
Prolog Rendi..
Saat melihat seorang wanita paruh baya yang Rendi kenali. Ia mengerutkan dahinya tampak penasaran apa yang sedang ibunya lakukan di depan perusahaannya. Rendi menghampiri ibunya yang ada di depan gedung perusahaanya bersama pelayan Jun.
Rendi mendengar percakapan ibunya dan Pak Jun.
"Kamu bahkan tidak tahu keberadaanya,lalu apa saja yang kalian kerjakan selama ini ! " Ucap Ibu Ratih geram.
"Kamu coba cari tahu lebih detail lagi aku akan pergi menemui putraku," ucap Ibu Ratih kembali.
Rendi mendekati ibunya mencoba memperjelas mendengarkan pembicaraan ibunya dengan bawahannya.
Rendi semakin jelas mendengarkan pembicaraan ibunya. Ia memasang wajah tersenyum tipis dan bertanya pada ibunya.
"Apa yang tidak bisa Mamah temukan, sepertinya hal yang bisa membuat Mamah kemari?" Tanya Rendi di belakang Ibunya.
Yang di tanya oleh Rendi tampak terkejut dengan kedatangan Rendi. Yang tidak ia ketahui asalnya. Ia tampak mengerutkan dahinya.
"Kamu disini, kenapa kamu di luar, mau kemana kah kamu sekarang?" Tanya ibu Ratih.
"Tidak kemana-mana aku baru sampai apa ada yang mau Mamah sampaikan pada Rend?" Tanya Rendi.
Ibunya Mengangguk. Rendi berjalan mempersilahkan ibunya untuk mendahuluinya berjalan menuju kantornya. Mereka memasuki perusahaan dengan menaiki lift. Tidak ada pembicaraan di antara mereka berdua selama di perjalanan menuju ruangan Direktur. Hanya butuh waktu sebentar kini mereka sampai di ruangan Rendi. Ibu Ratih duduk dan masih belum memulai pembicaraan.
"Mah,Anda belum punya jawaban dari semua pertanyaan Rend tadi?" Tanya Rendi.
"Tidak bolehkah bila seorang ibu menemui putranya?" Ibu Ratih balik bertanya.
"Hmm," jawab Rendi ia membuka berkasnya.
Ibunya yang melihat Rendi sedang membuka berkas yang sama sekali tidak penting bagi Rendi. Hanya untuk mengalihkan perhatiannya pada ibunya.
"Apa kamu sudah menceraikan wanita itu?" Tanya ibu Ratih
Perkataan ibunya yang membuatnya kesal dan geram kembali. Hingga membuatnya menatap tidak suka pada ibunya. Ia berdiri dengan pandangan tidak suka pada ibunya dengan pikirannya.
"Apa dia yang melakukan itu pada istriku tidak mungkinkah dia mengancam istriku, bagaimana kalau Rara meninggalkan aku karena ancamanya? Oooh bisa gilla aku menghadapi wanita ini," batin Rendi.
__ADS_1
"Kenapa, apa aku benar? Kamu sudah bercerai?" Tanya Ibu Ratih.
"Sepertinya keinginanmu itu tidak akan tercapai ," sinis Rendi.
"Hubunganku justru jauh lebih baik dari sebelumnya bahkan dia jauh lebih baik dari Anda," lanjut Rendi.
Deg....
Ibu Ratih sangat tersentuh sakit di dadanya mendengarkan penuturan putranya itu.
Ia tidak tahu bahwa putranya sudah jauh berbeda dari sebelumya.
Dirinya yang selalu menekan putranya yang selalu menuruti setiap perintahnya.
Rendi selalu menurut pada ibunya, ia bahkan tidak akan pernah membantahnya ia membayangkan wanita seperti apa yang telah merubah putranya ini.
"Lebih baik Anda, urungkan niat Anda itu,sebaiknya anda belajar menerima kenyataan bahwa tidak semua bisa di bawah kendali Anda," ucap Rendi .
Ada perasaan sakit di dada ibu Ratih saat mendengar putranya berbicara apalagi dengan ucapan formalnya.
