
Dilla berjalan melewati suaminya yang sedang duduk di meja makan memakan gado-gado yang ia minta. Ia memasang wajah cemberut karena kesal pada suaminya yang saat ini sedang menikmati makanannya.
"Dia bahkan tidak memberinya padaku," batin Dilla.
Ken memakan gado- gado yang ia dapatkan dari ibu Anah yang bahkan saat ini tidak tahu keberadaannya.
"Kenapa ini enak sekali?" Ucap Ken.
Ken bangun dari duduknya setelah menghabiskan makanannya. Ia melihat ke arah istrinya yang saat ini sedang menonton televisi.
Ken tersenyum menghampiri istrinya yang sedang menopang kepalanya tidur selonjoran di atas sofa. Ia bahkan dengan asikknya menikmati setial tontonan romantis di acara tv nya.
Ken duduk di samping istrinya dan menyentuh perut istrinya yang sudah terlihat besar. Dilla masih dengan kesalnya ia pada suaminya yang tidak tepat saat ia meminta sesuatu pada suaminya.
Ken sudah memahami sifat istrinya yang kini sedang merajuk padanya.
"La, apa kamu mau sesuatu?" Tanya Ken.
Dilla tidak menjawabnya masih dengan tatapannya menghadap televisi yang mengharukan baginya yang tidak bisa membuatnya untuk menangis sama sekali.
Ken tersenyum tipis mendapati istrinya masih terdiam padanya.
"La ... ayo kita ke kamar?" Ucap Ken.
Dilla masih terdiam dengan mengalihkan pandangannya pada televisi, walau sebenarnya hatinya sangat ingin meloncat memeluk suaminya.
Ken tidak tersenyum dan menggendong istrinya yang saat ini sedang meronta si pangkuannya. Ia tidak menghiraukan istrinya yang memintanya untuk menurunkannya.
"Apa tidak ada cara lain cara membujukmu itu Ken," cetus Dilla.
Ken hanya tersenyum mendengar rontaan dan teriakan istrinya yang masih dalam pangkuannya dan akan membawanya masuk ke dalam kamarnya.
Sesampainya di dalam kamar Ken membaringkan tubuh istrinya perlahan di atas kasurnya. Ia tersenyum memandangi wajah istrinya yang masih dalam suasana merajuk padanya.
Ia mencium pipi istrinya lalu mendongakan kepalanya melihat kembali istrinya yang memalingkan pandangannya.
__ADS_1
"Kamu tahu sayang, tadi itu aku bertemu seorang wanita paruh baya berjualan gado- gado dengan bakul di punggungnya yang berat. Saat aku sedang frustasi mencari apa yang kamu minta dan aku tidak bisa menemukannya," ucap Ken.
Dilla masih diam dengan hati yang masih bergemuruh saat di gendong suaminya. Tapi ia mencoba untuk untuk bertahan karena kesal pada suaminya yang terlambat memenuhi keinginannya.
Alhasil saat ia sedang tidak mau diam mondar mandir ingin makan gado-gado ia memilih untuk keluar dan mencari sendiri. Saat ia berjalan keluar dari Apartmentnya salah satu anak buah Ken melihatnya dan menawarkan untuk mencarikannya. Hingga akhirnya Dilla memakan gado-gado yang di belikan anak buah Ken dua bungkus sekaligus dengan level pedas kadar tinggi.
Megingat itu semua Dilla kembali kesal pada suaminya yang baru pulang bahkan memakan sendiri gado- gado miliknya.
Ken tersenyum mendapati istrinya yang masih diam walau sudah tidak berjarak dengan istrinya. Ia mendekati wajah istrinya memegang dagunya dan mencium bibir istrinya dan mendalami setiap inci bibir istrinya untuk membuat Dilla merespon padanya. Ken memperlambat ciumannya dengan sabar walau saat pertama ia mengecupnya, Dilla masih merapatkan bibirnya mendapati ciuman suaminya saat ini.
Semakin suaminya mendalami ciumannya dengan lembut, Dilla semakin menikmati ciuman suaminya yang kini berangsuran tangan suaminya mengusap pucuk kepala Dilla dengan lembut dan tidak melepas pautannya.
Kini Dilla sedikit mendesah dengan sentuhan suaminya. Ia sudah membuka muluynya dan membalas ciuman suaminya.
Ken tersenyum tipis, ia melakukan dan menelusuri seluruh tubuh istrinya dengan lembut, melakukan hubungan suami istri dengan lembut karena mengingat istrinya yang kini sedang hamil besar.
Setelah melakukan desahan dan erangan di sore hari. Dilla tertidur dan Ken masih terjaga. Ia menyelimuti istrinya mengenakan selimut. Ia memandangi wakah istrinya yang kini sudah tidak marah lagi karena kekurangannya yang tidak tepat mewujudkan keinginan istrinya untuk saat ini.
