
Amira terdiam sembari senyum tipis, melihat ayah dan ibunya selalu memperhatikannya.
"Papah akan tunggu ceritamu selanjutnya sayang!" tegas Rendy kini ia sangat penasaran dengan apa yang akan diceritakan oleh putrinya itu.
"Tidak ada lagi, Mira baik-baik saja. Lagipula Mira langsung bekerja disana Pah," bala Amira.
"Hmmn," Rendi tampak berpikir.
"Apa mereka yang di maksud Ken ya? Tapi dia terlalu berbahaya jika harus berurusan dengan anak muda itu," batin Rendi.
Rendy terdiam ketika mengingat pria yang bernama Leo yang kini menjadi atasannya amyra. Ken sudah menyelidiki tempat kerja putrinya itu. Namun ia masih belum mengetahui tentang identitas pengusaha terbesar di Jerman yaitu yang bernama Leo Ditya. Seorang pengusaha terbesar di Jerman yang terkenal dengan keangkuhannya begitupun dengan anne-marie kerja kerasnya yang melebihi orang biasa.
"Tapi Amira herannya tuh tiba-tiba saja, Amira bisa bekerja saja di sana, tapi itu lebih bagus sih memang Amira maunya seperti itu tidak perlu repot-repot interview lama-lama," ucap Amira masih berbicara kepada keluarganya yang kini mendengarkannya.
Setelah bercerita sembari bercanda ria bersama dengan Raisa dan juga kedua orang tuanya. Saat mereka tengah berbincang dengan hangat sembari bercanda begitupun dengan Rara dan Rendy kini terdengar bel di pintu utama mereka. Saat mengetahui dua orang yang mereka harapkan berjalan memasuki rumah dengan senyum ramah dan dan Rara berdiri menyambut kedatangan rayen dan Naura.
"Alhamdulillah akhirnya Putra Mama ini pulang! Bagaimana Sayang kamu sudah makan? Kamu mandi dulu gih habis itu kamu istirahat!" ucap Rara menyambut kedatangan Rayn.
"Baik Mamaku tercinta! Bagaimana liburannya menyenangkan kan?" balas Rayn tersenyum penuh kasih sayang kepada ibunya itu.
"Kakak itu tidak merindukan aku?" sela Raisa kini berada di tengah-tengah antara Rara dan Rayn.
Rayn menggendong Raisa hingga kini Gadis itu ada di pangkuan Rayan.
"Tntu saja Kakak merindukan Nona muda ini! Apalagi Kakak sangat merindukan suasana di mana ada seorang gadis yang teriak-teriak minta di bantu tugas sekolahnya," balas Rayn tersenyum lalu mencubit hidung Raisa.
"Iya iya, Kakak itu memang sangat merindukan aku kan? Ya walau Rindunya itu sangat aneh masa rindu sama teriakan Raisa sih?" Raisa merangkul pundaknya lalu mencium pipi Rayn.
Saat melihat adegan di mana keluarganya begitu sangat bahagia ketika menyambut Rayn dan juga Naura, begitupun kepulangan Rendy dan Rara membuat hangat suasana di rumah Anggara menjadi ramai.
__ADS_1
Setelah membersihkan tubuhnya Rayn kini duduk di ruang tamu bersama keluarganya, begitupun dengan Naura kini duduk di samping Amira yang tengah memakan camilan buah-buahan yang disediakan oleh ibunya.
"Ke ruangan Papah dulu!" ajak Rendi membuyarkan candaan mereka.
Rendi tampak serius ketika berjalan meninggalkan keluarganya menuju ruangan kerjanya.
"Ada apa dengan papamu itu?" tanya Rara sembari memakan cemilan melihat kearah suaminya yang kini memasuki ruang kerjanya.
"Nanti Rayn ceritakan jika sudah berbicara dengan papa," jawab Ryan berjalan meninggalkan ibu dan adik begitupun kekasihnya mengikuti ayahnya ke ruang kerjanya.
Rayn dan Rendy kini berada di ruangan yang sama. Rayn berdiri tepat di hadapan ayahnya dimana kini menatap ke arah Rayn.
"Bagaimana dengan masalah yang kamu hadapi saat di perusahaan tadi?" tanya Rendi berbicara dengan sangat tegas.
"Rayn bisa melewatinya Pa," jawab Rayn.
