
Prolog Rendi
Setelah mendapati istrinya yang tertidur Rendi membiarkan Rara tertidur di pangkuannya.
Setelah menjelang siang Rara terbangun dan melihat Rendi masih di tempat semula.
Rendi yang mendapati Rara sudah bangun mereka berbincang di ruang tamu di seharian terkadang nonton tv main game.
Mereka berencana menghabiskan seharian di rumah bersama dan tidak pergi kemana-mana.
****
Prolog Ken.
Pagi hari Cafe sudah ada pengunjung yang sudah pasti setiap pagi kesana seorang pria berjas hitam duduk didepan meja kasir Cafe.
"Kenapa kamu tekuk kepalamu itu nanti kamu tidak akan cantik lagi," ucap Ken.
Ken bicara tanpa melihat siapa yang ia ajak bicara.
Dilla yang menoleh sama asal suara tambah cemberut.
"Rara sudah pindah dan sekarang ia gak masuk aku disini sendirian membosankan," ucap Dilla.
Dilla mengembungkan pipinya,merasa kesepian di hari-harinya.
Ken menoleh melihat Dilla yang cemberut dan ia tersenyum tertahan melihat kekanakan Dilla.
"Lalu kamu anggap aku ini apa,kamu pikir aku patung?" Ucap Ken dingin.
"Kamu ini pengunjung tugasmu hanya duduk manis minum kopi dan bayar," cetus Dilla.
"Kamu meremehkan kinerjaku ya," balas Ken.
"Memang kamu bisa apa?" Ejek Dilla.
Ken berdiri dan ia membuka jasnya ia hanya menyisakan kemeja putihnya dan menggulung tangan kemejanya.
Ia tersenyum melihat Dilla dan bergegas mengambil nota dan pergi ke kursi pengunjung.
Ken menghampiri para pengunjungnya dan menuliskan apa yang pengunjung pesan sebagian pengunjung gadis muda yang masih sekolah.
Mereka tertarik pada Ken yang tampan bahkan sebagian ada yang minta berfoto selfi.
Ken yang bolak balik mengantarkan pesanan terlihat sangat enak di pandang.
Pengunjung wanita kebanyakan senang Ken yang melayaninya.
Dilla tampak tersenyum - senyum sumringah bahagia melihat apa yang di lakukan Ken.
Di saat Dilla memandang Ken yang menghampirinya.
Ken mengedipkan sebelah matanya pada Dilla yang membuat Dilla salah tingkah tapi hatinya senang.
Seharian full Ken melayani para pengunjung di Cafe store.
Tidak terasa waktu sudah Semakin malam pengunjung semakin berkurang.
Sehingga kini Dilla bermaksud untuk tutup lebih awal.
Di dalam Cafe Ken tampak sedang membereskan meja dan kursi.
__ADS_1
Ia berjalan dan menghampiri Dilla yang sedang membuat minum untuknya.
Ken duduk di hadapannya.
Dilla memberikan Ken Jus orange kepada Ken.
"Ternyata skilmu boleh juga tuan Ken," puji Dilla tersenyum.
"Kamu pikir apa yang tidak bisa aku lakukan," jawab Ken sombong.
"Tetap saja masih ada yang kurang," ucap Dilla.
"Hah?" Ken heran.
"Kamu bilang semua bisa kamu lakukan tapi masih ada yang menurutku tidak bisa kamu lakukan," ucap Dilla.
"Memang apa yang sulit aku lakukan? Tanya Ken dingin.
"Buktinya aku tidak pernah melihat ada wanita yang mau sama kamu," ucap Dilla mengejek.
Dilla sangat terkejut dan menutup mulutnya dengan kedua tanganya keceplosan saat Ken melotot padanya.
"Hehe ... aku bercanda Tuan Ken terimakasih ya." Dilla mengalihkan.
Ken mengulurkan tangannya kepada Dilla dengan wajah tanpa ekspresi.
"Hah ... kenapa? Ada apa?" Tanya Dilla tidak mengerti.
"Bayaran," jawab Ken.
"Huh ku pikir kamu ihklas," cetus Dilla.
Ken menggebrak meja dan menyimpan uang yang Dilla berikan padanya.
"Kamu pikir aku butuh uangmu,bahkan Cafemu ini bisa aku beli ! Ucap Ken Dingin.
