
Prolog Rendi
Suasana di dalam pesta besar di Rumah Anggara kini dengan suasana tegang. Seluruh tamu bergemuruh setelah mendengar pernyataan pengusaha termuda di kemuka,yang baru kali ini tuan Anggara berbicara banyak.
Tampak Nia menangis histeris dan ia merebut mic dari tangan Rendi.
Nia dengan penampilannya yang sudah tak nampak akan kecantikannya ia tampak kacau di depan panggung.
"Kamu pikir aku tidak tahu kamu berselingkuh dengan wanita murahan di luar sana dan bahkan kamu sudah menikah sekarang," teriak Nia
Rendi tetap berdiri tegak dengan auranya yang memancarkan ingin membunuh siapapun yang menghina istrinya.
Tapi Rendi tetap bertahan untuk tidak semakin menambah kericuhan dalam keluarganya.
"Berani sekali dia menghina Istriku," batin Rendi geram.
Ucapan Nia semakin mengguncang para tamu undangan dan yang lebih terguncang ibu Ratih.
Ia memegang dadanya terkejut mendengar dan menyaksikan kejadian ini.
Ia menghampiri suaminya dan jatuh pingsan.
Sontak semua histeris melihat ibu Anggara pingsan.
Rendi terkejut,ia berlari setelah melihat ibunya jatuh pingsan.
Rendi panik dan ia menggendongnya dengan tubuh kekarnya.
Saat ini ibu Ratih langsung di larikan ke Rumah sakit.
Tanpa peringatan ibu Ratih langsung melaksanakan operasi.
Karena jantung ibu Ratih semakin tidak stabil.
Rendi meminta para Dokter agar segera melakukan yang terbaik untuk ibunya,ia tampak prustasi saat meminta pertolongan pada Dokter.
"Astaga Pria tertampan di dunia kami kaum wanita juga pengusaha sukses yang dingin kini sedang sedih aku juga jadi ikut sedih," batin seorang perawat di belakang dokternya.
"Baik kami akan berusaha sebaik mungkin Pak," ucap Dokter.
Rendi mengangguk membiarkan dokter- dokter tersebut untuk masuk ruang operasi.
Lampu darurat sudah menyala saat Rendi menengadahkan kepalanya ke atas pintu ruang operasi.
Rendi berharap akan keberhasilan operasinya dan keselamatan ibunya yang sekarang berada di ruang operasi.
Rendi berdiri di luar ruangan dan ia terdiam tampak prustasi ia membanting tubuhnya ke dinding dan berjongkok sambil memegang kepalanya.
Tubuh yang bergetar kepala yang sakit teringat akan sosok seorang gadis kecil yang muncul di bayangannya Rendi.
"Aaaaaaah." Rendi menjerit prustasi.
Rendi tampak ingin menjerit sekencang-kencangnya karena hal yang ia takutkan terulang kembali.
__ADS_1
"Kenapa semua jadi seperti ini,kenapa aku bahkan tidak bisa mengendalikan emosi, kenapa aku mengulangi ini kembali mamah bagaimana dengan mamah," gumam Rendi prustasi.
Ia teringat kembali akan pristiwa sebelas tahun lalu dimana ia dengan seorang gadis tertawa bersama hanya dengan waktu yang singkat.
*flesback*on
Rendi berlari menelusuri lorong rumah sakit ia berlari hingga sampai di sebuah kamar.
Rendi menarik dan membuang nafas kasar,ia membuka pedal pintu dan ia melihat seorang gadis berusia sepuluh tahun terbaring dengan selang di sekujur tubuhnya.
Rendi tampak lemah di saat melihat gadis kecilnya terbaring lemah.
Kedua orang tua Rendi masuk dan ibu Ratih mengusir Rendi.
"Untuk apa kamu kesini hah ! Kamu bahkan membiarkan adikmu sendiri terluka dan kini dia harus menderita karenamu," teriak ibu Ratih histeris.
Rendi terdiam ia membisu kalau saja dia tidak mencoba membawa Anisa ke pantai, mungkin ia tak akan seperti ini
Anisa terkena serangan jantung di saat ia berenang di pantai dan tenggelam.
Rendi tampak ketakutan saat itu ia yang berusia enam belas tahun yang belum bisa apa-apa bahkan ia tidak mahir dalam berenang.
