Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Doble Rencana


__ADS_3

Rara dan Dilla tampak bahagia ketika mendapati semua anak-anaknya berkumpul dan bermain bersama dengan bahagia. Rayn masih dengan wajah datar dan kesalnya. Tatapan tajam kepada Naura.


Hanya Ia seorang, pria yang dikelilingi saudara-saudaranya yang perempuan. Anak Dilla yang bernama Zein, Nesa dengan Nisa, Naura putri Mark, Amira dan Rayn anaknya Rendy.


Kehidupan yang masih panjang akan semakin menarik, ketika mereka semua sudah matang dengan kedewasaannya. Kedua orang tuanya dan juga sahabat-sahabat Rendi mereka kini menjadi keluarga besar Rendy Anggara.


Sementara Rara berada di halaman rumah.


Rendy dan Mark sedang berbincang hanya berdua saja dengan serius. Keseriusan mereka dengan wajah datarnya, Rendy masih dengan segelas kopinya sambil tumpang kaki. Ia mendengarkan kan segera ucapan Mark sahabatnya itu dengan wajah datarnya.


"Kau pikir dengan menutupinya, putrimu tidak akan pernah tahu sosok ibunya?" ucap Rendy datar menanggapi Mark yang masih tidak mau memberitahu identitas ibunya Naura.


"Aku tahu, tidak selamanya identitas ini tidak akan diketahui oleh Nauraku! Setidaknya untuk saat ini, dia belum mengetahuinya. Aku tidak ingin dia merasa sedih hanya karena sifat ibunya dahulu, " jelas Mark pelan.


Rendy mengangguk memahami apa yang di hawatirkan Mark. Jika putri semata wayangnya itu mengetahui tentang sifat asli ibunya Sisi. Apalagi mengingat kejeniusan Naura dan sifat ingin tahunya sudah diketahui oleh semua orang.


Mark untuk saat ini, hanya melakukan atau menutupi identitas ibunya untuk sementara waktu. Agar perkembangan Naura jauh lebih baik dan sesuai harapan bagi semuanya. Rendy lebih mengetahui sifat Mark yang selalu berdominan dengan pendiriannya. Apalagi menyangkut tentang orang-orang tercintanya. Jangankan putrinya Naura, apapun itu. Semua tentang Rendi, Markakan lebih mengutamakan sahabatnya Rendyapalagi ucapannya.


"Lalu, apa kau sudah matang dengan perjodohan ini?" tanya Rendi.


"Ya ..." jawab Mark singkat.


"Kau yakin! Dengan putrimu tidak akan membantah jika dirinya sudah besar nanti?" tanya Rendi kembali.


"Dia gadisku yang sangat teguh dan kuat! Aku akan membesarkannya dengan segala kukuatanku," tegas Mark.


"Sebaiknya kau pastikan itu!" Rendi menyesap kembali kopinya.

__ADS_1


"Hmmm," jawab Mark dengan datar.


Kesepakatan mereka sudah matang, ketika merencanakan pernikahan putra putrinya. Mereka bahkan merencanakan semua itu untuk acara hari ini, yang akan dilakukan nanti sore dengan acara ulang tahun Naura.


*****


Iyas berjalan dengan santai di mana Mark dan Rendy, yang sedang berada di ruang tamu. Ia berjalan bersama seorang wanita yang berpakaian formal menghampiri Rendy dan Mark berada. Iyas tampak sangat manis mengenakan kaos warna putih dengan celana hitam dan kulitnya yang putih bersih. Pria satu ini memang tampan dengan segala ke cantikan nya. Saat sampai di ruang tamu, ia menghampiri Rendi dan Mark diikuti oleh Alea sekretaris Mark yang baru datang.


Rendy dan Mark melihat sekilas kearah Iyas, yang sudah berdiri dihadapan mereka. Lalu duduk dengan santainya tanpa berbicara sepatah kata pun kepada mereka berdua. Iyas tampak masih marah akan rencana Mark dan Rendy menikahkan putri kesayangannya Naura.


Mark tampak datar dan biasa saja ketika menanggapi Iyas yang memang seperti biasanya selalu sesuka hati. Akan tetapi Mark mengalihkan pandangannya kearah sekretaris pribadinya Alea, yang masih berdiri tanpa menyapa. Mark mengerutkan dahinya dan mulai membenarkan posisi duduknya dengan tegak.


"Apa yang kau lakukan? " tanya Mark tanpa menatap kearah Alea.


Alea yang mendengar pertanyaan tuannya itu.


" Apa yang harus aku lakukan? Kenapa kutub utara ini berbicara tanpa melihatku apa dia berbicara padaku? " gumam Alea sedikit terdengar oleh Rendy yang berada tidak jauh darinya.


Rendy tersenyum tipis ketika mendengar gumaman Alea yang membicarakan sahabatnya Mark. Dia mengalihkan pandangannya kepada Alea, yang berada tidak jauh dari berdirinya. Rendi lama memandangi sekretaris barunya Mark ini. Apalagi gadis itu berbicara keburukan tentang Mark. Lalu Rendy mengalihkan pandangannya lagi ke arah Mark yang tampak datar berbicara kepada sekretaris barunya itu. Rendy mulai berpikir liar ketika memikirkan antara Mark dan sekretaris yaitu.


