergi meninggalkan dapur.

__ADS_1


Nyonya besar berjalan keluar dapur dengan di ikuti beberapa pelayan naik ke lantai atas bersamanya.


Pak Jun memandangi punggung nyonya besarnya dan mengalihkan pandangannya kepada para pekerja di dapur dengan tatapan tajamnya untuk memberi ketegasan bagi siapapun yang melanggarnya.


Kini yang memperhatianpekerjaan di dalam dapur adalah pengurus rumah Pak Jun yang tak lain kepercayaan nyonya besar. Yang menurut mereka justru sama menakutkannya dengan nyonya besar dengan adanya Pak Jun di sana.


Itu bahkan tidak menyurutkan ketegangan para seisi dapur karena Pak Jun adalah bayangan nyonya besar. Ia sama tegas dan menakutkan seperti tuanya itu bahkan akan jauh lebih buruk bila melakukan kesalahan di depan pak Jun.


Pak Jun yang berdiri menghadap dan memperhatikan para koki. Ia melihat seorang koki muda yang tak lain adalah Doni keponakanya. Dia yang sedang membersihkan buah strawberi dengan teliti.


Pak Jun bahkan merekomendasikanya langsung. Tapi pak Jun tidak membedakan perlakuanya walau pada keponakanya ia tetap tegas dalam peraturan di rumah besar.


****


Prolog Rendi Rara


Rara yang merasa bosan tidak melakukan apa-apa. Ia menaruh dagunya di atas meja dan memajukan bibirnya cemberut ia mendesah berkali- kali di waktu yang sama. Sesekali Rara menatap ke arah para pengunjung yang berdatangan ramai. Ia melihat ke arah dua pria yang sedang melayani pengunjung dan menyapanya dengan ramah.


Rendi yang memperhatikan kelakuan istrinya ia tersenyum melihatnya. Ia tersenyum dengan menopang dagunya oleh tanganya memandangi istrinya yang sedang kesal dengan tidak adanya kegiatan baginug. Ia tersenyum mengembang setiap kali melihat dan mendengar gerutuan istrinya.


"Melihatnya seperti ini ingin sekali aku menciumnya saat ini juga," gumam Rendi tersenyum .


Ia berdiri dan memegang tangan istrinya. Ia bermaksud mengajak istrinya untuk berdiri dan pergi dari tempat ia duduk. Tapi Rara menahannya. Ia tidak bergeming masih memajukan bibirnya mengembung.


Rendi tersenyum melihat istrinya yang semakin menggemaskan.


"Sayang biar kamu tidak bosan ayo kita berbelanja," ajak Rendi.


"Untuk apa?" Tanya Rara malas.


"Menurutmu apa yang dilakukan setiap wanita pergi ke pusat perbelanjaan?" Tanya Rendi.

__ADS_1


"Mana aku tahu dan tidak mau tahu," jawab Rara ketus.


"Bukankah wanita paling suka berbelanja ke tempat seperti itu?Kenapa dia malah sebaliknya...aku harus bagaiman?" Batin Rendi.


Rendi mengerutkan dahinya dan tidak lama ia tersenyum kembali.


"Kali ini pasti berhasil," gumam Rendi.


"Sayang apa kamu tidak mau membeli sesuatu buat mamah nanti malam?" Bbujuk Rendi dan Rara menoleh ke arah Rendi .


"Hmmm,, memang aku harus membeli apa untuk hadiah mertuaku? Terus apa yang dia suka? Aku bahkan tidak terpikirkan itu ayo Sayang, kita pergi jangan sampai kita melupakan sesuatu," ucap Rara.


Rara ia berdiri dan menuntun suaminya untuk pergi ke pusat perbelanjaan.


Dilla yang melihat kelakuan sahabat dan suaminya itu menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum.


"Andai saja suamiku seperti itu," gumam Dilla.


"Kamu bahkan ingin merebut suami saudaramu sendiri," ucapan Ken mengejutkan Dilla.


"Mana ada aku merebut suami Saudariku kamu ini asal menuduh saja lagipula siapa juga yang mau punya suami seperti itu huh," jawab Dilla cetus.


"Aku akan membuatkan pusat perbelanjaan khusus untukmu nanti di rumah kita," jelas Ken.


"Kenapa?" Tanya Dilla.


"Agar kamu tidak berselingkuh dan mengharapkan suami orang lain apalagi bosku," jawab Ken.


"Dan lagi kenapa kamu menjelekan tuannku seperti itu emang suami seperti apa dia kenapa kamu bilang begitu?" Tanya Ken intens.


"Dia ini kekasihku atau polisi sih memojokan aku sekali aku tahu kenapa Rara gila menghadapi suaminya jangankan suaminya ini sekertarianya aja memmbuatku semakin gila," teriak batin Dilla.

__ADS_1


__ADS_2