
Iyas tertawa di hadapan seorang gadis di dalam Cafe tersebut. Bahkan ia menatap dengan lekat kepada gadis yang menundukan kepalanya tanpa menatap wajah Iyas. Iyas mengerutkan dahinya ketika melihat gadis tersebut malah tidak memandangnya sama sekali. Iyas heran ketika seorang gadis malah menundukkan kepalanya seperti enggan untuk menatapnya. Baginya adalah hal aneh Jika seorang wanita enggan untuk melihat wajahnya yang tampan dan rupawan. Iyas berfikir dan terdengar bentakan dari seorang pria yang menghampiri mereka.
"Lina! Kamu serius kerja gak sih? Baru sehari kerja aja udah ngelamun terus, gimana besok, lusa dan seterusnya? Mending kamu jadi patung selamat datang noh di pintu masuk," teriak seorang pelayan lainnya.
Lina terdiam, ketika ia dimarahi olehnya, ia semakin geram ketika Lina tidak menanggapi ucapannya malah semakin terdiam. Dari arah belakang datang seorang pria berjas menghampiri mereka tersenyum dan memberi hormat pada Iyas. Pemilik kafe tersebut mengerutkan dahinya merasa heran akan pegawainya yang yang tidak protes. Apalagi mengeluh karena sudah di permalukan di depan pelanggan. Bahkan Lina tidak masih dengan raut wajah yang datar Iya tetap terdiam. Ketika Bosnya itu masih dengan kesal padanya.
Iyas tersenyum dan juga mengerutkan dahinya ketika melihat gadis yang ada di hadapannya itu begitu tegar atau lebih tepatnya dia seperti tidak peduli akan ucapan atasannya. Setelah dikira dirinya tidak ditanggapi Lina. Pria yang dengan perawakan tinggi itu meminta maaf kepada Iyas dan menyuruh pelayannya yang lain untuk membawakan pesanannya. Lalu melihat ke arah Lina.
"Lina kamu segera ke ruanganku!" pemilik Cafe.
__ADS_1
"Maaf Tuan. Silakan anda nikmati pesanan Anda," tambah pemilik kafe ramah dan mengisyaratkan kepada Lina untuk mengikutinya.
Setelah didapati pemilik kafe dan juga gadis itu pergi. Iyas kembali mengedarkan pandangannya keluar kafe. Baginya sangat menenangkan cafe yang dikelola oleh istri sahabatnya itu. Iyas menikmati coffee dan makanan yang sudah disediakan oleh pelayan untuknya. Namun Iyas teringat akan gadis tadi, yang bahkan sama sekali tidak menanggapi ucapan Iyas. Bagi Iyas itu adalah hal yang tidak mungkin, jika para gadis tidak menanggapinya apalagi tidak terpesona pada ketampanannya.
Iyas kembali menikmati kopinya dan juga pemandangan di luar cafe yang terlihat indah dan sejuk. Cukup lama Iyas berada di cafe tersebut. Ia menikmati waktunya yang singkat sebelum ia terbang kembali ke Singapura.
"Hadeh Lina ... kamu tuh becus kerja gak sih?" pria tampan yang perawakan tinggi dengan bulu tangan yang merata, menunjukkan kejantanannya yang sexsi. Lina hanya terdiam menundukkan kepalanya menanggapi ucapan Bosnya.
"Kenapa kamu susah sekali di atur? Turun dari mana sifat keras kepala dan alot itu? Perasaan, ayah dan ibumu tidak seperti ini. Sifat mu itu sudah seperti daging yang kurang lama di rebus saja. Alot dan bikin sakit gigi," tukasnya.
__ADS_1
"Maaf Bos," Lina menundukan kepalanya.
"Hmm, lain kali jika kamu tidak sungguh-sungguh kerja akan aku nikahkan kamu," ucap Pemilik kafe yang tak lain adalah pamannya yang masih muda dan tampan.
Lina hanya mendelikan kedua matanya dengan malas. Baginya ucapan pamannya yang satu ini memang selalu yang paling ampun membuat Lina takut, mengingat Lina sangat tidak mau akan sebuah pernikahan di usia mudanya ini. Walau memang kenyataannya pamannya yang terbilang muda itu memang idaman para wanita. Dia tampak sangat tampan dan idealis para gadis.
Namun overnya itu hanya pada Lina keponakannya. Maka dari itu Lina dan pamannya sudah tahu sifat mereka satu sama lain. Namun karena pekerjaan ini Lina yang minta, Paman Lina itu sangat menyayangi Lina dengan caranya sendiri. Maka dari itu Lina tampak biasa saja ketika pamannya itu selalu memarahinya. Tapi tidak ada yang tahu jika Lina adalah keponakannya dan itu permintaan Lina sebelum bekerja di kafe milih atasannya pamannya.
Setelah mendengarkan ceramah dari atasannya. Lina kembali ke tempat kerjanya dan melihat kearah teman kerjanya lagi. Sorotan mata tidak suka dari mereka nampak jelas ketika Lina menghampiri mereka bermaksud untuk bergabung. Ia selalu bersikap seperti tidak terjadi apa-apa pada dirinya dan kembali bekerja membereskan meja-meja yang sudah di tinggal oleh pengunjung Kafe.
__ADS_1