Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Haruskah aku melamarnya


__ADS_3

Prolog Rendi dan Rara.


Rendi memandangi Rara yang sedang membuatkan jus untuknya.


Tampak senyum tipis di balik wajah datarnya Rendi memandang Rara.


Rara menghampiri Rendi dengan dua jus orange yang ia bawa untuk Rendi dan juga untuknya.


"Ini baik untukmu kopimu nanti pagi saja ya," ucap Rara tersenyum.


Rendi mengangguk hatinya seperti berbunga-bunga saat Rara memperhatikannya.


"Dia bahkan memperhatikan kesehatanku aku harus memilikinya secepatnya," batin Rendi.


Rendi dan Rara berbincang di Cafe tanpa menghiraukan Dilla dan Ken yang memperhatikan mereka.


"Astaga ada apa dengan mereka bukankah mereka baru saling kenal kenapa sudah sok akrab begitu," gerutu Dilla.


"Kamu juga sok akrab denganku," cetus Ken.


"Hei, siapa juga yang mau akrab denganmu," geritu Dilla.


"Lalu ini apa,kenapa kamu sangat dekat denganku?" Ucap Ken datar.


"Astaga, kamu ini sana pergi Cafe tutup," cetus Dilla.


"Kalau kamu usir aku berarti kamu mengusir tuan muda ,kamu tahu dia siapa?" Ucap Ken.


"Kamu itu, sombongnya melebihi Tuan Rendimu itu," ucap Dilla.


Rara dan Rendi tidak menghiraukan perdebatan Dilla dan Ken.Mereka berbicara dengan masing-masing topik yang berbeda.


"Aku tidak mau ada sentuhan pisik dalam hubungan ini," ucap Rara.


"Iya,kalau tidak kecelakaan ya," jawab Rendi tersenyum.


"Jangan sampai begitu dong," cetus Rara.


"Lalu untuk yang ciuman pertamaku bagaimana?" Ucap Rendi tersenyum.


"Kamu yang udah curi ciuman pertamaku juga," jawab Rara memelankan suaranya.


Rendi terkekeh dengan tingkah Rara yang lucu.


Rara bahkan tertawa saat melihat Rendi tersenyum.


Semua beban yng selama ini terpendam di hati Rara,sirna sudah karena adanya Rendi di hadapannya untuk kali ini.


*****


Setiap hari Rara seperti biasa melayani para pengunjung Cafenya yang semakin ramai.


Setiap hari juga Rendi dan Ken disana mereka seperti pelanggan tetap di Cafe store.


Rendi lebih sering bertemu kliennya di cafe store milik Rara. Selain untuk urusan bisnis juga untuk urusan cinta juga.


Jika mengingat maksud darinya itu, Rendi selalu tersenyum bahagia karena ia bisa setiap waktu bertemu Rara.


Banyak juga yang para klienya menyukai tempat tersebut.

__ADS_1


Rendi selalu memperhatikan setiap aktifitas Rara dari ia makannya, tidurnya selalu ia pantau.


Rendi tidak mau ada kejadian kedua kali kalau Rara sakit. Hanya karena tidak makan beberapa hari.


Rara menghampiri Rendi dengan membawa segelas kopi hitam sedikit gula untuk Rendi dan ia terduduk.


"Apa yang kau kerjakan?" Tanya Rara.


Rendi hanya mengangkat pandanganya pada Rara dan tersenyum saja.


"Minumlah kopinya," ucap Rara lagi.


Rendi masih tidak menjawab.


"Kamu mau makan?" Tanya Rara.


Yang di ajak bicara malah sibuk dengan berkasnya.


"Apa pundakmu sakit aku pijat ya," Tanya Rara.


Ia tak bosan bertanya walau yang ditanya hanya diam saja.


Rara malah senyum-senyum melihat keseriusan Rendi menurutnya ia sangat tampan saat serius.


"Apa kamu mau di cium?" Goda Rara tersenyum.


Ucapan Rara yang terakhir membuat Rendi mengalihkan pandanganya,dari berkas-berkasnya melihat Rara dengan apa yang ia dengar.


"Apa itu serius?" Tanya Rendi semangat.


"Apa?" Jawab Rara seperti tidak terjadi apa-apa.


"Yang tadi kau ucapkan ulangi lagi,"pinta Rendi.


Rara berbicara dengan pandangan seperti tidak ada apa-apa


Rendi menggelengkan kepalanya.


