
Rendy duduk di sofa ruang tamu, dengan menumpang kaki Iya tampak datar tanpa menyapa orang-orang yang ada di ruang tamu tersebut. Mark yang duduk di sebelahnya juga terlihat biasa saja. Bahkan memasang raut wajah yang datar sama persis apa yang dilakukan oleh Rendy.
"Lihat mereka dua, orang berdarah dingin dengan wajah datar. Yang satunya takluk oleh istrinya dan yang satunya lagi takluk kepada putrinya. Kira-kira lelaki datar yang satunya lagi takluk sama siapa ya? Antara istri dan putrinya?" bisik Iyas kepada Adam Yang di sebelahnya.
Adam bahkan tidak melirik sama sekali ke arah Iyas, yang sedang berbicara kepadanya. Adam nampak santai dengan camilan di hadapannya. Ia memakan biskuit yang disediakan oleh pelayan dan juga Adam masih dengan gaya coolnya menatap kearah Nesha. Istrinya yang berdiri tak jauh dari ruang tamu. Nesha memperhatikan putrinnya dan juga anak-anak tuannya Rendy.
Nesa berdiri mengawasi anak-anak tuannya tidak jauh dari ruang tamu, Ada sedikit senyum tipis dibalik wajah Adam ketika melihat Nesa yang menurutnya tampak Semakin manis saja. Iyas Yang di sebelahnya mengerutkan dahi ketika melihat ada yang tersenyum tipis.
"Sepertinya kau juga diperbudak oleh istrimu Adam!" ledek Iyas kepada Adam.
Adam tidak menggubris ucapan Iyas sama sekali. Ia tampak malas menjawab ucapan Iyas, karena memang Adam selalu nampak acuh jika mendengarkan hal yang baginya tidak penting.
"Istriku bilang, kalau dekorasi rumah ini bukan untuk acara ulang tahun, melainkan seperti akan ada acara pernikahan di sini! Apa kau akan menikah lagi?" ucap Rendy.
Perkataan Rendi, membuyarkan suasana di ruang tamu. Ken yang sedang mengerjakan sebuah dokumen, dengan laptop di depannya. Ia segera menutup laptopnya dan mendengarkan ucapan tuannya. Rendi membicarakan tentang dekorasi rumah Mark. Kini Ken dan juga yang lainnya mendengarkan Rendy yang sudah mulai berbicara.
"Tidak!" jawab Mak singkat.
"Lalu untuk apa ini? Apa kau akan menikahkan putrinya yang masih kecil itu bersama putraku?" tambah Rendy.
"Ide yang bagus! " jawab Mark datar.
"Jika kau setuju, lakukanlah! Karena aku pun tidak keberatan dengan apa yang aku ucapkan tadi," tambah Rendi.
Selain Iyas, Ken dan Adam terkejut mendengar pernyataan Rendy dan Mark yang terbilang sangat tidak masuk akal. Ketika mereka melakukan perjanjian di luar dugaannya. Lain dengan Adam dan Ken mereka berdua hanya menyimak dan memahami kedekatan dua orang tersebut yang ingin mempererat hubungan sebagai besan. Hingga Perjodohanpun mereka lakukan saat ini.
__ADS_1
"Aku protes! Aku tidak rela Nauraku di nikahkan di usia muda dengan secepat itu," protes Iyas.
"Cari wanita yang bisa memberimu anak, jangan atur anakku!" balas Mark datar.
"Hei,! Gadis itu masih kecil dan juga belum saatnya jika harus menikah!" Iyas semakin geram.
"Tidak ada sebuah paksaan jika kita ini berawal dari sebuah persahabatan," ucap Rendi datar.
"Hmmm, lagipula aku tau mereka anak-anak yang baik dan penurut," sambung Mark datar.
"Hmmm, terserah kalian!" cetus Iyas malas.
Rendi dan Mark tersenyum tipis ketika memperhatikan Iyas yang marah, karena mereka tahu jika Naura adalah gadis kecil yang ia asuh sedari bayi. Maka dari itu, Iyas tidak mau jika gadis kesayangannya terluka sedikitpun. Apalagi soal perasaan. Iyas tampak mengacuhkan Rendi dan Mark. Namun Rendi dan Mark tidak sedikitpun berniat untuk menjelaskannya pada Iyas. Iyas mengerutkan dahinya kearah Rendi dan Marklagi.
"Kenapa kalian tidak membujukku saat aku marah?" teriak Iyas kesal memasang wajah merajuk.
"Memang harus wanita saja yang marah?" cetus Iyas.
"Apa kau sedang marah?" tanya Rendi datar.
