
Rara dan Rendy berniat untuk berkunjung ke rumah sakit, mereka akan melihat perkembangan ibu Rara dari komanya. Di dalam perjalanan, Rendy hanya pergi bersama istrinya, dengan sopir di balik kemudi dan Ken di kursi depan samping kemudi. Ken ikut pergi ke rumah sakit setelah berpamitan dengan anak dan istrinya. Rendy dan Rara tidak mengajak putra-putrinya untuk ikut pergi ke rumah sakit, mengingat usia mereka memang masih terbilang anak-anak dan juga ada Dilla bersama putrinya tinggal yang ditemani Nessa dan Adam tinggal di rumah.
Sesampainya di rumah sakit, Rara dan Rendy kini memasuki ruangan dimana ibu Rara berada. Saat Rara membuka pintu ruangan dimana ibunya berada. Ia dikejutkan dengan seseorang yang berdiri di depan jendela, mengenakan pakaian pasien dengan balutan perban di kepalanya. Rara perlahan berjalan mengedarkan pandangannya ke ranjang pasien, yang sudah rapih, tanpa ada pasien yang berbaring di atas ranjang tersebut, dimanaibunya tertidur di atas ranjang. Rara beralih melihat ke arah wanita yang berdiri menghadap keluar jendela membelakanginya tanpa menyadari kedatangan Rara.
Rara saat wanita tersebut berbalik kearah Rara dengan senyum tipisnya. Rara terkejut dan menghampiri ibunya yang kini sudah berdiri di hadapannya. Rara memeluknya dengan erat dan tangisan kebahagiaan memeluk ibunya yang kini juga menyambut pelukan putrinya. Rara memeluk ibunya dengan sangat erat dan bahagia ketika mendapati Ibunya sudah sadarkan diri apalagi dengan kondisi yang baik-baik saja. Namun ada satu hal yang masih belum Rara sadari, selama mereka saling memeluk melepas kerinduan dalam pelukan.
Ternyata ibu Rara sama sekali tidak mengucapkan satu kata pun, saat memeluk Rara Ia hanya menangis meneteskan air mata ketika memeluk Putri satu-satunya itu. Ketika Rara menyadarinya, lain dari biasanya. Ibunya selalu berbicara banyak padanya, bahkan mengomelinya jika ibunya merindukan putrinya itu. Tapi kali ini ada yang tidak biasa dari ibunya. Rara mendongakkan kepalanya masih dalam pelukan ibunya itu.
"Ibu, apa Ibu baik-baik saja?" tanya Rara menatap wajah ibunya.
Ibu Rara tersenyum dan mengangguk menjawab pertanyaan Putri kesayangannya. Rendy yang berdiri tidak jauh dari Rara dan ibunya. Dia menghampiri istrinya dengan perlahan. Rara melepas pelukanya pada ibunya dan menghampiri suaminya. Dengan pertanyaan yang ada di benaknya.
"Sayang, ada apa dengan Ibu?" tanya Rara.
Rendi melihat ke arah Ibu Rara yang kembali duduk di atas ranjang pasien dengan perlahan dan membiarkan Rendi dan Rara berbicara secara nyaman.
"Sayang, sebaiknya kita menemui Dokter dulu ya!" seru Rendi.
Rara mengangguk dan mengikuti suaminya yang menuntunnya untuk menemui Dokter dan menanyakan tentang keadaan ibunya saat ini. Ada ayah Rara yang menunggu di luar ruangan tersebut dan berdiri menghampiri Rendi dan Rara dengan wajah cemasnya.
__ADS_1
"Bagaimana Sayang? Apa ibumu baik-baik saja?" tanya Ayah Rara tampak khawatir.
"Ibu baik-baik saja Yah, tapi ... sepertinya ada hal yang aneh pada ibu!" jawab Rara pelan.
"Yah, ayah sudah tau. Sebaiknya kamu tanya kejelasan pada Dokter! Biar ayah jaga ibumu," ucap Ayah Rara memasuki ruangan dimana ibu Rara berada saat ini.
Rendi dan Rara kini berada di ruangan Dokter dan duduk mendengarkan penjelasan dari Dokter tersebut.
"Ada saraf di otak ibu Anda, yang membuat Nyonya Ani menjadi tidak bisa berbicara! Sepertinya ada hal yang tidak mau ibu Ani sampaikan juga hingga membuat alam bawah sadarnya memilih diam!" jelas Dokter secara detail kepada Rendi dan Rara.
"Baiklah Dok, terimakasih atas selama ini merawat Ibu mertua saya dengan baik! Setidaknya untuk saat ini Ibu sudah sadarkan diri," ucap Rendi.
Astaga ... Tuan Rendi berterimakasih pada Saya, yang bahkan bermimpi berhadapanpun tidak pernah! Dia seorang pengusaha sukses di Asia ini, aku beruntung bisa melihatmya dengan wibawa dan ketampanannya yang luar biasa. Batin Dokter perempuan tersenyum di dalam hatinya.
