Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Terbuka


__ADS_3

Di Taman halaman rumah Anggara.


Rendi menghampiri istrinya yang kini sedang duduk dan ia berdiri merangkul tangan Rendi.


Rara terlihat berseri lain dari tadi pagi. Rendi sempat berpikir bagaimana cara membuat istrinya agar tidak gundah kembali.


Karena sudah pulang ke rumah. Akhirnya Rendi tidak kembali lagi ke kantor. Ia memilih untuk menemani istri dan anak- anaknya untuk bermain di halaman rumahnya.


"Sayang memang kamu tidak perlu ke kantor lagi?" Tanya Rara.


"Hmm, biarkan Ken yang sok keren itu menyelesaikan semua pekerjaanku hari ini dia butuh pekerjaan itu," jawab Rendj.


Ada senyum menyeringai di hati Rendi saat mengingat ada banyak klien yang harus di temui hari ini beserta presentase juga. Tapi karena Ken yang sudah membuatnya untuk segera pulang karena ulahnya sendiri. Rendi lebih memilih untuk membuat Ken sibuk karena ulahnya sendiri.


Rendi berbincang dan bermain dengan anak-anaknya. Mereka bermain di atas rumput hijau yang dimana istrinya duduk di alas tikar melihat dan memandangi moment kebersamaan keluarganya suami dan anak-anaknya. Kini anak-anaknya pun sudah mulai besar.


Saat Rendi tersenyum dan tertawa melihat tingkah anak-anaknya. Ia melihat ke arah istrinya yang tersenyum memandanginya bersama putra-putrinya. Rendi tersenyum melihat wajah cantik istrinya yang sedang asik memakan buah-buahan sambil melihat Rendi dan anak-anaknya. Rendi berjalan menghampiri istrinya dan ikut duduk di samping istrinya.


Rendi mengecup pipi istrinya dan tersenyum.


"Sayang, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Rendi.


"Aku baik-baik saja Sayang, kenapa? Jawab Rara.


"Hmmm, apa kamu yakin? Aku tidak mau ada hal yang kamu sembunyikan dariku ini,aku ingin hatimu tenang seperti biasanya sayang tanpa ada hal yang membuatmu sedih," ucap Rendi.


"Aku tidak masalah Sayang, jika kamu mengajakku tinggal di Jerman bersamamu, tapi aku ingin tinggal bersama kedua orang tuaku beberapa hari saja untuk berbicara pada mereka aku tidak mau ada hal yanb membuatku semakin gundah jika tidak mengatakannya pada mereka sayang," ucap Rara.


"Hmm,aku akan selalu mendukungmu Sayang,"jawab Rendi.


"Kalau begitu kapan kita akan ke Bandung?" Tanya Rara.


"Maumu kapan aku akan siap mengantarmu sayang, bukankah orang tuamu juga orang tuaki, aku juga mau berlibur disana," ucap Rendi.


"Baiklah mari kita berangkat besok Sayang, lebih cepat lebih baik biar secepatnya kamu bisa menyelesaikan pekerjaanmu," ucap Rara.

__ADS_1


"Baiklah kita berangkat besok,"jawab Rendi.


Mereka kini saling mempererat pelukan dengan senyum di wajah mereka berdua melihat kedua anaknya bermain berlari kesana ke mari.


Ibu Ratih yang memperhatikan anak dan menantunya yang saling mencintai begitupun cucu-cucunya ia tersenyum bahagia melihat kebersamaan mereka.


Mengingat hal itu. Ia teringat akan suaminya yang berencana untuk pulang cepat hari ini. Ia menolek ke arah Pak Jun dan berbicara.


"Mana handponeku?" Tanya ibu Ratih.


Pak Jun merogoh saku pakaiannya dari depan dan memberikan handpone Nyonya besarnya.


Ibu Ratih melakukan panggilan telepon pada suaminya yang masih dalam perjalanan.


"Apa kamu secepatnya pulang?" Tanya ibu Ratih.


"Aku usahakan," jawab tuan Anggara.


"Hmmm, jangan terburu-buru kau hati-hatilah di saat pulang nanti, aku akan menyiapkan makan malam untukmu," ucap ibu Ratih.


Setelah mendengar jawaban dari suaminya,ia menutup telrponnya dan memberikan handponenya pada Pak Jun.


Nyonya besarnya yang tidak pernah terlihat ramah. Kini lebih banyak tersenyum walau terlihat tipis. Bagi Pak Jun itu adalah suatu anugrah baginya bisa melihat senyum nyonya besarnya walau hanya tipis terlihat.


