Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Penyejuk Hati


__ADS_3

Prolog Rendi Rara


Rara turun dari mobil Taxi dan bergegas berlari menelusuri jalanan butuh waktu empat puluh lima menit. Agar Rara bisa sampai di depan rumah sakit.


Rara berdiri sejenak,ia menengadahkan kepalanya melihat tulisan Hospital City terpampang di depan rumah sakit dimana ia berdiri.


Ia menanyakan kepada resepsionis rumah sakit dan ia menaiki lift dengan mencari di setiap ruangan rumah sakit.


Rara mencoba untuk menghubungi Rendi kembali,tapi sama sekali tidak ada jawaban dari Rendi.


Sampai di lorong terakhir paling ujung.


Ia menemukan seorang pria yang berjongkok juga tertunduk prustasi.


Rara menghampirinya.


"Rendi ... " Panggil Rara.


Rendi mendongak melihat siapa yang memanggilnya.Ia tampak kacau juga bahagia saat melihat Rara istrinya yang memanggil namanya.


Rara menghampiri Rendi dan memeluknya.


Untuk pertama kalinya Rara tahu betapa seorang priapun ada di titik lemahnya yaitu perasaan yang hancur.


Tanpa terasa pipi Rara basah karena air mata yang tidak tertahan melihat suaminya sebegitu terpuruknya saat ini.


Rara memeluk dan mengusap punggung suaminya ia merasakan getaran tubuh suaminya saat ini.


Ada hati sakit saat Rara mendapati suaminya tertunduk kepalanya dalam pelukan Rara tapi Rendi sama sekali tidak menangis.


"Dia menahannya,kenapa apa seburuk itu jika seorang pria menangis,padahal akan lebih baik jika kita menangis saat sedang sedih kan," batin Rara.


Sekitar tiga jam operasi berlangsung dan lampu merahpun padam tanda bahwa operasi selesai.


Rara melihat ke arah pintu dan beberapa dokter dan perawat keluar dengan cepat Rendi menghampiri dokter itu.


"Bagaimana Dok keadaan Ibu Saya?" Tanya Rendi.


"Tante,tidak apa-apa Rend,ia baik-baik saja sudah stabil sekarang.Hanya butuh istirahat kalau mau menemuinya sebaiknya tunggu di pindahkan ke ruang khusus dulu," ucap Dokter di belakangnya ia menghampiri Rendi yang tak lain adalah Dokter Dana.


Rendi menghela nafas panjang dan ia melirik istrinya yang dahinya berkeringat.


"Apa kamu berlari,kenapa kamu sampai berkeringat dasar bodoh," ucap Rendi .


Rara mengerutkan dahinya juga tersenyum saat suaminya sudah bisa memarahinya lagi.


Rendi mengusap dahi Rara yang berkeringat, saat ia bergegas tadi.


Rara tersenyum ia tahu bila suaminya sudah baikan karena hanya dengan kata-kata celetuknyalah berarti Rendi dalam kondisi baik-baik saja.

__ADS_1


"Apa kamu gila lagi, di tanya malah tersenyum,kamu jangan menangis nanti tambah jelek," ucap Rendi kembali.


Rara memeluk Rendi dengan intens ia mengeratkan pelukannya yang di terima oleh suaminya.


"Aku tahu kamu akan baik-baik saja," lirih Rara.


"Hmm,karena ada kamu yang menyejukan hatiku," ucap Rendi pada istrinya.


"Apa Istriku ini berlari untuk sampai kesini?" Tanya Rendi.


Rara mengangguk ia memeluk erat tubuh suaminya yang kini sudah berdiri tegak.


"Lain kali minta Ken untuk menjemputmu jangan berlari kamu sampai keringatan begini," gerutu Rendi kesal


Rendi mengusap kening istrinya yang berkeringat juga tubuhnya yang basah.


Rendi dan Rara duduk di luar ruang rawat karena ibu Rendi belum bisa di jenguk.


Hanya Dokter yang boleh masuk, harus menunggu sekitar enam jam untuk pengunjung.


Rara dan Rendi duduk di kursi depan kamar pasien. Mereka berbicara dan juga saling memeluk Rara yang kelelahan


Ia memejamkan matanya dan tertidur dalam pelukan Rendi.


