Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Sore Hari


__ADS_3

Setelah menyelesaikan aktivitas mandinya, Rara keluar dari kamar mandi dan melihat suaminya masih duduk di tepi ranjang kasurnya dan menatap istrinya yang baru keluar dari kamar mandi. Rara tersenyum begitupun suaminya. Rara berjalan menghampiri suaminya dengan senyum manis di bibirnya.


"Sayang, ayo mandi dan sholat dulu!" ajak Rara.


Rara berjalan dan membuka lemarinya yang kini sudah tersedia kebutuhannya. Mark sudah mempeesiapkan kebutuhan Rendi dan Rara, bahkan semua kebutuhan keluarga Rendi. Mark sudah menyiapkannya. Entah itu pakaian, bahkan kain untuk beribadah seperti yang biasa Rara lakukanpun, Mark sediakan. Walaupun Mark terbilang, bukanlah seorang muslim, melainkan dia seorang ateis. Akan tetapi, Naura putri satu-satunya itu adalah gadis muslim. Naura mengikuti jejak almarhum ibunya yang asli Indonesia dan beragama Islam. Ia ingin mengenali ibunya dari cara hidupnya. Meski dalam hal apapun Mark tidak pernah mau bercerita tentang ibunya padanya.


Rara melakukan sembahyangnya dengan Rendi yang menjadi imam. Kini Rendi sudah terbiasa menjadi imam untuk istrinya. Itupun atas paksaan dan permintaan Rara yang sedang hamil anaknya yang ketiga ini. Rendi belajar keras sebagai muslim yang taat. Walau pekerjaan dan setiap langkahnya selalu berhubungan dengan hal yang di luar nalarnya.


Setelah beribadah, Rendi melihat istrinya yang kini duduk di tepi ranjang dan mengenakan penutup kepalanya kembali dengan rapih. Rendi tersenyum dan mengahampiri istrinya, dengan lembut dan sambutan senyum hangat dari istrinya. Rendi tersenyum dan merangkul pinggang istrinya dan mengecup kening istrinya. dengan lembut.


"Sayang, apa masih mau melanjutkannya?" tanya Rara dengan senyum manisnya.


"Tentu, aku ingin tahu cara istriku memakanku!" jawab Rendi dengan senyumnya.


"Hmm ... memakanmu?" tanya Rara.


Rara mengerutkan dahunya mendengarkan ucapan suaminya yang baginya tidak masuk akal. Rendi semakin tersenyum dan mengecup bibir merah ranum istrinya yang sedang menatapnya.


"Maksudmu?" tambah Rara.


"Bukankah, tadi kamu bilang mau memaknku karena aku manid?" jawab Rendi tersenyum manja.


"Kapan? Aku mana ada bicara begitu?" bantah Rara mengerutkan dahinya.

__ADS_1


"Kamu mau menyangkalnya Sayang? Ada Naura loh yang jadi saksi ucapanmu!" jelas Rendi menyusupkan kepalanya di leher istrinya.


"Hmm ... iyakah? Aku tidak ingat! Lalu kamu maunya apa sayang?" tanya Rara.


"Aku mau kamu makan!" rengek Rendi manja.


"Dih, apaan? Masa cewek makan kamu? Gak mau!" jawab Rara.


"Tadi katanya mau makan aku?" ucap Rendi melas.


"Hmm, ayo lakukan!" ajak Rara tersenyum manis.


Meski, ia baru saja dan mengenakan kerudungnya. Rara membiarkan suaminya melakukan haknya sebagai seorang suami kepada dirinya. Mengingat kehamilan untuk yang kedua ini. Rara lebih agresip menanggapi cumbuan suaminya. Ia lebih banyak mendesah dan berinisiatip membimbing suaminya untuk lebih aktip lagi dalam hal initim ketika mereka hanya berdua saja di dalam kamarnya.


Saat melihat wajah istrinya yang sayu memelas. Rendi tersenyum dan melum*t habis bibir ranum milik istrinya yang baginya seperti sebuah candu.


Rendi tampak semakin bergairah, ketika melihat istrinya yang tampak tidak sabar karenanya.


Dengan gerakan cepat dan agresif, Rendy mengatur nafasnya yang berderu semakin gusar. Ia membuka pakaian istrinya kini istrinya sudah tak mengenakan helaian benangpun dihadapannya. Rara tersenyum manis menyambut belaian suaminya. Rendy yang seperti melihat makanan yang membuatnya terasa ingin segera makannya.


"Istriku ini begitu indah, " desis Rendy.


