Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Hati Ini


__ADS_3

NTR:Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen, favoritkan dan vote yach... Selamat membaca kak.


"Kamu mau kapan nikahnya? Biar aku tanyakan pada papa?" tanya Rayn tanpa melihat ke arah Naura yang tertegun mendengarnya.


"Hah? Nikah? Aku ...."


"Sebaiknya sih secepatnya! Aku gak mau ada yang melirik kamu calon istriku!" sela Rayn menatap Naura.


'Apa-apaan sih nih anak dingin manja ! Kok dia jadi banyak gombalannya?' gerutu batin Naura tersenyum.


"Aku gak belajar! Aku juga gak tahu. Mungkin karena aku sudah terlalu lama menunggumu!" ucap Rayn.


'Tuhkan dia bisa baca isi hati aku lagi!' batin Naura.


"Makanya bicaralah sesuka hatimu padaku! Aku tidak akan protes apalagi itu ucapan darimu, aku pasti akan selalu menjadi pendengarmu," ucap Rayn tersenyum.


Naura tertegun dan mengerutkan dahinya. Ia memang sempat ragu akan Rayn yang serba bisa dalam hal apapun. Namun untuk kali ini, ia sedikit percaya akan sifat calon suaminya itu yang selalu bisa menebak isi hatinya.


"Jadi kapan?" tanya Rayn tersenyum dan menatap Naura.

__ADS_1


"Emmm ...."


"Hari ini, besok, lusa, minggu depan, bulan depan tahun depan, atau saat ini juga?" tanya Rayn menatap Naura.


"Dia sedang bertanya pernikahan atau menghitung hari sih? Kok dia jadi bodoh gini?" batin Naura.


"Sekali lagi kau bicara begitu aku makan kamu!" tatap Rayn menajamkan tatapannya.


Naura tertegun, ia tidak ingat jika pria yang ada di hadapannya ini, sangat pandai membaca pikirannya. Hingga ia tersadar akan sebuah jam dinding yang terlihat olehnya.


"Sudah tengah malam mari tidur!" ucap Naura.


"Aah ....,"


"Jika kau lari, ke ujung duniapun akan aku temukan dirimu!" tambah Rayn menyela ucapan Naura.


"Apaan sih! Kamu seharian ini gila ya Rayn! Selalu membuatku gila akan kata-kata gombalanmu!" protes Naura mendorong Rayn yang semakin mendekatkan posisi duduknya.


Rayn tersenyum melihat reaksi Naura yang marah pada dirinya. Karena itu hal yang sedang Rayn tunggu. Melihat gadis galak seperti kekasihnya itu. Rayn menekan tangannya menyentuh bahu Naura. Ia mencoba merayu Naura, namun Naura masih dengan responnya diam tidak menghiraukan Rayn. Meski dalam hatinya merasa senang dan bahagia Rayn seperti itu, hanya saja Naura takut akan dirinya yang lepas kendali yang berujung marah pada Rayn.

__ADS_1


"Amira gimana tuh! Ini sudah malam juga," ucap Naura.


"Kau belum menjawabku!" balas Rayn.


"Yang mana? Kapan kita nikah? Aku akan ikut apa katamu jika hari ini,esok,minggu depan, bulan depan, tahun depan! Aku turuti dan pastinya aku gak akan lari darimu!" tegas Naura mendorong Rayn dan berdiri meninggalkannya.


Rayn tertegun mendengar ucapan Naura dan pergi meninggalkan Rayn.


"Jangan lupa pindahkan adikmu ke kamarnya!" ucap Naura berhenti dari jalannya.


Rayn tersenyum mengangguk melihat Naura yang kini sudah berjalan jauh darinya dan menaiki tangga. Ia bahkan tidak lagi menatapnya sama sekali. Rayn tersenyum dan menghampiri adiknya yang tertidur di sofa dari tadi. Rayn tersenyum dan terdiam menatap adik perempuannya yang tertidur.


"Hmm, adik nakalku ini, aku maafkan untuk kali ini! Lain kali jangan pura-pura tidur dan mengabaikan orang lain. Hingga pada akhirnya tertidur benerankan! Sehingga kamu selalu ingin Kakak yang harus memindahkanmu! Gadis nakal!" ucap Rayn.


Rayn tersenyum dan mengambil buku yang menutup wajah Amira yang tertidur pulas. Ia menggendong adik perempuannya dan berjalan menaiki tangga dan membaringkan adiknya tidur di atas ranjang. Rayn tersenyum dan mengecup kening adiknya itu.


"Kamu tahu Dek? Sepertinya Kakak memang sudah tidak bisa lagi berpindah ke lain hati! Dan ingin segera meminangnya tanpa ada yang mengganggu aku tentang dia yang cantik itu! Dia cantik kan Dek?" ucap Rayn tersenyum dan berdiri meninggalkan Amira yang tertidur.


"Karena kamu calon istriku! Apa yang tidak bisa aku ketahui tentangmu," ucap Rayn tersenyum.

__ADS_1


Ucapan itu selalu teringat di dalam benak Naura hingga ia terbaring di atas kasurnya, tersenyum menatap langit-langit kamarnya. Ia tersenyum tidak hentinya sedari ruang tamu. Apalagi saat Rayn mengatakan hal yang lebih tidak masuk akal lagi sejak di ruang tamu tadi.


__ADS_2