Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Semangat


__ADS_3

Di malam hari sebuah kendaraan melaju kencang dalam kecepatan tinggi. Pengemudi dalam keadaan tatapan ke depan seperti sedang melakukan balapan mobil dengan seriusnya. Adam sama sekali tidak dalam keadaan cemas. Ia hanya fokus harus secepatnya sampai di tujuan.


Rara tampak khawatir mengusap keringat di dahi saudarinya yang kini bercucuran. Dilla masih dalam ringisnya menahan rasa sakit yang menjalar di perutnya. Tangannya masih memegang bagian bawah perutnya yang terasa panas.


"Ya Allaah beri kekuatan bagi saudariku ini, lancarkan dan selamatkan mereka berdua, hamba tahu semua ini tidak lain adalah kehendak Engkau dan sudah dalam Ridho-mu. Maka berilah kekuatan pada Saudariku ini Bismillahirohmanirohim, keluar dengan baik ya sayang kamu pasti anak yang baik yang tidak akan menjadi penerang di kehidupan ink," ucap Rara dan mengusapkan tangan yang ia gunakan untuk berdoa ia usapkan ke perut Dilla yang menjulang dan membuat Dilla merasa sakit dari tadi.


Setelah sampai di depan rumah sakit, Adam turun dari mobilnya dan membuka pedal pintu belakang. Ia menggendong kembali Dilla tanpa sungkan. Saat masuk di depan rumah sakit ia baringkan Dilla di ranjang pasien dengan tangan masing di pegang erat oleh Rara. Dilla tersenyum melihat saudarinya dengan air mata menetes di pelupuk matanya.


Rara mempererat genggamannya dan melepas tangannya karena DOkter sudah membawanya memasuki ruang UGD. Rara tampak bolak balik dari depan pintu UGD. Ia sangat khawatir juga air matanya menetes ketika melihat air mata saudarinya tadi. Rara terdiam dan ikut duduk di samping Adam yang sudah duduk dari tadi. Mereka hanya berjarak dua kursi dan menunggu di luar ruangan.


"Apa yang di maksud air mata saudariku, apa dia merasa sedih karena kedua orang tuanya tidak ada menemaninya? Maafkan aku Sayang, aku yang membuatmu tinggal jauh dari paman dan bibi,maafkan aku," batin Rara menangis.


Adam melihat ke arah Rara yang meneteskan air matanya dan mengusapnya kembali. Rara tampak tenang kembali karena ia pasrahkan segalanya hanya pada Tuhannya Allaah SWT.


Adam mengerutkan dahinya dan berpaling kembali tanpa berlama-lama memandangi nyonya mudanya. Ia baru sadar, jika ia sempat mengagumi sosok wanita di sampingnya ini.


"Gila ... hampir saja aku terpesona oleh Nyonya, dia memang manis,walau sedang menangis. Seperti ada daya tarik tersendiri, haha sebaiknya aku secepatnya menikahi gadis itu agar tidak menjadi bumerang bagi hatiku," batin Adam.


Rara melirik ke arah Adam. Ia juga mengerutkan dahinya dengan tatapan yang aneh memandangi Adam di sampingnya.


"Dam ? Kenapa suamiku dan Ken belum datang juga?" tanya Rara.


Adam tertegun mendengar suara Rara yang terbilang manis dan menyenangkan pendengarnya.


"Astaga aku harus secepatnya menikah,agar tidak ada lagi godaan seperti ini," batin Adam menjerit.


Adam mengusap dadanya dan membenarkan posisi duduknya.


Rara mengerutkan dahinya. Ia menggelengkan kepalanya melihat Adam yang tampak masih terdiam dan tidak menjawabnya.

__ADS_1


"Dam ? Apa kamu dengar aku?" tanya Rara.


"Sudah Nyonya, tapi belum ada yang mengangkatnya," jawab Adam sedikit gelisah.


Mereka memilih terdiam dan menunggu Dilla yang sedang berjuang melahirkan di dalam sana.


Adam mencoba menghubungi Ken juga tapi masih belum ada juga yang mengangkat panggilannya. Akhirnya Adam memilih memeriksa camera pengawas di ruangan Direktur Rendi.


Ia melihat Rendi yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Hal yang tidak mungkin jika sedang seserius itu bekerja Rendi akan menghiraukan panggilan teleponnya. Adam memilih untuk menghubungi Mark yang pastinya sedang berada di perusahaan yang sama juga dengan Rendi.


Ia mencari nama Mark dan mendapatkannya dengan sekali melacaknya. Ia tersenyum dan melakukan panggilan pada handponenya walau tidak langsung di angkat.


Di Perusahaan sore hari.


Semua karyawan yang Rendi recomendasikan di perusahaan ayahnya. Kini tampak sedang di sibukan memperbaiki hal yang salah di perusahaan baru mereka. Bahkan Rendi sendiri yang memeriksa setiap kejanggalan di setiap bidang dalam pengurusan di setiap karyawannya.


