
Di depan gerbang Ken sudah memasukan mobilnya melewati gerbang utama disana.
Tuan dan nyonya utama melihat mobil siapa yang memasuki halaman dan keluar dari mobilnya. Dengan pakaian formalnya Ken keluar dari mobilnya dan berjalan ia melihat keberadaan tuan dan nyonya besar di halaman belakang.
Ken yang membawa paperbag menghampiri tuan dan nyonya besar. Ia membungkuk memberi salam dan menyampaikan maksud kedatanganya kepada tuan dan nyonya besar yang berada di hadapannya.
Tuan dan nyonya besar mengangguk mengerti. Setelah berbicara pada tuan dan nyonya besar. Ken bergegas meninggalkan mereka dan masuk ke rumah besar.
Ken berjalan menaiki tangga di sana sudah ada seorang gadis pelayan yang tampak bahagia melihat kkedatangan Ken menghampirinya. Tampak senyum sumringah dari raut wajah gadis itu.Ia merubah raut wajahnya dengan kesal saat melihat tuan Kennya di hampiri oleh orang yang tidak ia sukai.
Lola ia keponakan dan seorang gadis angkuh yang tidak ramah pada siapapun datang menghampiri Ken dan merangkul lengan Ken.
"Kakak Ken kamu berkunjung...Aku sangat bahagia apa yang kamu bawa itu apa untuku?" Tanya gadis itu.
Tingkah Lola semakin membuat gadis yang melihatnya yang tak lain seorang pelayan. Ia nampak geram melihat tingkah keponakan tuan rumahnya itu.
Lola hendak mengambil bawaan Ken tapi Ken melengoskan tangannya dan berbicara padanya.
"Ini untuk Nona muda," jawab Ken melanjutkan perjalanannya menuju kamar tuan mudanya.
"Lagi -lagi Nona muda huh wanita norak begitu apa bagusnya," batin lola.
Ken pergi meninggalkan lola ia mengetuk pintu kamar tuan mudanya.
Lama pintu belum terbuka Ken masih berdiri di depan pintu kamar tuan mudanya. Setelah beberapa lama pintu di hadapan Ken terbuka.
Rendi keluar dari pintu kamarnya.Ken mengangguk setelah tuannya membuka pintu kamarnya. Ia mengambil tas yang di bawa Ken.
"Kamu tunggu di bawah jangan dulu pergi," ucap Rendi meninggalkannya.
Rendi menutup kembali pintu kamarnya dan meninggalkan Ken yang masih di depan pintu.
Rendi berjalan memberikan bingkisannya pada istrinya.
Rara tersenyum bahagia akhirnya ada yang bisa ia pakai bisa-bisa suaminya itu terus menjahilinya sampai habis tubuh Rara di beri cap semua.
Rara tersenyum ternyata baju itu adalah setelan rok berwarna moca dan atasan blouse warna putih juga hijab berwarna moca .
"Ini bagus sekali aku suka," ucap Rara bahagia.
__ADS_1
"Kamu memang selalu suka apapun yang di berikan Ken," cetus Rendi.
Rara yang melihat suaminya cemberut menghampirinya.
"Sayang aku menyukai ini karena ini pemberian darimu kan Ken juga memakai uangmu berarti ini darimu kan," bujuk Rara meluluhkan hati Rendi.
Rendi tersenyum bahagia mendengarnya ia mengecup bibir istrinya.
"Hmm, kamu ini pasti saja menciumku," ucap Rara.
Rendi tersenyum melihat istrinya
Cup Rendi malah menambah kecupanya.
"Iiiiih, sudah lah aku tahu kamu takan berhenti begitu saja," ucap Rara.
Dan benar saja setiap Rara bicara apalagi protes Rendi pasti mencium bibir Rara.
Sampai Rara tidak berani berbicara lagi. Ia mengenakan pakaianya dan bersiap turun menemui orang tua mereka.
Saat Rara dan Rendi ke taman belakang di balik jendela kamarnya. Rara melihat ada Ken yang sedang berbincang dengan orang tua Rendi. Kini sepasang suami istri itu berjalan beriringan seperti pengantin baru.
Rara bagaikan puteri ia menggandeng tangan suaminya dengan tampilan yang sangat cantik manis.
