Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Sebuah Nama


__ADS_3

Pagi hari di sebuah ruangan Rara sedang menyusui bayinya. Bergantian Rendi yang sedang menggendong bayi satunya lagi yang tak lain putra pertamanya yang tangisanya membuat Rendi tak sadarkan diri karena terkejut.


Hingga terdengar ketukan dari arah pintu dan yang datang orang tua Rendi sekaligus mertua Rara. Rendi melihat ke arah yang datang.


"Bagaimana keadaanmu dan cucu-cucuku sayang?" Tanya ibu Ratih.


"Mereka sangat baik dan pintar mereka menangis di saat lapar Mah?" Tanya Rara.


"Mamah senang mendengarnya," ucap ibu Ratih.


"Asalamualaikum Sayang?" Ucap seseorang dari arah pintu masu.


"waalaikum salam Ibu,sudah sampai?" Tanya Rara.


"Iya kami berangkat saat mendengar kamu masuk rumah sakit Sayang," ucap ibu Rara.


Ibu Rara mengecup kening Rara dan memegang pucuk kepala bayi Rara yang sedang menyusu.


"Apa kabar besan," ucap ibu Rara.


"Kami baik bu bagaimana perjalananya?" Jawab ibu Ratih.


"Alhamdulillaah karena jalanan senggang di malam hari kami cepat samapi," ucap ibu Rara.


Dua Keluarga berkumpul di satu ruangan sebagian menunggu di luar ruangan.


Ken tetap setia berjaga di luar ruangan hingga datang Dilla dengan membawa bingkisan.


"Ini sarapanmu jangan sampai kamu sakit karena tidak makan saat berjaga," ucap Dilla.


"Terimakasih calon istri," ucap Ken.


"Heh bodoh! Orang tuaku ada di dalam kan, kenapa kau tak menyapa mereka?" Tanya Dilla.


"Sudah aku sudah menyapa menyalami mereka memang apa lagi?" Tanya Ken.


"Hadeeuh, kamu ini bener tidak peka,orang tuaku tuh kesini mau sekalian menanyakan hubungan kita," jelas Dilla.


"Hmmm kenapa aku tidak merasa begitu?" Tanya Ken bingung.


"Hah sudahlah aku masuk ya," ucap Dilla.


Dilla masuk dan ia melihat dan menyapa seisi di dalam ruangan, termasuk orang tuanya yang mengajaknya keluar ruangan karena tidak baik untuk ruang bayi.


Rara yang sudah berganti menyusui giliran putranya Rendi tampak tajam saat melihat putranya yang sedang minum susu di ibunya.


Orang tua dan mertuanya kini sudah keluar ruangan hanya tinggal mereka berempat.


Rendi memperhatikan payudara istrinya yang kini semakin membesar penuh dengan ASI.


Ia tampak mengeritkan keningnya dan terdiam


melihat putranya tampak rakus minum susu pada ibunya.


"Dia bahkan meminum milikikku yang seharusnya aku yang di sana,"batin Rendi.


Rendi menelan salivanya ia menyimpan putrinya yang sudah terlelap dan menidurkanya di ranjang bayi.


"Sayang," ucap Rendi manja mendekati istrinya dan duduk di samping Rara.


"Hmmm," jawab Rara mendongakan kepalanya.


"Apa dia sudah kenyang?" Tanya Rendi.


"Dia baru saja minum kenapa emang?" Ucap Rara.


"Aku juga mau," ucap Rendi manja.


"Jangan macam-macam kamu harus berpuasa," tegas Rara.


"Hanya yang di atas saja," rengek Rendi manja.


"Kenapa badan segede ini jadi lemah begini sih," batin Rara terheran melihat suaminya.


"Sayang," rengek Rendi.


Rendi mencium istrinya ia memperdalam ciumanya dengan lama sampai tangan Rendi tidak terasa merayap pada dada yang sedang di minum susu putranya.


Karena yang di gemarinya di ambil oleh ayahnya putranya yang sedang menyusui itu menangis kencang. Memberhentikan aksi Rendi yang sedang mencium istrinya Rara terkejut dengan tangisan putranya.


"Kamu bahkan ingin berebut denganku," ucap Rendi.


"Diamlah biarkan dia minum dulu sampai kenyang," ucap Rara.


"Apa itu berarti nanti giliranku?" Tanya Rendi sumringah


"Huh bagaimanna caramu berpuasa malah meningkat begitu keinginanmu," cetus Rara.


Rendi tersenyum mendengar istrinya semakin cemberut rasanya ia tidak ingin melepaskan mulut istrinya itu.


"Kamu sudah ada nama untukk putra putrimu?" Tanya Rara.


"Rayn putra Anggara dan Amira putri Anggara," ucap Rendi.


