Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Cinta yang nyata


__ADS_3

Rara menangis dalam pelukan suaminya dengan setiap luka dan hati yang penuh penyesalan pada dirinya sendiri yang selalu membuat suaminya dalam kondisi seperti saat ini. Rendi tersenyum dan melonggarkan pelukan pada istrinya. Rendi menatap wajah istrinya dengan senyuman lembut pada istrinya.


"Sayang, jika kamu masih menangis, darimana aku harus menceritakan semuanya padamu?" tanya Rendi tersenyum menyentuh wajah istrinya dan mengusap air mata yang


Rara memajukan bibirnya dan mengangguk pada suaminya yang kini tersenyum padanya.


Rendi tersenyum melihat istrinya yang sudah terdiam dan tidak menangis lagi.


"Apa yang ingin kau lakukan Sayang? Mendengarkan ceritaku? Atau memberiku sarapan gizi agar aku kuat kembali?" goda Rendi tersenyum melihat istrinya yang semakin memajukan bibir dan pipinya yang kembung kembali.


"Kamu ceritakan dulu baru aku akan memberimu makanan bergizi lebih dari biasanya," balas Rara tersenyum menggoda pada suaminya yang kini ikut tersenyum melihat tingkah manja istrinya lagi.


"Baiklah, akan aku ceritakan padamu semuanya dan sebagai bayarannya kau beri aku makan sampai aku merasa kenyang dan puas," ucap Rendi tersenyum dan merangkul bahu istrinya dan bersender di dadanya.


Sebelum Rendi berbicara, kedua anak mereka terbangun dan berhamburan berlari menghampiri Rendi dan Rara yang juga tersenyum bahagia melihat Amira yang berlari pada Rendi. Begitupun Rayn juga ikut berlari menghampiri mereka dengan tatapan acuhnya. Amira berada di pangkuan Rendi dan Rayn di pangkuan Rara dengan ciuman bertubi-tubi pada wajah putranya yang acuh seperti itu. Amira masih dengan tingkah manjanya menciumi Rendi dengan segala kegemasannya pada Amira.


Rara tersenyum bahagia melihat tingkah anak dan ayahnya yang terlihat hangat di pagi hari.


Pada akhirnya Rendi menceritakan segala hal yang terjadi OKadanya dengan Ken selama hampir satu bulan ke belakang. Rara mengangguk sebagai jawaban dari setiap cerita suaminya. Hanya satu yang Rendi rahasiakan. Yaitu saat Ken menusuk berkali- kali perutnya yang awalnya hanya akan berpura-pura saja. Tapi Dirga lebih licik menukar baju pelindung yang di kenakan Rendi. Hingga membuat Rendi hilang kendali dan terluka dengan jangka waktu yang lama.


Setelah mendengar cerita dari suaminya Rara memeluk suaminya dan melihat anak-anaknya yang kini sedang bermaij di depan mereka. Rayn dan Amira di bawa oleh kedua pengasuhnya dan kini hanya ada mereka berdua yang masih saling berpelukan duduk di sofa. Rara memeluk erat suaminya dengan segala kerinduannya yang sangat dalam pada suaminya.


Rendi mengusap pundak istrinya dengan senyum di wajahnya yang masih tak hentinya terpancar di wajahnya.


"Jika kamu dalam keadaan serupa lagi, kamu harus ingat sayang, ada aku yang akan mendukungmu dan juga sahabat-sahabatmu akan selalu ada untukmu, kenapa kamu selalu bertindak sendiri?" ucap Rara mempererat pelukannya.


"Mengingat sahabatku! Aku harus membunuh seseorang saat ini!" ucap Rendi melonggarkan pelukannya pada istrinya.


Rara memeluk erat suaminya dengan kekuatan penuh mencegah suaminya yang sudah berbicara hal yang tidak di inginkannya. Rendi terdiam saat Rara mencegahnya dan memeluknya dengan erat.


"Sayang, jangan seperti itu! Dia itu sahabatmu kenapa kamu mau membunuhnya yang sudah bersedia melindungi istrimu ini?" ucap Rara mempererat pelukannya. Rendi tersenyum tipis mendengar ucapan istrinya dan juga pelukannya yang seperti tidak mau lepas.


"Jadi, kamu malah mau membelanya?" goda Rendi sedikit keras suaranya.