"Hah lalu ini apa,bukankah tadi kamu minta bayaran?" Tanya Dilla heran.
"Jalan denganku seharian sebagai bayaranya," jawab Ken intens.
Dilla terkejut dengan apa yang Ken ucapkan.
Ia tidak tahu harus jawab apa bukankah ia tidak bisa meninggalkan Cafe lalu siapa yang akan berjaga menggantikanya.
"Tidak bisa," ucap Dilla cetus.
"Kenapa?" Tanya Ken terkejut.
Baru kali ini ia di tolak oleh seorang wanita apa lagi ajakannya Ken. Bahkan wanita-wanita di kantornya sering sekali yang mengajaknya jalan makan bersama terdahulu tapi kali ini berbeda.
Ada yang lain dari gadis yang di hadapan Ken untuk kali ini.
"Aku tidak bisa menutup Cafe lagipula Rara mungkin tidak akan buru-buru ke Cafe," jawab Dilla.
"Kita pergi malam ini," ucap Ken.
"Tapi... " ucap Dilla dalam kebingungan.
"Cepat ganti bajumu aku tunggu tiga puluh menit kalau kamu tidak bergegas aku akan disini sampai pagi lagi," ancam Ken.
"Hah." Dilla kaget Ken melotot.
__ADS_1
Dilla terdiam ia menganga saat ia mengingat ucapan Ken.
Ia bergegas pergi ke lantai atas untuk bersiap-siap mandi dan mengenakan pakinny.
Ken melihat ke sekeliling Cafe memeriksa dan mencabut stop kontak yang menancap dan mematikan mesin dan peralatan Cafee.
Ia juga menaikan kursi ke atas meja lalu duduk kembali ke tempat semula.
Tiga puluh menit ia menunggu.
Dilla keluar dengan memakai Rok biru kaos lengan panjang warna abu dan kerudung putih.
Dilla menghampiri Ken.
Ken yang tanpa ekspresi ia keluar dengan Dilla dan menutup Cafe.
Dilla bahkan berharap ada Ken yang terkagum melihatnya.
Tapi ternyata itu hal yang tidak mungkin dengan wajah datarnya Ken sama sekali tak berlama-lama melihat Dilla.
Saat sedang menutup pintu Cafe Ken melirik Dilla yang segar dengan penampilan peminimnya.
Wanita berhijab dengan rok dan warna seirama bagi Ken adalah sosok wanita yang peminim.
Lain dengan Rara penampilannya tampak selalu segar dengan kesederhanaannya ia terlihat cantik dengan hanya memakai kemeja dan jeans saja.
Dilla memasuki mobil Ken dengan gaya anggun berharap untuk di perhatikan oleh Ken.
Tapi lelaki dingin yang ada di hadapannya itu tampak tidak bergeming dengan situasi saat ini.
Dilla tersiam di dalam mobil dengan Ken di balik kemudi.
Sesekali Dilla melirik Ken yang tidak memperdulikannya sama sekali.
Dilla mengalihkannya pada jendela mobil.
Ia mengambil handponenya dan mengirim chat kepada Saudarinya Rara.
Dilla tampak asik dengan handponenya ia berbalas pesan dengan Saudarinya yang membicarakan tentang Ken yang super dingin padanya.
Ken yang menyadari akan Dilla yang tidak berbicara sama sekali.
Ia mencoba memperlambat kendaraannya dan melirik ke arah Dilla yang sedang tersenyum melihat handeponnya.
"Dia manis juga cantik,walau tidak semanis dan secantik Nona muda tapi aku suka," batin Ken.
Ken membuyarkan pikirannya hal gila yang ia pikirkan adalah mengatakan Dilla cantik.
Apalagi Ken mengatakan Nona mudanya lebih cantik.
"Bisa di bunuh aku jika tuan tahhu aku mengagumi Nona muda," batin Ken.
Ken mempercepat kendaraannya dengan pikiran kacaunya.
Ia tidak ingin berpikiran jauh tentang Nona mudanya.
Dilla yang merasa kendaraannya semakin kencang ia menjatuhkan handponenya dan memegang erat pada pegangan atasnya.
"Ken kamu gila ya kenapa bawa mobilnya tiba-tiba kencang sekali,Ken apa kamu sadar," teriak Dilla.
Ken memberhentikan mobilnya mendadak. Ia melihat ke arah Dilla yang menutup matanya.
__ADS_1