
Penerbangan Jerman ke Indonesia memakan waktu yang cukup panjang, hingga membuat Rayn merasa bosan. Ia berlari setelah turun dari pangkuan pengasuhnya dan berlari untuk menghampiri dimana orang tuanya berada tapi sebuah tangan memegangnya. Nesa memangku Rayn yang kini sedang menatap Nesa dengan tajam.
"Tuan muda harus mengikuti aturan , diam di saat dalam perjalanan ya,mari duduk di pangkuan Saya," ucap Nesa.
Rayn meronta mencoba untuk turun dari pangkuan Nesa tapi ia terdiam saat melihat Adam sedang duduk menutup matanya dengan Airpone di kedua telinganya. Rayn melihat ke arah wajah Adam yang tertidur lalu melihat ke arah handponenya . Ia mencoba untuk mengambil handponenya dan sebuah tangan menahannya dengan tatapan datarnya Adam menatap tajam pada Rayn. Tapi tidak kalah tajam Rayn melihat tatapan Adam yang tidak membuatnya bergeming takut.
Adam tersenyum tipis saat mendapati Rayn yang malah berbalik untuk menatapnya bukan menangis atau berontak. Adam memangku Rayn dari pangkuan Nesa dan membiarkan Rayn duduk di pangkuan Adam. Kini Rayn memainkan game di handpone Adam dengan Adam yang kembali tertidur bersender di kursi penumpangnya.
Nesa mengerutkan dahinya saat melihat hal yang menurutnya tidak masuk akal saat Adam masih bisa tidur lagi. Adam bahkan memangku Rayn yang kelakuannya tidak bisa diam, tapi di pangkuan Adam tuan mudanya malah terdiam di pangkuan Adam. Bahkan Rayn tidak berpikiran untuk membawa kabur handponenya meninggalkan Adam. Malah asik dengan permainannya sendiri saat ini.
"Ada apa dengan pria ini kenapa dia begitu acuh juga bisa membuat tuan muda diam di hadapannya," batin Nesa.
Nesa mengabaikan Adam yang sedang tidur dan ia memperhatikan Rayn jikala dia memerlukan sesuatu.
Rendi terlihat sedang membenarkan pakaiannya, Rara menggelung rambutnya hingga terlihat beberapa karya yang Rendi tinggalkan di leher istrinya. Rara berdiri dan menghampiri suaminya yang sudah duduk bersender.
Rara duduk di pangkuan suaminya dan bersender di dada bidang suaminya,menempelkan kepalanya di bahu suaminya sampai tercium leher jenjang suaminya.
Rendi yang mendapati istrinya bermanja setelah kegiatan panas mereka. Ia merangkul dan mengecup pucuk kepala istrinya. Ia membiarkan istrinya bermain sesuka hati di pangkuannya.
"Sayang?" Tanya Rara.
"Hmm," jawab Rendi.
"Sebenarnya kamu habis dari mana dan ngapain?" Tanya Rara.
Rendi membuka kedua matanya dan bergeser melihat wajah istrinya yang masih menyusup di lehernya. Ia mengerutkan dahinya menggigit lidahnya mencari cara untuk menjawab istrinya.
"Kenapa Sayang, aku tidak kmana- mana," jawab Rendi.
"Hmm," ucap Rara.
Rendi tertegun jika suara istrinya sudah bukan kata-kata lagi berarti dia mengetahui sesuatu dan minta penjelasan darinya. Rendi mencoba untuk mmencari cara menjawab istrinya agar tidak berkepanjangan apalagi jika ia tahu bahwa Rendi habis berkelahi bahkan membuat seseorang lumpuh lagi seperti halnya Bari dulu.
"Sayang aku ... aku..." ucapan Rendi terhenti ketika melihat ke arah istrinya. Rara memejamkan matanya dan tertidur di pundak suaminya dengan tangan merangkul suaminya.
Rendi tersenyum juga menghela nafas lega saat mendapati istrinya yang sudah tertidur kembali. Ia meneluk istrinya dan mengusap punggung istrinya agar merasa nyaman dalam tidurnya. Rendi menyenderkan kepalanya di kepala istrinya yang sedang bersender di bahunya.
"Sebenarnya aku sangat penasaran Sayang, tapi aku tidak mau mempersulitmu dan menambah bebanmu hanya dengan pertanyaanku, aku tahu apapun yang kamu lakukan itu selalu yang terbaik dan tidak mungkin salah, aku akan selalu mempercayaimu suamiku," batin Rara.