"Tidak! Aku bukannya membelanya, Dia itu sangat baik Sayang, kamu jangan terlalu gegabah," jelas Rara menjadi serba salah jika berbicara pada suaminya dalam kondisi seperti ini.


"Apa kau suka berperan suami istri dengannya?" ucap Rendi semakin membuat Rara kalang kabut. Rara tidak ada cara lain selain dengan tindakan pamungkasnya.


Rara menutup mulut suaminya dengan bibirnya dan menciumnya dengan segala kemampuannya. Walau tidak sepandai suaminya. Tapi Rendi bahagia karena istrinya berinisiatip untuk menciumnya lebih dulu. Rendi tersenyum dan memperdalam ciuman istrinya dengan balasan lembut darinya. Tubuh istrinya kini terjatuh di atas sofa dengan bibir mereka yang masih bersahutan tanpa melepas satu sama lain.


Rendi mencumbu bibir istrinya berulang kali melum*tnya dengan tekanan tangannya dengan lembut di wajah istrinya. Rendi tersenyum ketika istrinya menutup kedua matanya dalam ciuman suaminya yang lembyt dan memabukan baginya yang sangat merindukan sentuhan suaminya selama hampir satu bulan tertinggal jauh.


Rendi tersenyum dan tangannya mulai menelusuri setiap inci pakaian yang istrinya kenakan. Begitupun dengan penutup kepalanya yang kini sudah terbuka karena Rendi yang sudah hapal cara membuka setiap kain yang di kenakan istrinya.

__ADS_1


Desahan Rara terdengar lembut ketika Rendi mencumbu leher jenjang istrinya. Rara membuka tutup kedua matanya ketika Rendi menggunakan tangannya untuk meraba setiap inci tubuhnya yang kini sudah setengah terbuka. Rara merangkul pundak suaminya dengan desahan yang semakin memanas baginya. Kini Rara mendesah semakin keras ketika Rendi menempatkan bibirnya di sesuatu yang intim di bagian dada milik istrinya. Rara menekan kepala suaminya dengan remasan jemarinya di rambut Rendi.


Semakin memanas cumbuan bertubi-tubi dari Rendi. Rara merasakan debaran jantung yang teramat dalam ketika suaminya merenggangkan tubuhnya menjauh dari dekapannya. Setelah Rendi merasa semakin panas dan sesuatu di bawah sana semakin meronta meminta haknya. Rendi menggendong istrinya yang sudah tidak mengenakan apapun untuk menutupi tubuhnya. Begitupun Rendi yang hanya berbalut pooerban di bagian perutnya.


Rara tersenyum melihat wajah suami tampannya yang dengan gagah menggendongnya dalam kondisi saat ini.


Rendi membaringkan tubuh istrinya perlahan di atas ranjang.


Rara tersenyum mendapat perlakuan lembut dari suaminya yang sangat ia rindukan dan cintai.


"Sayang? Apa tidak apa-apa dengan lukamu?" tanya Rara sedikit khawatir dengan perban suaminya yang masih terdapat luka yang masih belum kering.


"Jika ada Dokter cantik sepertimu, aku tidak akan takut terluka lagi Sayang," jawab Rendi tersenyum dan menautkan kembali bibirnya dengan bibir ustrinya dan menuntaskan tugas yang seharusnya dilakukan sepasang suami istri di pagi hari dengan cinta dan kerinduan yang teramat dalam mereka bayar dengan adegan ranjang yang oanas dan hangat dan lembut dari suaminya untuk istri tercintanya.


Rara tampak bahagia mendapat perlakuan lebut dan kasih sayang dari suaminya yang kini sudah terkulai lemas di sampingnya tanpa kain penutup tubuh mereka.


Rara berbalik dan menyentuh dada budang suaminya dan senyuman kebahagiaan di wajahnya. Rara mencium bertubi-tubi dada bidang suaminya dan juga dengan lembut ia teluduri tubuhnya hingga sampai di luka bagian perut suaminya.


"Sayang? Tidak perlu khawatir lukanya akan seceptanya sembuh, kamu bangun makan dulu gih, biar tidak lelah seperti itu, atau kamu mau kita lakukan lagi?" goda Rendi tersenyum menggoda istrinya yang kini merah padam. Pasalnya Rara sepenuhnya menikmati adegan panas untuk kali ini. Ia lebih bekerja lebih keras untuk menikmatinya. Yang membuatnya malu dan membuat wajahnya memerah seperti tomat.