"Jika ada hal yang ingin kau bicarakan dengan sekretarismu itu! Sebaiknya kau pergi ke ruang kerjamu jangan mengganggu kesenangan ku!" tegas Rendy berbicara datar kepada Mark.


Mark beralih melihat ke arah Rendi yang tampak tegas dengan ucapannya. Ia memahami betul sifat sahabatnya itu jika ia sudah berbicara satu kali. Maka tidak akan pernah diulang kembali, apalagi memiliki toleransi bantahan dari lawan bicaranya. Mark melihat ke arah Alea, seorang gadis dengan pakaian formalnya seperti salah tingkah dalam menanggapi ucapannya.


Setelah Mark membuang nafasnya kasar dengan malasnya. Ia berdiri dan berpamitan kepada Rendy. Tentang dirinya yang akan berbicara kepada sekretarisnya sesuai apapun yang dikatakan ready. Mark berdiri dan berjalan melewati Alea tanpa meliriknya akan tetapi Mark berhenti dan berbalik, ke arah Alea yang masih saja berdiam diri tanpa mengikutinya.


"Apa yang sedang kau lakukan? Apa kau akan berdiri saja di sana!" tegas Mark menekankan bicaranya kepada Alea.

__ADS_1


Alea terkejut dengan ucapan Mark yang membuatnya semakin salah tingkah. Alea mengangguk dan berpamitan kepada Rendi dan Iyas. Ia mengikuti Mark dari arah belakang, mereka berjalan dan dengan datarnya Mark berjalan tanpa mengalihkan pandangannya melihat ke arah Alea yang semakin salah tingkah.


"Lelaki datar itu hanya akan mendengarkanmu, dia baru akan menurut!" ucap Iyas sambil memakan camilan di hadapan Rendy.


"Lalu, apa kau masih akan merajuk? Seperti seorang wanita!" timbal Rendy berbicara datar kepada Iyas.


"Kau memang selalu seperti itu, jika aku yang marah kau bahkan tidak mau mendengarkan protesku!" balas Iyas malas.


"Kau hanya perlu tetap berada di samping sahabatku itu! Aku aku tidak bisa selalu memantau pria dingin itu!" ucap Rendy.


Rendy menatap kosong, dengan sesekali ia menyesap kopinya. Rendi memikirkan tentang Mark, yang pasti membutuhkan seorang wanita yang dapat memberikannya kebahagiaan yang sempurna. Tanpa harus terbelenggu dengan kesalahan dan penyesalannya kepada mendiang istrinya.


Rendi bergelut memikirkan tentang Sekretaris barunya Mark. Yang nampak sangat cocok dengan sifat Mark yang sangat datar dan tanpa sebuah kepekaan. Rendi berpikir sifat Mark harus dilawan oleh seorang gadis yang tangguh dan konyol seperti Alea sesuai dugaan Rendy.


Rendy berpikir sangat panjang tanpa menghiraukan Iyas yang mengerutkan dahinya ketika, ia berbicara tanpa ditanggapi oleh Rendy. Iyas dengan malasnya mengunyah makanannya tanpa ada pembicaraan diantara mereka berdua.


Sementara Rendy masih bergelut dengan pikiran dan rencananya.


Lain dengan Mark yang berjalan menghampiri ruang kerjanya. Dengan dikit diikuti sekretaris barunya Alea. Pria itu memasuki ruang kerjanya setelah penjaganya membukakan pintu ruang kerjanya dan memasuki ruangan tersebut dengan Alea dibelakangnya.


Setelah duduk di tempat kursinya. Mark melihat ke arah Alea yang juga masih mengikutinya dari belakang..


Hingga gadis itu berada di hadapan Mark. Tanpa sebuah jarak Alea menabrak tubuh Mark yang kekar dan tinggi itu. Alea mungkin tingginya hanya sedada Mark. Alea terkejut dengan apa yang terjadi pada dirinya dan melihat tubuh tuannya itu. Ia berada di hadapan tuannya sangat dekat dan membuatnya menjadi salah tingkah. Ketika ia mendongakkan kepalanya melihat Mark yang sedang menatapnya dengan tajam. Alea tampak mengagumi wajah tampan Mark. Dengan hidung mancung, mata yang indah dan bibir yang sangat manis. Alea


memandangi wajah Mark dengan senyum tipis di bibirnya dan hati sangat menyukainya Mark, Mereka terdiam dan saling menatap satu sama lain dengan pikiran mereka masing- masing-masing.


Kenapa ada pria dingin yang sangat cantik di hadapanku? Aku bahkan belum bisa mengatur deru nafasku ini.

__ADS_1


Alea berbicara dalam hatinya, dengan memandangi Mark yang berada di hadapannya. Dengan hati dan senyum tipis. Ia menyukai pemandangan yang berada dihadapannya itu. Alea mengagumi Mark, lain dengan Mark yang hanya mengerutkan dahinya ketika melihat gadis itu yang tersenyum sendiri. Baginya seperti gadis gila.


__ADS_2