Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Rindu


__ADS_3

Setelah berbicara dengan adik nya, Rayn berjalan menghampiri ruang tamu, yang dimana sudah ada Ken dan juga Adam yang ternyata sudah datang dari tadi. Ia berjalan menghampiri mereka dengan wajah datarnya.


"Selamat siang tuan muda," sapa Adam.


Rayn mengangguk, ia duduk di sofa di sebrang Ken dan Adam. Mereka kini berbincang membicarakan tentang pekerjaan dan proyek yang akan dikerjakan oleh Rayn. Adam bahkan menjelaskan setiap file proyek tersebut, bahkan tanpa mereka sadari hanya untuk membahas tentang proyek.


Hari sudah mulai gelap, hingga terdengar suara teriakan dari Dilla memanggil mereka untuk makan. Ken yang mendengar ajakan istrinya itu, ia menoleh ke arah Rayn yang masih mencermati dokumen, yang ada di tangannya. Ia tersenyum melihat tuan mudanya itu bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugasnya.


Ken sudah tahu, jika sesuatu yang berhubungan dengan adik perempuannya itu. Rayn akan melakukan apapun untuk kebaikan saudari kembarnya itu, maka dari itu Rendy yang merekomendasikannya, sudah memahami akan sifat putranya yang selalu mementingkan dan mengutamakan saudari kembarnya itu.


"Mari makan dulu tuan muda!" Ajak Ken.


"Iya sebaiknya makan dulu, sebelum fokus memeriksa dokumen lagi tuan muda," tambah Adam.


Rayn hanya mengangguk sebagai jawaban untuk ajakn kedua pamannya itu. Namun ia tidak mengalihkan pandangannya ke dokumen yang ada di tangannya. Saat ia mengingat sesuatu, ia mengerutkan dahinya terdiam dan menyimpan dokumennya, Ia lalu berjalan meninggalkan ruang tamu dan menaiki tangga.


"Paman berdua duluan lah! Nanti Aku turun bersama Amira!" seru Rayn.


Rayn berjalan menaiki tangga, Ken dan Adam yang melihat tuan mudanya itu, yang selalu mengutamakan adik perempuannya tersenyum tipis dan Saling pandang satu sama lain.


"Dulu saat kita melihat tuan Rendy sangat mementingkan istrinya dan juga orang-orang sekitarnya, sekarang putranya tidak jauh beda darinya. Namun lebih terdengar dan terlihat manis dan lembut," ucap Ken.


Ken dan Adam tidak bergegas untuk ke ruang makan, namun mereka membahas proyek kembali dan menunggu tuan muda juga nona mudanya turun dari kamarnya. Setelah setengah jam berlalu, Rayn dan Amira turun dengan wajah segar. Mereka sudah bersih, bahkan Rayn mengerutkan dahinya ketika melihat kedua pamannya itu, masih duduk di ruang tamu dan dia menghampiri mereka.


"Apa Paman sudah makan?" tanya Rayn.

__ADS_1


Rayn mengerutkan dahinya dan tersenyum, Ken tersenyum lalu menggelengkan kepalanya, sebagai tanda jawaban dari pertanyaan tuan mudanya itu. Rayn tidak berbicara kembali atau pun bertanya. Namun ia berjalan bersama adiknya menuju ruang makan.


Mereka kini berjalan ke meja makan di mana Dilla kini sedang menata meja makan, ia mempersilahkan suaminya beserta Rayn dan Amira untuk makan bersama. Ken makan bersama dengan putrinya yang duduk bersama dengan Amira.


"Apa kamu jadi ikut ke kota B dengan Adam Rayan?" tanya Dilla sembari memberikan makanan kepada suaminya.


"Ya," jawab Rayn singkat.


Amira mengerutkan dahinya, meski ia sebenarnya tidak terbiasa berada jauh dari keluarganya. Namun ia mencoba untuk tetap tersenyum, apalagi mengingat kakaknya Rayn melakukan semua itu adalah demi dirinya. Amira memberikan makanan kepada kakaknya dan tersenyum lembut.


Semua orang yang ada di meja makan tersenyum mengagumi keeratan dua saudara itu yang saling melengkapi. Tidak ada percakapan di meja makan, hanya terdengar suara sendok yang beradu dengan piring.