"Hmmm nama yang tegas dan manis aku suka Sayang," ucap Rara.


Seminggu setelah kelahiranya si kembar.Kini saatnya Rara pulang hari ini dan kedepanya Rendi dan Rara tinggal di rumah utama karena baik untuk perkembangan si kembar.


***


DI RUMAH BESAR ANGGARA


Di rumah besar akan di adakan acara syukuran kelahiran cucu -cucu pertama keluarga Anggara. Karena sudah satu bulan lebih usia si kembar untuk itu sudah bisa di bawa dalam kerumunan di ruangan luas.


Rara sedang tertidur duduk di kursinya sambil memeluk putranya Rayn.Setelah putrinya sudah tertidur pulas di ranjang bayi dalam keadaan kenyang. Rendi menghampiri mereka melihat istrinya yang terlelap.


"Terimakasih istriku tercinta kamu telah memberi kebahagiaan pada keluargaku," ucap Rendi mencium kening istrinya dan mengampil Putranya yang sudah lepas dari payudara istrinya.


Rara yang menyadari ada yang mengambil putranya dari pangkuanya.


Ia membuka kedua matanya dan terbangun ia tersenyum karena suaminya memindahkan Rayn ke tempat tidur.


"Bukankah di bawah sedang sibuk sayang kenapa kemari?" Tanya Rara.


"Aku merindukanmu," jawab Rendi.


"Bukankah setiap saat bertemu," ucap Rara.

__ADS_1


"Tapi kamu jarang memanjakan suamimu," ucap Rendi.


"Di antara putra putriku kamu yang paling rakus," ucap Rara ia merangkul pundak suaminya dan menempelkan bibirnya pada suaminya.


Rendi mencium istrinya dengan dalam ia seperti kehausan. ciumanya turun ke leher jenjang istrinya ia meninggalkan beberapa bekas disana.


Rara yang baru merasakan sentuhan suaminya kembali. Ia mulai memejamkan dan membuka matanya.


Suaminya menghentikan aktivitas suaminy itu dan Rendi menggendong istrinya membaringkan istrinya di atas ranjang.


"Apa sudah boleh?" Tanya Rendi.


"Harus menunggu lagi," jawab Rara.


"Tapi aku sudah laper," lirih Rendi


"Aku juga ingin di makan," ucap Rara.


"Pelanlah sedikit aku takut sakit," ucap Rara.


"Baiklah," ucap Rendi.


Rendi menelusuri tubuh istrinya yang sudah sebulan lebih tidak ia sentuh Rendi hanya setengah badan selama ini.


"Aah disitu sakit sekali, kenapa bendamu jadi tajam begitu aku sakit tahu," bentak Rara.


Rendi yang mendengar itu ia terdiam dan menunggu istrinya mereda setelah itu ia hanya memajukan perlahan -lahan hingga tidak ada keluhan lagi dari istrinya. Mereka melakukan aktivitas suami istri di dalam kamarnya.


Untuk kali ini si kembar sama sekali tidak mengganggu mereka malah tampak tertidur pulas karena kenyang minum susu tadi.


Rendi yang lelah sehabis olahraga begitupula istrinya. Mereka berpelukan di atas kasur dan tidak melepas ciuman, mereka tetap dalam melepas kelehan mereka hingga tertidur juga.


Di bawah di ruangan tamu dua keluarga berkumpul orangtua Rara yang ikut hadir dalalm acara cucu-cucu mereka kini sedang berbincang dengan keluarga Anggara.


"Dimana Rendi dan Rara?" Tanya ibi Rara.


"Mereka ada di atas sedang menidurkan si kembar," jawab ibu Ratih.


"Sekalian mereka juga tidurr," batin Dilla ia melirik ke arah Ken yang sedang berbicara pada para pelayanya.


"Kenapa dia malah semakin tampan ya," gumam Dilla tersenyum melihat ken.


"Ibu rasa sama saja," bisik ibu Dilla.


"Iiih ibu apaan sih ngagetin aja," ucap Dilla.


"Hangan lama-lama nanti keburu tua," ucap ibu Dilla.


"Tua apanya aku kan masih muda ," cetus Dilla.


Rara terbangun setelah mendengar ketukan di pintu kamarnya ia mengenakan dresnya dan membuka pintu.


"Ia ada apa ?" Tanya Rara.


"Kamu habis tugas Ra?" Tanya Dilla celingak clinguk.


Rara menahanya agar tidak masuk.


"Bibi dan nyonya ingin melihat si kembar bawa kebawah yaa sini sama aku," ucap Dilla.


"Aku kan tantenya sama sajakan," ucap Dilla.


"Tapi mereka berdua Dilla kau memang bisa gendong mereka?" Tanya Rara.


