
Di meja makan tuan dan nyonya Anggara beserta kedua cucunya kini sedang bersiap untuk sarapan paginya.
Rendi yang sudah siap dengan pakaian kantornya bersama istrinya, kini sedang menuruni tangga menuju meja makan untuk ikut sarapan. Sudah tidak ada keraguan lagi dari wajah Rara saat ini tidak seperti semalam ada banyak hal yang ia pikirkan. Rara duduk di kursi samping suaminya beserta putranya Rayn kini berada duduk di pangkuannya untuk ikut sarapan. Rara makan dengan lahap tanpa menunjukan suasana hatinya yang saat ini masih dalam memikirkan tentang kedua orang tuanya.
Setelah sarapan Rendi berpamitan kepada istrinya. Ia mencium kening istrinya begitupun Rara mencium punggung tangan suaminya.
"Tunggu aku Sayang," ucap Rendi mengusap kepala Rara.
Rara tersenyum mengangguk melihat suaminya yang kini sudah menuju mobilnya dan sudah ada Ken yang menunggunya di depan mobil.
Di perjalanan Rendi terdiam dan mengerutkan dahinya. Ia berpikir untuk mempercepat pertemuan hari ini dan menyelesaikan secepatnya.
"Ken kau tahu pemilik perusahaan pertambangan di Jerman yang mengusik perusahaan Papaku?" Tanya Rendi.
"Dia putra pertama keluarga Dirga Tuan, mungkinkah dia mengusiknya Tuan?" Jawab Ken.
"Hmm, tapi itu kenyataannya, papa bilang saat ini sedang dalam tahap penyerangan di setiap media pada perusahaan papa," ucap Rendi.
"Apa Tuan berniat untuk tinggal di Jerman Tuan? Tanya Ken.
"Aku belum tahu, istriku terlihat kebingungan saat aku mengatakannya," jawab Rendi.
Ken mengerutkan dahinya saat mendengar suara tuannya yang sedang kebingungan.
"Mari Tuan, kita selesaikan rapatnya agar bisa secepatnya menemani Nona nanti siang," ucap Ken memberi semangat pada tuannya.
Rendi mengangguk melihat ke arah pemandangan kota Jakarta yang ramai kendaraan berlalu lalang bahkan di satu sisi jalanan ramai lancar.
"Hmmm,mungkin kah aku harus tinggal di sana tanpa istriku Ken, aku bahkan tidak mau berlama-lama di kantor apa lagi harus berpisah dalam jarak dan waktu yang lama," ucap Rendi.
Ken tidak bisa menjawabnya terlalu sensitip jika ia menjawab dan memberi saran padanya. Untuk saat ini ia sedang berpikir bagaiman caranya agar semua pekerjaan di kantor bisa selesai sesuai dengan yang di tentukan.
Di perusahaan Rendi di sibukan dengan berbagai dokumen juga sebentar lagi akan ada rapat perusahaan . Ia harus bersiap. Begitupun Ken sedang mempersiapkan berkas untuk rapat hari ini agar selesai secepatnya.
Bagi Rendi menemani istrinya adalah hal yang lebih penting dari segala hal apapun di dunia ini.
Rendi terlihat serius menyelesaikan pekerjaannya hingga rapatpun sudah tiba.
Rara sedang duduk di taman halaman depan rumahnya ia menopang dagunya melihat putra putrinya sedang bermain bersama para pengasuhnya. Rara masih dalam pikiran tentang bagaimana cara berbicara pada kedua orang tuanya yang seharusnya ia temani melewati hari tua mereka.
Ibu Ratih datang menghampiri Rara dengan stelan pakaiannya yang rapih dan elegan. Ia tersenyum melihat menantunya yang sedang melamun dan melihat anak- anaknya yang sedang bermain. Ia duduk di samping Rara begitupun Rara tersenyum akan kedatangan ibu mertuanya.
__ADS_1
"Sayang apa ada yang kamu pikirkan?" Tanya ibu Ratih.
"Mah, sebenarnya aku sedang bingung mah, harus memilih suamiku atau keluargaku," ucap Rara.
Ibu Ratih tersenyum mendengar ucapan menantunya yang masih bisa menutupi kegundahan hatinya dari kemarin dengan menutupinya ia senyum dan sikapnya yang todak berubah.
"Sayang, sebaiknya kamu tanyakan pada mereka, entah pada suamimu begitupun pada kedua orang tuamu, ceritakan kegundahan dan kebingunganmu itu agar hatimu bisa kembali tenang," ucap ibu Ratih.
"Apakah bisa seperti itu mah?" Tanya Rara.
"Hmmm, mencoba lebih baik daripada tidak sayang," jawab ibu Ratih.
"hmmm ... apa mamah mau ikut ke Bandung?" Tanya Rara.
"Pergilah dengan suamimu,dan bicarakan bersama, mamah tidak bisa karena papamu akan pulang nanti malam," ucap ibu Ratih.
"Hmm ... baiklah Mah, makasih ya Mah, sebenarnya Rara bingung harus bagaimana tapi setelah mendengar ucapan Mamah aku sudah tidak risau lagi Mah, Mamah memang yang terbaik, aku sayang Mamah," ucap Rara memeluk ibu mertuanya dengan senyum dan hati yang sudah merasa lega.
Ibu Ratih memeluk menantunya dengan senyum penuh kasihnya menyayangi Rara.
Rayn menghampiri Nenek dan Mamahnya dengan tingkah datarnya duduk di pangkuan ibunya.
