Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Mutiara berharga di Hati


__ADS_3

Di rumah keluarga Permana. Rara sedang menemani Rayn dan Amira yang kini sedang bermain di halaman depan bersama dengan kedua pengasuh. Beserta dengan Nesa yang kini sedang duduk di depan Rara yang sedang bermain dengan anak-anaknya.


Nesa memandang dengan hati penuh kagum karena nona barunya teramat cantik dan bahagia saat bersama keluarganya.


Ibu Rara datang dari arah dalam rumah,ia trsenyum melihat anak cucunya bermain dengan tawa dan ceria seperti saat ini.


Ia tersenyum bahagia hingga tak terasa air matanyapun menetes begitu saja.


Apalagi untuk ke depannya, ia tidak akan bisa melihat moment seperti ini karena putrinya yang satu-satunya kini harus mengikuti suaminya untuk tinggal dengan jarak yang teramat jauh.


Mengingat hal itu, ibu Rara merasa sakit dan takut akan hal yang tidak bisa ia lewati dan harus berada jauh dengan putrinya. Akan tetapi ia sudah sepakat dengan suaminya, apapun yang terjadi seorang istri harus mengikuti lanhkah suaminya yang dimana kini sudah menjadi imam yang sah dan harus bertanggung jawab sepenuhnya pada istrinya. Apalagi mereka kini berada jauh dan tinggal disana demi kebaikan keluarganya dan masa depannya.


Ibu Rara mengusap air matanya dan mencoba untuk bertahan, juga tidak mau membuat hati putri semata wayangnya bersedih dan berubah pikirannya. Untuk tidak jadi pergi mengikuti suaminya.


Semalam Rara sempat ragu, karena ia tidak mau meninggalkan kedua orang tuanya, jika kedua orangtuanya tidak mengijinkan. Ia tidak akan pergi sama sekali. Karena bagi Rara pirasat orang tua selallu benar baginya walau suaminya yang teramat ia cintai.


Ibu Rara sempat ingin menahan putrinya, karena ia tidak mau melihat putrinya berada jauh darinya. Tapi ia urungkan ketika melihat besar cinta anak menantunya pada putri satu-satunya itu. Hingga ia merasa yakin jika dimanapun keberadaan putrinya, ia akan baik-baik saja berada dengan suami yang sangat mencintainya.


Ia berjalan setelah di rasa sudah tidak merasa sedih lagi dan air mata tidak terlihat kembali. Ibu Rara tersenyum dengan membawa nampan teh hangat untuk semua yang sedang berkumpul di teras depan.


Rara yang melihat kedatangan ibunya. Ia berdiri dan menghampiri ibunya yang kini membawa nampan makanan dan juga teh hangat untuk mereka pagi ini.


Rara mengambil nampan yang ibunya bawa dan menyiapkan teh yang akan mereka nikmati. Nesa mendekati Rara dan mencoba agar ia yang mengerjakannya.


"Nona biar saya yang membuatnya, Nona silahkan duduk saja," ucap Nesa.


"Sudah tidak apa, sana temani anak-anakku, aku akan membuatnya untuk kalian semua," tangiis Rara.


Ia mencegah Nesa dan membuat beberapa teh hangat untuk di nikmati semua yang sedang berkumpul bersama putra putrinya yang saat ini sedang berlarian kesana kemari.


"Ya ampun, kenapa Nona kita itu baik sekali ya, mau-maunya membuatkan teh untum kita, aku malu jadinya. Kalau Tuan tahu dia pasti akan memarahi kita," bisik salah seorang pengasuh anak-anak Rara.


"Ya ... aku juga jadi merasa canggung begini ya, hihi tapi baru kali ini aku merasa di manja oleh majikan," jawab pengasuh yang satunya.


Mereka kembali fokus pada anak-anak majikannya yang kini sedang berlarian kesana kemari saling kejar dengan aktipnya. Para pengasuhnyapun ikut berlarian mengejar dan mengawadi anak-anak Rara yang aktip.