Di perusahaan. Ken di sibukan dengan berkas yang masih belum selesai Rendi periksa. Untuk melepas ke penatannya Ken melakukan panggilan video kepada istrinya yang banyak pertanyaan tapi baginya banyaknya pertanyaan istrinya itu jauh lebih baik dari pekerjaannya yang menumpuk hari ini.


"Ken,apa kau sedang mengerjakan pekerjaan yang begitu banyak?" Tanya Dilla.


"Hmm," jawab Ken.


"Apa kau tahu Ken bayimu ini menendang-nendang aku terus loh kau cepat pulang aku ingin dia menendangmu saja jangan padaku," ucap Dilla.


"Baiklah ... aku akan segera pulang," jawab Ken tersenyum tanpa menoleh pada istrinya yang sedang berbolak balik mengguling-guling tubuhnya di atas ranjangnya melihat ke arah hanfpon yang mereka lakukan untuk melakuakn panggilan video.


"Ken apa kau suka aku?" Tanya Dilla tersenyum.

__ADS_1


"Hmm," jawab Ken . Dilla tersenyum sumringah.


"Apa kau rindu aku?" Tanya Dilla lagi.


"Hmmm," jawab Ken.


"Apa kau mencintaiku?"Tanya Dilla tersenyum menggoda.


"Hmm," jawab Ken.


"Aku ingin mendengarnya langsung Ken," rengek Dilla.


"Hmm," jawab Ken.


Setiap perkataan, omelaan istrinya baginya sebuah kesenangannya tersendiri bagi Ken. Dilla berbicara dan bercerita kesana kemari pada suaminya dalam panggilannya.


Saat Ken mengerjakan dokumennya dengan serius. Bahkan ia tidak menyadari ada sesuatu yang berbeda saat ini tapi ia tidak menyadarinya.


Hingga saat Ken merasa ada yang kurang dalam pekerjaannya ia baru menyadari bahwa istrinya sudah tidak terdengar suaranya kembali.


Saat Ken melihat handponenya. Ia tersenyum melihat istrinya kini sedang tertidur setelah berbicara tiada henti bertanya dan Ken menjawabnya singkat dan seperlunya. Dilla tertidur di atas ranjangnya dengan panggilan masih menyala. Ken tersenyum gemas melihat istrinya tertidur kelelahan.


"Haha, ternyata berbicara sepanjang dan sebanyak itu melemahkanmu ya sayang," ucap Ken.


Ken tersenyum menyentuh wajah istrinya di layar handponenya . Ia bahkan mengecup handponenya dengan kerinduan dan kebahagiaannya saat ini mengingat istrinya sedang hamil besar. Dengan segala tingkahnya Dilla bahkan tidak pernah merasa jenuh dalam hal kehamilannya. Ia lebih suka berdiam di dalam menuruti keinginan suaminya yang memintanya untuk berishirahat.


"Hmm, kau harus tetap di dalam rumah selama ke hamilan jika ingin aku melakukannya," ucap Ken.


"Baiklah, tapi aku ingin mendengarnya setiap waktu," ucap Dilla.


"Hmmm," jawab Ken.


Mengingat percakapannya bersama istrinya saat itu. Ken tersenyum saat jstrinya meminta hal konyol baginya. Dilla bahkan menuruti perintahnya untuk tetap di rumah asal ia bisa dan selalu mengatakan bahwa dia mencintai istrinya. Mengingat perkataan istrinya Ken selalu tersenyum.


"Dasar gadis bodoh. Aku tentu saja mencintaimu," gumam Ken.

__ADS_1


Ia tersenyum menggelengkan kepalanya. Untuk saat ini Ken bersemangat kembali menyelesaikan pekerjaannya dan berencana untuk pulang secepatnya. Ia bahkan merasa tidak sabar ingin segera pulang menemui istrinya dan mengatakan bahwa ia mencintainya untuk berkali-kali bahkan sebanyak yang istrinya mintapun Ken akan mengatakannya.


Semakin mengingat tingkah dan hal konyol yang di minta istrinya. Ken semakin tersenyum bahagia memiliki istri yang berterus terang dengan perasaan dan keinginannya pada suaminya. Dilla bahkan selalu menyatakan setiap keluh kesahnya pada dirinya jika ia memang sedang sedih ataupun bahagia yang membuat Ken semakin mudah menanggapinya.


__ADS_2