Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Besama Satu keluarga


__ADS_3

NTR:Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen dan vote yach... Selamat membaca kak.


Saat semua keluaraga Rendi berbahagia dengan cara mereka masing-masing. Begitupun dengan Dilla dan Ken yang masih seperti biasanya mereka berdua selalu acuh tak acuh. Namun saling melengkapi. Apalagi saat ini mereka juga memiliki seorang putri bernama Zain. Ken berdiri di depan Rendi dan Rara berada dan di sampingnya ada Dilla istrinya.


"Ayah, ayah?" sapa seorang gadis kecil mungil berkulit putih menghampirinya.


Ken melihatnya dan membungkukan tubuhnya melihat gadis kecil yang tak lain adalah putrinya sendiri menghampirinya dengan memeluk kakinya. Ken menggendong Zein dengan wajah datarnya. Tanpa ada senyuman menyambut putrinya itu.


Namun Zein sepertinya jauh lebih memahami ayahnya. Hingga ia tetap tersrnyum gemas pada ayahnya yang masih merapatkan bibirnya walau pada dirinya.


"Ayah, ayah gak pegal berdiri terus dari tadi?" tanya Zein yang dengan wajah manisnya bibir mungil.


"Tidak," jawab Ken tak mengurangi ekspresinya.


"Ya sudah, Zein mau ayah suapi Zein!" pinta Zein dengan tangan menyentuh pipi ayahnya.


"Tidak!" tegas Ken.


"Hmmm, baiklah. Aku akan beritahukan pada tuanmu kalau ayah mengatakan dia manja sama istrinya," bisik Zein dengan sedikit terdengar oleh Dilla yang kini tersenyum tertahan.


Ken tertegun membulatkan kedua matanya. Ia lupa kalau putrinya itu, daya ingat dan kepandaiannya selalu di luar nalar anak-anak. Bahkan dia bisa mengancam setiap saat jika menginginkan sesuatu pada ayahnya.


Aku lupa jika ada senjata di kepandaian putriku ini. Kenapa waktu itu aku pernah mengatakan hal itu di depannya ya, batin Ken.


Ken melihat ke arah putrinya yang terlihat polos di hadapan Ken. Kini tersenyum manis di pangkuannya. Ken masih dengan wajah datarnya ia menatap putri tercintanya itu, namun tak mengurangi kedatarannya.


"Jangan pura-pura polos di depan ayah, tidak akan ngaruh," ucap Ken acuh.


"Hehe, suapin," Zein tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


Ken tidak menjawab putrinya, namun ia segera membawa Zein dan duduk di dekat istrinya Dilla yang kini sedang tersenyum. Ia duduk dengin Zein di pangkuannya.


Dilla yang tersenyum melihat kepintaran putrinya danbmengedipkan sebelah matanya penuh kemenangan.


Ken mengambil mangkuk berisi buah-buahan dan menyuapi Zein dengan wajah datarnya.


"Emmm, ayah memang yang paling tahu kesukaanku," ucap Zein dengan bahagia ia melhaap makanan yang di suapi ayahnya.


Ken tidak menanggapi ucapan putrinya, ia memang lebih tahu setiap apapun yang di lakukan putri kecilnya itu. Walau dirinya tampak acuh, walau hanya warna kesukaan Zein, ia lebih tahu di bandingkan Dilla ibunya.


Saat Zein mengunyah makanan, Rayn melihat ke arah gadis mungil itu yang sedang menjulurkan lidahnya. Mengejek Rayn yang sedang mengunyah makanan yang di suapi ibunya Rara.


Rayn menatap tajam ke arah Zein yang kini meledeknya dan tersenyum penuh kemenangan. Ia tampak kesal pada gadis kecil itu dan kembali mengalihkan pandangannya pada ibunya.


"Memang apa yang di katakan pada ayahmu, hingga membuatnya menyuapimu Zein?" tanya Dilla pada putrinya yang berada di pangkuan ayahnya.


"Tidak ada!" Ken menjawabnya lebih dulu dan memalingkan wajahnya.


