Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
GaK Peka


__ADS_3

NTR:Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen dan vote yach... Selamat membaca kak.


Setelah acara selesai, di malam hari berada duduk di sofa Rendy, Mark, Ken, Adam dan Iyas kini berada di ruang tamu. Mereka berbincang bersama, sambil menikmati kopi dan camilan di malam. Ruangan utama yang digunakan untuk pesta, kini sudah bersih dan kembali seperti semula.


Ada beberapa penjagaan di luar rumah utama Robert dan beberapa pelayan kecil bertugas di malam hari. Saat Iyas memakan cemilan yang ada di depan mejanya, Ia terdiam ketika dia merasakan ada banyak tatapan yang mengarah kepadanya.


Saat ia mengalihkan pandangannya, Iyas melihat semua orang yang ada di ruang tamu menatapnya dengan tajam dan penuh pertanyaan. Iyas mengedarkan satu-persatu kepada sahabat-sahabatnya itu dan mengangkat alisnya sebelah.


" Ada apa dengan kalian? " tanya Iyas dengan mulut penuh makanan. tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Namun mereka masih menatap Iyas dengan penuh arti.


"Kau bilang dia istrimu?" Mark menatap tajam.


"Hah? Apa?" Iyas mengalihkan pandangannya.


"Kau menculik gadis itu? Dia tampak masih muda?" tambah Adam.


"Dia sangat muda," ucap Ken datar.


"Usianya sekitar 17 tahunan," sambung Rendi tanpa mengalihkan pandangannya dari handphonenya.


"Kalian berbicara apa? Aku saja baru bertemu gadis itu kemarin," bantah Iyas.


"Apa kau mau menipu kami?" tanya Mark.


"Lina Agustin, usia 18tahun asal Jakarta bekerja di Cafe Story," tambah Adam menjelaskan.


"Hmm, karyawan istriku," balas Rendi.


"Memang apa salahnya dengan itu?" tangkis Iyas.


"Kau membawa gadis itu, di hari dia pertama bekerja dan membawanya ke rumah sakit bahkan bertemu mantan kekasihmu, bermalam di hotel dan pergi ke Singapura," ucap Ken.


"Kalian melacak aku?" protes Iyas.


"Memang apa yang tidak bisa aku ketahui," jawab Mark.


"Astagaa ... kalian seperti sedang mengintrogasi penculik saja, aku ini sahabat kalian!" protes Iyas kesal.

__ADS_1


"Hmmm," jawab semua bersamaan.


"Aaaaah ... baiklah, baiklah. Aku jelaskan," ucap Iyas menyerah.


Semua yang mendengar ucapan Iyas, mereka tersenyum tipis. Saat menggoda Iyas yang terpaksa harus menjelaskan kepada mereka semua. Iyas menjelaskan dan menceritakan keseluruhan setiap kegiatan dan mengapa ia bertemu gadis itu.


Setelah mendengar penjelasan Iyas, mereka semua terdiam dan mengangguk memahami apa penjelasan sahabatnya itu. Namun lain dengan yang lain, Mark masih menatap tajam kearah Iyas. Ia mengerutkan dahinya menatap lekat padanya.


"Apa lagi?" tanya Iyas mengerutkan dahinya melihat Mark yang masih tidak mengalihkan perhatiannya.


"Apa kau yakin Ines mati?" tanya Mark.


"Hmmm," tambah Rendi ikut tidak memahaminya.


"Saat aku menjenguknya memang dia baik-baik saja, tapi aku tidak memastikan kematiannya. Aku hanya tidak mau mengingatnya. Jika memang dia sungguh-sungguh mencintaiku, dia tidak akan melakukan hal itu padaku, aku sudah paham kok rencananya," jelas Iyas dengan nada pelan.


"Dia menganggapmu bodoh dan tidak tahu apa-apa Yas," ucap Ken datar.


"Yaach," jawab Iyas menyenderkan tubuhnya di belakang sofa.


"Sudah ku bilang berantas suaminya kau malah gak mau," ucap Adam.


"Hmmm," semua tak menjawab penuturan Iyas, namun memahami ucapannya.


Mengingat akan hal itu dan yang lainnya terdiam. Melihat Iyas yang sedikit sedih karena cintanya yang tidak terbalas oleh kekasih masa kecilnya. Ia merasa tertipu oleh Ines karena pernah memberi ia sebuah harapan yang sangat palsu. Hingga membuat ia menggila dan selalu bermain dengan banyak wanita.


