
Ken yang tidur di sofa kamar tidurnya ia melihat istrinya yang tidur terlentang tanpa selimut.
"Ternyata dia membuang selimutnya," gumam Ken menggelengkan kepalanya.
Sebenarnya saat ini Ken ingin menghampiri istrinya menciumnya memberikan selimut pada tubuh istrinya. Tapi ia urungkan karena setiap kali ia melakukannya istrinya akan terbangun dengan hanya Ken berjalan mendekatinya .
Ken terduduk di sofanya melihat istrinya yang baginya kecantikannya no dua setelah nona mudanya.
"Hahaha, aku sudah gila di buat penasaran karena Nona muda yang sangat manis,tapi istriku jauh lebih manis," batin Ken.
Awalnya Ken sempat menyukai Rara tapi ternyata tuannya jauh lebih depan darinya sehingga apapun itu Ken selalu mendukung Rendi dalam hal apapun. Hingga Ken mengalihkan perhatiannya pada Dilla yang semakin lama membuat Ken ingin melindungi Dilla juga membuatnya menyayangi Dilla apalagi saat ini dia sudah sah jadi suaminya.
Ken bahkan akan melakukan apapun itu dalam melindunginya untuk dua wanita ini,Dilla juga nona mudanya.
Karena setiap hal yang Rendi suka apalagi yang ia sayangi harus Ken lindungi sama persisnya tuannya.
Ken tertidur sekitar dua jam ia menutup mata, sudah ada sesuatu yang membuatnya sesak,Ken membuka kedua matanya,ia sudah tahu apa yang menindihnya. Ken terbangun dari tidurnya duduk,istrinya yang tertidur di atasnya ia kecup keningnya sampai bibirnya. Ken seperti mendapatkan makan setelah berhari-hari berpuasa.
Ken membaringkan istrinya Dilla menarik tubuh Ken hingga sekarang Ken yang berada di atas tubuh Dilla.
Ken mencium tanpa henti wajah Dilla, yang pipinya kini mulai mengembang terlihat berisi setelah bersama Ken dan pernikahanya.
Ken membenarkan setiap posisi istrinya seperti tidak mau berhenti mencium istrinya.
Tanpa henti Ken menggendong istrinya sampai di atas ranjang mereka,dan melanjutkan aktivitas mereka.
Dilla yang semakin tak beraturan ia menarik rambut suaminya yang pendek. Ia membalas setiap kecupan suaminya hingga mereka menyelesaikan aktivitas mereka,hingga malam dan tertidur kembali tanpa penutup.
Sekitar jam enam pagi Ken sudah bersiap untuk berangkat ke kantornya.
Dilla yang sedang makan menghadap suaminya ia dengan lahap makan.
Ken melihat istrinya yang dengan rakus menghabiskan makannya.
Ia tersenyum berdiri pamit untuk berangkat bekerja.
"Nanti pulangnya jangan sore-sore ya malam aja kalau aku sudah tidur," ucap Dilla tersenyum mencium bibir suaminya.
Ken mengangguk dan mencium kening istrinya. Dilla memeluk erat suaminya.
Ken pergi menuju mobilnya, dan berangkat ke rumah besar Anggara.
Kendaraan Ken memasuki rumah besar utama Anggara.
Ken duduk di kursi depan rumah.
Ada penjagaan ketat di rumah besar mereka sudah kenal Ken.
Bahkan mereka menghhormati dan menuruti sama seperti perintah Rendi.
****
KEDIAMAN ANGGARA
Rendi yang terbangun karena si kembar terbangun, minta susu di sepertiga pagi,ia melihat istrinya sedang memberi minum susu pada Amira.
Rayn yang menendang-nendang wajah ayahnya,membuat Rendi terbangun Rendi menggendong Rayn mengajaknya berbicara.
Rara yang melihat suaminya terbangun karena ulah Rayn ia terenyum.
"Kamu tidak perlu bangun sayang Rayn gak akan menangis,sepertinya dia sudah mulai terbiasa dengan antriannya," ucap Rara tersenyum.
"Hahaha, pake acara antrian segala kamu sayang, tapi memang iya sih, baby Rayn jagoan Papa emang udah semakin pintar Papanya aja ia berani tendang," ucap Rendi.
"Tidak apa-apa sayang aku temanin kamu sama si kembar ya," tambah Rendi memainkkan tangan Rayn yang menendang-nendang kakinya padanya.
