
NTR:Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen, favoritkan dan vote yach... Selamat membaca kak.
Gadis itu sudah berdiri dan pergi meninggalkan ruangan. Aries bergegas berlari mengikuti Amira. Ia berbicara panjang lebar kepada gadis itu agar bisa membantunya saat ujian nanti.
"Mira jangan marah ya!" rengek Aris.
"Hmm," jawab Amira malas.
"Ayolah, masa hmm aja," ucap Aris.
"Hmm," balas Amira lagi.
"Aku akan lakukan apapun yang kamu mau Mira," ucap Aris berhenti mengejar Amira.
Amira berhenti berjalan dan berbalik ke arah Aris yang masih terdiam meamasang wajah memohonnya. Ia memajukan bibirnya menatap lekat wajah sahabatnya itu. Lalu ia mengangkat sebelih alisnya.
"Hmm, penawaran yang boleh di pertimbangkan," ucap Amira.
"Hah, benarkah? Apapun itu aku akan melakukannya Mira asal kamu mau bantu aku terus. Soalnya, hidup matiku tergantung bantuanmu Ra," seru Aris berbicara dengan bahagia.
"Cih, lebaymu drama sekali," cetus Amira.
"Hehe, aku serius Ra," Aris tersenyum," Ini memang tentang hidup matiku di masa depan, bisa-bisa di penggal aku sebagai ahli waris nanti, jika tidak lulus," jelas Aris.
"Hmm, usaha! Ngapain berharap warisan! Jika ingin sukses bukan karena besarnya jumlah warisan, akan tetapi bagaiamana besarnya usaha kita untuk hidup jauh lebih baik dan sukses Ris," balas Amira.
"Iya, iya Amiraku. Makanya selain warisan yang aku dapat. Tapi aku jugadapat kepandaian darimu," elak Aris.
__ADS_1
"Cih, gak usaha itu mah," balas Amira.
"Apa aja deh Ra," ucap Aris.
"Hmm," balas Amira malas.
"Eeh, apa yang kamu mau? Biar aku sediakan," tanya Aris.
"Sekarang belum ada!" jawab Amira.
"Oh, ok deh," ucap Aris.
Mereka kini berjalan meninggalkan kampus dan berjalan menuju pulang. Aris yang sudah lebih dulu pulang dan Amira masih di depan kampus. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di hadapannya. Membuka kaca mobilnya.
"Miraaaa ...."
"Kau sudah sampai? Maaf ya aku tidak ikut menjemputmu," ucap Amira memasuki kusi penumpang.
"Tidak apa-apa yang seharusnya menjemputku tepat waktu kok," jawab Naura.
"Hmm, dia bahkan sangat antusias tuh," ledek Amira tersenyum tipis.
"Iyakah? Tapi kok dia bilang tidak seperti itu tuh?" balas Naura tersenyum tipis.
"Tapi aku saksi yang dapat di percaya loh," ucap Amira tersenyum tipis.
"Hmm, aku percaya padamu," balas Naura.
__ADS_1
"Kalian antusias sekali ya? Lanjutkan saja nanti jika sudah sampai di rumah!" seru Rayn di balikkemudi dengan wajah datarnya fokus mengemudi.
Naura dan Amira tersenyum saling pandang satu sama lain. Amira duduk kembali di kursi penumpangnya dan Naura masih di samping Rayn duduk di depan. Mereka terdiam setelah mendengar protes Rayn dengan wajah datarnya. Meski seperti itu, Amira dan Naura tidak berhenti untuk tersenyum menanggapi kedinginan Rayn yang sedang mengemudi.
"Kak, apa kau mau pergi jalan-jalan nanti?" tanya Amira.
"Tentu saja! Kapan dan kemana?" jawab Naura antusias.
"Kau harus kuliah begitupun aku!" potong Rayn.
"Besok libur Kak, lagipula Kakak kan bebas ini, mau masuk atau nggaknya," bantah Amira.
"Heeh," tambah Naura mengangguk menyetujui ucapan Amira.
"Tidak ada!" tegas Rayn.
"Hmm, ya sudah nanti jangan coba minta bantuan Mira lagi, kalo teman mainmu mengatakan bahasa aneh lagi," cetus Amira.
"Bahasa aneh? Siapa? Maksudmu?" tanya Naura mengerutkan dahinya.
"Hmm itu ...."
"Baiklah, kita pergi kapan dan kemana?" sela Rayn berbicara tegas.
Naura dan Amira tersenyum penuh kemenangan. Merek tertawa kegirangan bahagia saling berpegangan tangan satu sama lain. Pasalnya Rayn selalu tidak bisadi bantah ucapannya dalam hal apapun. Tapi kali ini dia tidak bisa berbicara apapun. Apalagi yang sedang ia hadapi adalah dua wanita yang sangat keras kepala dan tidak pantang menyerah dalam hal apapun. Maka dari itu ia memilih mengalah dalam menghadapi tingkah keduanya.
"Eeh, tunggu! Siapa yang berbicara bahasa aneh? Temanmu Rayn? Atau Amira?" tanya Naura membuat suasana seketika hening.
__ADS_1
Amira terdiam begitupun Rayn fokus pada kemudinya. Tidak menanggapi pertanyaan Naura begitupun Amira.