
Kediaman Rendi Anggara.
Pagi ini Rendi dan Rara sarapan pagi bersama dengan Ken, Dilla, Mark, Iyas. Mereka makan untuk pertama kalinya berkumpul bersama di pagi hari.
Ada senyum di semua hati mereka karena bisa makan bersama seperti kali ini. Walau mereka tidak bisa memandangi istri Rendi dengan berlama-lama tapi mereka bahagia hanya karena bisa makan bersama seperti sekarang.
Dilla sudah mulai tidak selincah dulu,ia sering merasa lelah jika terlalu banyak beraktivitas bahkan hanya berjalan saja.
Di meja makan hanya Dilla yang boleh berbicara lama bersama Rara. Rendi yang tuan rumah yang mengaturnya.
"Sebenarnya ini peraturan konyol tapi memang sahabatku yang satu ini memang selalu konyol haha," batin Iyas.
Rendi melihat senyum tipis di balik wajah Iyas yang sedang makan,ia menatap tajam padanya dan Iyas menunduk saat melihat tatapan tuan rumah.
"Haha dia bahakan tahu aku sedang meledeknya," batin Iyas.
Tidak ada perbincangan di meja makan hanya ada suara piring dan sendok saat makan. Rendi mendehem dan mengawali berbicara setelah ia selesai makan dan minum.
"Hmmm,kita akan berkeliling kota dan berbelanja,kalian siap-siap saja," ucap Rendi.
Mark,Iyas dan Ken terkejut dan mereka hanya mengangguk dan diam.
"Waah, aku mau ikut tapi aku malas berjalan," rengek Dilla.
"Kau jangan ikut jika malas," ucap Ken datar.
"Gak,aku mau ikut...dan kamu harus gandeng aku setiap saat," bentak Dilla manja.
Semua yang melihat tingkah Dilla pada suaminya yang sedingin es tersenyum tertahan.
"Haha,ada es balok dapat istrinya se manja gini,tapi aku lebih suka yang seperti kakak ipar dia membuat singa luluh," batin Iyas.
"Kalian bersiaplah kita berangkat setelah ini," tegas Rendi.
Semua yang mendengarkan ucapan Rendi mengangguk. Lain dengan Dilla.
Ia tetap fokus makan tanpa ada beban di pikirannya.
Mark dan Iyas yang memperhatikannya malah menganga menggelengkan kepala dan tersenyum tertahan.
Ken sebagai suaminya malah semakin menambah lauk yang ada di piring isttinya dengan wajah datarnya,ia tidak mempermasalahkan tentang istrinya.
"Astaga pasangan yang satu ini ibarat es batu sama gula pasir bersatu sama lain," bisik Iyas pada Mark.
Mark hanya diam mendapatkan ucapan dari Iyas yang dari tadi penuh dengan setiap pertanyaannya.
Rendi memperhatikan istrinya yang memberi makan Rayn yang di pangkuan pengasuhnya.
"Sayang,sini biar aku saja yang menyuapinya,kamu makan saja dulu makananmu," ucap Rendi.
"Tidak perlu.Aku sudah kenyang nanti aku bawa makanan di perjalanan," ucap Rara.
"Hah,kenapa seperti itu? Tidak perlu," tegas Rendi mengerutkan dahinya.
"Aku hanya membawa buah-buahan saja,aku mau ngmil buah-buahan saja kamu bahkan melarangku?" Ucap Rara nyaring.
Rendi tersenyum,mengangguk dan terdiam.
Ia memperhatikan istri dan anak- anaknya yang sedang makan. Senyum di wajahnya tampak berseri bahagia melihat pemandangan keluarganya.
Mark dan Iyas melihat Rendi tersenyum penuh ke banggaan, membuat mereka tersenyum melihatnya.
***
Dalam perjalanan.
Kini Rendi beserta yang lainnya menaiki kendaraannya masing-masing.
Rara yang duduk di kursi penumpang bersama suaminya yang menggendong Amira. Ia memakan buah-buahan yang ia bawa dari rumahnya.Tanpa menghiraukan suaminya yang memperhatikannya. Rara melihat ke arah jendela mobil melihat jalanan yang ramai lancar. Ia tersenyum mengingay bahwa ia saat ini sedang berada di Negara orang lain,bahkan keluarganya tidak tahu keberadaannya saat ini yang sedang berlibur. Dari ia tersenyum kini terlihat sendu mengingat kabar keluarganya yang tidak bisa ia hubungi.
