Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Interview


__ADS_3

NTR:Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen, favoritkan dan vote yach... Selamat membaca kak.


Amira membuang nafas kasar, lalu ia mengetuk pintu itu. Saat mendapati sahutan dari dalam, Amira mencoba untuk membuka pedal pintu dan masuk ke dalam ruangan itu. Amira sangat terkejut ketika ia melihat sebuah ruangan yang sangat besar, bahkan bernuansa dengan warna elegan serba putih dan mengagumkan. Bagi siapapun yang melihatnya.


"Apa kamu mau berdiri saja?" ucap seorang pria yang duduk di kursi utama menatap lekat ke arah Amira yang masih berdiri berpaling melihat kearah sumber suara.


Amira terkejut, ketika ia melihat seorang pria yang memang cukup tampan, namun hanya sekali melihat saja, Amira sudah menduga bahwa pria yang ada di hadapannya itu sedikit arogan dan ia mencoba untuk menghampiri pria itu mendekat ke kursinya. Amira mengucap salam dan membungkukkan kepalanya sedikit memberi hormat kepada pria yang kini berstatus sebagai Direktur Utama di hadapannya.


Leo mengerutkan dahinya, namun ia tersenyum didalam hati tanpa mengurangi pandangan dinginnya ia melihat ke arah Amira.


"Apa kamu tidak dengar ucapanku? Di sana ada kursi untuk duduk kenapa kamu malah memilih untuk berdiri?" tanya Leo.


Tidak menjawab ucapan Leo, Amira kini duduk tepat berhadapan dengan Leo, meski tidak ditanggapi oleh Amira. Leo masih menatap tajam kearah gadis yang kini duduk tepat di hadapannya. Ia tidak memahami apa tentang gadis yang ada di hadapannya itu, sangat kuat ketika mendengar ucapannya apalagi pertanyaannya yang menekan.


Berulangkali Leo bertanya kepada Amira namun Amira hanya mengangguk dan ia menjawab seperlunya saja. Setelah interview yang dilakukan langsung oleh Leo, kepada Amira. Pria itu kini mengerutkan dahinya, ia merapatkan bibirnya memandangi dengan lekat ke arah Amira.


"Pekerjaan seperti apa yang kamu inginkan?" tanya Leo dengan tajam.


"Jika saya ingin pekerjaan yang saat ini anda miliki apa boleh?" jawab Amira tersenyum tipis.


"Ternyata kamu berani juga ya?" balas Leo.


"Bukankah, Anda yang mwmemberi pertanyaan pekerjaan apa yang saya inginkan? Saya menjawabnya dengan jujur," jawab Amira.

__ADS_1


"Baiklah, mulai besok kamu sudah mulai bekerja dan kamu bisa menanyakan kelanjutannya kepada resepsionis," jelas Leo.


Amira tersenyum dan mengangguk Ia lalu berpamitan kepada Leo yang masih saja memandangi Amira. Bahkan dia sempat mengerutkan dahinya ketika mendapati gadis itu pergi begitu saja, tanpa ia mencoba untuk tebar pesona kepada dirinya setelah.


Amira keluar dari ruangannya Leo yang tengah menopang dagunya dengan kedua tangannya dan bersandar ke kursi belakangnya. Ia memikirkan masih ada seorang gadis yang bahkan tidak memandanginya. Setelah begitu banyaknya wanita-wanita yang mencoba untuk mendekatinya, namun lain dengan gadis yang bernama Amira itu, didalam fikirnya gadis itu sangat menarik bahkan lain dari kebanyakan wanita.


"Aku ingin tahu seberapa kuatnya kamu bekerja di perusahaanku? Apalagi setelah kamu mengabaikan aku berulang kali, bahkan menjawab pertanyaanku hanya dengan singkat dan seperlunya saja, tanpa embel-embel yang ingin memperoleh antara hubungan dengan bosnya," ucap Leo, ia tersenyum tipis sembari gerakan jarinya ke bibirnya.


Setelah keluar dari ruangan direktur, Amira kini menuruni liftnya dan menghampiri meja resepsionis dan mengatakan bahwa dirinya mulai besok akan bekerja. Resepsionis itu tersenyum dan mengangguk, ia bahkan berjanji akan menunjukkan pekerjaannya esok hari kepada Amira.


Setelah itu, Amira keluar dari perusahaan dan kini dia berdiri tepat di di depan perusahaan di pinggir jalan. Ia tersenyum ketika melihat mobil milik ayahnya masih terparkir dari kejauhan, dia tidak membiarkan sopirnya untuk menghampirinya menjemputnya dan mengantarkannya pulang.