Sejak kejadian saat itu Rendi prustasi, ia juga mencoba untuk belajar berenang atas penyesalan yang ia alami.
"Kalau saja kamu menurut dengan ucapanku, kalau saja kamu mendengarkanku, semua tidak akan seperti ini." Teriak ibu Ratih masih berkata dalam tangisnya.
"Pergi kamu!" Teriak ibu Ratih.
Rendi keluar dari ruangan tersebut dengan langkah yang gontai ,disana ada Ken yang menemaninya
Mungkin Rendi tidak akan mengajak adik tercintanya untuk pergi berlibur bersama teman-temannya.
Anisa merengek memaksa pada kakaknya untuk ikut berlibur bersamanya.
"Kakak aku mau ikut ya," rengek Nisa dengan senyum polosnya.
Rendi tidak pernah bisa menolak keinginan adiknya yang selalu manja padanya.
Rendi mengajak Anisa pergi ke pantai walau sudah di larang oleh ibunya.
Rendi tampak prustasi di depan pintu ruangan tersebut hingga ia mendengar bahwa adiknya tidak bisa di selamatkan.
Semenjak saat itu Rendi tidak pernah kembali ke rumah utama Anggara.
Yang bertempat di Jerman.Dengan sebuah alasan Rendi lebih memilih pindah dari sana.
Ia tinggal di rumah milik Almh kakeknya sampai usia dua puluh tahun ia mengambil alih perusahaan kakeknya yang ada di Jakarta.
Dia di kenal dengan pengusaha yang dingin dan cerdas,dari usia mudanya Rendi sudah mencapai tingkat pengusaha terbesar di Asia bahkan lebih dari itu.
Rendi bahkan tidak pernah berkunjung pada orang tuanya yang membencinya.
Di saat ia menginjak usia 26 tahun orang tuanya menemuinya di rumahnya dengan maksud menikahkannya dengan gadis pilihan mereka.
__ADS_1
"Apa kamu masih tidak mau mendengarkanku?" Ucap ibu Ratih dingin.
Sikap ibu Ratih dingin kepada Rendi.
Tanpa pikir panjang Rendi menyetujui perjodohanya dan Akhirnya ia menikah.
*flesback*off
Rendi masih dalam posisi jongkoknya dengan muka kusutnya ia gemetar ketakutan dan prustasi.
Rendi takut sesuatu terjadi pada ibunya.
Ia menundukan kepalanya dan tubuhnya bergetar.
Ken yang memperhatikan sahabatnya langsung menelpon Rara .
Ia memberitahu bahwa ibu Rendi masuk rumah sakit dan Rendi membutuhkanya.
Rara yang sedang sibuk melayani para pengunjung tiba-tiba celananya bergetar tanda panggilan masuk.
"Asalamualaikum," salam Rara.
"Waalaikumsalam Nona Rara, bisakah Anda ke rumah sakit sekarang Ibu Rendi masuk rumah sakit dan Rendi membutuhkan Anda sekarang," ucap Ken.
"Apa?" Rara terkejut.
"Baiklah,tunggu aku." Rara mengakhiri sambungan teleponya dan menuju Dilla.
"La,aku harus pergi Rendi membutuhkanku," ucap Rara.
Dilla mengangguk dan Rara segera pergi ke rumah sakit, yang Ken beritahu padanya dengan menaiki Taxi.
Rara mencoba agar datang secepatnya karena suaminya membutuhkannya.
"Pak bisakah di percepat!" Pinta Rara pada Sopir.
"Baiklah Non," jawab pak sopir.
Rara menaiki Taxi yang melaju dengan kecepatan tinggi.
Rara tampak gelisah khawatir pada suaminya juga Ibu mertuanya.
Rara masih dengan pikiran khawatirnya pada Rendi.
Ia mencoba menelepon handepone suaminya tapi tidak di angkat sama sekali oleh Rendi.
Sudah ke sepuluh kali panggilan Rara pada suaminya masih tidak di angkat juga.
Jalanan sedang terkena macet, Rara masih dengan gundanya ia ingin segera sampai menemui suaminya.
Rara memberikan uang pada supir taxinya.
Ia berlari menuju rumah sakit yang hanya beberapa meter dari mobilnya.
__ADS_1
Rara mencoba lebih cepat larinya untuk bisa cepat sampai di sana.