Rendi yang memperhatikan istrinya, ia mendekati wajah istrinya dan mencium pipinya.
Rara menoleh ke arah suaminya dan kini bibirnya menempel pada bibir suaminya. Ia membulatkan kedua matanya saat mendapati ciuman suaminya yang kini malah berlangsung lama.
Berawal dari iseng kini malah jadi memanasi dada mereka berdua.
Rara mendorong tubuh suaminya untuk menjauh dan melepas ciumannya.
"Kamu ini ada apa sih? Langsung cium-cium saja," cetus Rara.
"Hehe,aku suka,"ucap Rendi tersenyum mengecup bibir istrinya kembali.
Kendaraan mereka kini terparkir di pusat perbelanjaan terbesar di Jerman.
Rara menengaadahkan kepalanya melihat gedung yang menjulang tinggi di hadapannya.
"Bukannya kamu bilang pusat perbelanjaan ada di rumah kita?Kenapa ini masih ada aja yang besar dan luas di negara ini?" Tanya Rara.
"Kamu mau juga Sayang, pusat perbelanjaan ini?" Tanya Rendi.
__ADS_1
"Huh,tidak! Aku tidak mau,ini saja aku hanya mau membelikan oleh-oleh saja untuk di rummah," teriak Rara.
"Aku hanya mau membuat tempat ini sepi untuk sementara untukmu Sayang,bagaiman?" Tanya Rendi.
"Tidak usah,aku suka kok,berbaur dengan orang lain," ucap Rara.
"Tapi aku tidak suka," ucap Rendi.
"Kalau tidak suka kita balik lagi saja," ucap Rara.
"Masa balik lagi,kita tanggung sudah ada di depan mata ini," tambah Dilla.
Dilla menghampiri Rara dan suaminya yang belum juga berjalan masuk. Ia tampak kesal menunggu mereka berdua.
Rara tersenyum melihat kedatangan Saudarinya.
"Sayang,apa kamu bisa berjalan?" Tanya Rara.
"Tentu saja, aku akan menggandeng suamiku yang dingin ini,agar aku bisa berbelanja sepuasnya," ucap Dilla.
"Hahaaha,kamu bisa aja kalo masalah berbelanja kamu semangat sekali," tawa Rara.
Rendi dan yang lainnya menganga dan mengagumi tawa manis Rara yang menggema juga. Untuk kali ini mereka melihat istri Rendi tersenyum dan tertawa.
Rendi menatap tajam pada mereka dan membuat mereka terdiam salah tingkah.
"Tuan semua sudah aman,tuan sudah bisa memasukinya," ucap Nesa yangmenghampiri Rendi dari dalam gedung.
Dengan tatapan ketegasannya Nesa menunjukan jalan untuk tuan dan nyonya mudanya memasuki pusat perbelanjaan.
Kini rombongan Rendi memasuki pusat perbelanjaan bersama beberapa pengawal juga pelayan yang menujukan arah.
Dilla tampak bergembira memasuki pusat perbelanjaan yang luasnya tidak bisa terlampaui jika hanya berjalan kaki ibu hamil. Ia menarik suaminya untuk pergi memasuki setiap toko.
Ken tampak kebingungan antara bersama istrinya atau tuan dan nyonya mudanya. Ia menahan sikap istrinya yang menariknya kesana kemari tanpa melepas pegangannya.
Rara yang melihat jtu ia tersenyum.
Lalu ia melihat ke arah suaminya yang datar tanpa ekspresi menghiraukan tingkah Dilla yang manja pada suaminya.
"Sayang biarkan ank-anak mengikuti kita,dan Ken bersama istrinya,kita berdua jalan-jalan berkunjung setiap toko ya," ucap Rara.
Rendi mengerutkan dahinya,ia menundukan kepalanya melihat wajah melas istrinya yang manis.
"Aku ingin menciumnya saat ini juga," batin Rendi.
"Edheeem." Mark Iyas berdehem.
Rendi menghentikan aksinya yang sudah tidak tahan dengan istrinya yang ada di hadapannya. Ia menatap kesal pada mereka berdua yang selalu mengganggunya.
Mereka berjalan beriringan Rara dan Rendi di depan dan di ikuti anak buahnya di kejauhan.
Ken mengikuti istrinya Dilla yang membawanya memasuki setiap toko setelah mendapatkan ijin dari tuan mudanya.
"Untuk kali ini saja istriku," batin Ken.
Rendi melihat ke arah Mark dan Iyas dengan malas.