Ken juga tidak mendengar bunyi handponenya karena suara bising dari alat marketing yang sedang di perbaiki. Saat pertama menyadarinya Ken membongkar alat itu dan memerintahkan untuk memusnahkannya sesuai perintah Rendi. Ia akan memusnahkan apapun yang terdapat di perusahaan ini dan menempatkan hal baru disana.


Hingga menjelang malam semua karyawan memilih untuk lembur. Begitupun dengan Rendi. Banyaknya berkas yang harus ia periksa yang kali ini ia di temani Ken yang juga ikut memeriksanya. Mereka bahkan tidak ingat jika hari ini tidak ada di antara mereka yang makan siang. Walau tadi sempat ada jam waktu istirahat dan makan siang bagi yang lainnya. Tapi Rendi memilih tidak makan apalagi keluar. Ia masih dengan pekerjaannya dan sampai malam tiba. Begitupun Ken ikut terbawa keseriusan tuannya yang kini sedang membuat rancangan dan akan ia buatkan untuk istri tercintanya.


Mark dan Iyas menunggu di depan mobilnya dimana perusahaan milik ayah Rendi berada. Mereka hanya bertugas untuk keamanan dan berjaga di depan perusahaan. Mark terlihat gelisah mengingat Rendi yang bahkan tidak terlihat makan siang ini. Ia berpikir panjang ketika mau membawakan makanan, tapi mengingat ada Ken yang pasti mementingkan keadaan Rendi. Ia urungkan niatnya untuk membawakan makanan untuk Rendi.


"Apa kau yakin si gila kerja itu sudah makan?" tanya Iyas mengerutkan dahinya.


"Kalau dari prediksiku sih sepertinya dia tidak akan perduli dengan perutnya," jawab Mark.


"Baiklah. Aku akan bawakan makanan inoh untuknya aku takut dia jatuh sakit nanti tidak bisa memarahi kita lagi dia," ucap Iyas mengambil bingkisan makananya.


Mark mengangguk. Ia berjalan mengikuti Iyas yang sudah lebih dulu berjalan memasuki perusahaan yang kini sudah sedikit orang-orang dan karyawan yang tinggal. Mereka sudah kembali ke rumahnya.

__ADS_1


Saat Mark sudah mendekati pintu ruang Direktur. Suara dering handponen di saku celana kanannya bergetar. Ia merogoh sakunya dan melihat nomer yang tidak di kenal. Ia sempat ragu mengangkatnya. Iyas juga mengerutkan dahinya ketika melihat raut wajah heran Mark melihat handponenya.


"Siapa?" tanya Iyas.


Mark menggidikan bahunya dan mencoba mengangkat panggilan tersebut.


Ia bahkan membesarkan volume suara panggilannya hingga terdengar suara seseorang mengatakan dengan jelas.


"Nona Dilla mau melahirkan cepat kemari."


Suara seseorang yang berkhas pria mengatakan hal itu dan menutup panggilannya dengan cepat tanpa menunggu jawaban Mark dan Iyas yang sedang terkejut mendengarnya.


Mark dan Iyas saling menatap satu sama lain. Iyas bergegas membuka pintu Direktur dan membuat orang-orang yang ada di ruanga tersebut terkejut termasuk Rendi yang sedang menguap menutup mulutnya dengan tangannya. Rendi bahkan memasang tatapan kesalnya pada Iyas yang masuk tanpa ketuk pintu.


"Istrimu melahirkan Ken ! " teriak Iyas dengan wajah paniknya.


Ken terkejut dan berdiri dari duduknya.


Mark juga memasuki ruangan tersebut dan ikut membenarkan ucapan Iyas.


"Sepertinya Adam membawanya ke rumah sakit sebaiknya kita secepatnya kesana," tambah Mark.


Ken mengangguk dan melihat ke arah Rendi yang kini sudah mengambil jasnya dan berjalan mendahului mereka. Ken kini berjalan di belakang Rendi di ikuti Mark dan Iyas yang ikut tergesa-gesa juga dalam kepanikannya.


Kini mereka sudah berada di dalam mobil bersama dan kini Ken di kursi penumpang bersama Rendi dalam wajah datarnya Ken tapi di dalam hatinya sangat ingin secepat mungkin ke rumah sakit dan menemani istrinya yang sedang melahirkan.


Mark duduk di kursi kemudi dan menancap pedal gasnya dengan kecepatan tingginya. Iyas bahkan berpegangan pada pedal besi di atasnya melihat ke arah Mark yang kini sedang di luar kendali dalam ke panikannya.


"Apa-apaan Mark ini, seperti yang mau melahirkan itu istrinya saja. Lihatlah suaminya saja tidak terlihat khawatir," batin Iyas merasa ikut tegang mempererat pegangannya.

__ADS_1


__ADS_2