"Katakan padaku apa yang ditunggu tubuh seindah ini sayang? Kenapa tuh tubuhmu semakin indah setiap kali aku menyentuhnya apalagi mereka berdua," tatapan Rendy beralih melihat mata indah Rara.

__ADS_1


Rendi juga menatap gundukan besar yang sudah merekah, mengingat Rara yang sedang mengandung. Rahang Rara mengeras dengan sorotan mata yang menggoda suaminya. Lain dari Rara yang selama ini selalu malu-malu. Apalagi dalam hal intim, yang sering mereka lakukan selama ini. Mereka selalu terbilang sangat tertutup. Bahkan untuk mengucapnya pun, Rara selalu protes kepada suaminya. Jika Rendy mengatakan hal vulgar di depan umum. Tapi lain dari dugaan, untuk kehamilannya yang kedua ini. Rara selalu berinisiatif untuk menawarkan hal itu kepada suaminya.


Rendy tersenyum dan menekan tubuh istrinya perlahan. Ia mencumbu tubuh istrinya dengan rakus. Alih-alih melakukan aktivitas mereka berdua. Rendi malah semakin gemas kepada istrinya. Yang terlihat semakin menggodanya malah memeluk erat tubuh istrinya dengan erat. Dalam keadaan tubuh mereka yang tanpa helaian benangpun.


"Apakah kamu menungguku sayang? kamu menunggu sentuhanku?" bisik Rendy di telinga Rara.


Rara mendesah dengan bibirnya yang merah ranum mendengar pertanyaan suaminya yang mengulur-ulur waktu.


"Aku merasa bahagia disetiap sentuhanmu suamiku," ucap Rara sedikit mendesah.


Dengan deru nafasnya yang berat, Rendi tersenyum mendengar ucapan istrinya. Ia mencumbu seluruh wajah istrinya dan berakhir di bibir ranum milik Rara. Bibirnya yang semakin memerah selama. Rendi melum*tnya dengan ciuman yang mendalam. Baginya memberi kelembutan kepada istrinya adalah hal yang yang sangat diutamakan oleh Rendy. Setelah mendapat persetujuan dari istrinya. Rendi melihat Rara yang sudah memelas menunggu sentuhan dari suaminya.


Ia mulai melakukan aktivitasnya kepada istrinya itu. Hanya suara desahan panas yang terdengar di kamar mereka berdua. Mereka tidak pernah gundah di setiap momen itim keduanya.


Rendy tidak pernah melewatkannya dengan kekecewaan, tapi dia tampak bahagia meski untuk kehamilan kali ini terbilang sangat aneh bagi Rendy. Karena untuk kali ini sangat bertolak belakang dengan sifat asli istrinya Yang selama ini selalu tertutup. Apalagi dalam melakukan aktivitas mereka berdua.


Sesudah melakukan aktivitas panas yang menguras banyak tenaga. Tapi bahagia dan nikmat. Rendy membiarkan Rara tertidur di atas kasurnya. Ia tahu betul apa yang harus dilakukan ketika istrinya sedang mengandung. Dia menutup tubuh istrinya yang tanpa helaian benangpun, dengan selimut dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Setelah selesai dengan aktivitas mandinya, Rendy keluar dari kamar mandi dan kini sudah rapih dengan pakaian santainya. Ia melihat kembali ke arah istrinya yang tertidur pulas dan menghampirinya dengan tersenyum penuh kasih sayang. Rendi mengecup kening istrinya dengan lembut. Mengingat hari sudah mulai gelap, Rendi melihat ke arah jam dinding.


Karena waktu masih terlihat sore, Rendi berjalan menghampiri pintu kamarnya dan keluar dari kamarnya. Ia melihat seorang pelayan berada di depan pintu kamarnya, Ia memerintahkan pelayan tersebut untuk tetap berada di depan kamarnya. Takutnya istrinya terbangun dari tidurnya.


Setelah berbicara pada pelayan itu. Rendi berjalan meninggalkan kamarnya dan menuruni tangga. Ia melihat Mark, Iyas, Ken dan juga Adam. Duduk diruang tamu dengan kopi dan makanan di depan meja tamu. Rendi berjalan menghampiri mereka dengan wajah berseri dan juga segar pakaian yang bersih rapih. Iyas dan Adam melihat kearah di mana datangnya Rendy, dengan sorot mata tajam mereka melihat Rendi yang dengan rambut basah. Ia berjalan dengan wajahnya yang berseri menghampiri mereka berempat. Tanpa menyapa mereka Rendi duduk di sofa dengan santainya dan datar. Bahkan seorang pelayan sudah membawakannya kopi hitam kesukaan Rendi.

__ADS_1


__ADS_2