"Kalian menikahlah agar tidak mengganggu aksiku," cetus Rendi dingin..
"Lihat situasi bro ," ucap Iyas.
"Aku bunuh saat ini juga kau," ucap Rendi malas.
Rendi dan Rara memasuki toko pakaian anak-anak yang semua pakaiannya edisi terbatas.
Rara berkeliling melihat-lihat yang di ikuti suaminya di belakangnya.
Rara berjongkok melihat sebuah pakaian bayi dengan nominal harga yang di luar nalarnya.
Rara membulatkan kedua matanya.
"Memang ini terbuat dari apa harga sampai semahal ini,lagipula ini di pakainya juga tidak akan lama," gerutu Rara menyimpan kembali pakaiannya.
Rendi tesenyum mendengar gerutuan istrinya yang manis.
"Kamu ambilah jika suka,aku tidak akan miskin jika hanya membeli seisi toko ini," ucap Rendi.
"Aku tidak segila kamu yang mainnya beli saja,sudah ah aku cari yang lain saja yang baik untuk putra putriku tidak perlu barang mahal yang penting kenyamanannya juga ramah di kantong," cetus Rara.
Rendi tersenyum dan mengikuti istrinya yang masih berjalan melihat-lihat pakaian di dalam toko.
Rendi beralih melihat ke arah Mark dan Iyas juga ada Nesa yang berdiri di luar toko.
Ia gundah saat melihat mereka memandangi istrinya dengan senyuman tidak ada hentinya.
Rendi beralih menghampiri mereka dan tidak mengikuti istrinya. Ia berjalan dan menatap tajam pada mereka.
"Hei...bro,kenapa di mari..apa sudah selesai berbelanjanya?" Tanya Iyas.
__ADS_1
"Jangan harap bisa melihat istriku," ucap Rendi dingin.
Saat Rendi menatap lekat ke arah Iyas dan Mark yang berdiri di hadapannya. Ia juga tidak pernah luput pandangannya dari istrinya yang sedang berdiri memegang bpakaian yang di pajang.
Saat ia menoleh sebentar ke arah Iyas terdengar sebuah teriakan di dalam toko. Juga asap yang menyelimuti toko tersebut.Rendi berbalik dan mencari keberadaan istrinya yang sempat ia tinggalkan.
Rendi mencari-cari dengan mata setengah melihat karena ruangan di penuhi dengan asap yang sedikit tebal.
Ia panik saat mendapati istrinya tidak ia temui.
Mark dan Iyas yang melihat,Mereka berlari ke setiap arah takut akan ada hal yang mencurigakan tentang hal ini.
Setelah kabut asap berangsur menghilang. Semua tampak terlihat.Ada banyak pengunjung yang berjongkok tertunduk ketakutan.
Rendi panik saat tidak mendapati istrinya di dalam toko tersebut ia membalik-balikan setiap orang yang ada di sana berharap salah satu dari mereka adalah istrinya.
Tetapi tidak terdapat istrinya sama sekali.
Kini ia mulai panik dan memanggil nama istrinya tapi tidak ada sahutan dari istrinya.
Mark yang melihat dan mendengar teriakan panik Rendi mereka mulai mencari-cari setiap tempat itu.
"Ya ampun, aku sampai terlupa akan hal ini,sayang kamu dimana?" Teriak Rendi mulai prustasi kehilangan istrinya.
Mark dan Iyas menghampirinya setelah berlari kesana kemari mencari keberadaan Rara. Anak buahnya sudah berpencar mencari keberadaan nyonya mudanya. Nesa bahkan sudah berada di atap gedung untuk melihat sebuah mobil yang mencutigakan. Ia merogoh sakunya dan menelepon yang lainnya.
"Ada kemungkinan Nyonya muda masih di dalam kalian cepat cari di seluruh tempat gedung,"ucap Nesa.
Semua anak buah yang Rebdi bawa beserta Mark dan Iyas mencarinya di setiap sudut ruangan gedung yang luasnya tidak bisa di pungkiri.
Rendi berlari kesana kemari, mendobrak setiap pintu,
para pelayan toko tampak ketakutan saat melihat Rendi murka di dalam toko.
Rendi memanggil setiap Manager yang bertugas,ia juga menutup pusat perbelanjaan saat itu juga.
Ia sangat kesal saat mendapati istrinya masih saja hilang dalam pandangannya.
"Cari di setiap sudut dan juga parkiran periksa kendaraan yang keluar masuk dari sini," teriak Rendi pada anak buahnya.