******


Namun salah satunya adalah untuk membawa Amira bisa bekerja di perusahaan milik ayahnya, belum genap sehari. Amira merasakan rindu yang teramat besar kepada sekumpulan keluarganya. Kedua orang tuanya dan adiknya yang kini sedang berada di Bandung. Juga Rayn yang sudah berpamitan untuk pergi ke kota B menjalankan proyeknya.


"Sepertinya jika aku memang sudah bekerja tidak akan seperti ini merasa kesepian," gumam Amira.


Amira kini tertidur untuk pertama kalinya, Ia merasa tinggal sendirian di rumah sangat besar ini. Lain dari biasanya yang setiap malam keluarganya akan berkumpul di kamarnya. Ayahnya untuk bercanda ria dan menyapanya begitu.


Kini dia tertidur setelah mencoba untuk memejamkan kedua matanya beberapa jam yang lalu.


Di pagi hari, Amira sudah siap dengan pakaian sederhananya, dia keluar dari kamarnya dan berjalan menghampiri meja makan yang dimana sudah ada tante dan Pamannya Ken, yang sudah berada di meja makan. Dia tersenyum dan menyapa tantenya itu, ia sarapan tanpa berbicara sepatah kata pun.


Setelah itu, Amira berpamitan untuk pergi ke ke kampus. Dilla mengerutkan dahinya ketika melihat Amira berjalan keluar dari rumah tersebut hingga tak terlihat Lagi.

__ADS_1


"Gadis itu duplikat Rara! Sangat cuek dan acuh ketika di usia yang sama dengan Amira, tapi apa Amira memiliki teman di tempat dia kuliah berada?" ucap Dila sedikit termenung.


"Yang pasti Nona Amiira tidak seperti yang kamu bicarakan. Dia jauh lebih tangguh dan kuat dalam keadaan apapun," jawab Ken.


Ken berdiri dan berpamitan untuk pergi ke kantor. Dilla tersenyum dan dengan manja ia memeluk pinggang suaminya dan mencoba untuk memberikan bibirnya kepada Ken. Namun bukan Ken, yang tidak peka jika ia tahu maksud dari istrinya itu. Setelah dirasa tidak mendapati apa pun dari suaminya itu, Dilla mengerutkan dahinya dan memajukan bibirnya dengan kesal.


"Mau sampai kapan kamu Ken sedingin itu sama aku?" tanya Dila cemberut.


"Apa aku masih dingin di hadapanmu " jawab Ken berbalik bertanya kepada istrinya itu dengan wajah datarnya.


"Sudahlah, sana pergi berangkat ke kantor dan juga suruh anak buahmu untuk selalu mengikuti Zain yang manja itu!" jawab Dilla dengan kesal.


Namun saat Dila mencoba untuk pergi masuk ke dalam rumah, tiba-tiba tangannya ditarik oleh Ken dan sebuah bibir mendarat di bibirnya. Ken mencium dengan lembut bibir Dilla sangat lembut.


Dilla membulatkan kedua matanya, ada hati yang sangat bahagia saat mendapati ciuman dan tindakan dari suaminya itu. Setelah itu Ken pergi keluar dan memasuki mobilnya yang sudah ada anak buahnya di balik kemudi.


"Kamu emang sama manis dengan caramu sendiri Ken," gumam Dilla.


Ia tersenyum dan melihat mobil milik suaminya berjalan menjauhi rumah hanya.


Ken yang kini berada di kursi penumpang dia membuka laptopnya dan memeriksa aktivitas tuannya selama di Bandung. Dia masih ingat bahwa masih ada CCTV yang terpasang di kediaman Pratama di Bandung. Mengingat Adam yang sudah memasang CCTV di setiap sudut rumah Pratama. Setelah mendapati tuan dan nyonyanya itu dalam keadaan baik-baik saja, Ken tersenyum tipis dan merasa.


"Saya merasa sangat tidak tenang ketika untuk kesekian kalinya tidak menemanimu tuan," ucap Ken.


Ia menutup laptopnya setelah melihat Rendy dan Rara dalam keadaan baik-baik saja. Kini ini di perusahaan Rendi semua Ken yang mengendalikannya, tanpa harus Rendy turun tangan sendiri. Sopir yang melihat ekspresi Ken, untuk pertama kalinya Ken tersenyum tipis dan sangat manis baginya, mengingatkan adalah seorang pria yang sangat dingin dan keras. Bahkan setiap keputusannya adalah mutlak jika tuannya itu berkata musnah maka detik itu juga akan terjadi.

__ADS_1


__ADS_2