Ken memasuki kamar mandi dan membersihkan diri di bawah sower dengan pikiran masih memikirkan ibu Anah yang belum ia temukan.
Ken keluar dari kamar mandinya dengan tubuh sudah segar dan fres. Ia tersenyum ketika melihat istrinya yang kini tertidur pulas setelah bekerja keras.
Ken melakukan dengan lembut pada istinya sehingga membuat istrinya merasa nyaman dan puas hingga terlelap tidur.
Kini Ken sudah rapih dengan pakaian santainya. Ia duduk dan membuka laptopnya. Ia melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai ia kerjakan tadi pagi.
Saat Ken mengerjakannya, ia melihat pesan masuk pada handponenya. Itu pesan dari Rendi tuannya yang sempat ia pikirkan tadi. Rendi memintanya untuk tidak perlu menjemputnya karena besok pagi juga mereka akan sudah berada di Jakarta.
Ken tersenyum saat mendapati pesan dari tuannya. Ia kini melanjutkan pekerjaannya dengan hati dan wajah berseri setelah melakukan hal menyenangkan bersama istrinya dan mendapatkan pesan dari tuannya.
Bandung.
Adam duduk di pesisian sawah dengan kaki berendam di air sawah yang membuatnya merasa nyaman karena panas yang menerka wajahnya saat ini
yang panasnya trik matahari semakin berada di tengah hari.
__ADS_1
Adam sesekali melihat ke arah seorang wanita yang ia kenali sedang duduk di dekat gubuk dimana ada tuan dan nonanya berada. Ada senyum tipis di balik wajah dingin Adam. Saat ia melihat Nesa seorang wanita yang kini berbalut penutup kepala dengan pakaian seperti nona mudanya dengan pakaian rok dan blouse. Adam bahkan berulang kali memandangi Nesa yang kini sudah menyadari jika seseorang sedang melihat ke arahnya.
Nesa mengerutkan dahinya dan menatap tajam pada Adam yang kini juga memandangnya dengan senyum tipisnya.
"Sialan ... pria bodoh itu sedang menertawakanku dengan pandangan mengejeknya itu," batin Nesa kesal.
Adam memandangi Nesa dengan tanpa ia sadari ada rasa kagum melihat wanita indah di pandangannya.
Nesa bahkan kini berjalan ke arahnya menghampiri Adam dengan tatapan kesalnya pada Adam yang sedari tadi memandanginya dengan senyum mengejek pada Nesa.
Adam melihat Nesa yang kini sedang berjalan ke arahnya dan semakin mendekatinya. Nesa bahkan sudah berada di hadapannya saat ini. Adam mendongakan kepalanya melihat wajah kesal Nesa yang kini sedang menatapnya dengan tajam berdiri di hadapan Adam yang masih dengan senyum tipisnya. Adam memalingkan wajahnya dengan senyum masih terpsncar di bibirnya.
"Hei,pria bodoh ! Apa yang sedang kau tertawakan hah?" Tanya Nesa tajam.
"Rasanya aku tadi melihat seorang wanita menghampiriku, tapi kenapa aku mendengar suara wanita yang bersuara pria ya," ucap Adam.
"Huh, dasar pria idiot lupakanlah aku tidak perlu memberimu minum lagi," cetus Nesa.
Adam menarik tangan Nesa dan membuatnya terduduk di sampingnya. Nesa terkejut dan pandangan mereka bertemu satu sama lain. Adam terdiam dengan pandangan dan pikirannya yang mengagumi tampilan wanita di hadapannya ini.
Nesa membulatkan kedua matanya saat melihat wajah Adam berada dekat dengan wajahnya.
"Pria bodoh ini kenapa menarikku dan membuat jantungku berdetak sekencang ini," batin Nesa.
Nesa memalingkan pandangannya dan duduk di samping Adam. Adam tersenyum dan mengambil air mineral yang Nesa bawa untuknya. Ia menenggaknya dengan tegukan yang lama.
Nesa melihat wajah tampan Adam saat menengguk air mineral darinya tenggakan demi tenggakan Nesa menelan salivanya saat melihat betapa sexsinya pria di hadapannya ini hanya melihatnya minum saja.
Nesa menggeleng kepalanya saat sepintas memikirkan Adam yang terbilang sexsi baginya.
"Gila mana ada pria idiot ini sexsi, aku tendang baru tahu rasa dia," batin Nesa.
Adam menyudahi menenggak minumnya dan menutup kembali penutup botol air mineralnya. Ia beralih melihat ke arah Nesa yang kini sedang melihat pemandangan hamparan padi yang siap di panen.
Nesa tersenyum dengan menghirup udara pedesaan yang sangat jarang dan tidak pernah ia rasakan seperti saat ini.
__ADS_1
l