"Kau,cari secepatnya," teriak Rendi pada Mark dan Iyas.
Mereka mengangguk dan pergi ke setiap sudut tempat.
Rendi terdiam dengan Nesa yang kini berada di sampingnya.Ia tampak tanpa arah pandangannya.
"Dasar bodoh istri di depan mata saja sampai hilang,Rendi bodoh," teriak Rendi.
Setiap orang yang melihat wajah marah murka Rendi dengan wajahnya yang tampan malah membuat orang-orang tang melihatnya ketakutan sekaligus terkagum-kagum karena amarahnya tidak mengurangi wajah tampannya.
Nesa hendak berbicara pada tuannya tapi terhenti saat Ken dan istrinya menghampiri Rendi dengan wajah paniknya.
"Tuan,asap itu hanya perusahaan I.T yang memilikinya,apa kita akan pergi kesana dan memeriksanya tuan?" Tanya Ken.
"I.T....perusahaan itu bukankah selama ini mereka berhubungan baik dengan kita,untuk apa mereka melakukan ini semua?" Ucap Rendi mengerutkan dahinya.
"Akan saya cari tahu Tuan," ucap Ken.
"Pastikan anak-anakku pulang dan jaga mereka," tegas Rendi mentap Nesa.
Rendi mengerahkan semua anak buahnya untuk memeriksa dan mencari keberadaan istrinya.
"Sudah ku duga ini akan terjadi jika seorang Rendi keluar dari wilayahnya, apa yang akan terjadi jika ini terus berlangsung musuhmu bukan cuman satu tapi dimana-mana apalagi seorang istri yang membuat setiap pria menyukainya,aku juga sempat kagum melihat Nyonya muda," batin Mark.
****
Di sebuah mobil.
Di dalam sebuah kendaraan di dalam kursi penumpang,terdapat sebuah gundukan kain yang bergerak-gerak.
Seorang pria muda yang duduk di balikk kemudi ia tidak menghiraukan suara gaduhan di balik penutup kain tersebut,ia melajukan kendaraannya dengan kecepatan tingginya, menelusuri jalan pesisian pantai dengan tersenyum di wajahnya.
"Hahaha,lihat Sodaraku hanya butuh waktu sedikit sudah aku dapatkan gadis yang kau inginkan, kau terlalu banyak rasa takut sehingga tidak mampu bergerak hanya untuk menculik seorang wanita saja," tawa pengemudi tersebut menggema.
Seorang pemuda dengan wajah tampannya juga penampilan santainya ia mengemudikan kendaraannya keluar jauh dari pusat kota.
Ia menculik Rara saat semua sedang lengah hanya dengan berjalalan santainya. Ia melemparkan bom asap di area dekat Rendi berdiri dan ia membius Rara dengan sapu tangannya hingga pingsan menggendongnya menelusuri pintu belakang toko. Sempat ia bersembunyi dari kejaran seorang gadis yang menelusuri parkiran tapi tidak berhasil menemukannya.
Ia tersenyum dan menggendong kembali Rara dan memasukannya ke dalam kursi penumpang mobilnya. Dino adalah saudara Doni yang kini tinggal di Indonesia. Ia selalu mendengarkan dan mendapatkan curhatan adiknya itu.
Tentang seorang gadis yang di kaguminya tapi gadis itu seorang istri Ceo di Indonesia dan kini sedang berada di Jerman. Ia menderita kelainan dalam otaknya sehingga pikiran dan langkahnya selalu bertujuan untuk kebaikan sodara laki-lakinya yang menyayanginya.
Sempat keluarganya berpikiran untuk membuangnya tapi Doni menukar dirinya menjadi Dino karena ia tidak mau jika sodaranya harus menderita di luaran sana. Maka dari itu Dino akan berusaha sebaik mungkin untuk membuat sodara laki-lakinya untuk selalu mencapai ke inginannya. Walaupun Doni tidak pernah mengatakan bahwa ia mencintai Rara tapi hanya sebatas mengaguminya karena kebaikan gadis itu.
Saat Dino sedang mengingat sodaranya yang kini berada di Indonesia terdengar suara yang memanggil namanya.
"Donii?" Teriak Rara membulatkan kedua matanya.
Rara sudah bisa membuka kain yang menutup tubuhnya,ia mencoba membuka tali pengikat di tangannya di belakang juga kakinya yang kini terikat,ia mencoba melihat ke depan kursi pengemudi dan terkejut,ia melihat seseorang yang ia kenal mengemudikan kendaraannya.
__ADS_1