Rara berpura-pura tidur untuk menghindari kecemasan suaminya. Ia tidak akan menanyakan hal yang bisa membuat suaminya tidak nyaman di dekatnya. Untuk itu Rara memilih untuk tertidur hingga sampai di Indonesia kembali.
Di Sore Hari.
Rendi beserta rombongannya kini sudah berada di depan bandara dan bersiap untuk memasuki mobil yang sudah menjemputnya dari pagi. Mereka kini sudah berada di perjalanan menuju kembali kerumah besar.
Sesampainya di rumah keluarga Anggara Rendi di sambut oleh kedua orang tuanya dan Rara berhambur memeluk ibu mertuanya yang amat ia rindukan.
Tuan Anggara sudah menunggu Rendi untuk berbicara dengannya tentang perusahaan yang sedang dalam masalah untuk kali ini.
"Rend bisa ke ruang kerja papa sekarang?" Ajak tuan Anggara.
Rendi mengerutkan dahinya dan mengikuti Ayahnya yang mendahuluinya untuk memasuki ruang kerjanya.
"Sayang ayo kamu pasti lelah," ucap ibu Ratih.
"Ya Mah, Sayang ayo masuk dulu nanti dulu pulangnya setelah istirahat dulu ya," ucp Rara menghampiri Dilla yang tengah berjalan bersama Ken dan memasuki ruang tamu bersama.
Kedua pengasuhnya kini sudah membawa anak-anak Rendi untuk memasuki ruang tamu dan menghampiri Rara.
Rara menggendong Amira dan memberinya menciuminya tanpa henti.
ibu Ratih yang melihatnya ia mengerutkan dahinya.
__ADS_1
Mereka bercengkrama bercanda ria melepas kerinduannya.
Rendi sedang berada di ruang kerja Ayahnya yang kini sedang mereka tampak sedang bergelut dengan pikirannya masing -masing mencari cara untuk memecahkan solusi.
"Apa kamu mau Rend tinggal di Jerman, di perusahaan papah?" Tanya tuan Anggara.
Rendi terdiam mengingat akan istrinya yang tidak mungkin akan bersedia menemaninya ke Jerman padahal ia sangat berharap untuk pulang saat berada di Jerman.
"Jika bukan kamu, akan siapa yang menjadi penerus perusahaan papa Nak," ucap tuan Anggara.
Rendi kembali mendengarkan ucapan Ayahnya yang memintanya untuk tinggal di Jerman selamanya mengurus perusahaan terbesarnya di sana.
Rendi keluar dari ruang kerja Ayahnya dan melihat istri dan keluarganya sedang bercengkrama di ruang tamu.
Tuan Anggara menepuk bahunya dari arah belakangnya.
"Papa akan mendukung setiap keputusanmu Nak, walau harus kehilangan perusahaan Papa," ucap tuan Anggara.
Rendi terdiam tanpa menghiraukan perkataan Ayahnya yang kini sudah berjalan mendahuluinya ke ruang tamu.
Rendi melihat istrinya yang kini sedang tertawa bersama ibunya dan juga Saudarinya Dilla. Ada Ken yang datang menghampirinya.
"Ada sesuatu hal yang terjadi Tuan?" Tanya Ken.
"Tidak ada, besok pagi kita ke perusahaan pagi sekali ada yang harus aku bicarakan denganmu juga Mark dan Iyas apa mereka sudah selesai dengan tugas yang harus mereka lakukan?" Tanya Rendi dengan tatapan dinginnya.
"Mereka sudah sampai di pulau Tuan juga sudah menjalannkan perintah dengan aman," ucap Ken.
"Hmmm,baiklah Ken persiapkan dirimu dan juga kekuatanmu," ucap Rendi pergi meninggalkan Ken yang sedang terdiam mendengar perkataan tuannya yang selalu mengandung teka teki.
"Ada apa dengan tuan bukankah tadi suasana hatinya baik-baik saja," batin Ken.
Rendi berjalan menghampiri istri dan keluarganya yang kini sedang berbincang dan membuka semua kotak hadiah yang di bawa dari Jerman. Rendi bersikap seolah tidak ada hal yang rumit yang melandanya saat ini. Untuk mengurangi kecemasan istrinya yang selalu banyak dengan segala pertanyaannya.