Dilla selalu menikmati moment dimana Zein selalu bermanja pada ayahnya. Meski, Ken tidak pernah memanjakan Zein seperti pada umumnya seorang ayah, namun, Zein selalu tahu cara agar ayahnya bisa memanjakannya denga caranya sendiri. Bagi Zein apapun itu, jika tentang ayahnya. Dia jauh lebih handal di bandingkan dengan Dilla yang selalu manis manja. Zein lebih pintar dalam strategi menggoda ayahnya agar bisa memanjakannya. Maka dari itu ayahnya selalu tahu akan kecerdikan putrinya itu.


Padahal gak ada yang secerdik dirinya antara aku dan Dilla tapi kenapa aku selalu terjebak oleh putriku sendiri? Apa waktu itu Dilla mengidam tuan ya? Kecerdikannya sama percis seperti Rendi, batin Ken memikirkan tentang putrinya.


"Ayah, janga terlalu banyak berpikir, masih banyak tugasmu, sebaiknya fokus menyuapiku," ucap Zein dengan mulut yang masih mengunyah buah-buahan yang di berikan Ken.


Ken mengerutkan dahinya dan menyuapi kembali putrinya yang mungil di pangkuannya itu. Ia melihat ke arah istrinya yang tersenyum tertahan melihat kedekatan Ken denga Zein. Mereka tersenyum melihat Ken yang tanpa kesal ataupun lembut. Ia selalu datar dalam hal apapun.


"Mereka keluarga yang sangat mengagumkan, aku sangat iri," ucap Alea melihat kebersamaan keluarga Rendi dan yang lainnya.


Alea duduk dengan cjarak sekitar dua meter, bersama dengan Lina yang juga mengangguk dan mengagumi tontonan manis di hadapannya itu.

__ADS_1


"Ya ... aku juga sangat suka melihatnya, lain dengan kehidupanku yang hanya sendiri saja," ucap Lina yang menopang dagunya di atas meja menatap ke arah dimana Rendi satu keluarga tertawa bersama.


Alea berbalik melihat ke arah Lina dan mengangkat alisnya, ia lupa jika ada seorang gadis muda yang duduk di sampingnya. Seorang gadis dengan pakaian sederhananya ia kini sedang duduk menopang dagunya menatap ke arah Rendi dan Rara yang terlihat sangat enak di pandang. Pria tampan dan cantik di kelilingi orang-orang hebat.


"Emmm ... anda?" tanya Alea mencoba untuk berbicara dengan Lina.


"Eh. Saya Lina Agustin. Dari Indonesia?" jawab Lina ramah.


"Kamu dari Indonesia? Dengan siapa kesini? Apa kamu bekerja disini?" tanya Alea dengan sumringah.


Banyak sekali pertanyaannya? Yang mana dulu yang harus aku jawab? Lina terdiam.


"Kamu tahu? Aku juga orang Indonesia dan nyonya dan tuan juga orang Indonesia, kamu dari mana Indonesianya?" tambah Alea bertanya tanpa jeda.


"Emmm, saya ...."


"Dia bersamaku, dan juga calon istriku," potong Iyas menjawab pertanyaan Alea yang membuat Lina tertegun mendengar ucapan Iyas tentangnya.


"Waaaah, selamat ya tuan, saya kira ...."


"Apa?" tanya Iyas tegas.


"Tidak ada, semoga anda bahagia," jawab Alea tertegun.


Baru kali ini aku meliwat dan mendengar tuan Iyas begitu tegas dan tidak sembarangan lagi. Gadis yang unik,bisa buat lelaki tampan yang humoris ini jatuh cinta padanya. Batin Alea tersenyum.


"Berbincanglah kalian, aku ada urusan dengan bosmu," ucap Iyas berdiri dan menghampiri Mark yang tak jauh dari mereka berada.


Alea melihat punggung Iyas yang berjalan menghampiri Mark yang ternyata sedang menatap ke arah mereka berada. Alea tertegun melihat sorot mata tuannya itu. Ia tertunduk dan beralih berbicara pada Lina yang masih terdiam. Ia belum mencerna apa yang di dengar olehnya.

__ADS_1


Istri, calon, apa maksudnya? Pria gila dan aneh, bukannya dia bilang hanya sandiwara di hadapan kekasihnya saja? Kenapa harus memberitahu orang lain juga? Lina terdiam tanpa menghiraukan Alea yang menatapnya.


__ADS_2