Rendi tersenyum melihat wajah merah padam istrinya dan memeluk erat Rara di dalam dekapan kasih sayang dan rasa cinta dalam kerinduannya. Mereka tertidur dalam pelukan kerinduan masing-masing tanpa penutup tubuhnya.


Di lantai bawah, Dilla membuka kedua matanya yang merasakan berat di bagian perutnya dan sesak di dadanya. Ia mengingat bayinya dan membuka kedua matanya. Ia terkejut ketika melihat sebuah tangan berada di pinggangnya dan memeluknya dengan erat. Juga wajahnya berada di dada budang milik seseorang. Dilla mendongakan kepalanya dan melihat wajah yang selama ini selalu ia rindukan.


Dilla terbangun dari tidurnya dan duduk di atas ranjang melihat Ken yang menggeliat dan juga membuka kedua matanya dan tersenyum tipis di hadapan Dilla.


"Bagaimana kamu bisa...."


Tubuh Dilla di tarik oleh suaminya hingga kini Dilla berada dalam pelukan suaminya. Dilla mendengar debaran kencang jantung suaminya saat ini. Ia juga di peluk erat oleh suaminya yang kini menutup kedua matanya dan Dilla berada di atas tubuh suaminya denga wajah di bagian dadanya.


Dilla mencoba bergerak dan melepas pelukan agar tidak membuat suaminya sesak karenanya yang kini berada di atas tubuh suaminya.


"Diam! Nanti akan ada sesuatu yang memberontak jika kau bergerak terus!" ucap Ken membuat Dilla terdiam.


Meski terdengar bentakan dan kucu tapi Dilla tidak merenggangkan pelukannya dan memeluk erat tubuh suaminya yang kini masih dengan posisi mereka seperti tertidur dalam sebuah pelukan hangat.


Dilla teringat akan putrinya yang tertidur di dekapannya semalam dan sekarang terasa hilang baginya. Dilla mencoba untuk bangkit tapi masih tidak di perbolehkan oleh Ken.


"Kau tidak bisa tenang sebentar saja!" seru Ken masih berbicara mendekap istrinya dengan mata tertutupnya.


"Ken... bayiku mana dia semalam tidur denganku," ucap Dilla mengingat bayinya yang semalam tidur dengannya.


"Kau pikir aku akan membiarkan putriku terluka?" balas Ken masih dengan nada dinginnya.

__ADS_1


"Bukan itu maksudku...."


Tubuh Dilla terbalik dan kini ia berada di bawah dan Ken yang berada di atas tubuhnya. Dengan senyuman tipis di wajahnya Ken menyeringai melihat wajah istrinya yang masih mengerutkan dahinya.


"Apa ada hal yang lebih penting selain aku?" tanya Ken mendekati wajah Dilla yang memerah padam karena wajah Ken semakin dekat dari wajahnya. Bahkan nafas Ken terasa hangat di wajah Dilla saat ini.


"Bukan itu...."


"Apa aku tidak begitu penting bagimu?" potong Ken mendahului ucapan Dilla yang kini tidak ada jarak lagi di antara wajah keduanya.


"Ken, Aku... mmmm."


Ken menutup mulut Dilla dengan bibirnya. Ciuman dengan segala kelembutan dan rindu yang ia ucapkan dengan susah payah. Hanya bisa Ken lakukan dengan berkontak fisik langsung dengan istrinya. Ia tidak pandai berkata-kata. Untuk itu semua ia tunjukan hanya dengan perbuatan. Jika berharap Ken berkata manis seperti kebanyakan pria.


Ken memilih bertindak di bandingkan merangkai kata untuk mengungkapkan rasa cintanya. Meskipun sebuah ucapan itu di perlukan, tapi akan jauh lebih bagi Ken tidak mengatakannya. Karena hanya akan membuat orang yang mendengarnya terasa kaku. Ken mencium bibir istrinya dengan rakus. Bahkan dalam hal berciumanpun Ken lebih mendominan di bandingkan saling mengisi hasrat masing-masing.