"Kalaupun kamu tidak bisa melewatinya. Hal itu pun tetap akan terselesaikan, namun aku hanya menginginkan kamu yang menyelesaikannya. Bagaimana cara kamu menyelesaikan itu?" tanya Rendy masih dengan pandangan dinginnya kepada putranya itu.
"Sebenarnya ada hal yang lebih mudah untuk kamu jalani untuk mengambil melawanya. Tapi karena kamu sudah menemukan cara lain untuk mengujinya kembali, hanya itu bagus," jawab Rendi.
Rendi kini berdiri dan menghampiri sofa yang ada di ruangan itu selalu mencoba untuk mengisyaratkan putranya itu agar duduk di kursi yang sama bersama dengan dirinya. Rayn menghampiri ayahnya namun ia duduk tepat di hadapan ayahnya itu.
"Ken akan membantu untuk persiapan pernikahanmu sebaiknya kau tahan dulu diri kamu itu!" ucap Rendy.
"Tahan?" Rayn melihat ayahnya.
"Hmmm, bukankah kau tidur semalaman dengannya?" Rendi bicara tanpa ekspresi.
Rendi membuang nafas kasar, ia sudah menduga jika ayahnya memang sudah pasti mengetahuinya. Namun dia tidak mau semakin panjang jika berurusan dengan ayahnya itu.
__ADS_1
"Baik Pa, apa masih ada yang perlu dibicarakan lagi?" tanya Rayn dengan wajah acuhnya.
"Hahaha, kau memang sama persis seperti ibumu sangat keras kepala bahkan membuatku tidak mengerti jalan pikiran kalian berdua," tawa Rendi sangat mencintai istrinya begitupun dirinya sangat bangga mempunyai Putra seperti Rayn yang kecerdasannya dalam menanggapi seseorang itu terbilang sangat efisien.
Rayn terdiam ketika melihat ayahnya tertawa dengan sangat lepas kepada dirinya. Namun itu yang sangat dibanggakan oleh Rayn kepada ayahnya tentang Rendi yang terkenal dengan kedinginan dan ketegasannya entah itu kepada bawahannya ataupun kepada anak-anaknya.
Setelah berbicara dengan ayahnya Rayn kini keluar dari ruang kerja ayahnya dan berjalan menghampiri ruang tamu yang kini hanya ada ibunya yang tengah duduk sembari memakan buah-buahan. Rayn. tersenyum lalu ia duduk tepat di samping ibunya.
"Kenapa Sayang?" tanya Rara tersenyum dan ia memberikan buah-buahan kepada putranya itu.
"Bisakah Rayn menikah secepatnya?" tanya Rayn.
Rayn sedikit ragu, namun dia tidak ingin hilang kendali seperti apa yang di lakukannya di kantor tadi.
"Sayang, kamu itu mau nikah besok pun itu jauh lebih baik. Memangnya kenapa?" balas Rara tersenyum ke arah putranya.
"Kalau begitu bisakah besok Rayn menikah?" tanya Rayn lagi.
"Tentu saja! Kamu itu pewaris keluarga Anggara, kamu tinggal perintahkan saja semua anak buahmu untuk bekerja dan mempersiapkannya untuk besok. Jadi pas Naura bangun akan ada sebuah pernikahan dia bisa membuatnya bahagia!" balas Rara tersenyum ramah kepada putranya itu udah deh Rayn terdiam dan mengangguk.
"Sudah kubilang kamu minta Ken untuk melakukannya. Jangan ragukan sekertaris ku itu!" sela Redy duduk di samping Rara dan merangkul istrinya itu.
Ia tampak tidak senang ketika melihat Rayn duduk begitu rapat dengan ibunya dengan istrinya
"Kau bisa sesuka hati dengan istrimu dan jangan dekat-dekat dengan istriku!" seru Rendy kini membuat Rara berada tepat di sampingnya.
"Kamu ini dengarkan dulu Putra kamu! Dia lagi serius kamu malah seperti ini terus!" Rara memukul pundak suaminya dengan pelan.
Rendi tersenyum ketika melihat istrinya kini tampak serius dalam membicarakan tentang pernikahan putranya.
__ADS_1
"Kamu hanya perlu mempersiapkan diri kamu saja biar nanti Paman kamu dan juga Ayah kamu ini yang menyiapkannya!" seru Rara tampak bangga kepada putranya itu.