"Tidak apa, pelan-pelan! Nanti juga ibu akan sembuh! Yang penting, Ibu sudah sadarkan diri saat ini. Rara akan selalu ada disamping ibu. Jadi, Ibu tidak perlu khawatir untuk saat ini dan kedepannya, Rara akan tinggal di di Indonesia," jelas Rara mencium tangan ibunya.
Ibu Rara yang kini tersenyum, ia juga masih melihat putrinha dan mengusap pucuk kepala putrinya dengan lembut. Kasih sayang dan juga kerinduannya selama ini kepada Putri satu-satunya itu. Setelah mengingat keadaan ibunya. Rara dan Rendy mengingat penjelasan Dokter tadi, tentang ibunya yang sudah stabil. Bahkan sudah bisa berjalan dengan normal, hanya Ibu Rara menurut keterangan Dokter ibu Rara ada hal yang tidak ingin di ucapakan hingga membuat ibu Rraa tidak ingin berbicara.
Atas ijin dari Dokter, Rendy dan Rara beserta keluarga kini membawa Ibu Rara pulang. Mereka kembali ke rumah, setelah berdiskusi dengan seluruh keluarga untuk sementara Ibu Rara tinggal di Jakarta. Untuk mencegah daya ingat Ibu Rara tentang kejadian atau kecelakaan selama di Bandung. Untuk saat ini keluarga Rara dan Rendy sedang dalam zona damai. Mengingat kedua anak Rendi dan Rara sudah berusia sekitar 5 tahun.
__ADS_1
Sekarang Rendy dan Rara fokus menggeluti usaha mereka, dengan Rendy di perusahaannya yang semula, yang kini sudah mulai berkembang pesat di seluruh penjuru Asia. Juga Cafe milik Rara yang sempat ditinggalkan olehnya, kini berkembang pesat. Bahkan jadi pusat tujuan bagi sepasang kekasih, yang berniat untuk makan malam. Atau hanya sekedar anak tongkrongan.
Suasana di Cafe tersebut, kini sudah mulai ramai kembali. Karena Rara kini mulai beraktivitas untuk mengurus cafenya juga dengan dukungan suaminya Rendy. Di sore hari, Rara kembali ke rumah dan berkumpul dengan keluarganya termasuk kedua mertuanya, juga kedua orang tuanya kini tinggal di rumah Rendy Anggara.
Kediaman tuan Anggara kini ramai penghuninya. Seperti sudah ada Nessa dan Adam, begitupun Dilla dan Ken kini tinggal di rumah besar Anggara.
Malam ini, Rendi sedang duduk di balkon kamarnya dengan secangkir kopi di mejanya. Ia menatap langit malam, dengan istrinya bersandar di bahunya, menutup kedua matanya menikmati suasana malam bersama suaminya di atas balkon rumahnya. Saat Rendi menyimpan cangkir kopinya dia menatap wajah istrinya yang polos, yang kini sudah tertidur pulas, damai dengan kecantikannya. Saat Rendy melihat wajah istrinya, ia mengusap rambut yang menutupi wajah cantik istrinya itu.
Aku akan pastikan tidak akan ada lagi hal yang membuatmu sedih seperti yang sudah terjadi padamu. Aku tidak akan pernah meninggalkan wanita semanis, secantik dan sebaik hati dirimu, hanya untuk sebuah konspirasi Aku sangat mencintaimu istriku.
Rendy bergumam dalam hati meyakinkan dirinya untuk tetap memberi keamanan kepada keluarganya, terutama istrinya yang teramat ia cinta itu. Untuk kedepannya Rendi tidak akan berbuat sesuka hatinya dan sudah mempercayakan kembali segala sesuatu hal bersama teman-temannya. Antara Ken, Marx Iyas dan juga Adam.
Mereka yang saat ini mengikuti nya, bahkan sumpah setianya bersama istrinya saat ini tinggal dan mengikuti Rendy hingga maut memisahkan mereka. Rendi tersenyum mengingat orang-orang di sekitarnya yang setia pada dirinya dan juga membawa kehangatan pada keluarga besarnya. Dari hanya rumah yang kosong kini menjadi kumpulan para sahabatnya bahkan sudah menjadi keluarga utama Rendi Anggara.
NTR: Hai Kakak? Hehe, Ikis disini.
Maaf ya aku baru up, ma'lum udah mulai aktivitas nih Kak. Aku lagi buat season dua buat nanggapi request Kakak-kakak juga nih. jadi maaf ya kalo agak telat up. Sedang semedi buat kelanjutannya kan biar makin seru dan panas juga. Hehe.
Komen Likenya tekan ya Kak.
__ADS_1
Eh Vote juga donk Kak! Biar aku up makin semangat. Hehe ... Makasih Kak.
Aku lanjutkan dengan keseruan anak Rendi Rara. Juga gabungan mereka makin seru pastinya. Selamat membaca Kakaku zeyenk. Sehat selalu yah.