"Iya sebentar ya aku panggil babysisternya," ucap Dilla tertawa.


Kini si kembar di bawa ke ruangan di mana nenek dan kake mereka disaana tidak dengan Rara yang masih harus membangunkan suaminya.


"Sayang ayo bangun siap-siap sebentar lagi acaranya di mulai," ucap Rara.


Rendi malah mencium bibir istrinya dan menindih istrinya. Rara yang mendapat serangan dari suaminya menahan dan mendorongnya.


"Sudah yaa kita harus bergegas mandi ," ucap Rara.


Rendi menggendong istriya dan masuk ke kamar mandi bersama.


Ia tidak melepas bibirnya yang menempel pada istrinya. Rara yang tidak mungkin bisa menolak suaminya yang seperti baru bertemu mereka melakukanya kembali hubungan intim di kamar mandi.


Kini Rendi dan Rara menuruni tangga bersama.


Rara yang tampak kehabisan tenaga ia berjalan lambat dengan memegang lengan suaminya.


lain dengan Rendi seperti mendapat hadiah terbesar dalam hidupnya ia tampak berseri bahagia tidak luput dari senyuman penuh kemenangan dari wajahnya.


Keluarga besar dan para tamu yang melihat kedatangan mereka berdua tampak bahagia melihat kecocokan mereka. Rendi yang tampan gagah tinggi juga pengusaha sukses.Rara yang cantik alim Rapih dengan senyumanya yang ramah mereka bagaikan pasangan yang serasi.


"Sayang kenapa mereka melihat kita apa adabekas ciumanmu di wajahku?" Bisik Rara.


"Itu karena kamu cantik Sayang," bisik Rendi.


Pembawa acara sudah mulai membuka acara akan mengumumkan kelahiran putra dan putri Rendi Anggara sekaligus Cucu dari keluarga Anggara.


Setelah acara berlangsung dan para tamu pulang .


keluarga besar berakhir dengan berbincang bersama di ruang tamu hingga larut malam. Rara yang tampak kelelahan ia bahkan tertidur di bahu suaminya di tengah-tengah keluarga.


Rendi mengusap wajah istrinya dan mencium kening istrinya.


"Bawa kembali ke kamar sepertinya dia kelelahan setelah mengurus kedua anaknya hari ini,"ucap Nyonya muda.


"Bukan dua Mamah tapi tiga," batin Rendi.


Ia mengangguk dan menggendong istrinya kembali ke kamar disana sudah ada Rayn dan Amira yang sedang tidur pulas.


"Sepertinya kalian juga kelelahan ya setelah seharian ini minum susu di istriku," gumam Rendi.


Keluarga baru Rendi kini tertidur damai di ranjang mereka Rendi yang memeluk istrinya.


Putra putrinya yang berumur lebih dari sebulan itu tertidur dengan damai.


Prolog


*Dilla*


Dilla di dalam mobil dengan Ken kekasihnya ia melirik beberapa kali pada Ken tapi sama sekali tidak ada pembicaraan yang di mulai oleh Ken.


"Aku akan pulang ke Bandung," ucap Dilla.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Ken.


"Mungkin orang tuaku akan menikahkanku dengan pria di sana," ucap Dilla.


"Kenapa" Tanya Ken tanpa ekspresi.


Ini orang kenapa sekaku ini sih tidak ada khawatir-khawatir sama sekali," batin Dilla.


"Apa perlu aku ke rumaah orang tuamu juga?" Tanya Ken.


"Untuk apa?" Ucap Dilla.


Untuk memilikimu seutuhnya," jawab Ken.


"Uuh manisnya, tapi dia dingin banget," batin Dilla.


"Jika bukan pernikahan tidak usah kesana," cetus Dila.


"Baiklah," ucap Ken.


"Baiklah apanya?"Tanya Dilla heran.


"Baiklah kita menikah," jelas Ken.


"Benarkah serius?" Teriak Dilla Ken mengangguk.


"Oh my honey i love you forever kamu memang yang terbaik dan aku ingin menciumu," teriak Dila.


Tiba- tiba Ken memberhentikan mobilnya ia terdiam dan Dilla terkejut dengan mobil yang terhenti mendadak.


"Apa boleh?" Tanya Ken.


"Apanya?" Tanya Dilla.


"Kamu menciumku?" Tanya Ken.


"Tentu saja muah."Dilla mencium pipi ken dan ia tersenyum.


Ken mangambil inisiatip untuk mencium bibir Dilla dalam.


Mereka menikmati dan saling bertautan ciumannya .


Ken dengan rakus mencium bibir kekasihnya. Sampai tanpa ia sadari tanpa aba-aba tangan Ken meremas payudara Dilla dan Dilla mendorongnya.