Padahal dia adalah seorang ibu. Bahkan ibu kandungnya yang melahirkannya tapi tidak ada kehangatan di antara ibu dan anak. Yang membuat sakit di dadanya ibu Ratih. Ia tersenyum meraih tasnya di sofa melihat ke arah putranya kembali yang acuh dan meninggalkannya dengan hati yang perih ibunya meninggalkan ruangan Rendi.
Rendi bersandar di pinggir kasurnya membenamkan pikirannya yang kacau. Ia menutup kedua matanya dan menahan sakit di dadaya. Tentang semua yang ia alami istrinya,ibunya, hubungannya,kehidupannya. Di kala Rendi sedang tertunduk sedih ia menoleh ke arah pintu kamar mandi yang terbuka.
Rendi membulatkan kedua matanya melihat istrinya keluar dari kamar mandi. Dengan rambut basah dan tubuhnya di lilit handuk. Rendi tersenyum berdiri dan memeluk istrinya erat.
"Ada apa denganmu, seperti ini aku pengap," ucap Rara.
Rendi mengeratkan pelukannya dan ia memejamkan matanya menghirup aroma tubuh istrinya yang ia rindukan.
"Maafkan aku, istriku tercinta, aku membuatmu marah hingga tidak ingin kembali," ucap Rendi.
"Apanya yang tidak ingin kembali kau ini bodoh ya Tuan singa?" Ucap Rara menjauhkan tubuh suaminya.
"Aku hanya pingsan kemarin, untungnya ada seorang wanita yang sangat baik ia merawatku dan juga sangat menyayangiku kau kalah dari dia," ucap Rara sombong.
"Apa kamu pingsan, lalu apa yang terjadi kamu tidak apa-apakan sayang apa yang kamu rasakan ayo kita periksa ke Dokter," ucap Rendi.
__ADS_1
"Hmm,kamu mau berdalih hah setelah menggandeng wanita se sexsi itu mana ia kamu mengingatku," teriak Rara melengos .
"Sayang itu tidak seperti yang kamu lihat dia hanya klienku yang ganjen saja," ucap Rendi.
"Terus kalau dia ganjen kamu mau meladeninya gitu !" Seru Rara.
"Gak seperti itu Sayang," ucap Rendi.
Rendi menarik Rara dan handuk yang melilit tubuh Rara terjatuh, karena di tarik Rendi. Ia melotot melihat apa yang Rendi lihat.Rara menjerit dan memeluk suaminya.
"Kamu jangan lihat ke bawah," ucap Rara.
"Hmm" ucap Rara lagi.
"Apa yang tidak boleh di lihat kebawah aku melihat semuanya Sayang," ucap Rendi tersenyum.
"Jangan di lihat, " teriak Rara .
"Aku kan sudah melihat semuanya," ucap Rendi.
"Jangan lihat," ucap Rara.
Rara menundukan kepalanya ke dada Rendi.
"Sayang,aku tidak melihat ke bawah tapi lihatlah ke samping," goda Rendi tersenyum.
Rara mengangkat kepalanya dan ia melihat kesamping dan ia melihatnya. Rara semakin memerah wajahnya setelah apa yang ia lihat,ia melihat tubuhnya memeluk Rendi di depan cermin.
Rendi yang melihat tingkah istrinya ia ternyenyum dan menjatuhkan tubuh mereka di atas kasur.
Rendi melihat wajah Rara yang matanya tertutup karena malu.
Rendi mengecup kedua mata Rara kening, pipi, kanan, kiri hidung dan bibir Rara.
Rendi memperdalam ciumanya pada istrinya intens setelah puas menciumi istrinya.
Ia turun mencium leher jenjang istrinya yang harum. Tangannya menarik kedua tangan Rara ke atas kepala. Ia menciumi istrinya sampai puas karena kerinduannya yang dalam membenamkan kepalanya pada pelukan istrinya.
__ADS_1
"Eeuh Sayang aku mau berbicaraaah sesuatu," lirih Rara.
"Hmmm," Rendi tidak memberhentikan aktivitasnya pada tubuh istrinya ia melakukanya beberapa kali Rendi seperti tidak mau berhenti sampai akhirnya mereka terkulai kelelahan.