Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Hari jadi


__ADS_3

Waktu menunjukan sekitar pukul sembilan malam. Rara duduk di tepi ranjangnya dengan dres tidurnya warna hitam kesukaan suaminya yang sedikit menampakan belahan bagian dadanya. Juga kain yang transfaran. Ia berjalan menghampiri pintu kamarnya dan membuka pedal pintu dan berbicara pada kedua pelayan yang masih setia menunggu di depan kamarnya.


"Bisa kalian bawakan makan malam ke kamarku? Buatkan seperti makan malam yang istimewa," ucap Rara memerintahkan pada kedua pelayan tersebut. Kini mereka berdua memberi hormat dan pergi menuju dapur menyiapkan permintaan nyonya mudanya.


Rara kembali ke dalam kamarnya setelah meminta kedua pelayannya menyiapkan makan malam romantis untuknya bersama suaminya.


Rara tersenyum membayangkan suaminya yang akan senang jika melihat apa yang ia masak untuknya bahkan sebuah makan malam khusus untuknya.


Rara duduk kembali di tepian ranjangnya.


Ia melihat ke arah pintu kamar mandi yang sudah terbuka dan melihat suaminya yang hanya berbalut handuk di bawah pinggangnya. Rara tersenyum ke arah suaminya yang juga tersenyum padanya. Ia menghampirinya dan memeluk erat tubuh suaminya yang bertelanjang dada.


Rendi memeluk erat tubuh istrinya yang bersikap manja malam ini. Ia mencium pucuk kepala istrinya dengan lembut dan penuh cinta.


"Istriku ini sudah mulai pandai menggoda suaminya ya, aku mana bisa tahan jika dengan sikap manjamu ini Sayang," ucap Rendi mencium pucuk kepala istrinya berulang kali. Entah apa yang Rendi rasakan. Ia sangat ingin menghabiskan waktu hanya berdua saja.


"Suamiku ayo kamu kenakan pakaianmu dulu, nanti kita lanjutkan," ucap Rara menengadahkan kepalanya di dalam pelukan Rendi.


"Kenapa harus memakai baju? Kita tinggal lakukan semudah yang biasa kita lakukan Sayang," ucap Rendi menyusupkan kepalanya di leher jenjang istrinya dan menciuminya bertubi-tubi.


Rara mendorong tubuh suaminya yang semakin menjadi-jadi ciumannya. Ia tidak ingin menyia-nyiakan moment malam ini dan mencoba agar semuanya berjalan sesuai keinginannya.


"Sayang ... ayo cepat kamu ke ruang ganti, kita aan makan malam dulu," ajak Rara mendorong tubuh suaminya agar pergi ke ruang ganti dan mengenakan pakaiannya.


Walau Rendi malas mengenakan pakaiannya. Ia tidak mau menolak ke inginan istrinya dalam hal apapun.


Ia berjalan memasuki ruang gantinya. Tapi berbalik ke arah istrinya hanya dengan kepalanya saja yang keluar dari arah pintu.


"Sayang ...aku kenakan celana saja ya," ucap Rendi tersenyum.


"Apaan ... cepat sana kenakan pakaianmu, jangan sampai kamu masuk angin nanti tidak pakai baju sana !" ucap Rara mendorong suaminya kembali.


Rendi berbalik dan memasuki ruang gantinya. Ia bersungut-sungut menggerutu karena ia sangat malas jika harus mengenakan pakaiannya.


"Lagipula pakaian yang di kenakan juga akan berakhir di lantai, kenapa harus pakai baju segala," gerutu Rendi.

__ADS_1


Ia mengenakan pakaiannya hanya mengenakan kaus putih dengan celana pendeknya warna putih. Ia membenarkan rambutnya yang sedikit acak-acakan dan bergegas keluar dari ruang gantinya.


Ia membuka pintu ruang ganti dan ia mengedarkan pandangannya mencari istrinya yang tidak ada di dalam kamarnya.


"Kemana istriku itu? Aku sudah tidak tahan jika harus beralam-lama," gumam Rendi mencari ke setiap sudut kamarnya mencari sosok istrinya yang sangat ia rindukan.


Rendi berjalan ke arah balkon kamar yang pintunya terbuka. Ia terdiam dalam berdirinya. Saat apa yang ia lihat sangat membuatnya terkejut.


"Selamat hari jadi Sayang, hari ini hari dimana kamu jadi kekasih satu bulanku," ucap Rara tersenyum dan menghampiri suaminya.


Rendi terkejut karena istrinya sangat cantik berdandan mengenakan gaun malam yang sangat indah berwarna marun. Warna yang sempat Rendi minta istrinya kenakan tapi Rara tolak karena ia tidak menyukai warna itu. Tapi karena itu ke inginan suaminya Rara mencoba untuk memberikan semuanya untuk Rendi.