Rar menyimpan teh dan camilan di samping Nesa yang kini masih dengan ekspresi tegangnya yang datar. Rara tersenyum melihatnya. Karena baru kali ini ia melihat seorang wanita setangguh Nesa yang tahan dengan moment yang justru bagi Rara menyenangkan baginya.


Ibu Rara duduk di samping putrinya. Ia tersenyum dengan hati yang sedikit getir tapi bahagia melihat kedua cucunya yang kini sedang bermain dengan usia yang sydah bertambah.


Rara memeluk ibunya dan bersender di bahu ibunya dengan manja. Tingkah putrinya yang selalu bermanja padanya. Kini harus ia rela dan ikhlas untuk berada jauh dari putrinya untuk kedepannya dn hanya berharap yang terbaik untuk krbahagiaan putri dan cucu-cucunya.


"Bu ... Rara sebenarnya sangat ingin membawa Ayah dan Ibu untuk ikut bersama Ra," ucap Rara kepada ibunya yang kini sedang mencoba kuat menahan rengekan putri semata wayangnya yang selalu ia turuti setiap keinginannya.


Ibu Rara tersenyum dan mengusap wajah putrinya yang teramat ia sayangi. Namun ia harus berusaha untuk meyakinkan putrinya untuk bersikap tegar dan tidak merasa khawatir pada kedua orang tuanya.


"Sayang ... bukankah jaman sekarang sudah begitu canggih jika hanya untuk melepas rasa rindu, kita ini satu keluarga rasa rindu dan kasih sayang kita tidak akan ada jarak apalagi batas. Kamu harus menjadi seorang wanita dan ibu yang bisa di banggakan bagi ibu dan ayah Sayang. Karena itu akan mencerminkan bahwa kamu putri ibu satu-satunya yang sukses menjadi seorang istri dan ibu yang baik dantangguh," ucap ibu Rara.


"Tapi Ra gak mau jauh dan Ra ingin menemani ibu," rengek Rara.


"Gadis bodoh ! Jadi kau pikir ibumu ini sudah tua hah, harus di temani," ucap ibu Rara.


"Hmm," jawab Rara tersenyum.


Ibu Rara menggelitiki Rara dan mendapati putrinya tertawa dengan bahagianya mendapati gelitikan ibunya yang teramat enggan ia berada jauh darinya.


Ibu Rarapun ikut tersenyum dan tertawa saat melihat senyum tawa putrinya yang pastinya akan ia rindukan.


Mereka bercanda dan berbincang di pagi hari dengan anak cucunya yang kini sedang asik bermain.


Nesa melihat pemandangan satu pasang Ibu dan anak yang saat ini sedang melwpas kerinduan yang akan datang. Ia tersenyum mengagumi kedua wanita yang ada di hadapannya ini denagn tegarnya. Yang satu tegar demi kebahagiaan putrinya, yang satu tegar untuk kebahagiaan putra putrinya juga.


Nesa tersenyum tipis melihat moment mereka dan mengabadikan hal tersebut dengan mengambil beberapa photo mereka. Ada photo saat Rara memeluk ibunya dan tersenyum getir. Saat Rara tertawa dengan saling menggelitiki dan tawa di wajah mereka dan ada juga saat dimana kedua anak cucunya berlari menghampiri ibu dan neneknya dengan sambutan hangat dan bahagia dari keduanya.


Setelah mengambilnya, Nesa kembali meminum teh hangat yang Nona mudanya buatkan untuknya dan menikmati moment indah di hadapannya. Moment dimana satu keluarga tertawa bahagia di pagi hari.