Rara tersenyum dan senang mendapati putranya yang manja padanya walau tanpa ekspresi.
"Dulu Rendi juga manja sama Mamah, tapi setelah kejadian hal itu Mamah kehilangan moment bersama saat usianya sudah labil, sehingga Mamah tidak memahami penuh sifat putra Mamah senditi," ucap ibu Ratih sendu.
Rara dan Pak Jun yang berada di sampingnya tersenyum melihat ibu Ratih yang mengingat masa tentang Rendi yang sempat ia usir dan bahkan ibunya sendiri yang menghampiri Rendi. Karena sudah tidak tahan berada jauh dari putranya walau dengan cara perjodohan hanya untuk bisa lebih dekat lagi.
"Mah ... tidak ada batasan jika seorang ibu ingin memanjakan anak-anaknya selama kita bahagia semua untuk mencapai yang terbaik," ucap Rara.
"Mamah padahal ingin menenangkanmu tapi malah mamah yang di buat senang karena ucapnmu Sayang," ucap ibu Ratih tersenyum dengan gemasnya pada Rayn yang ada di pangkuan ibunya.
Menjelang makan siang Rendi masih dalam rapatnya yang masih belum selesai semenjak tadi pagi. Ia tampak gundah dan gelisah mengingat ia sudah berjanji pada istrinya. Sudah lewat setengah jam dari makan siang rapat akhirnya selesai dan Rendi berdecak kesal menghampiri Ken yang sedang membereskan dokumennya.
"Kau siapkan sepenuhnya aku akan kembali saat ini juga," ucap Rendi dengan kesalnya.
"Tuan, Nona telepon dan bilang dia tidak akan pergi ia hanya akan menunggu Tuan nanti pulang dari kantor," ucap Ken.
"Apa dia marah Ken, aku bahkan terlambat apa karena aku terlambat hingga dia jadi tidak mau pergi denganku Ken?" Ucap Rendi resah.
"Tidak Tuan tapi katanya dia dudah bersiap untuk ke Bandung," ucap Ken tersenyum. Ia ingin menggoda tuannya sekali ini.
__ADS_1
"Apa ... Kau serius?" Teriak Rendi.
Rendi tidak menggubris ucapan Ken kembali. Ia bergegas bersiap untuk pulang dan turun dari ruangannya menggunakan lift dan pergi menuju rumahnya. Ken yang tersenyum licik menggoda tuannya karena terlalu gelisah selama rapat tadi pagi. Ia ingin tuannya istirahat di rumahnya dan tidak terlalu memikirkan tentang perusahaannya yang kini sudah di handle oleh Ken.
Rendi mengemudi kendaraannya sendiri tanpa menunggu Ken yang selalu mengemudi untuknya. Wajahnya tampak tidak sabar ingin segera bertemu dengan istrinya agar tidak pergi ke Bandung.
"Apa dia akan pergi meninggalkanku selamanya, tunggu aku Sayang. Aku akan bereskan perusahaan dan tinggal bersamamu," gumam Rendi panik.
Sesampainya di gerbang depan rumah Rendi membuka pintu mobilnya dan bergegas berlari memasuki rumahnya bahkan berlari agar cepat sampai di kamarnya. Sesampainya di kamar ia sudah tidak melihat siapapun di dalam kamarnya bahkan kedua anaknyapun tidak ada di sana. Rendi panik dan mengacak rambutnya dengan kesslnya. Ia bahkan tidak bertanya pada pelayan yang diam di depan pintu kamarnya dan bergegas turun dari kamarnya memanggil dan mencari sosok yang ia harapkan saat di luar pintu rumah ia berlari dan seorang penjaga menghampirinya.
"Tuan ada apa?" Tanya penjaga.
"Aku harus mencari istriku," ucap Rendi panik.
"Tuan mencari Nona kemana?" Tanya Penjaga.
"Kau bodoh ! Ya ke Bandung," teriak Rendi.
"Hah, tapi Nona ada di sana Tuan," ucap Penjaga.
Tanpa mendengar ucapan penjaga itu. Rendi panik dan ia menghampiri mobilnya dan masuk di kursi kemudi saat ia mencoba menyalakan mesin. Ia teringat sesuatu dan berbalik menoleh ke arah penjaga yang tadi menghampirinya.
"Apa katamu?" Tanya Rendi mengerutkan dahinya.
"Nona muda ada di taman Tuan," jawab Penjaga.
"Apa kau benar?" Ucap Rendi nadanya sudah rendah untuk kali ini.
"Iya Tuan, disana ada Nona muda Tuan ... sedang berbincang dengan Nyonya besar," jawab Penjaga.
Rendi melihat ke arah kanannya dan ada istrinya yang sedang berbincang dengan ibunya, Rara bahkan melambaikan tangannya ke arahnya dengan senyumnya.
"Ken sialan akan aku bunuh dia," ucap Rendi.
Rendi menghampiri ibu dan istrinya yang sedang bermain bersama anak-anaknya.
"Sayang kamu pulang, bukankah aku sudah menelponmu sudah tidak perlu keluar jemput aku," ucap Rara merangkul lengan suaminya.
Rendi mencium pucuk kepala istrinya dan mengusap pipi istrinya yang kini berseri dengan bahagianya.
Rendi bahagia karena istrinya masih ada di hadapannya dan tidak seperti yang Ken ucapkan padanya.
__ADS_1
"Akan aku beri pelajaran kau Ken," gumam Rendi dengan senyum liciknya.