"Sayang ? Aku bahkan tidak terpikirkan hal ini untukmu, maafkan aku," ucap Rendi memeluk erat istrinya dalam pelukannya.


"Untuk apa minta maaf? Ini kan juga kebahagianku, aku senang saja di hari bahagia ini kamu pulang cepat dan aku ingin selalu seperti ini di hari jadi kita lagi nanti," ucap Rara memeluk suaminya yang kini memeluk erat istrinya yang begitu bahagia di pelukannya.


"Sayang ... kamu tahu ! Jika hanya dirimu yang paling berarti bagi kehidupanku, maka jangan pernah bersedih walau sedetikpun, aku akan tetap berdiri kuat jika melihatmu kuat dan selalu tersenyum bahagia," ucap Rendi memeluk erat istrinya yang kini membuka kedua matanya di dalam pelukan suaminya.


"Sayang, kamu ini tenang saja aku pasti akan menjadi ibu yang tangguh dan tegas bagi anak-anak kita,kamu juga harus menjadi seorang ayah dan suami yang keren bagi anak-anak kita agar mereka bangga mempunyai ayah sepertimu," ucap Rara mencium bibir suaminya dengan lembut.


Rendi tersenyum bahagia. Ia tidak pernah berpikir akan hal ini. Hal yang membuat istrinya bahagia. Padahal selama ini ia tidak pernah berpikir ke hal seperti makan malam untuk hanya berdua saja bersama istrinya.


Rendi melihat ke arah istrinya yang sedang memberikan tisu untuk ia pakai di tempatnya dan memberikan sebuah kecupan manis pada bibirnya. Rendi merangkul istrinya hingga terduduk di pangkuannya.


Rara terkejut karena suaminya yang teramat sangat ia cintai kini berada di hadapannya dengan senyuman menggodanya.


"Sayang ... makan dulu! Kamu belum makan malam," ucap Rara tersenyum dan menempelkan keningnya dengan kening suaminya.


"Aku mau makan kamu saja Sayang, itu sudah cukup untukku," jawab Rendi mencium bibir istrinya yang ranum berwarna merah ceri.


Mereka berciuman dengan dalam dan saling menikmati satu sama lain di bawah langit malam yang berbintang dengan hiasan meja makan yang bernyala lilin yang bercahaya redup.


Malam yang indah bagi mereka akan habiskan malam ini hanya untuk mereka berdua.


Rendi menyusupkan sebelah tangannya keleher jenjang istrinya dengan rambut terurai.

__ADS_1


Ia menekan kepala istrinya dan dan memperdalam ciumannya hingga berpindah menelusuri leher jenjang istrinya dengan ciuman. bertubi-tubi meninggalkan jejak kepemilikan berwarna merah di leher jenjang istrinya.


Rendi tersenyum ketika istrinya sedikit mendesah dengan lembut ketika ia meninggalkan jejak kepemilikan di lehernya.


Ia mulai menggendong istrinya dari pangkuannya dan mereka berjalan memasuki kamarnya.


Rara tersenyum dan menatap penuh cinta pada suaminya yang kini ada di hadapannya.


"Kamu hanya akan memakanku? Tidak mau makan nasi dulu?" tanya Rara menggesekan hidungnya pada hidung suaminya.


Rendi tersenyum dan memaringkan tubuh istrinya di atas ranjang yang kini sudah bertaburan bunga mawar merah senada dengan dres warna marun yang Rara kenakan.


Rendi tersenyum dan mencium lekat bibir istrinya dengan lembut. Ia menarik tali dres yang mengikat di bagian leher istrinya hingga terjatuh ke lantai bersamaan dengan pakaiannya. Kini mereka berdua sudah tidak ada helaian benangpun yang menutupi tubuh mereka berdua.


Rendi tersenyum dan mencumbu bibir ranum istrinya dengan bertubi-tubi ciumannya.


Mereka melakukan aktivitas suami istri seperti biasanya. Tapi malam ini terasa teramat panjang dan penuh cinta karena mengingat malam ini adalah hari jadi mereka untuk pertama kalinya mereka bertemu dan berjanji menjadi sepasang kekasih walau hanya di dasari sebuah kesepakatan.


Rendi mengakhiri aktivitasnya dengan keringat bercucuran di tubuhnya.


Ia melihat istrinya yang tertidur karena lelah. Kini Rendi tersenyum dan menutup tubuhnya dengan tubuh istrinya oleh selimut dan tertidur setelah malam yang panjang.


Tinggalkan jejak ya kak. Like, Bintang dan Vote ya kak. Terimakasih.


NTR: Kakak Readers bila berkenan mampir ya di karya Author sebelah yg berjudul Cinta terpendam .


Karyanya tidak kalah menarik kak yu baca.


Nama Author:Dian Safitri.


Judul: Cinta Yang Terpendam.


.


__ADS_1


__ADS_2