Setelah Amira tertidur kembali.Rendi memindahkan Amira ke ranjang bayi.
Rara yang sedang memberi minum susu Rayn, ia memanjakan putranya dengan gemasnya menciumnya.
Rendi tersenyum menghampiri istrinya.
"Itu milikku cepat besar jangan lama-lama minjam kesukaanku," ucap Rendi manja menusuk-nusuk pipi Rayn.
Rayn menepiskan tangannya pada tangan Rendi,membuat Rendi memajukan mulutnya cemberut. Rara yang melihat tingkah suaminya ia tertawa dan mencium wajah suaminya.
"Nanti giliranmu Sayang," bisik Rara.
Rendi tersenyum ia mengangguk, saking bahagianya ia melebarkan senyumannya,sambil bersender menunggu .
Rendi sekali-kali menusuk-nusuk pipi istrinya.Lalu memainkan tangan Rayn, menyentuh pipi Rayn, berpindah pada mulut yang berpautan dengan istrinya, tagan Rendi turun ke area dada yang sedang menyusui Rayn. Ia menusuk tusuk agar bisa lepas dari pautan Rayn,tapi tangan Rayn malah menutupinya dengan erat tanpa melepas pautannya. Rendi kesal sampai mengecup pipi Rayn tanpa henti,agar dia melepas pautannya tapi gagal membujuknya Rendi terduduk menunggu.
Setengah jam lamanya Rara menyusui Rayn,kini sudah tertidur. Rara melihat ke arah suaminya yang tertidur memeluk bantal guling,Rara tersenyum dan memindahkan Rayn ke atas ranjang Rayn,Rara mencium putranya yang tertidur pulas.
"Mimpi indah Sayang," bisik Rara pada Rayn.
Rara menghampiri suaminya yang tertidur,ia tersenyum melihat wajah suaminya yang tampak lelah, Rara mencium pipi Rendi,ia me ngambil bantal yang di peluk Rendi.
Rara memeluk Rendi dan tertidur saling berpelukan.
Rendi yang berpura-pura tidur ia tersenyum hatinya bahagia saat istrinya memelluknya.
Rara tidak bisa tidur walau sudah memeluk suaminya,ia memilih bangun dan ke kamar mandi,Rara keluar dengan segar habis mandi,ia sembahyang setelah itu melihat ke arah suaminya masih tertidur.
__ADS_1
"Hmmmm, kenapa aku jadi gundah begini sih ko gak bisa tidur?" Gumam Rara.
Rara berselonjoran di atas ranjang kasurnya,hingga ada sesuatu yang menindihnya. Rendi menciumi pucuk kepala Rara memeluk erat menciumi setiap lekuk leher istrinya,hingga membuat Rara membalikan tubuhnya.
"Sayaang kamu kenapa?" Tanya Rendi serakk.
"Hmmmm, tidak apa-apa hanya tidak bisa tidur lagi saja,"jawab Rara.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita olahraga pagi," ucap Rendi menggoda.
"Hmm," ucapan Rara terhenti saat ia mau protes tapi Rendi menciumnys dengan intens mendalami ciumannya.
Rara menyerah untuk protes.
Rendi membalik tubuh istrinya hingga berada di bawahnya,Rendi tidak melepas ciumannya.
Ia bahkan dengan semangatn pada istrinya hingga ke habisan nafas. Rendi melepas pautannya terengah melihat wajah istrinya,
ia tersenyum mengecup setiap inci wajah istrinya turun ke lehernya juga dengan tangan yang tidak berhenti merayap ke bagian istrinya yang lain.
Rendi tersenyum melihat istrinya yang sudah tidak kuat menahan kantuknya.
Rendi memeluk istrinya menciumi setiap wajah istrinya.
Ia teramat tidak mau kehilangan istrinya,dengan dalam dan erat ia memeluk istrinya menyusupkan kepalanya di dada istrinya.
Rendi melepas pelukannya,ia tersenyum melihat istrinya tersenyum manis padanya.
"Sayang kamu mengantuk? Bagaimana kalau kita mandi dulu?" Ajak Rendi.
"Kenapa?Aku hanya mengantuk saja sayang," jawab Rara menguap.
"Supaya kamu segar aku lihat kamu sangat lelah lebih baik kamu mandi dulu agar tidurmu nyenyak juga," ucap Rendi.
