
Hari ini para wartawan dan media seluruh dunia berada di kedisman Mark Robert meliput acara pernikahan di adakan di rumah Mark Robert untuk pertama kalinya.
Semua kalangan berdatangan untuk menghadiri undangan dari pengusaha terbesar di Singapore Mark Robert. Mereka berdatangan menghadiri acara yang di selenggarakan tuan Mark untuk pertama kalinya. Mengingat Mark tidak pernah ingin di liput media selama ini. Tapi untuk kali ini ia mengundang langsung para wartawan juga para koleganya untuk menghadiri acara pernikahan di rumah besarnya.
Di sebuah kamar terdapat Seorang gadis mengenakan gaun pengantin dengan warna putih senada dengan sanggul di kepalanya. Ia tampak cantik dan anggun. Balutan gaun warna putih tampak mencolok di tubuhnya yang tinggi bak model. Ia menundukan kepalanya di depan cermin meja rias. Tampak tersenyum bahagia.
Rara menghampiri Nesa yang masih terdiam di depan meja riasnya. Ia menghampirinya dan menyentuh dagu Nesa dengan senyum di wajahnya.
"Kenapa kamu tekukan kepalamu ini? Kamu tampak cantik dalam balutan gaun pengantin seperti ini, Adam pria beruntung memilikimu," ucap Rara tersenyum pada Nesa yang kini juga ikut tersenyum padanya.
"Maaf Nyonya, karena saya merepotkan Nyonya seperti ini, jika bukan karena tuan Mark saya tidak ingin seperti ini," ucap Nesa sendu.
"Pengantin itu tidak baik jika harus bersedih seperti ini kamu sudah cantik begini, ayo turun, sebentar lagi acara akan di mulai," ucap Rara menenangkan Nesa yang masih terdiam dengan ekspresi tidak enaknya pada Nyonyanya yang begitu antusias dalam keadaan hatinya yang masih sedih. Rara bahkan mempersiapkan segalanya untuk pernikahan Nesa dan Adam yang terbilang mewah di rumah Mark yang bahkan pemilik rumahnyapun belum pernah mengadakan pernikahan.
Setelah Nesa berdiri dan di ajak para pelayan pengiring pengantin. Rara terdiam ketika Mark memasuki kamar tersebut dan Nesa pergi keluar begitu saja. Mark menghampiri Rara yang terdiam saay melihat Mark berjalan menghampirinya. Rara sempat salah tingkah karena mereka berada di ruangan yang sama.
"Bersiaplah perias akan meriasmu," ucap Mark. Ia berbalik dan meninggalkan Rara yang masih terdiam mendengar ucapan Mark yang sama sekali tidak menunggu jawaban apalagi pertanyaannya.
Setelah Mark keluar, para perias internasional berdatangan memasuki ruangan dimana Rara masih berdiri.
Rara terkejut dengan adanya mereka yang malah menariknya dan membuatnya terduduk. Tanpa berbicara mereka merias Rara yang masih belum mengerti apa yang sedang mereka lakukan.
Mereka merias dan mengganti pakaian Rara dengan gaun pengantin warna putih juga hijab senada.
Saat Rara melihat ke arah cermin dan melihat dirinya yang kini seperti seorang putri yang mengenakan gaun pengantin muslim. Ia melihat ke arah perias yang bahkan tidak berkata apapun. Mereka pergi begitu saja meninggalkan Rara yang masih terdiam.
"Apa-apaan ini? Kenapa aku malah di dandani seperti ini? Aku harus pergi," gerutu Rara.
"Kau mau kemana? Sudah seperti ini baru mau pergi, ayo kita ke altar," ucap Mark membuyarkan lamunan Rara yang malah terkejut mendengarnya.
"Apa maksudmu? Kenapa kamu bertindak sendiri? Aku tidak mau dan juga aku tidak bilang bersedia menikah denganmu, aku tidak mau jadi istri keduamu," teriak Rara protes dan juga geram dengan Mark yang masih dengan datar dan acuhnya pada Rara yang kini tampak kesal padanya.
"Apa kau masih tidak ingin suamimu kembali?" tanya Mark menekan Rara yang kini terkejut akan ucapan Mark yang membuatnya heran.
"Apa maksudmu?" tanya Rara masih dengan pandangan tidak percayanya.