Amira Justru malah pergi halte bus untuk menaiki bus umum seperti biasanya. Meski seperti itu mobil pribadi milik keluarga Rendi Anggara, tetap mengikuti besi itu di mana yang ditumpangi oleh Nona mudanya. Amira memang sudah terbiasa dengan hal seperti itu, naik bus dan juga diikuti oleh anak buah ayahnya. Ia tidak pernah membantah setiap apapun yang di harapkan oleh ayahnya. Apalagi demi keselamatannya selama diperjalanan.


Setelah sarapan Amira yang berangkat pergi untuk melamar pekerjaanya. Rayn tersenyum di meja makan menatap Naura yang tersipu malu, ketika menyadari dirinya ditatap oleh kekasih hatinya itu. Rayn tersenyum memandangi Naura. Ia berdiri dari duduknya dan mengitari meja makan menghampiri calon istrinya. Naura yang kini tengah terduduk malu ketika ditatap oleh kekasih hatinya itu.


"Bukankah kau memiliki sebuah hutang nona?" tanya Rayn.


Rayn kini duduk di samping Naura. Naura terkejut ketika mendapati Rayn yang kini sudah duduk di sampingnya, ia memajukan bibirnya cemberut ketika melihat Rayn yang masih dengan tatapanya tersenyum tipis kepada Naura.


"Kenapa? Jangan bilang kamu tidak mau membayarnya?" tambah Rayn bertanya lagi.


"Tidak apa-apa. Aku hanya terkejut saja baru saja aku melihat kamu duduk di sana, tiba-tiba kamu sudah ada di samping aku," jawab Naura memajukan bibirnya.

__ADS_1


"Benarkah? Aku kira kamu sedang berharap aku menciummu seperti tadi pagi Nona?" goda Rayn.


"Mana ada seperti itu?" protes Naura.


"Lalu, apakah aku akan mendapatkannya sekarang?" tanya Rayn tersenyum.


Rayn mendekatkan wajahnya ke arah Naura. Naura menggidikan bahunya, ia bahkan sedikit salah tingkah ketika melihat wajah kekasihnya itu kini semakin mendekat kearahnya. Dengan perasaan yang tidak karuan, Naura merasakan detak jantungnya berdebar sangat kencang ketika mendapati Rayn yang kini mendekatkan wajahnya ke arahnya.


Wajah kekasihnya itu, semakin mendekat dan mendekat ke wajahnya namun saat tepat hanya berjarak 1 inci. Tiba-tiba Naura berdiri dari duduknya mengejutkan Rayn, Naura membereskan piringnya berdiri, lalu ia menggeserkan kursi dan tersenyum. Ketika melihat Rayn yang mengerutkan dahinya terdiam. Namun saat Naura berjalan beberapa langkah, tiba-tiba ia berbalik dan mengecup pipinya secara cepat dan mengejutkan Rayn.


"I love you," bisik Naura di telinga Rayn dan tersenyum.


Naura pergi menyimpan piring bekas makanya di wastafel. Saat mendapati Naura yang menciumnya secara tiba-tiba, bahkan mengatakan hal yang sangat jarang diucapkan oleh kekasihnya itu. Rayn tersenyum bahagia dan berdiri menghampiri Naura.


Rayn memeluk Naurah dari arah belakang memegang pinggangnya, lalu menyusupkan kepalanya di leher Naura yang sedang mencuci piring. Dengan debaran jantungnya yang sangat berdebar kencang, Naura membulatkan kedua matanya. Namun ia mencoba untuk menstabilkan perasaannya dan melihat ke arah Rayn yang kini memeluknya dari arah belakang menyusupkan kepalanya di leher Naura.


"Ada apa dengan kamu ini? Bukannya segera berangkat ke kampus atau ke kantor! Malah bermalas-malasan di rumah. Kamu tidak malu sama Adik kamu yang perempuan itu?" tanya Naura sembari dia mencuci piring.


"Aku hanya ingin berdua saja dengan calon istriku ini," balas Rayn dengan manja.


Naura tersenyum, lalu ia membalikkan tubuhnya dan memegang wajah Rayn. Menatap lekat wajah kekasihnya itu.


"Jika aku menciummu. Apa kamu akan pergi ke kantor dan bekerja Sayang?" tanya Naura tersenyum.

__ADS_1


Rayn tersenyum dan mengangguk sembari memajukan bibirnya menatap Naura, calon istrinya itu yang tersenyum manis tepat dihadapannya. Naura kini mengangguk dengan senyumnya yang tipis, lalu ia mendekatkan wajahnya dan mencium tepat di bibir Rayn dengan lembut. Namun lain dari dugaan Naura, Rayn malah menekan kepala kekasihnya itu dan mempererat ciuman keduanya. Keduanya kini hanyut dalam suasana berduanya di dapur dengan air keran yang mengalir di tempat cuci piring.


__ADS_2