
NTR:Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen, favoritkan dan vote yach... Selamat membaca kak.
Naura hanya memperhatikan Amira yang sedang masak, kemampuan Amira masa itu ia pelajari dari ibunya yang mandiri tanpa bantuan pelayan sama sekali tinggal di kediamannya. Ia selalu membantu pekerjaan ibunya di waktu senggang, meski Rara tidak pernah menyuruhnya.
"Ra? Apa kamu belajar memasak dari tante?" tanya Naura tersenyum.
"Hmmm," jawab Amira.
"Bukannya kamu kerjaannya hanya tidur saja? Waktu itu aku tiap lihatkamu pasti sedang tertidur Ra," ucap Naura tersenyum mengagumi Amira yang masih fokus memasak.
"Hmm, sekarang juga masih!" balas Amira.
"Waah, putritidur cantik begini, pastinya banyak yang suka kan di kampus," goda Naura.
"Tidak juga, yang tidak menyukaiku justru malah banyak banget," ucap Amira.
"Hah, kenapa seperti itu? Kamu kan anak papa Rendi? Pengusaha terbesar di Asia?" balas Naura.
"Entah," jawab Amira.
Amira menyiapkan makanan di atas meja makan yang di bantu oleh Naura yang dengan hati bahagia ia membantu Amira. Wajah bahagianya terpancar dan terlihat oleh siapapun yang melihat gadis cantik mungil itu sedang merasa bahagia.
"Jangan tebar pesonamu di depan makanan! Gak akan ada yang membalasnya," ucap Rayn datang menghampiri meja makan dan duduk.
__ADS_1
"Eeh, kan belum di suruh ke meja makan?" tegur Naura.
"Aku tersihir tiap kali masakan adikku," ucap Rayn.
"Hah? Kamu? Dingin begini tersihir oleh makanan Mira? Aku mau belajar masak Ra," ucap Naura tersenyum.
"Belajarlah kak, sepuasmu," balas Amira tersenyum.
"Hmm," tambah Rayn.
Kini mereka makan bersama dengan hanya bertiga saja tanpa berbicara. Saat di tengah makan. Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara seorang gadis berteriak ke arah mereka.
"Waaaah, kebetulan sekali kalian sedang makan! Aku juga mau," ucap Zain.
"Emmm, kenapa? Apa kalian sudah kenyang? Ya sudah aku saja yang makan!" ucap Zain mengabaikan mereka yang menatapnya.
Zain menyantap makanannya embali, tanpa menghiraukan mereka yang menatap lekat pada dirinya. Ia sangat menikmati makanan yang ada di hadapannya itu, meski sesekali ia melihat kearah Rayn, Naura dan Amira tapi dia masih dengan fokus memakan makanannya saja.
"Sepertinya kita tidak perlu mencuci bekas makanan kita," ucap Amira.
Zain yang mendengar itu, ia tersedak makanan yang ada di mulutnya itu. Ia terkejut mendengar ucapan Amira. Zain memajukan bibirnya dan perlahan memasukan sesendok makanan ke dalam mulutnya pelan. Dengan tatapan pasrah melihat ke arah Amira yang tersenyum menggerakan sebelah alisnya. Selain itu ia juga melihat ke arah Rayn yang tidak memperhatikannya, ia fokus dengan makanannya begitypun naura.
"Hmm, iya deh iya ... aku bereskan nanti," ucap Zain pelan.
__ADS_1
Meski seperti itu, Zain kembali fokus dengan makanannya, ia tidak menghiraukan apapun yang dibicarakan oleh Amira. Apalagi dengan ke acuhan mereka bertiga yang memang sudah terbiasa ia hadapi.
"Makan yang banyak! Jangan sampai kamu menjadi kurus hanya karena membereskan bekas makanan nanti!"ucap Rayn.
"Memang kamu pikir aku tidak bisa apa-apa? Apa sih yang tidak bisa aku lakukan. Semua aku bisa, kelas aja bisa aku loncat. Apalagi hanya membereskan bekas makanan," balas Zain dengan bangga pada dirinya.
Amira dan Naura tersenyum saling tatap satu sama lain.
"Itu namanya cewek!" ucap Amira dan Naura bersamaan.
Mereka tersenyum kepada Zain yang masih sibuk memakan makanannya dan mengangguk kepada mereka berdua. Amira, Naura dan Rayn setelah makan, mereka kini berada di ruang tamu.
"Apa kau yakin mau menyuruh Zain untuk membereskan piring? Aku punya firasat buruk," ucap Naura.
Sebelum Amira menjawab keraguan Naura terdengar pecahan piring di dapur, untuk yang pertama. Amira dan keduanya mengabaikannya. Namun beberapa menit kemudian pecahan piring pun semakin jelas dan bertambah berulang kali, hingga membuat Amira dan Naura berdiri dari duduknya dan lari menuju dapur menghampiri Zain.
Saat Amira dan Naura memasuki dapur terlihat pecahan piring di lantai berserakan, dengan seorang gadis mungil mengenakan celemek menatap dengan salah tingkah.
"Hehehe, maaf piringnya licin, jadi melepas deh," ucap Zain menatap Amira.
"Diam di tempat! Jangan berjalan selangkah pun!" seru Amira.
Zain terkejut dan terdiam mendengar ucapan Amira. Diapun merasa takut akan ucapan Amira yang sangat serius kepada dirinya.
__ADS_1