"Apa yang kamu lakukan?" Teriak Dilla.


"Maaf," ucap Ken terkejut dengan reaksi Dilla.


"Sudah ku bilang aku ingin menikah untuk mencegah hal seperti ini Ken seharusnya kamu sudah paham tentang ini. Aku meminta kamu menikahiku bukan karna aku takut kehilangan kamu saja tapi agar tidak terjadi hal yang tidak di izinkan yang akan menimbulkan godaan sahwat kita," teriak Dilla menangis histeris.


Ken yang melihat Dilla menangis ia terdiam dan mencoba menyentuh tangan Dilla tapi ia tidak berani.


"Sebaiknya kamu pikirkan saja bila memang kamu tidak berniat kita menikah sebaiknya tidak perlu ada hubungan antara kita terkecuali kamu sahkan aku," teriak Dilla.


Ken melajukan kembali mobilnya ia terbawa dengan perkataan Dilla yang selama ini tidak pernah berteriak.Ia menangis histeris seperti itu hingga sampai di Cafe tidak ada pembicaraan di antara mereka.


Dilla keluar dari mobil tanpa berbicara pada Ken ia berlari ke arah tempat tinggalnya.


Ken yang melihat Dilla pergi ia terdiam tidak langsung menghidupkan kembali mobilnya dan ia terdiam di dalam dengan pandangan tanpa arah.


"Sebaiknya aku segera bertindak," gumam Ken.


Ken menelpon Mark dan juga iyas setelah itu ia menelpon Rendi tuan mereka.


Rendi yang baru akan tertidur karena sibuk dengan Rayn yang terbangun minta minum susu. Ia juga harus membangunkan istrinya dan menemaninya bergantian si kembar minta minum susu dan Rendi menidurkan mereka setelah itu Rendi dan Rara kembali ke ranjang mereka .


"Aku juga mau minum susu," ucap Rendi.


"Minta pelayan buatkn ya," jawab Rara.


"Kamu ingin aku minum susu dari pelayan ?" Tanya Rendi.


"Memang bukan?" tanya Rara.


"Aku mau susu yang sama dengan Rayn dan Amira," ucap Rendi tersenyum.


"Aku lelah Sayang nanti saja ya," ucap Rara.


"Tapi aku mau!" Ucapan Rendi terpotong karena suara dering handponenya bunyi ia bergegas mengangkatnya.


"Kalau tidak penting aku bunuh dia," ucap Rendi.


"Ada apa?" Tanya Rendi malas.


"Apaaa?" Teriak Rendi kembali ia membulatkan kedua bola matanya terkejut.


Rara yang melihat suaminya terkejut ia mengerutkan dahinya.


"Ada apa kenapa sampai teriak," tanya Rara.


"Oke baiklah kita akan rencanakan secepatnya," ucap Rendi menutup telponya bukanya menjawab Rendi malah tersenyum dan menghampiri istrinya dan mencium bibir istrinya.


Rara yang melihat tingkah suaminya itu ia heran dan bersadar di dada telanjang suaminya dan Rendi tersenyum memeluk istrinya. Rendi ikut tertidur dengan istrinya.


Sepertiga pagi Rara terbangun ia mellihat ke arah anak-anaknya yang tertidur pulas. Rara ke kamar mandi ia kini memang sudah bersih dari nifasnya hingga ia berani melakukanya dengan suaminya. Karena sudah hampir dua bulan ini suaminya berpuasa.


Rara bersembahyang setelah itu ia melihat kembali putra putrinya yang masih terlelap.


"Jadilah kalian anak-anaku yang baik dan beriman jangan jadikan ambisi menjadi tuanmu menjadilah seseorang yang tau cara mengatur kehidupan yang baik untuk diri sendiri dan keluarga," ucap Rara mencium kening putra putrinya.


Di kediaman Rumah Besar sudah banyak para pelayan yang berlalu lalang dengan pekerjaan mereka masing-masing.


Rara menuruni tangga dengan menggendong baby Rayn juga Amira yang bersama babysusternya.


Rara menghampiri ibu mertua dan ibunya yang masih belum kembali ke Bandung.


"kemarilah Sayang kamu mau sarapan apa?" Tanya ibu Rara.


"Aku mau makan nasi bu aku lapar sekai mereka sangat tidak kenal kenyang," ucap Rara.


"Baaiklah dimana suamimu?" Tanya ibu Rara.


"Dia masih tidur mana mungkin sudah bangun," ucap Rara.


"Siapa yang kamu bilang belum bangun Sayang?" Ucap Rendi dari belakang Rara ia menghampiri istrinya dan mencium pucuk kepala istrinya.


Mereka sarapan pagi bersama.

__ADS_1


__ADS_2