Dengan senyum di wajahnya yang bahagia. Ia menyentuh dagu istrinya dan mengecupnya.
Rendi menggendong istrinya ke kamar mandi.
Rendi menggosok tubuh istrinya saat mandi di bathroom bersama begitupun Rara mengusap dada bidang suaminya di bawah sower.
Rara keluar kamar mandi dalam pangkuan suaminya,ia rangkul suaminya dengan rambut basah begitupula Rendi.
"Makasih ya Sayang," ucap Rendi.
"Terimakasih juga suamiku," jawab Rara.
"Ayo kita ke bawah hari ini Ken menunggu di bawah," ucap Rendi.
"Sepagi ini?" Tanya Rara terkejut.
"Kenapa?" Tanya Rara ia juga mengenakan dres panjang warna peachnya.
"Iya,setiap hari dia selalu datang lebih awal," jelas Rendi.
"Kenapa sepagi ini?" Tanya Rara.
"Karena sodarimu itu tidak mau Ken dekat-dekat dengannya," ucap Rendi memegang wajah istrinya yang banyak pertanyaan.
"Kenapa?" Tanya Rara lagi.
Rendi memegang wajah istrinya dan ia menciuminya di dalam ke adaan istrinya yang malas. Ia mengecup bibirnya tanpa henti. Rara hanya terdiam dengan kelakuan suaminya tapi tidak dengan pikirannya. Ia masih banyak pertanyaaan yang akan di lontarkan pada suaminya jika sudah di lepas ciumannya.
Rendi yang mengetahui istrinya masih menyimpan banyak pertanyaan. Ia menurunkan tangannya ke bagian tengah istrinya, dan hingga ada sahutan dari istrinya dan membulatkan kedua matanya.
Kali ini Rara membalas ciuman suaminya,ia paham bahwa suaminya sedang mengalihkan setiap pertanyaannya makanya ia mencoba mengimbangi tingkah suaminya ini.
Rendi melepas aktivitas suaminya hingga melihat wajah istrinya yang dengan lunglai menggoda.
"Kamu menggodaku lagi sayang dengan wajah seperti itu?" goda Rendi.
"Aku akan melayanimu selalu jika kamu menjawab pertanyaanku," jawab Rara tersenyum.
Rendi mengerutkan keningnya, ia tidak percaya cara kali ini tidak mampu mengalihkan setiap pertanyaan panjang dari istrinya.
"Hehe Sayang, aku tidak tahu kenapa yang pasti ini peraturan yang di buat sodarimu beberapa hari ini,Ken bahkan di suruh pulang malam oleh Dilla," jelas Rendi.
"Apa dia gila masa suami di suruh pulang malam?" Teriak Rara.
"Bukannya kamu sudah tahu dia gila," ucap Rendi tersenyum.
"Aku serius Sayang," ucap Rara.
"Iya aku tahu tapi itu yang terjadi," jelas Rendi.
"Aku akan ke Apartment Dilla," ucap Rara.
"Tidak boleh!" Tegas Rendi.
"Kenapa?"Tanya Rara heran.
"Pokonya tidak boleh!" Tegas Rendi lagi.
"Kenapa Sayang," tanya Rara.
__ADS_1
"Kamu ini baru juga pulang kenapa harus pergi," ucap Rendi.
"Pergi kemana aku hanya bertemu Dilla sayang," jelas Rara.
"Aku tidak mau kamu keluar dan di lihat orang lain," ucap Rendi dingin.
"Hah peraturan macam apa ini?" Batin Rara.
"Tapi,,," Ucapan Rara terhenti,Rwndi meninggalkannya ke ruang ganti.
Rara terhenti saat Rendi pergi ke ruang ganti,ia terdiam dan melihat ke arah Rayn dan Amira yang sudah bangun.
Rara menggendong mereka berdua karena sekarang mereka sudah bisa merayap dengan usia sepuluh bulan.
Rendi yang melihat Rara keluar dari kamarnya, membawa anak-anaknya tanpa minta bantuan Rendi,ia merasa prustasi dengan keinginan istrinya yang selalu harus terlaksana.
Rendi menuruni tangga dengan memakai pakaian kantor,ia melihat istrinya yang sedang bermain. Dengan Rayn dan Amira yang kesana kemari memainkan mainan di lantai, ada orang tua Rendi yang duduk di sofa memperhatikan tingkah cucu mereka.