Rara memeluk ibunya kembali dan bersender di bahu ibunya. Ia tersenyum dalam pelukan ibunya yang kini memeluknya dengan erat. Baginya tingkah putrinya selalu seperti ini akan jauh lebih baik dan sangat ia rindukan. Rara selalu bermanja pada kedua orang tuanya. Setiap ke inginannya akan selalu mereka penuhi selama mereka mampu. Apalagi ayah Rara sangat memanjakan putrinya yang teramat ia sayangi.


Rayn melihat ibunya yang bermanja pada neneknya. Ia mengerutkan dahinya dengan wajah datarnya.


Rayn berlari menghampirinya dan duduk di pangkuan ibunya. Rara tersenyum saat mendapati Rayn yang duduk di pangkauannya tanpa ekspresi manjanya.


Rara mengerutkan dahinya dan melihat ibunya yang kini tersenyum begitupun Rara ikut tersenyum mendapati putranya bermanja padanya.

__ADS_1


"Rayn kenapa? Apa kamu mau makan?" Tanya Rara.


Rayn menggelengkan kepalanya.


"Hmm ... bagaimana kalau kita pergi ke kebun melihat hasil panen kakek yuk," ajak Rara.


Rayn tetap diam. Ia merangkul ibunya dan mencium pipinya. Rara terkejut dengan tingkah putranya yang teramat manja.


"Nenek juga mau dong di cium juga," ucap Ibu Rara memberikan pipinya ke hadapan Rayn dan Rayn juga mengecup pipi nenenya bahkan berkali-kali di seluruh wajahnya.


Ibu Rara tersenyum begitupun Rara melihat putranya begitu menyayangi neneknya. Amira menghampiri mereka juga ikut menciumi ibu dan Neneknya. Setelah itu mencium pipi kakaknya berniat menjahili Rayn.


Mereka tertawa dan bercanda bersama. Begitupun Nesa yang kini ikut bermain dengan tuan muda juga nona kecilnya.


Rara berbincang dengan ibunya hingga jam makan siang tiba. Kini sudah saatnya untuk mereka mengantar makan siang bagi Ayah dan Suaminya.


Rara melihat ke arah Nesa yang sedang bermain dengan anak-anaknya.


"Nesa ... ayo kita pergi ke kebun, kita harus mengantarkan makan siang untuk suami dan ayahku," ajak Rara.


"Baik Nona," jawab Nesa.


Rara tersenyum mendengar dan melihat Nesa yang selalu bersikap formal padanya. Ia merangkul Nesa dan mengajaknya masuk ke dalam rumah beserta Ibu dan kedua anaknya.


Rara mengajak Nesa memasuki kamarnya dan memberi satu set pakaian yang harus Nesa kenakan.


Nesa menolaknya dan merasa canggung.


"Kamu pakai jika tidak jangan harap kamu bisa ikut dengan tuanmu lagi," ancam Rara tersenyum tipis.


Nesa mengangguk dan mencoba untuk memakai setelan baju yang di berikan Rara. Ia melihat tubuhnya di depan cermin dengan pakaian yang sangat tidak pernah ia kenakan. Rok warna coklat dan blouse warna pink. Ia terlihat peminim. Dengan rambut serata dengan daun telinganya. Nesa terlihat cantik saat mengenakan pakaian stelan dari nonanya. Ia tidak pernah membayangkan hal ini.


"Nona, ini akan mempersulit setiap gerak saya," ucap Nesa canggung.


"Haha ... memangnya kamu mau berkelahi sampai bilang susah gerak segala," jawab Rara tertawa mendengar ucapan Nesa.


Nesa terdiam tanpa ekspresi melihat nonanya di hadapannya yang sedang asik tertawa. Baginya hal yang membuat nonanya tertawa adalah kebanggaan tersendiri.


"Tidak apa jika aku harus mengenakan pakaian aneh ini jika bisa membuat nona tertawa selepas tadi," batin Nesa.


Rara kini sedang menyiapkan makanan untuk di bawa ke kebun, dimana suami dan ayahnya kini sedang berada di sana saat ini.