"Berdiri di depan altar dan berpura-pura menikah denganku, kau akan aman dan Rendi akan secepatnya kembali jika dia tahu kau menikah lagi," tegas Mark.
Rara membulatkan kedua matanya mendengar penuturan Mark yang terbilang sangat aneh baginya. Ia bahkan masih terdiam ketika tangan Mark kini sudah menariknya. Rara berjalan dengan Mark di sampingnya. Rara juga merangkul lengan Mark seperti ada sihir yang membuatnya menurut akan setiap perkataan Mark dan mengikuti permainannya.
__ADS_1
Mark tersenyum tipis ketika mendapati Rara yang menurut padanya tanpa protes seperti sebelumnya setelah ia bilang bahwa Rendi yang cemburunya di atas srgalanya itu akan segera muncul jika mengetahui isyri tercintanya kini menikah dengan pria lain apalagi dengan Mark sahabatnya sendiri.
Mark sempat berpikir, akan jauh lebih berbahaya Rendi yang cemburu di bandingkan Dirga yang kinibmenjadi penguasa dunia mafia. Tapi demi munculnya Rendi, Mark mengambil resiko yang terbilang berbahaya dan juga konyol baginya.
Berpura-pura menikah padahal yang sesungguhnya menikah adalah Adam dan Nesa yang kini sedang mengikat sumpah di depan altar. Tapi lain dengan Mark yang kini sedang di depan altar satunya lagi dan berpoto weding juga banyaknya para wartawan media yang sudah meliput pernikahan Nesa dan Adam dengan di edit wakah Mark dan Rara. Juga Rara dan Mark yang kini berdiri di meja konferensi fers. Mengumumkan bahwa wanita di sampingnya ini adalah istrinya.
Semua yang menghadiri acara pernikahan di rumah Mark bertepuk tangan dan bersorak ria ikut bahagia atas menikahnya pengusaha terbesar di Singapore.
Rara tampak konyol dan masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi padanya. Ia di umumkan jadi istrinya Mark tapi mereka tidak melakukan apa-apa hanya berpoto dan melakukan fers dengan gaun dan jas sepasang pengantin.
Setelah acara konferensi fers selesai. Mark dan Rara kini berdiri di bagian depab dengan senyum palsu mereka karena kamera para wartawan tidak hentinya memotret mereka berdua. Rara mendekatkan dirinya dengan Mark yang berdiri dengan jarak yang agak jauh darinya dan menarik jas Mark. Rara berbisik pada Mark dengan wajah yang masih tersenyum di depan umum.
"Mark apa kau yakin suamiku akan datang dengan cara seperti ini?" bisik Rara perlahan memelankan suaranya dan menarik jas lengan pakaian Mark.
"Yang jelas, dia pasti akan dengan senang hati membunuhku, aku yakin dia sedang murka saat ini," jawab Mark datar masih dengan senyum terpaksanya di depan umum.
Rara terkekeh mendengar ucapan Mark yang terbilang wajah datar, tapi ucapannya sangat lucu bagi Rara. Hingga siapapun yang melihat dan memotretnya terlihat romantis dengan caranya sendiri melihat Rara tersenyum manis di balik lengan Mark yang bahkan tidak menanggapi Rara yang tersenyum tipis tampak bahagia.
Di keramaian yang paling belakang, Dirga memperhatikan seorang wanita yang tampak indah di pandangannya yang kini berdiri di samping Mark dengan senyum tipisnya. Ia tampak menatap wanita yang kini masih dengan anggunnya tersenyum ke arah Mark yang masih acuh.
"Sialan, bukankah istri Rendi katanya sangat cantik? Kenapa istri Mark ini juga sangat cantik? Apakah masih ada yang lebih cantik dari wanita ini?" gumam Dirga tersenyum licik di bibirnya dengan tatapan penuh gairah melihat wanita yang dengan senyumnya membuat Dirga semakin tertarik padanya.
Dirga memperhatikan Rara dengan pandangan mata keranjangnya ingin memiliki wanita yang kini berada, Ia memperhatikan Rara dan tidak pernah lepas dari pandangannya.
