Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Semuanya


__ADS_3

NTR:Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen, favoritkan dan vote yach... Selamat membaca kak.


Naura tersenyum bahagia di atas ranjang tidurnya, ia mencoba untuk tertidur. Namun sama sekali tidak bisa tertidur, ia malah berguling-guling dengan hati bahagianya mengingat Rayn yang seharian ini bersikap lembut padanya dan tidak mengurangi kelembutan dan tatapannya yang penuh cinta padanya. Ia terdiam menatap langit-langit kamarnya.


"Kenapa pria dingin manja itu jadi seperti itu ya? Aku kan jadi menyukainya, hihi," gumama Naura terkekeh.


Saat Naura masih berguling dengan perasaan bahagianya. Lain dengan Rayn menatap lekat langit malam di luar balkonnya. Ia terdiam dalam senyum tipisnya.


"Entahlah, apa aku benar atau tidak. Tapi aku merasa harus sesegera mungkin menikahimu!" ucap Rayn menatap langit malam.


Di tengah malam angin yang berhembuspun tak membuat Rayn merasakan dingin. Ia justru semakin menikmati moment malam ini yang membuatnya semakin hangat mengingat bibir gadis yang selama ini selalu ada dalam pikirannya setiap waktu dan setiap langkahnya.


Rayn duduk di kursi balkon kamarnya dan menatap ke arah langit malam yang masih srtia menemaninya. Ia tak mengerti akan apa yang sedang ia lakukan. Namun Rayn selalu yakin akan apapun yang ia lakukan adalah sebuah kebenaran yang akan membawanya ke tempat apa yang selama ini ia impikan. Hidup bersama gadis jutek yang pertama kali bertemu dengannya. Gadis itu dengan beraninya menginjak kaki Rayn. Kini membuatnya tersenyum tiap kali mengingatnya. Aplagi selama ini banyak gadis yang mengejarnya. Namun sampai saat ini Hanya Naura yang tidak tergila-gila padanya.


"Atau jangan-jangan gadis itu tidak normal?" gumam Rayn tersenyum.

__ADS_1


Ia kini berjalan memasuki kamarnya dan menutup pintu kamar di balkonnya. Ia menutup kefua matanya dan tertidur bersamaan dengan Naura yang tertidur di malam dan waktu yang sama dengan kekasihnya. Sepasang kekasih yang sudah di jodohkan sedari kecil itu kini sama-sama tertidur.


****


Di meja makan sudah ada Amira yang sedang menatap meja makan dan suda tersedia sarapan untuk mereka bertiga di rumah itu. Naura yang turun dari tangga ia berlari menghampiri Amira dan memeluk gadis itu yang sedang memegang piring di tangannya. Naura tersenyum bahagia memeluk Amira dengan senangnya.


"Naura! Apa kau gila? Aku bukan kakaku yang merayumu dengan sebuah pernikahan!" ucap Amira.


Naura terkejut dan melepas pelukannya, ia menatap Amira dan terdiam. Membiarkan Amira pergi ke meja makan dan menyiapkan makanannya. Tanpa menghiraukan Naura yang terdiam.


Teriakan Naura di abaikan Amira dan pergi ke wastafel untuk mencuci tangannya. Ia tersenyum dalam hatinya menertawakan sahabatnya itu yang menjadi salah tingkah karenanya.


"Amira! Kamu sebenarnya tidak tidurkan semalam?" tanya Naura.


Amira tak menjawab pertanyaan Naura dan memakan sarapannya dengan sesekali ia melihat ke arah Naura yang cemberut menatapnya dengan kesal.

__ADS_1


"Kamu jahad Amira! Masa kamu tidak menghiraukan aku semalam dan malah tertidur, aku ini sedang ingin bicara padamu dan kamu tahu tidak ...."


Ucapan Naura terputus saat sebuah makanan Amira masukan ke mulut Naura yang sedang berbicara panjang lebar padanya. Amira tersenyum menyuapkan makanan kedalam mulut sahabatnya itu yang kini terdiam dan membulatkan kedua matanya menatap Amira. Namun ia mengunyah roti bakar yang di buatkan oleh Amira dan dengan kesal ia melihat ke arah Amira dengan wajah cemberut da merajuk.


"Aku juga tahu kau di lamar tadi malam!" ucap Amira memakan sarapannya dengan wajah datarnya.


Naura tertegun, ia tidak mempercayainya jika Amira bisa tahan dengan apa yang terjadi antara dirinya dan kakaknya semalam. Namun Naura lebih terkejut saat mengingat bahwa semalam juga ada ciuman yang cukup lama. Ia tertegun dan melihat ke arah Amira yang kini terlihat biasa saja.


"Apa kamu ...."


Naura tidak sempat berbicara lagi, sebuah makanan kini berada tepat di dalam mulutnya lagi. Lagi-lagi Amura memasukan makanan di saat Naura hendak berbicara lagi.


"Makan yang benar!" ucap Amira.


Naura cemberut dan memilih berdiam diri mengunyah makanannya dan sesekali ia melirik ke arah Amira yang masih dengan aktivitasnya memakan makanannya dengan khusu tanpa sebuah protes atau pembahasan apa yang di lakukan dirinya dengan kakaknya semalam. Meski Naura mencoba untuk berbicara namun Amira selalu membuatnya terdiam karena makanan yang ia berikan padanya srtiap kali ia mau berbicara dan bertanya padanya.

__ADS_1


__ADS_2