Rendi tersenyum melihat moment tersebut,ia menghampiri istrinya.
"Sayang sarapan dulu," ucap Rara.
Rendi mengangguk ia mengikuti istrinya yang berjalan duluan.
Walau tidak terlihat sedang bertengkar,tapi Rendi tahu bahwa istrinya sedang mencoba bersikap acuh dengan manis di depannya.
Rendi mendekati Rara yang sedang menyiapkan sarapan di piring Rendi.
Rendi memeluk Rara dari belakang dan membenamkan kepalanya di leher istrinya mencium aroma harum istrinya.
"Sayang nanti biar Dilla yang ke sini ya," bisik Rendi.
"Hmm," jawab Rara.
"Apa aku akan mendapatkan kiss morningnya?" Bisik Rendi manja.
"Hmm." Rara masih tak bergeming.
"Apa aku akan mendapatkan pelukan dari istriku?" Bisik Rendi lagi.
"Hmmm." Rara mulai geram.
"Apa aku akan mendapat minum susu darimu?" Goda Rendi tersenyum saat istrinya membalikan badannya dengan wajah kesal.
Rara menatap suaminya yang tersenyum lama,ia memajukan wajahnya pada suaminya.
"Astaga apa yang di lakukan istriku ini kan di bawah banyak orang ada mama papa juga sayang ayo ke kamar saja," batin Rendi teriak.
Rara semakin memajukan wajahnya pada suaminya,membuat jantung Rendi berdetak kencang tak karuan.
Rendi tidak mau tambah membuat kesal istrinya bisa-bisa ia akan di diaminya seharian full.
Rara masih memajukan wajahnya mendekati wajah suaminya,orang tua Rendi yang melihat mereka lebih memilih berpura-pura tidak melihatnya begitupun para pelayan yang berlalu lalang.
Doni yang baru masuk ke dapur ia melihat ke arah ruang meja makan dengan kedua mat membulat keluar.
"Astaga setelah lama tidak kesini nona muda semakin cantik juga semakin mesra hubungannya dengan tuan,mereka mau ngapain?" Batin Doni.
Sebuah tangan menepuk pundaknya,membuatnya terkejut dan melihat pamannya berdiri di belakangnya dengan tatapan datarnya.
Doni pergi melalui pintu belakang setelah mengirim sayur dan buah-buahan yang di minta rumah besar, karena saat ini ia bertanggung jawab dalam merawat perkebunan sayur dan buah-buahan keluarga Anggara yang jaraknya tidak jauh dari rumah utama.
Rendi yang memejamkan matanya ia tidak merasakan apa-apa yang terjadi ,saat ia membuka matanya Rara berbisik.
"Mau ya," bisik Rara tertawa ia lari meninggalkan suaminya yang terkejut bingung dengan tidak terjadi apa-apa pada dirinya.
Rendi melihat istrinya yang meninggalkannya dengan tawa Rara.
Rara menjulurkan lidahnya juga memasang tangan kecupan padanya dan berbalik menghampiri Rayn dan Amira berada.
"Sangat manis dan cantik," gumam Rendi tersenyum.
"Iya manis," ucap Ken yang sedang duduk sarapan memakan sarapannya.
"Kau siapa yang kamu bilang manis hah !" Bentak Rendi.
"Tentu saja coklat ini memang apa?" Jawab Ken datar.
"Kau pikir coklat itu manis yang manis itu istriku," cetus Rendi duduk dan memakan sarapannya.
"Tuan ingin saya bilang istri tuan yang manis atau coklat ini?" Tanya Ken serius.
"Kau." Rendi tidak melanjutkannya.
"Jangan pernah bilang istriku manis lagi dia istriku," cetus Rendi.
"Hmmm." Ken melanjutkan makannya.
"Nanti istrimu suruh ke sini," ucap Rendi.
Ken tersedak saat mendengar kata istrinya ia terkejut.
"Kenapa dia bahkan tidak ingin bertemu denganku ?" TanyaKen memelankan suaranya.
__ADS_1
"Tapi dia tidak bilang tidak mau bertemu istriku kan," jelas Rendi.
Ken mengangguk terdiam,ia tidak pernah berpikir bahwa istrinya,hanya tidak mau bertemu dengannya atau dengan orang lain juga.