Rara sudah merasa tidak nyaman dengan gaun pengantin yang membuatnya berat dan tidak nyaman. Mark yang sedang berbicara dengan para tamu undangan memperhatikan Rara yang merasa tidak nyaman dalam duduknya.
Ia berjalan menghampiri Rara yang dari tadi tidak bisa diam duduk dengan baik.
Mark mendekati Rara yang sedang menundukan kepalanya membenarkan gaunnya. Ia mendongakan kepalanya ketika Mark mendekatinya perlahan.
"Ayo kembali jika kau sudah tidak nyaman, jangan buat mereka semakin memperhatikanmu," bisik Mark pelan.
"Iya, aku merasa ada banyak mata memperhatikanku," ucap Rara.
Mark berjalan bersama Rara kembali memasuki kamarnya Rara terduduk dan diam di dalam kamarnya. Mark kembali dan tidaj menemani Rara yang kini terdiam melihat Mark yang sudah pergi dari kamarnya.
"Apa suamiku akan pulang dengan cepat jika tahu akan hal ini? Meski hanya rekayasa tapi aku takut menyakitinya jika benar, maaf ya sayang ini cara Mark agar kau kembal, aku harap kamu baik-baik saja sayang," gumam Rara sendu.
Di lain tempat Rendi sedang murang maring melihat televisi yang sedang menyiarkan sebuah pernikahan di rumah utama Mark Robert yang sedang panas di media seharian ini.
__ADS_1
"Sialan Mark, dia... dia... kenapa harus menikah dengan istriku? Aku akan bunuh kau Mark sialan!" teriak Rendi melempar semua barang yang ada di hadapannya hingga membuat Ken yang baru masuk menghampirinya dengan ke khawatirannya.
Ken mencegah amukan Rendi yang membabi buta. Ia takut akan luka yang masih belum sembuh dari perut Rendi hingha terbuka kembali jahitannya. Rendi berhenti ketika Ken mengatakan akan secepatnya melebur kediaman Dirga dengan rencana matangnya. Rendi terdiam mendengar perkataan Ken yang terdengar hal mustahil melawan anak buah Dirga yang begitu banyak. Ia mulai tenang ketika hatinya terasa sakit melihat istrinya yang tersenyum pada Mark yang terlihat acuh padanya.
"Harusnya aku yang di beri senyuman itu Ken," ucap Rendi merengek pada Ken mengangguk dan ia yang malah tersenyum tipis melihat tuannya yang terdengar konyol dan seperti anak kecil.
"Dia tidak akan seperti itu Tuan," ucap Ken menenangkan Rendi yang mulai kesal lagi karena mengingat senyum yang di rindukanya dari istrinya itu.
"Dia bahkan tersenyum untuk pria dingin itu," ucap Rendi masih dengan tingkah rengeknya pada Ken yang masih berada di sampingnya dengan memperhatikan perban yang melilit di perut Rendi.
"Aku ingin pergi Ken, aku ingin ke Singapore sekarang juga," rengek Rendi kepada Ken yang masih tersenyum tipis mengingat Rendi seperti itu hanya pada istrinya. Tapi saat ini ia malah merengek seperti itu padanya. Seperti seorang anak meminta uang jajan pada ayahnya.
Ken mengangguk dan mengusap punggung Rendi.
"Jika ingin segera pergi dari sini, anda harus sehat dulu Tuan, maka dari itu minum obatnya secepat mungkin, agar kita secepatnya menjemput nyonya muda Tuan," ucap Ken meredakan amukan Rendi yang di luar kendali.
Rendi mengangguk dan meminum obat yang di berikan Ken padanya dan tertidur di ranjang dengan Ken masih di sampingnya.
Hai kak.
Nama :Rofie Zein
Judul : Suamiku bukan jodohku
HanDita..
Dia seorang gadis lugu yang sangat mencintai kedua orang tuanya dan juga kekasihnya.
Namun,kenyataan tidak sesuai dengan yang di harapkan.
Dia di hadapkan pada pilihan yang sulit.
Karena kebodohannya bertindak tanpa berpikir, dia kehilangan segalanya untuk kesekian kalinya.
Bagaimana cara dia menghadapi rasa sakit dari kehilangan sesuatu yang berharga baginya untuk kesekian kalinya?
Akankah HanDita mendapatkan kebahagiaan yang di inginkan?
__ADS_1