Berulang kali Rendi memikirkan hal yang menurutnya mudah jika hanya untuk tinggal di Jerman jika ia masih lajang. Tapi untuk saat ini Rendi sudah bukan seorang Rendi yang kehidupannya bisa dengan leluasa kesana ke mari. Apalagi semua berhubungan dengan keluarganya. Antara istrinya dan juga kedua orang tuanya. Saat Rendi sedang termenung dalam diamnya dengan tatapan tanpa arahnya menatap langit gelap yang sunyi.
Tiba-tiba sebuah tangan menyusup dari arah belakang tubuhnya dan sebuah tangan memeluknya dari arah belakang dengan pelukan hangatnya.
Rendi sempat terkejut saat mendapati pelukan istrinya yang tiba-tiba saja memeluknya.
"Sayang, kenapa kamu bangun bukankah kamu mengantuk?" Ucap Rendi.
"Hmm ... bagaimana aku bisa tidur jika tidak ada kamu di sampingku," jawab Rara.
Rendi berbalik dan menghadap juga memeluk istrinya dengan erat tidak henti Rendi mengecup ulang pucuk kepala istrinya yang kini berada di pelukannya.
"Sayang, aku hanya sedang mencari angin malam saja, makanya aku juga tidak bisa tidur," ucap Rendi.
"Hmmm, tapi aku tidak mau tidur kalau tidak ada kamu di sampingku," rengek Rara manja.
Rendi tersenyum melihat wajah istrinya merengek manja padanya. Hal seperti ini yang ia inginkan dari seorang istri apalagi ia sangat mencintai istrinya yang saat ini sedang memeluknya dan menggesek- gesekan kepalanya di dada bidang Rendi.
"Kalau begitu mari aku temani kamu untuk tidur ya Sayang, kamu tidak boleh kurang tidur," ucap Rendi menarik istrinya.
Saat Rendi mengajak dan menarik tangan istrinya. Rara menahan tangan suaminya dengan wajah yang sudah bukan bermanja lagi padanya seperti saat tadi.
Rwndi mengerutkan dahinya dan mencoba membujuk istrinya untuk tertidur kembali.
"Sayang ayo," ajak Rendi. Tangan Rara tetap menahannya.
Dengan tatapan dengan semua pertanyaan di benaknya yang menumpuk selam di kerjalanan dan saat ini Rar sudah tidak bisa menahan semua pertanyaan yang ada di benaknya seharian ini.
"Ada apa?" Tanya Rara. Dengan pandangan penuh arti dan tanda tanya kepada suaminya Rara memberanikan diri untuk bertanya pada suaminya.
__ADS_1
"Sayang ..." ucapan Rendi terhenti saat Rara menatapnya dengan tegas itu menandakan Rara sudah tidak mau menerima hal apapun yang tidak sesuai dengan apa yang sedang Rendi pikirkan.
Rendi mengalah dan menggendong istrinya untuk duduk di atas ranjangnya dan tiduran bersender di kepala ranjang tidurnya.
Rendi mendekap erat istrinya dalam duduknya. Ia mengecup pucuk kepala istrinya dan tersenyum.
"Baiklah tuan putri ada yang mau di tanyakan silahkan biar suamimu ini menjawabnya," ucap Rendi.
Rara terkekeh saat mendengar ucapan suaminya yang konyol padanya.
Rara bersandar di dada bidang suaminya dan berbicara dengan tangannya yang bergerak melingkar-lingkar di dada suaminya. Kini Rendi sudah siap mendengar setiap pertanyaan Rara.
"Sayang apa yang sedang membuatmu gelisah dari tadi?" Tanya Rara.
Rendi tersenyum ia sudah tidak memikirkan tentang menyembunyikan hal kecil apapun itu pada istrinya.
Ia mengecup kening istrinya dan tersenyum ke arah istrinya yang kini sedang mendongakan kepalanya melihat dengan penasaran pada suaminya.
"Aku akan ceritakan semuanya padamu sayang tpi kamu jangan marah apalagi sedih janji," Ucap Rendi mengacungkan jari kelingkingnya pada istrinya.
"Hahaha... kamu ini seperti anak kecil saja pake ajara kaitkan jari kelingking, aku sudah bukan anak kecil lagi kamu ini, tapi aku janji tidak akan marah," jawab Rara tertawa.