Rendi yang sadar banyak mata yang melihat apalagi banyak para penjaga yang melihatnya.
"Jika ada yang melihat lebih lagi akan aku potong semua gajih siapapun itu," ucap Rendi dingin dan tegass.
Semua yang berada di sana mengangguk dan menunduk dengan sekali ucapan Rendi. Tidak ada lelucon di setiap ucapan tuannya
"Tuhkan kamu ini sebegitunya tadi aja menyuruh aku memakai dres pendek begitu sekarang kamu sendiri tidak mau aku di lihat orang lain," bisik Rara tersenyum .
"Iya hanya aku yang boleh melihat kamu Sayang," jawab Rendi mereka tersenyum dengan berbisik bisik.
Rendi memegang tangan yang melingkar di lengannya mempererat agar semua orang tahu bahwa yang di sampingnya hanyalah miliknya.
Tuan dan nyonya besar melihat adegan dimana Rendi yang berbisik pada istrinya.
Mereka Juga melihat Rara yang akhirnya mereka tersenyum. Ada perasaan kehangatan dari pandangan itu di hati ibu Ratih dan juga tuan Anggara.
__ADS_1
Mereka berdua bergandengan dengan senyum mengembang. Juga tersenyum kepada semua orang dan menghampiri tuan dan nyonya Anggara orang tua sekaligus mertua Rara.
"Selamat pagi maaah Pak?" Ucap Rara.
"Pagi Sayang ayo minum teh dan juga ini susu untukmu Sayang," ucap ibu Ratih.
"kini mamahpun memanggilmu Sayang, banyak sekali yang memanggilmu seperti itu," ucap Rendi.
Rara tersenyum mendengar ucapan suaminya yang lucu. Mereka duduk di hadapan kedua orang tua Rendi. Setelah mendapati secangkir kopi dari pelayannya. Rendi meminum kopi hitamnya. Begitupula Ken yang duduk di meja sebelah mendengar perkataan tuanya itu ia tersenyum tertahan.
Bosnya ini sangat konyol dalam setiap pembicaraanya.
"Memangnya kamu tidak mau aku di sayang semua orang?" Tanya Rara manja.
"Kamu tidak kekurangan kasih sayang dariku kenapa harus mengharapkan sayang dari orang lain," jawab Rendi datar.
"Sayang semakin banyak orang yang kita sayangi juga menyayangi kita akan semakin berwarna masa depan kita," ucap Rara memeluk tangan suaminya.
"Baiklah, tapi hanya menyayangi bukan ingin memiliki ya," tegas Rendi.
"Hahaha, aku kan hanya milikmu Sayang," tawa Rara ceria.
Melihat dan mendengar penuturan Rara semua orang tersenyum kagum padanya. Ia bahkan dengan bangganya memeluk suaminya.
Rendi beserta kedua orang tuanya juga Ken dan beberapa pelayan yang melihat tawa manis Rara.
Mereka tersenyum bahagia melihat kepolosan istri menantu dan nona mudanya yang manis.
"Aku harap kamu tersenyum untuk selamanya Sayang," batin Rendi tersenyum.
Saking gemasnya pada istrinya Rendi menarik istrinya dan membiarkannya duduk di pangkuannya tanpa menghiraukan orang-orang sekitarnya.
"Hei, ada apa kenapa aku duduk disini?" Tanya Rara melihat ke arah mertuanya juga yang lain akan tingkah suaminya Rara jadi merasa salah tingkah.
Rendi hanya diam tidak menghiraukan perkataan istrinya. Ia meminum kopinya dengan istriny di pangkuannya.
Rara mencoba berontak dan berdiri tapi Rendi tahan dengan tenaganya yang kuat.
Pemandangan yang romantis yang di lakukan Rendi malah membuat orang yang melihatnya tersenyum dengan hati damai melihat kebersamaan mereka.
__ADS_1
Rendi yang dengan acuhnya minum kopi dengan istrinya yang duduk di pangkuannya. Ia tetap fokus pada kopinya dan berbincang dengan Papanya.
Rara memajukan bibirnya mengembungkan pipinya juga merangkul pundak suaminya. Ia mengambil susu yang ibu mertuanya sediakan untuknya dan meminumnya perlahan.