Nesa membantu membawa tempat makan dan ia melarang nona mudanya untuk membawa sesuatu apapun. Dengan ancaman tidak akan mengenakan pakaian yang di berikan oleh Rara. Ia berhasil mendapatkan semua rantang makanan berada di tangannya saat ini.


"Bu, anak - anak aku tinggal dulu ya Bu," ucap Rara.


"Iya sana, ayah dan suamimu pasti sudah lapar jam segin," jawab ibu Rara.


Rara mengangguk dan berpamitan pada ibunya meninggalkan anak - anaknya bersama ibunya pergi ke kebun.


Sepanjang perjalanan Nesa berjalan canggung, ia merasa tidak nyaman mengenakan pakaian yang tidak pernah ia punya apalagi bermimpi untuk mempunyainya.


Rara menyadari tingkah dan sikap tidak nyaman Nesa yang dari tadi membenarkan rok yang ia kenakan berulang-ulang.


Ia tersenyum tertahan dengan berjalan di depan Nesa agar tidak nampak sedang menertawakannya.


"Nesa ... "


"Iya Nona," jawab Nesa.


"Apa kau pernah menyukai seorang pria," tanya Rara.


"Uhukk," Nesa terbatuk dan berhenti dari langkahnya.


Rara tersenyum melihat kecanggungan Nesa yang terbatuk setelah mendengar pertanyaanya. Mereka berjalan menelusuri perkebunan teh yang jaraknya berada jauh dari rumah Rara.


Di sebuah gubuk terdapat ayah Rara sedang duduk di tempat duduk yang terdapat di dalam gubuk tersebut. Ia memandangi menantunya yang sedang mencoba berbagai aktivitas warga yang sedang memanen padi yang di tanamnya. Sesrkali ia tersenyum melihat tingkah menantunya yang terkejut dan wajah yang terpancar matahari tingkah lucu dan setius Rendi membuatnya teringat perjuangannya dulu untuk mendapatkan cinta istrinya sampai saat ini.


"Dia bahkan bisa dengan mudah mengutamakan kebahagiaan putriku yang selaku istrinya," gumam Ayah Rara.


Ia memandangi Rendi yang di temani Adam sedang memunguti padi yang siap di giling. Ayah Rara sempat tertawa ketika Rendi memarahi Adam yang malah menertawakannya yang terlihat kesusahan hanya membawa sedikit padi saja bahkan beratnyapun tidak sampai tiga kiloan. Ayah Rara mempunyai tontonan tersendiri yang bagunya lucu. Seorang pengusaha terbesar di Asia kini sedang memanen padinya.


Rendi sedang bersungut-dungut memarahi Adam yang tertawa padanya. Hanya karena ia bahkan merasa kesusahan membawa padi ke tempat yang lebih luas.

__ADS_1


Rendi sedikit tergores lengannya oleh padi yang kasar dan ia mengaduh.


Adam refleks menoleh ke arah tuannya dan memegang tangan Rendi. Ia juga mengoles tangan Rendi dan menutupnya dengan plester yang selalu ia sediakan jika ia terluka karena berkelahi.


Saat Adam sedang memasang plester. Rendi terkejut saat mendapati Adam yang perhatian hanya hal spele bagi Rendi jika hanya goresan saja. Setelah selesai Adam melihat ke arah tuannya.


"Anda tidak apa -apa Tuan?" Tanya Adam.


Rendi memalingkan pandangannya dengan tatapan acuhnya ia memberikan padi yang sempat ia jatuhkan kepada Adam.


"Aku tidak apa juga tidak perlu di obati," jawab Rendi.


Adam tersenyum melihat tuannya yang bergengsi besar. Tapi Adam tahu bahwa Rendi hanya tidak bisa menunjukan kepeduliannya dengan kata-kata. Rendi lebih banyak bertindak dengan nyata untuk perdulinya pada orang-orang sekitarnya dan itu membuat Adam semakin mengagumi sosok Rendi yang dingin bagaikan berlian yang menenangkan hati orang.