Walau hanya pura-pura. Belum ada wanita manapun, yang pernah Iyas sentuh. Ia selalu berpegang pendiriannya. Hanya akan menyerahkan jiwa raga dan hatinya untuk istrinya yang tulus di masa depan.


"Lalu, untuk apa gadis itu?" tanya Adam.


"Heh, bodoh! Kau pikir dia semudah itu mau jadi istriku? Dia garang sama aku," jawab Iyas.


Semua orang yang mendengar ucapan Iyas, mereka saling menatap satu sama lain lalu menatap kearah Iyas dan mereka tertawa terbahak-bahak. Untuk pertama kalinya Iyas tidak bisa menaklukan seorang wanita. Apalagi hanya seorang gadis muda.


Iyas hanya terdiam ketika sahabat-sahabatnya tertawa sepuas mereka. Mendengar Iyas yang bahkan semua wanita cantik dan seksi selalu berebut perhatian padanya. Namun untuk pertama kalinya Iyas mengatakan ada wanita yang bahkan acuh padanya dan tidak histeris menyukainya.


"Tapi aku suka!" ucap Iyas masih bersandar di sofa dan membiarkan sahabatnya mengejeknya.

__ADS_1


"Hmmm," Mark menjawab ucapan Iyas yang sedang tersenyum.


****


Pintu kamar mandi terbuka, saat Lina sedang duduk di atas ranjang tidur. Ia melihat ke arah pintu yang terbuka. Saat melihat Alea sudah mengenakan pakaian istirahatnya ia melihat ke arah Lina yang sedari tadi duduk di dalam kamarnya.


"Ada apa?" tanya Alea.


Mereka menjadi sedikit akrab ketika di taman tadi sore, Lina berjalan mengikuti Alea ketika pelayan mengantarnya ke kamarnya yang bersebelahan dengan Alea.


"Aku ... takut di negara yang tidak aku ketahui ini," ucap Lina ragu.


"Hmm, kau itu kesini di bawa pangeran! Apa yang harus di takuti? Kalo aku yang begitu, sudah nempel aku gak akan aku lepas tuh pangeran," jawab Alea membayangkan dirinya.


"Apaan, orang dia juga terpaksa mengajak aku," bantah Lina.


"Harusnya kamu bersyukur karena tidurmu itu bangke, karena menjadi berkah kamu bisa di bawa seorang pangeran, hahaha," goda Alea sambil merapihkan rambutnya.


"Eh, gadis yang cantik dan manis itu, Nyonyamu?" tanya Lina penasaran akan wanita yang ia perhatikan sedari pertama datang ke kediaman Mark. Melihat Rara.


"Emmm... maksudmu Nyonya Rara?" tanya Alea mengerutkan dahinya.


"Heem," jawab Lina penasaran.


"Issh ... aku juga tidak tahu, tapi yang aku tahu, dia sangat cantik,baik hati dan manis. Aku merasakan kelembutannya, dia ramah pada siapapun dan keceriaannya mengalahkan aku yang keras kepala," jelas Alea.


"Hmm, aku suka memandanginya apalagi pas dia di manja oleh suaminya, sangat manis mereka itu," ucap Lina tersenyum tipis.


"Hmmm, eh, senyummu juga manis, kenapa kamu jarang tersenyum ya? sampai tidak ada kerutan senyuman di wajahmu?" tanya Alea memperhatikan wajah Lina yang datar namun cantik.


"Iyah ... aku memang jarang tersenyum bahkan aku tidak ingat kapan aku tersenyum," jawab Lina.


"Hmmm, kamu unik juga ya? Pantas saja tuan Iyas menyukaimu," ucap Alea menopang dagunya.


"Woy, apanya yang suka? Dia hanya sedang pura-pura sama aku!" bantah Lina.


"Iyakah? Tapi kok aku merasa dia menyukaimu tuh, jangan bilang kamu tidak peka juga?" goda Alea.

__ADS_1


Lina terdiam, mendengar penuturan Alea yang mengatakan kebenarannya. Bahwa Lina memang gadis yang tidak peka terhadap apapun apalagi soal perasaan seseorang. Mengingat dirinya selama ini tidak pernah di dekati pria apalagi Iyas yang sangat tampan dan rupawan seperti itu. Baginya hal yang gak mungkin jika ada pria yang begitu tampan bisa menyukainya.


NTR: Cerita Mark dan Alea Rilis ya kak cek profilku deh Daddy Tampan. Favoritkan Komen Like ya.


__ADS_2