Ken yang masih setia menjaga tuannya ia berdiri di samping dimana Tuan dan Nonanya terduduk dan tidur.


Selang beberapa jam serombongan Keluarga Anggara ,beserta keluarga Nia datang dan melihat moment dimana Rendi memeluk Rara yang tertidur.


Mereka beradu pandang pada setiap orang begitupun dengan Ayah Rendi ia menghampiri Rendi dan Ken.


"Bagaimna Ibumu?" Tanya Ayah Rendi.


Ayah Rendi bertanya sambil sesekali melihat seorang gadis yang anaknya peluk.Selama ini ia tidak pernah melihat anaknya selembut ini.


Ayah Rendi terduduk di samping Rendi ia juga tidak banyak bertanya.


"Operasi berjalan lancar dan kita harus menunggu untuk menjenguk mamah,Pah," jawab Rendi.


Ayah Rendi mengangguk,ia menggeser duduknya mendekati Rara.


Tapi Rendi berpindah hingga posisinya sudah ada di tengah antara Rara dan Ayahnya.


Ayah Rendi tersenyum dengan tingkah konyol putranya,begitupun Ken tersenyum tertahan melihat tingkah tuannya yang konyol.


Karena tidak bisa melihat nyonya besar,sebagian keluarga Anggara memilih untuk pulang dan kembali lagi di esok hari.


Begitupun keluarga Nia mereka memasang tatapan tidak suka saat melihat seorang gadis yang tidur di pelukan Rendi.


"Jadi ini cewek gila yang menjadi istrimu itu Rendi,aku akan kembali dan menghancurkan kalian jika kalian bahagia," batin Nia tersenyum licik.

__ADS_1


Rendi tidak menghiraukan keluarga Nia yang berpamitan untuk pulang padanya dan juga Ayahnya.


Rendi tetap dengan ekspresi datar dinginnya ia memandang ke asal arah.


Ayah Rendi yang melihat dimana putranya memperhatikan istrinya yang sedang tidur.


Ia merasa bahagia saat melihat putranya dengan lembutnya memperlakukan seorang wanita, di hadapannya Rendi bahkan menyenderkan kepalanya pada dinding di belakangnya menutup kedua matanya.


"Maafkan Papa tidak bisa melihat mana yang baik untukmu," ucap Ayah Rendi


"Tidak ada yang perlu minta maaf dan di maafkan Pah,semua sudah Tuhan yang mengatur," jawab Rendi.


Rendi tetap memejamkan matanya,


Ayah Rendi tertegun dengan apa yang anaknya katakan.


Baru kali ini ia mendengar kalimat menyejukan di mulut anak lelakinya ini.


Ia bahkan selalu memperhatikan gadis yang ada di pelukan putranya itu dan Ayah Rendi tetap tidak mengenalinya.


"Siapa gadis ini,pasti kamu yang sudah merubah anaku," batin Ayah Rendi.


Ia tersenyum bahagia dengan apa yang ia lihat pada anaknya.


"Apa kamu sudah membuatnya?" Tanya Ayah Rendi kembali.


"Membuat apa?" Tanya Rendi lembut.


"Cucuku?" Ucap Ayah Rendi singkat.


Rendi membuka kedua matanya ia menoleh ke arah ayahnya yang sedang tersenyum dan memajukan alis matanya menggoda.


"Akan ku usahakan," jawab Rendi.


Ada kesejukan dalam dirinya setelah mendengar pertanyaan Ayahnya.


Selama ini Ayahnya tidak pernah mau ikut campur masalah rumah.


Ia selalu sibuk dengan perusahaannya dan ini pertama kalinya ayahnya mengutarakan pertanyaan kepada putranya.


"Aku tidak salah menempatkanmu di hatiku Sayang," gumam Rendi.


Rendi tersenyum dan memejamkan matanya kembali,ia merasakan deru nafas istrinya yang teratur tanda istrinya kelelahan.


Rendi mengeratkkan rangkulanya pada istrinya dan tertidur kembali.


Ken tetap berjaga kini ia terduduk tapi tetap terjaga mengawasi majikanya bersama tuan besarnya yang ikut memejamkan matanya di samping Rendi.


Ken sampai mengabadikan moment tersebut di hapenya.

__ADS_1


__ADS_2