
NTR:Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen, favoritkan dan vote yach... Selamat membaca kak.
"Diam di tempat! Jangan berjalan selangkah pun!" seru Amira.
Zain terkejut dan terdiam mendengar ucapan Amira. Diapun merasa takut akan ucapan Amira yang sangat serius kepada dirinya. Zain terdiam menjadi patung dengan pandanga ke arah Amira yang kini sedang menatapnya tajam.
Amira berjalan perlahan dan melihat-lihat sekitaran lantai dapurnya. Ia tampak tegas pada Zain yang sedang mematung ketakutan pada dirinya. Naura yang juga ikut terdiam dan terkejut akan Amira yang begitu tegas pada Zain ikut terdiam tidak memahami temannya itu.
"Ra, maaf! Tadi itu piringnya licin ...."
"Jangan gerak! Diam!" tegas Amira kelihat Zain yang mencoba menghampirinya.
Zein terdiam mematung saat mendengar ucapan Amira kembali, ia memperhatikan Amira yang masih melihat-lihat kesana kemari membuatnya merasa semakin merasa bersalah. Untuk kali ini Zain membuat Amira merasa kesal dan marah kepada dirinya. Kali ini, ia melihat kemarahan Amira dengan tegas dan jelas.
Saat melihat Amira yang mengambil sapu dan juga Ia segera menyapu dan membersihkan lantai dengan bersihkan piring-piring yang pecah berserakan di bawah kaki Zain. Ia kejut melihat Amira yang begitu sangat teliti membersihkan lantai, bahkan tidak ada lagi pecahan piring di sekitar kaki Zain.
Zain menatap Amira yang kesana kemari membersihkan dan membuang pecahan piring yang sudah ia ambil. Zain menatap Amira hingga kini Amira berada tepat di hadapannya. Menatap Zain.
"Kamu tidak apa-apa? Ada yang luka tidak? Hmm?" tanya Amira mengerutkan dahinya menatap Zain yang terdiam.
__ADS_1
"Sini biar aku saja yang kerjakan," tambah Amira.
Amira mengambil piring yang ada di tangan Zain yang terdiam. Ia berdiri di depan westaple dan mencuci piring kotor yang masih cukup banyak.
Namun saat Amira sedang mengerjakannya. Tiba-tiba Zain memeluk Amira dari arah belakangnya.
"Amiraa ...! Kamu baik banget saudariku terbaik! Aku kira kamu akan marah sama aku karena memecahkan piring. Tapi kamu malah mengkhawatirkan aku agar tidak terluka. Huaaa aku terharu," ucap Zain menangis memeluk tubuh Amira dari belakangnya.
"Hmm, apa pecahan piringnya bukan mengenai kakimu? Tapi mengenai otakmu Zain?" tanya Amira.
"Huaaa, kamu tetep aja pedas Amira!" rengek Zain.
Meski Amira dingin dan acuh tapi kepeduliannya dan kehangatannya akan dirasakan oleh orang-orang tertentu, yang tahu dan memahami sifat dan diri Amira.
Untuk kali ini Zain merasa sangat bahagia dan senang memiliki saudari seperti Amira.
"Mau sampai kapan kamu seperti ini? Atau kamu mau mengerjakannya ini lagi?" cetus Amira.
Amira melihat ke arah Zain dengan tatapan tajamnya. Zain terkejut, Ia lalu melepaskan pelukanya dan tersenyum tipis. Namun ia bahagia melihat dan mendapatkan perhatian Amira. Kini Zain mengagumi saudarinya itu dan saking gemasnya ia kepada Amira. Tiba-tiba Zain mencium pipi Amira. Setelah itu ia bergegas lari keluar dari dapur dan berteriak pada Amira.
__ADS_1
"Aku menyayangimu Amira...," teriak Zain keluar dari dapur.
Amira terkejut dan terdiam, ia mengerutkan dahinya lalu tersenyum tipis melihat Zain yang berlari keluar, setelah melakukan hal konyol kepada dirinya.
"Gadis konyol yang manja! Apa yang dia lakukan?" gumam Amira.
"Aku juga mau mencium pipi kamu. Kamu sangat manis ya Amira," goda Naura menghampiri Amira.
Namun saat Naura mencoba untuk mencium pipi Amira. Tiba-tiba Amira menghalangi wajahnya menggunakan piring yang berbusa, Naura terdiam mematung melihat tanggapan Amira yang malah mengacungkan sebuah piring yang masih kotor kepada dirinya, Ia lalu memajukan bibirnya cemberut
"Pilih kasih! Zain saja boleh mencium kamu. Tapi aku tidak boleh," rajuk Naura.
"Aku normal ya! Sebaiknya kamu pergi ke ruang tamu!" tegas Amira.
Naura terdiam dan mengangguk, ia lalu berjalan beberapa langkah meninggalkan Amira. Namun baru beberapa langkah, ia berbalik kembali, tersenyum dan berlari ke arah Amira. Ia meluncurkan ciumannya kepada pipi Amira. Setelah itu ia berlari sekencang mungkin keluar dari dapur.
"I miss you, Amira ...," teriak Naura.
Amira tersenyum dan menggelengkan kepalanya menanggapi kelakuan dua saudarinya itu, yang selalu kekanak-kanakan dan konyol baginya. Lain dengan dirinya yang selalu terlihat acuh bagi siapapun.
__ADS_1