"Kalian ... memang kedua mahluk yang berdarah dingin!" cetus Iyas kesal.
"Jika kau ingin kami membujukmu, buat alasan yang tepat, karena kau bukan wanita yang harus aku rayu!" ucap Mark datar.
Rendi tersenyum tipis dan menyesap kopinya perlahan. Ia tidak menghiraukan Iyas dan Mark yang sering kali bertengar hanya hal spele. Iyas yang menurutnya banyak berbicara dan Mark yang sangat sedikit berbicara. Bagi Rendi mereka berdua adalah kedua sahabatnya yang melengkapi setiap kekurangan dari hari2 Rendi.
__ADS_1
Iyas memasang wajah kesal, ketika ia berbicara. Akan tetapi malah ditanggapi dengan ledekan oleh Rendy dan Mark. Begitupun Adam dan Ken yang tersenyum tipis, ketika melihat Iyas sedang merajuk memasang wajah tampatnya dengan bibirnya maju kedepan cemberut, terhadap Rendi dan Mark.
Mereka berbincang setelah berkumpul bersama dan mendiskusikan tentang tambahan acara di hari esok, dalam acara ulang tahun putrinya yang bernama Naura. Acara yang akan diselenggarakan juga pernikahan dini, yang memang akan diikat antar Kedua keluarga. Iyas masih tidak habis pikir dengan apa yang direncanakan Rendi dan Mark. Terhadap putra-putrinya.
Iyas masih dengan hati kesal kepada Rendi dan Mark. Mereka bahkan tidak menggubris protesnya. Hingga akhirnya, Iyas memilih untuk memakan cemilan yang ada di hadapannya dengan wajah cemberut.
Selama di ruang tamu, Iyas masih dengan banyak pertanyaannya, yang membuat orang-orang di ruang tamu hanya mendengarkan protesnya dan tidak ada di antara mereka yang tidak mengacuhkan Iyas. Sesekali mereka berbicara dan bercanda bersama. Begitupun Ken yang datarpun sesekali tersenyum mendengar kekonyolan Iyas. Adam yang sudah lama mengenal Iyaspun ikut berbicara dengan mereka. Kini mereka menjadi satu kesatuan di dalam satu keluarga besar.
Seorang gadis yang tak jauh di ruang tamu tersebut. Memperhatikan kebersamaan para pria yang ada di ruang tamu.
"Kenapa ada banyak sekumpulan pria tampan di rumah ini? Aku bahkan bingung harus memilih yang mana!" gumam Alea tersenyum tipis memperhatikan deretan pria tampan di rumah tuannya itu.
Alea dengan perasaan bahagia, hanya dapat melihat banyak pria tampan di hadapannya. Begitupun dengan perasaannya saat melihat anak-anak mereka, yang kini sedang bermain di hadapannya. Bahkan terlihat tampan dan cantik-cantik meski hanya ada Rayn saja. Sebagai anak lelaki yang terlihat tampan dan dingin. Rayn sudah terlihat ketampanannya dari usianya menginjak 7 tahun.
Rayn tampak datar ketika melihat Amira dan putrinya Nesa beserta putrinya Dilla bermain bersama. Lain dengan Naura yang hanya duduk manisnya. Dia hanya memperhatikan kan Rayn yang duduk berseberangan di hadapannya, tampak datar. Rayn tidak tertarik akan permainan adiknya Amira. Saat melihat kearah Naura, Rayn memasang tatapan tajam kepada gadis kecil yang manis itu. Naura mengerutkan dahinya, ketika mendapat sorotan tajam dari Rayn.
"Siapa dia? Berani menatapku dengan mata tajam seperti itu? Dasar bocah dingin!" gumam Naura.
Ketika ia mengalihkan pandangannya pun.
Naura acuh ketika mendapat sorotan tajam dari Rayn. Ia tampak kesal ketika melihat anak laki-laki itu, yang ada di hadapannya dengan wajah datarnya menyorot tajam pada Naura.
"Aku tidak akan membiarkan kan Ibu ku memperhatikanmu lebih dari aku karena!" bisik Rayn dengan tegas.
"Anak mami!" cetus Naura.
__ADS_1
Rayn kesal ketika mendengar ucapan Naura. Rayn mendengus kesal, ketika mendapatkan jawaban dari Naura yang tidak enak didengar. Alih-alih, menatap tajam kearah Naura yang malah membalas tatapan itu. Dengan lebih tajam kepada Rayn. Rayn mengerutkan dahinya, karena untuk pertama kalinya ada seorang anak apalagi perempuan, yang berani menentangnya ketika tidak ada siapapun yang berani kepada Rayn yang tajam dan dingin setiap ia berbicara.