"Kamu mau minum kopi?"Rara kembali mengejek Rendi.


"Bukan itu yang terakhir?" Ucap Rendi.


Rendi tidak sabar sampai ia menyingkirkan berkas-berkasnya ke samping.


"Apa, tidak ada aku tidak bicara apa-apa," jawab Rara.


Rendi geram ia mencubit bajunya Rara memaksa Rara mengulang perkataanya yang menurut Rendi itu sangat menyenangkan mendengarnya.


"Kamu mau bicara lagi atau aku yang akan melakukanya," ancam Rendi.


"Silahkan ," tantang Rara.


Rara memanyunkan sedikit kedepan bibirnya yang membuat jantung Rendi bergemuruh berdetak kencang.


Rendi ingin sekali merasakan yang seminggu kemarin ia rasakan mencium bibir gadis yang ada di hadapanya itu.


"Kamu akan menangis nanti,bila aku melakukanya dan juga aku tidak ada baju ganti karena nanti jasku akan basah oleh air matamu," ucap Rendi.


Rendi mengalihkan pandanganya dari Rara kesamping.

__ADS_1


Ucapanya membuat Rara membulatkan kedua matanya dan kesal.


"Siapa juga yang mau hal seperti itu dari kamu," ucap Rara.


Rara berdiri dan meninggalkan Rendi dengan wajah yang merah. Ia menutup mulutnya menahan senyumanya dan pergi ke toilet.


Rendi hanya senyum menanggapi kelakuan Rara.


Sebenarnya seminggu ini Rendi tidak bisa tidur hanya karena membayangkan ciuman pertamanya waktu itu.


Rendi hanya akan tidur di kantor sambil melihat aktifitas Rara di sebrang kantornya. Sampai tertidur karena semua Ken handle dengan sigap ia tahu apa yang terjadi dengan bosnya itu.


Rendi yang mengawali sebuah hubungan dengan Rara.


Perasaan bahagia yang Rendi rasakan perasaan nyaman selama berdekatan dengan Rara.


Membuat Rendi semakin ingin bersama Rara.


"Sudah lama aku tidak pernah melihat tuan tersenyum, akhir-akhir ini ia sering tersenyum dan tampak bahagia," gumam Ken.


Sudah sebulan full hubungan Rara dan Rendi di habiskan mereka berdua dengan berjalan-jalan di taman bercerita bercanda di dalam Cafe juga.


Saat ini Waktu menunjukan pukul 8 malam Cafe akhirnya tutup


Rara dan Dilla terduduk di depan meja kasir.


Mereka membahas tentang liburan selama tiga hari dan sudah di tetapkan bahwa mereka akan pulang ke Bandung mereka teramat merindukan keluarganya.


Rendi yang baru masuk Cafe


Rendi menghampiri dua gadis itu .


"Bisa kita bicara, Ra ," Tanya Rendi.


"Oke ," jawab Rara.


Rara yang suasana hatinya sedang bahagia ia akan pulang kampung


Rara Rendi keluar Cafe .


"Ra bisa aku menagih hakku?" Ucap Rendi.


"Apa hak ... memang hak apa dia kan hanya kekasih sebulanku bukan suamiku kenapa minta hak segala," batin Rara.


"Iya kan haku kamu menemaniku sebagai kekasihku," ucap Rendi kembali.


"Oooooh baiklah lalu gimana apa mau jalan atau kemana?" Tanya Rara.


"Kita pergi ke apartementku ya," ucap Rendi.


"Tidak ... ! Aku tidak mau ah, ke rumahmu dan hanya berdua saja kita jalan jalan saja di luar setelah itu baru kamu ceritakan padaku apa yang harus aku lakukan," ucap Rara kembali.


"Baiklah ayo," kata Rendi.


"Nanti dulu aku siap-siap dulu ya soalnya aku belum mandi hehe," kata Rara cengengesan.


Rendi mengangguk melihat Rara bergegas ke kamarnya untuk berganti pakaian.


"Sebenarnya aku tidak mau jadi kekasihmu Ra, tapi aku mau jadi suamimu,apa aku lamar saja dia ya?" Batin Rendi.

__ADS_1


Rendi mondar mandir di depan mobil ia tampak sedang memikirkan cara untuk berbicara pada Rara.


Rendi mencoba menenangkan hatinya dan mencari hal apa agar bisa mengutarakan isi hatinya.


__ADS_2