Saat Rendi sedang duduk di pesisian sawah dengan keringat di pelipis wajahnya. Begitupun Adam duduk di sampingnya berjarak satu meter darinya memberinya segelas air minum padanya.


Rendi melihat dua orang wanita dan salah satunya adalah wanita yang ia cintai istrinya Rara. Ia tersenyum melihat wajah berseri istrinya. Rendi bahkan ingin segera memeluknya dan mencium bibir berseri istrinya saat ini juga.


"Aku ingin bibir manismu saat ini juga jika tidak sedang disini Sayang," batin Rendi tersenyum.


Rara berjalan menghampiri suaminya dengan cerianya. Ia tersenyum pada duaminya yang sedang melihat ke arahnya.


"Sayang kamu berkeringat juga kamu cape ya ayo makan Sayang kita istirahat di gubuk bersama Ayah," ucap Rara.


"Hmmm, lelahku hilang karenamu sayang," jawab Rendi.


"Haha ...sesempat itu ya kamu menggombal Sayang," tawa Rara.


Adam terkejut melihat tawa Rara yang membuatnya terkagum mendengar dan melihat tawa tulus seorang istri yang menyayangi suaminya. Begitupun dengan Ayah Rara melihat tawa putrinya yang begitu bahagia dengan suaminya. Ia selalu melihat putrinya tertawa tapi tidak sebahagia seperti saat ini.


Rendi melihat seorang wanita lagi yang menurutnya terlihat aneh dan mengejutkannya.


"Apa kau sadar Nesa?" Tanya Rendi mengerutkan dahinya.


Rara tersenyum melihat ekspresi suaminya dan Adam yang terkejut melihat penampilan Nesa. Bahkan Nesa sendiri salah tingkah dan tidak nyaman dalam berdirinya.


"Dia cantikan?" Ucap Rara.


"Hmm kamu jauh lebih cantik Sayang," jawab Rendi memalingkan pandangannya dari Nesa.


"Iya tuan ini juga saya terpaksa," batin Nesa.


"Kamu ini. Kalau kamu aku sudah tahu pasti aku yang paling cantik agar tidak aku tendang," ucap Rara.


"Haha, kamu memang yang tercantik sayang ," tukas Rendi.


"Hmm, ayo makan aku dah laper nih," ajak Rara.


"Sebenarnya kamu ke sini mau nganter makan aku atau untukmu sih Sayang?" Tanya Rendi.


"Tentu saja makanan ini untukku dan aku butuh teman untuk menemaniku makan," jawab Rara tersenyum.


"Kalau begitu kamu makan sendiri aku tidak mau," cetus Rendi.


"Ya sudah aku makan sama Adam saja," ucap Rara.


"Eeeeth ... iya baik sayang. Sama aku aja jangan dengan pria lain," tangkis Rendi memegang tangan istrinya dan menuntunya ke gubuk yang dimana sudah ada ayah Rara.


Saat mereka sedang makan bersama tiba-tiba suara handpone Adam berbunyi dan ada panggilan video di handponenya.


"Kenapa baru mengangkatnya," Bentak yang di balik layar handpone.


Semua yang mendengarnya terkejut dan melihat ke arah Adam yang sedang membuka handponenya.


Adam memberikan handponenya ke arah Rendi dan istrinya.


Terlihat Ken bersama istrinya sedang duduk di sofa dan berbicara dengan riangnya Dilla.


"Sayang ,, Kamu lagi ngapain,aku rindu. Kamu sudah lupa ya sama aku?" Teriak Dilla.


"Hallo sayang kamu ini mana ada aku lupa kamu gimana bayimu gerak teruskan?" Ucap Rara.


Rara dan semuanya termasuk ayah Rara berbincang dengan Rara melepas kerinduan mereka. Berbincang kesana kemari.

__ADS_1


__ADS_2