Rendi tersenyum dan mengangguk ia mencoba menarik nafasnya dan memulai mencari awal cerita yang akan ia ceritakan pada istrinya yang tidak mudah menyerah dengan seribu pertanyaannya.
"Sayang, sebenarnya aku tadi pagi memberimu obat tidur ke bandara, dan juga ada orang yang berniat untuk menculikmu makanya aku berangkat sesegera mungkin untuk bisa sampai pulang ke Indonesia maaf ya Sayang," ucap Rendi lembut.
Rara menanggapinya dengan mengangukan kepalanya tanda ia mengerti. Tapi setelah ia menyadari akan ucapan suaminya ia terkejut dan bangun dari tidurnya hingga duduk dan bersila.
"Apa kamu bilang Sayang,kamu kasih aku obat tidur dan kamu melakukan semuanya pada tubuhku sesuka hatimu pantas saja tidak tersisa sama sekali di sans," cetus Rara.
"Hehehe, maaf Sayang aku hanya mau menggebdongmu seperti srorang putri kan kamu tuan putri tercantikku,sini mendekat lagi," ucap Rendi menepuk pundaknya lagi untuk istrinya bersandar di bahunya.
Rar memajukan bibirnya kesal dengan tingkah suaminya yang selalu bertindak sendiri dengan alasan yang selalu membuatnya tidak mengerti.
Rara mendekati suaminya kembali dan menyenderakan kembali krpalanya di dada bidang suaminya.
"Lalu yang membuatmu gundah gelisah apa Sayang?" Tanya Rara.
"Hmm aku ... aku ..." Rendi terhenti merasa ragu untuk mengucapkannya pada istrinya yng saat ini sedang mendongakan kepalanya dan menunggu jawaban suaminya.
"Papa meminta kita pindah ke Jerman apa kamu mau ikut?" Akhirnya Rendi lontarkan perkataan yang ia pendam dari tadi siang kepada istrinya.
Rendi terdiam dan mulai membenarkan posisi duduknya. Ia bahkan melipat kakinya dan kedua tangannya di lipat di dadanya. Ia berpikir dengan keras saat mendengar ucapan suaminya yang mengajaknyauntuk berpindah ke Jerman dan menetap di Sana.
Rendi melihat ke arah jstrinya dan mendekatinya.
"Jika kamu tidak mau tidak usah Sayang, kita tidak perlu berpindah dan tinggal disana, aku bisa bolak balik Jerman- Indonesia untuk urusan bisnis dan kembali pulang ke sini," ucap Rendi.
Rara masih dengan pikirannya sendiri apalagi mendengar ucapan suaminya yang bisa bolak - balik untuk pulang pergi ke Indonesia.
"Sayang bisakah aku memikirkannya dahulu sehari saja?" Tanya Rara.
"Kenapa Sayang tidak apa-apa kita akan cari jalan yang terbaik untuk kita berdua kamu bisa memikirkannya jika bersedia tapi jika tidak aku tidak masalah," ucap Rendi menenangkan istrinya yang sedang berpikir.
"Apa aku salah membicarakannya ya aku takut istriku berkata tidak," batin Rendi.
Rara terdiam ia menatap suaminya yang sedang menatapnya.
"Sayang ayo tidur aku akan memberikn jawabannya besok sore bisa kan," ucap Rara.
"Kemarilah Sayang, aku tidak masalah jika kamu tidak mau kamu bisa memikirkannya selama yang kamu mau jangan di pikirkan ya," ucap Rendi membaringkan istrinya dan mendekapnya dalam pelukannya.
Sementara Rendi tertidur,Rara masih membuka kedua matanya dan memikirkan rencana suaminya yang mengajaknya untuk tinggal bersamanya di Jerman. Di satu sisi Rara tidak mau tinggal lebih jauh lagindari kedua orang tuanya mengingat dia anak gadis satu- satunya bagi orang tuanya. Di satu sisi keadaan genting perusahaan suaminya yang juga membutuhkan dirinya untuk mendukung suaminya. Ia tidak masalah jika harus tinggal di manapun selama suaminya mengajaknya dan tetap bersama. Tetapi ia tidak ingin meninggalkan keluarganya apalagi sejauh itu.
__ADS_1
Rara termenung sepanjang malam dalam dekapan pelukan suaminya. Ia bahkan tidak bisa tidur saat membayangkan hal- hal yang akan terjadi jika dirinya jauh dari kedua orang tuanya.