Baginya memuaskan istrinya jauh lebih penting, begitupun dirinya. Ken membuka setiap inci pakaian yang di kenakan istrinya dan mencumbu seluruh tubuh Dilla dengan ganas. Lain dengan Dilla yang bahagia melihat suaminya yang baik-baik saja. Ia sudah tidak menginginkan Ken mengungkapkan rasa cintanya dengan kata-kata. Baginya bukti Ken yang selalu ingin mencumbunya saja sudah jauh lebih cukup untuk mengungkapkan cintanya. Ia mendesah lembut ketika sebuah kismark di bagian leher jenjangnya tertinggal oleh suaminya. Kini terdapat banyak tanda merah di bagian leher jenjangnya. Ken tersenyum dan memandangi wajah istrinya dengan jarak yang hanya beberapa inci saja. Ia tersenyum mengecup bibir istrinya dengan senyum tidak pernah lepas di wajahnya.


"I love you Sayang!" ucap Ken tersenyum meski merasa ragu dan kaku. Tapi ia sudah bersumpah akan mengatakannya sesuai keinginan istrinya sedari dulu.


Dilla membulatkan kedua matanya dan tertegun mendengar ungkapan cinta dari suaminya saat ini. Ia bahkan tidak pernah bermimpi jika suaminya mengatakan hal seperti itu.


Dilla tersenyum bahagia ketika melihat wajah Ken yang masih tersenyum setelah mengatakannya. Dilla merengkuh pundak suaminya. Meraba kepalanya dan meremas rambut Ken dan menekannya agar bibir Ken dengannya menempel.


Kini Dilla mencium suaminya dengan lembut dan hasrat juga kebahagiaan yang ia rasakan hari ini. Dilla tidak pernah berpikir ucapan itu akan keluar dari mulut dingin suaminya itu.


Ciuman lembut dari istrinya, membuat sesuatu di bawah sana meronta untuk keluar dan mencari sarangnya. Ken memperdalam ciuman lembut istrinya dan meggmbalasnya dengan kelembutan juga. Hingga pada tingkat klimaks. Ken mengakhiri ciumannya dan melanjutkan bagian intim bagi sepasang suami istri. Ken merengkuh tubuh istrinya dan melajukan setiap gerakannya yang membuat Dilla semakin mendesah dan mengerang menikmati setiap aktivitas suaminya pada tubuhnya. Mengingat Setelha melahirkan mereka memang belum pernah melakukan hal seperti saat ini. Jadi akan sedikit terasa sakit dan terkejut bagi Dilla. Hingga menjelang matahari keluar. Ken mengakhiri aktivitasnya dengan istrinya dengan kenikmatan yang tiada bandingannya dengan segala nikmat hidup di setiap insan.


Setelah menyelesaikan aktivitasnya, Ken terbaring di samping istrinya. Saat Ken berbalik. Ia melihat istrinya bangun dan berjalan menghampiri pintu kamar mandi.


"Sayang? Kamu jangan keluar dulu ya! Tunggu aku pulang baru kamu keluar ya, sepertinya kamu kurang sehat!" ucap Ken khawatir pada istrinya.


"Aku bukan kurang sehat, aku hanya kurang makan saja Ken," balas Dilla berjalan memasuki kamar mandi.


Ken mengerutkan dahinya ketika mendengar ucapan Dilla yang mengatakan dia kekurangan makan.


"Apa-apaan dia ini? Apa Mark tidak memberi istriku makan?" ucap Ken kesal dan mengerutkan dahinya.


Ken bangun dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri pintu kamar mandi yang tidak terkunci. Ken memasuki kamar mandi dan melihat istrinya sudah berendam dibathroom dengan menutup kedua matanya.


Ia tersenyum dan mendekati istrinya yang masih belum menyadari kedatangannya. Ken memasuki bathroom dengan perlahan dan tetap saja membuat Dilla menyadarinya dan membuka kedua matanya. Ia terkejut dan menggeser posisi tidurnya daj menhadi terduduk.


"Apa yang kau lakukan Ken?" teriak Dilla melihat suaminya sudah berda duduk di bathroom yang sama dengannya.

__ADS_1


"Aku sedang mandi," jawab Ken tersenyum licik saat melihat Dilla yang menutup bagian dadanya dengan kedua tangannya.


__ADS_2